Senin, 21 April 2014

Sri Izzati, Bukan Penulis Cilik Lagi


Sri Izzati


Tidak terasa, hampir 9 tahun berlalu sejak pertemuan pertama saya dengan Sri Izzati Setyo Soekarsono. Senang sekali rasanya bisa bertemu Izzati lagi pada bulan November 2013 di acara Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI) di Twin Plaza Hotel Jakarta. Kami sama-sama jadi juri KPCI, tapi beda tim. Izzati satu-satunya juri KPCI yang masih belia. Gaya bicaranya ceplas-ceplos dan ceria. Binar cerdas tampak dari matanya. Tidak ada kesan angkuh sama sekali, meski namanya sudah dikenal di mana-mana. 





         Di acara puncak KPCI, perempuan kelahiran 18 April 1995 ini menyanyikan lagu Save the Water sambil bermain biola. Penampilannya luwes-wes-wes. Tidak heran. Kata Benny Rhamdani, Editor in Chief DAR! Mizan, Izzati memang sudah terbiasa tampil, baik sebagai penulis maupun pemain musik. Oiya, Save the Water bukan lagu sembarang lagu. Lagu tersebut diciptakan oleh Izzati sendiri. Lagu ini pulalah yang berhasil menghantarkan Izzati menjadi pemenang harapan di sebuah lomba yang diadakan koran Kompas. Keren, ya?




Ya, Sri Izzati, penulis cilik itu. Kini dia sudah remaja.

Sekadar menapak tilas, tahun 2005 saya bertemu Izzati di acara Temu Penulis, Editor, dan Ilustrator DAR! Mizan di Hotel Papandayan, Bandung. Saya diundang ke acara karena buku pertama saya Si Kembar diterbitkan oleh DAR! Mizan. Sebagai penulis Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) angkatan pertama, Izzati langsung menjadi magnet yang menyedot perhatian. Buku-bukunya KKPK Kado untuk Ummi dan Let’s Bake Cookies bestseller dalam waktu singkat. Saya memanfaatkan momen tersebut untuk mewawancara Izzati. Berhubung masih kecil, Izzati diwawancara sambil ditemani orangtuanya. Dalam kacamata saya, ayah dan ibu Izzati orangtua yang asyik banget. Bisa enggak, ya, saya jadi orangtua yang asyik kayak gitu? Mereka ramah, santai, dan sabaaarrr.





 Izzati kecil senang sekali membaca. Umur 10 tahun, segala buku karya J.K. Rowling, C.S Lewis, Enid Blyton, Jacqueline Wilson, Pipiet Senja, dan lain-lain, habis dilahapnya. Selain membaca, dia pun senang sekali menulis buku harian. “Kalau udah selesai nulis, aku baca lagi. Terus, aku tambahin, deh, cerita yang lain (cerita bohong-bohongan) hihihi. Tokohnya aku ganti jadi orang lain. Selesai, kan, karangannya!” celoteh Izzati, lucu. Meski menulis fiksi, Izzati selalu melengkapi cerita karangannya dengan data-data akurat.  Misal, ketika dia menulis cerita tentang anak berjilbab, dia bertanya kepada ibunya mengenai jilbab. Izzati juga baca buku-buku dan surfing internet untuk melengkapi data-data yang dia butuhkan. Prestasi paling TOP yang diraih Izzati pada usia 10 tahun adalah rekor MURI sebagai Penulis Novel Termuda. Wow!




Bukan cuma itu. Bukan Izzati namanya kalau tidak terus menuai prestasi. Beranjak remaja, sekitar tahun 2011, penulis yang fasih berbahasa Inggris dan Spanyol ini terpilih menjadi salah satu siswa yang berangkat ke Amerika melalui Rotary Youth Exchange. Rotary Youth Exchange adalah program pertukaran pelajar sekolah menengah dari Rotary International. Anak-anak muda di seluruh dunia diajak untuk menyelami budaya baru. Saya sering membaca status-status Facebook Izzati yang menceritakan pengalamannya di Amerika sana. Foto-foto Izzati bersama teman-temannya kebanyakan kocak dan seru! Tahun 2013 Izzati kembali ke Indonesia dan sekarang tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.




Juni 2013, saat milad penerbit Mizan yang ke-30 digelar di Gedung SMESCO Jakarta, Izzati dianugerahi penghargaan KKPK Young Inspiring Writer. Menurut Dadan Ramadhan, Manajer Lini Anak dan Balita DAR! Mizan, penghargaan diberikan karena Izzati dianggap pionir penulis KKPK. Lepas satu dasawarsa, sosok Izzati masih mendapat tempat istimewa di hati para pembaca cilik kita. Bertepatan dengan milad Mizan yang ke-30, seri KKPK yang digagas oleh Andi Yudha Asfandiar ini juga merayakan milad ke-10. Saya pribadi sebagai salah satu editor KKPK, tak henti berdecak kagum melihat kreativitas dan imajinasi anak-anak. Semakin hari, karya anak-anak semakin banyak dan berkembang. Salut!




Hmmm ... apakah Izzati masih menulis? Pastinya! Kamu bisa membaca cerita kesehariannya di blog The Girl Tells Tales. Awal Maret 2014, buku terbaru Izzati berjudul Satu Keping (DAR! Mizan) launching di acara Pesta Buku Bandung. Kali ini Izzati tidak bercerita tentang dunia anak-anak lagi, dong. Ceritanya seputar cinta dan patah hati khas remaja. Cieee ... cieee .... Bahasanya mengalir dan enak dibaca. Tulisan-tulisannya sederhana, namun mengena. Kehadiran buku Satu Keping seolah menjadi obat kangen para fans Izzati. 



Semoga kita semua terus bersua dengan Izzati melalui karya-karyanya. Tetaplah berkarya, Izzati! Tetaplah menulis! [] Haya Aliya Zaki

Sebagian foto diambil dari album Facebook dan Twitter Sri Izzati





58 komentar:

  1. wah senang bacanya lihat sri Izzati waktu di Islamic Book Fair 2014

    BalasHapus
  2. hebat banget,,,terus berkarya jadi kartini di masa kini :)

    BalasHapus
  3. waaah bakat dari kecil dan tidak ada paksaan dari pihak lain, long lasting yaaak? suskes terus buat Izzati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes. Yang aku lihat, sih, begitu, Mak. :) Izzati belajar secara fun, juga dari teladan orangtuanya. Tidak ada paksaan sama sekali.

      Hapus
  4. keren banget, masih SMA ya mak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuliah di UI, Maaakkk. Pan udah kutulis di atas. :D

      Hapus
  5. keren banget, mak Rahmi, Mahasiswa UI itu diatas :D

    BalasHapus
  6. trims atas update infonya ttg Sri Izzati mak Haya. Inspiring :D

    BalasHapus
  7. Waah keren, selain cantik dan berbakat ya mak.
    salam buat Izzati :)

    BalasHapus
  8. Wow. Keren. Salam buat Izzati :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mel, Bai, kapan-kapan kalau ketemu, salamnya disampaikan. :)

      Hapus
  9. Bangga melihat generasi muda yang penuh prestasi seperti ini
    Terima kasih artikel inspiratifnya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih juga udah mampir, Pakde. :)

      Hapus
  10. inspiratif hehe mbak izzati keren :D cantik lagi

    BalasHapus
  11. Balasan
    1. Izzati memang banyak pengagumnya. :D

      Hapus
  12. Waaaa.. aku pernah beliin kumcernya buat Nadya, judulnya Kumpulan Cerpen Jempolan. Waktu itu umur Nadya baru 3,5 tahun dan aku nyesel dong, Mbak. Nyesel soalnya tiap hariiiiiii.. Nadya minta bacain. Kumcer gitu lho, pegel bacainnya, wkwkwk.. Aku inget cerita kesukaan Nadya tuh yang tentang kambing kurban :)
    Aku suka imajinasinya. Jadi penasaran mo tau novel versi remajanya :)
    Salamin ya Mbak kalo ktemu lagi, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi Nadya pinteeer. :D Ayo beli novelnya, Del. Insya Allah kapan-kapan kalau ketemu lagi disampaikan salamnya, ya. ;)

      Hapus
    2. Oiya, aku inget cerita kambing kurban itu. Aku juga suka. Sampai sekarang aku masih inget tentang kambing yang syahid karena dikurbankan. :)

      Hapus
    3. Ya kaaaaaannn.. nancep banget kan pesannya, Mbak :)
      Iya nih udah dimasukin list, tinggal tunggu gajian aja, wkwkwk..

      Hapus
    4. Yang kurban itu kalo ga salah di buku Kumpulan Cerpen Jempolan, ya. Yang Satu Keping aku juga mau beli. :D

      Hapus
  13. penasaran pngn tau novel versi remajanya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga. Rencananya pengin beli dan baca. :)

      Hapus
  14. Izzati udah besar ya..cantik dan pintar..Sukses terus izzatiiiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga berasa, eike tambah tua huhuhu *salah fokus*

      Hapus
  15. Hebat bangeeeeeeeeetttttt........
    Luarbiasa iri pada ibunya. :)

    BalasHapus
  16. Huhu... saya iri berat sama Sri Izzati. Dia punya minat, bakat, dan kesempatan di dunia tulis menulis.
    Semoga saya bisa menyusul kesuksesannya ya Mak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, dirimu pasti bisa, Mak! ^^ *pom pom*

      Hapus
  17. Jangankan anak-anak dan remaja, aku pun ngefans sama Izzati. Sosok gadis remaja yang smart ini sesekali jadi topik obrolanku dengan anakku Yasmin Amira. "Keren banget ya, Bu, Kak Izzati itu. Kakak jadi mupeng deh berprestasi kayak dia," begitu anakku melihat kiprah Izzati. Saluuut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yasmin juga keren! Makanya awak tulis profilnya juga di sini. ^^

      Hapus
  18. waahh..banyak nih di rumah buku KKPK karyanya Sri Izzati..
    salut kecil2 tulisannya sudah bagus2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga koleksi buku-bukunya, Kak. Tapi, sebagian dirampok keponakan qeqeqe.

      Hapus
  19. Senang membaca anak muda yang sarat prestasi seperti Izzati ini :)

    BalasHapus
  20. wa,udah gede aja ya mak hihihi....inspiratif sekali,arkkk..tos dulu,sama2 jurusan Psikologi tp sayah dah emak2 hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aciiiikkk ... eike bisa konsul haratiiisss. #eh

      Hapus
  21. Cantik sekaliiii, Mba Sri. Pembawaanya juga terlihat ceria ya, Mba. Ramah. . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, muda, cantik, ramah, ceria, berprestasi. Kayak yang komen di atasku persis. :v

      Hapus
  22. Sri Izzati: 'reinkarnasi' Haya Aliya Zaki :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe kami beda generasi, bukan reinkarnasi. Tapi, sama-sama senang menulis. :)

      Hapus
  23. Ini dia salah satu penulis favorit Shasa ku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Favorit Shafiyya-ku juga ini, Mak. :)

      Hapus
  24. Wah sepertinya cerita tentang Izzati menginspirasi saya untuk terus mengejar impian saya :) sosok yang sangat inspiratif

    BalasHapus
  25. Ihh! Kak. Izzati pinter banget! Sekolahnya di UI lagi. Sama kayak saudaraku. Di UI juga. Kakak hebat!
    I love Kak. Izzati!!! :*

    BalasHapus
  26. Izzati kereen, ingat dulu liat talkshownya dia dah nulis buku, aku baru mulai mo nulis wkwkwk..ahhh, mau cari buku barunyaa makasih mba hayaa..

    BalasHapus
  27. Kak aku mau nanya foto yang artikel majalah itu dar majala apa? terima kasih:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ambil dari medsos Izzati, bukan dari majalah. :)

      Hapus
    2. yang tentang izzati kecil yang di wawancara oleh kakak? soalnya itu sumbernya untuk penelitian aku. hehe terima kasih kak sebelumnya

      Hapus
    3. Ooo itu koran Analisa, terbitan Medan. Koran daerah. Terbit tahun 2005. Buat penelitian apa? Oiya, nama kamu siapa?

      Hapus
    4. Kakak yang nulis artikelnya.

      Hapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan