Rabu, 25 September 2013

Dalam Hening Ada Bahagia




            Judul buku : Sejenak Hening
        Penulis : Adjie Silarus
        Penerbit : Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai
        Cetakan : I, Agustus 2013
        Tebal buku : 310 halaman  

Siapa yang tidak ingin bahagia? Rata-rata semua yang manusia lakukan, yang manusia cari, yang manusia kerjakan, tujuannya untuk meraih bahagia. Tapi, selanjutnya, apa yang salah? Mengapa bahagia terasa begitu sulit mendekat?

Segudang tanda tanya tentang pencarian bahagia membuat meditator Adjie Silarus melahirkan buku berjudul Sejenak Hening. Jujur, saya senang sekali ketika diberi kesempatan oleh Kumpulan Emak Blogger mencicipi teaser-nya. Bagi saya pribadi, sosok Adjie tidak lagi asing. Pria lulusan Psikolog Universitas Gajah Mada ini sangat humble. Sedikit banyak bisa terbaca dari kicauan-kicauannya di Twitter. Beberapa kali saya menyambangi blog beliau yang sarat dengan cerita inspiratif.  



Melalui buku Sejenak Hening, Adjie mencoba mengajak pembaca menemukan kebahagiaan hakiki. Caranya mudah dan menyenangkan. Cukup sejenak hening. Menurut Adjie, hening adalah sumber kebahagiaan. Cerita pertama yang saya baca, yakni Menutup Jendela, semakin mendukung pemahaman ini. Bahwa kita juga harus sejenak hening dalam memandang sesuatu. Jangan selalu menyalahkan keadaan, sementara kita sendiri membiarkan indra kita "terbuka" dan kejadian-kejadian yang menggelisahkan terus masuk, memporak-porandakan ruang batin kita.             

Buku Sejenak Hening disajikan dalam nuansa putih dan hijau yang sangat nyaman dibaca. Membuka lembar demi lembarnya seolah membuat kita sedang merasakan terpaan embusan angin nan sejuk dan mendamaikan. Uniknya, isi buku tidak dibagi berdasarkan bab, melainkan acak saja. Ada 43 judul cerita yang disampaikan dengan kalimat puitik. Meski puitik, kalimatnya mudah dimengerti dan selalu membawa kita pada perenungan yang dalam. Berikut adalah paragraf dari teaser Sejenak Hening yang saya anggap paling menohok.

Kita sering terlalu sibuk atau mungkin juga berpura-pura sibuk, sok sibuk supaya eksis, supaya diakui keberadaan kita, hingga kita melupakan apa yang sebenarnya kita lakukan dan bahkan tidak sanggup mengingat siapa diri kita sejatinya. Apalagi, kita pun sering lupa bahwa kita bernapas.  Kita lupa menyapa orang-orang yang kita cinta dan menghargai kehadirannya hingga mereka sudah tiada. Bahkan, saat tidak sibuk pun, kita bingung bagaimana caranya menemukan kebahagiaan dalam diri kita. Dan, akhirnya kita malah menghabiskan waktu untuk melihat televisi atau bermain gadget tanpa kejelasan pasti yang kita anggap hal itu bisa melarikan diri dari diri kita sendiri.

Berdasarkan wawancara singkat saya dengan Adjie via Twitter, salah satu tantangan menyelesaikan buku Sejenak Hening adalah usaha untuk menyederhanakan konsep yang selama ini dianggap rumit oleh orang-orang. Hm, tak terkecuali saya, nih. Dulu saya berpikir bahwa meditasi merupakan hal yang sulit, perlu waktu lama, dan harus dilakukan di tempat yang nun jauh di sana, seperti laut atau gunung. Adjie berhasil mematahkan semua anggapan ini. Meditasi sejenak hening dapat dilakukan di mana saja, saat di mal, di jalan raya, bahkan saat sedang antre sekalipun. Penasaran, kan?

Butuh waktu satu tahun bagi Adjie untuk menyempurnakan tulisan yang sebagian diambil dari blognya ini. Yang ingin pre-order, juga sudah bisa, lho. Info selengkapnya ada di bawah, ya.


Selamat membaca! Salam hening. Dalam hening ada bahagia. [] Haya Aliya Zaki

21 komentar:

  1. Keren ya mak bukunya baru liat dari review doang apalagi aslinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Jadi enggak sabar pengin baca utuh bukunya. :)

      Hapus
  2. dalam hening aada bahagia...itu mungkin ya mak yang membuat banyak para emak suka ngeblog dimalam hari...hening itu surga rasanya...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya juga ya, Mak. Jadi bisa lebih konsen. :)

      Hapus
  3. Bener sekali, contoh paling gampang itu di angkutan kota, nunggu di dokter, di tempat-tempat umum lainnya, kita malah asik nguplekin gagdet sendiri, lalu cuek melengos ninggalin orang-orang di sekitar kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, benar banget, Mak. Kadang-kadang aku juga begitu. :(

      Hapus
  4. Baca paragraf yang Haya copas di atas, membuatku ikut tertohok, sampai bengong sejenak (bukan hening).
    Benar, terkadang kita nggak sadar apa sebenarnya yang kita cari dalam kondisi "sok sibuk" itu ya? Kepuasan batin? Kebahagiaan? Hmm... kayaknya perlu baca buku ini nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tulisan yang bikin kita merenung. :)

      Hapus
  5. Pengen PO juga ah mbak... kayaknya bukunya keren tuh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sepertinya keren. PO-nya dah bisa dari sekarang tuh. :)

      Hapus
  6. wah jadi pingin baca tu buku :D

    visit my blog ^_^
    www.LuchLuchCraft.com
    My online store ^_^
    www.TokoLuchLuchCraft.biz

    BalasHapus
  7. keren ya mak..baca reviewnya jadi kepengen :)

    BalasHapus
  8. Review yang manis, Mak ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mak. Yang ngereview manis juga enggak? :D *tebelin bedak*

      Hapus
  9. Duh, reviewnya bikin pengen baca bukunya mbahay. Tulisan-tulisanmba bahasanya bagus sederhana. Ga Maya daku yang suka njelimet. Hihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Makasih, Mbak Fitri. :) Tulisan Mbak juga apik, apalagi resep-resepnya. Sayang, aku cuma bisa ngiler ngeliatin layar lappy-ku huaaa .....

      Hapus
  10. Jadi pengen punya bukunya juga. Semoga ada di Aceh ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa pesan langsung tuh ke penerbitnya via online, Say. :)

      Hapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan