Senin, 05 Agustus 2013

Menjadi Orangtua Digital yang Cerdas


Suasana DPTalk (foto dari Facebook Dari Perempuan)

Suatu hari, saya melihat status teman di Facebook yang mengatakan bahwa anaknya tidak bisa berhenti main games di internet. Alhasil, pulsa modemnya bolak-balik habis. Lain hari, saya membaca status teman yang mengatakan bahwa teman anaknya membuka-buka situs porno via smartphone. Astagfirullah!

Sebenarnya, bagaimana, sih, menerapkan internet sehat kepada anak? Anak-anak saya memang belum memiliki akun sendiri di media sosial.  Faruq baru berumur 10 tahun, Shafiyya 5 tahun, dan Sulthan 3 tahun. Menurut Undang-Undang Perlindungan Privasi Online Anak di Amerika Serikat, usia untuk memiliki akun di media sosial adalah 13 tahun. Memang, sebagian teman Faruq sudah ada yang memilikinya. Saya pribadi belum mengizinkan Faruq. Alhamdulillah, anak-anak saya juga tidak addicted main games. Istilahnya, main games sekadar lewat.


Maka, ketika Dari Perempuan mengadakan talkshow (DPTalk) berjudul Dampak Trend Mobile Internet pada Anak, saya langsung tertarik untuk mendaftar. Dari Perempuan adalah sebuah website yang mengulik segala sesuatu tentang perempuan, mulai dari fashion & beauty, life & health, love & relationship, sampai news & activity. Website ini sebenarnya bukan hanya ditujukan untuk perempuan, melainkan juga pria agar lebih mengetahui dan memahami kebutuhan perempuan. Acara yang berlokasi di 11/15 Coffee di daerah Gandaria, Jakarta (5/7) ini diminati banyak peserta dari kalangan orangtua. Terbukti peserta yang hadir rata-rata sudah memiliki anak.

Moderator Utami Utar mengawali acara dengan menyebutkan profil masing-masing pembicara. Pembicara pertama adalah Shita Laksmi. Beliau merupakan ibu dari dua orang anak perempuan, pengamat media development, serta parenting.  Shita menjelaskan langkah-langkah pengenalan internet pada anak. Beliau mengatakan bahwa berdasarkan riset Unicef tahun 2012, penggunaan PC sangat rendah dibandingkan penggunaan technology mobile dan social networking. Apalagi, remaja di Indonesia. Mereka lebih senang mengakses internet via mobile daripada PC. Sementara itu, internet platform didominasi oleh platform Barat seperti Facebook, Twitter, dan Google.


Shita Laksmi

Shita menekankan peran perempuan (ibu) dalam mengatasi dampak trend mobile internet pada anak. Internet bukanlah hak, melainkan kemewahan untuk anak. Perkuat konsep diri anak bahwa internet digunakan untuk menjaring hal-hal positif saja. Kemudian, ajari anak untuk menghargai pentingnya data pribadi. Saya setuju sekali dengan pendapat Shita agar orangtua selalu mengajak anak berdiskusi soal sisi positif dan negatif internet. Jangan serta-merta melarang, tanpa memberikan penjelasan.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh pembicara kedua, yakni Elga Yulwardian. Beliau adalah Departement Head Digital Media Partnership and Activation PT. Indosat, Tbk. Pada presentasinya, Elga menyampaikan fakta sebagai berikut:
58% anak berumur 2-5 tahun tahu cara bermain games. 
Anak yang bisa browsing internet ada sebanyak 25%, sementara anak yang bisa berenang tanpa dibantu sebanyak 20%.  
2 kali dari jumlah anak-anak berumur 2-5 tahun bisa bermain smartphone seolah-olah mereka mengikat tali sepatu mereka sendiri.
Anak berumur 3 tahun lebih mahir bermain games komputer daripada mengendarai sepeda. 
2/3 dari jumlah anak dapat mengoperasikan mouse komputer.

Kesimpulannya, anak-anak kita adalah Generasi Z! Bahkan, lebih daripada itu, sebanyak 10% bayi berusia 0-1 tahun, 39% anak berusia 2-4 tahun, dan 52% anak berusia 5-8 tahun sudah bisa main iPad atau video iPod. Padahal, The American Academy of Pediatrics menyarankan orangtua menunda pemberian gadget sampai anak berusia 2 tahun.


Elga Yulwardian

Kapan waktu yang paling tepat untuk memperkenalkan gadget kepada anak? Berikut teori Tahap Bermain dari Mildred Parten.
1. Solitary play
Bermain sendiri dimulai dari masa bayi. Mereka mulai mencari tahu lingkungan sekitar, menemukan serta belajar hal-hal baru. Ini terus berlanjut sampai batita. Mereka mungkin bermain di dekat orang lain, tapi mereka bermain sendiri dengan mainannya.
 2. Parallel play
Anak bermain di ruangan yang sama dengan temannya, bermain dengan mainan yang sama, saling mengamati, dan meniru satu sama lain, tapi mereka tidak berinteraksi.
3. Associative play
Pada usia 3-4 tahun, anak bermain bersama, tapi mereka tidak bermain dalam aktivitas yang terstruktur. Mereka belum bisa bekerja sama dalam melakukan sesuatu.
4. Cooperative play
Anak usia 4-5 tahun kematangan emosi dan perkembangan sosialnya mulai baik. Mereka bisa bekerja sama waktu bermain, bisa saling berinteraksi, menghargai milik orang lain, minta izin jika menggunakan barang orang lain, tapi mereka tidak saling berinteraksi.

Oiya, saya tertarik sekali dengan penjelasan Elga mengenai XO Laptop. Proyek One Laptop Per Child (OLPC) adalah sebuah program penyediaan XO Laptop (terhubung dengan koneksi internet) untuk anak umur 5 tahun ke atas di seluruh dunia. OLPC disuport oleh One Laptop per Child Association (OLPCA) dan OLPC Foundation, dua organisasi nonprofit Amerika yang mengawasi pembuatan peralatan pendidikan dengan harga terjangkau, khususnya untuk negara berkembang. Diharapkan anak mendapatkan kemudahan mengakses informasi dan pengetahuan melalui laptop ini. Harganya relatif murah, yakni sekitar $100. Layar LCD-nya diberi perlindungan luar dari bahan karet. XO Laptop sangat nyaman dipakai oleh anak. Penggagasnya adalah Nicholas Negroponte, profesor bidang teknologi komputer asal Amerika. Wah, kapan anak-anak Indonesia bisa mendapatkan laptop murah dengan konten bagus seperti ini, ya?

Foto dari slide presentasi Elga Yulwardian

Selesai pemaparan materi, MC Ani Berta mengajak peserta DPTalk main games berhadiah. Seru! Acara ini didukung penuh oleh Indosat Mentari Aura, paket komunikasi terhemat dan lengkap selama 24 jam nonstop. Gratis menelepon keluarga dan sahabat. Gratis mengakses media sosial dan info wanita hanya dengan isi ulang mulai Rp10.000,00. Murah banget!


Indosat Mentari Aura milik saya

DPTalk membuka wawasan saya tentang pentingnya internet sehat untuk anak. Seandainya anak-anak saya sudah cukup umur untuk memiliki akun media sosial,  saya akan menerapkan hal-hal sebagai berikut:

1. Jangan paranoid dengan dunia maya
Sebagian orang berpendapat bahwa anak zaman sekarang lebih cepat belajar teknologi dibandingkan orangtuanya. Hal ini sudah saya buktikan sendiri. Contoh, Faruqlah yang mengaktifkan modem wifi yang saya punya. Sebelumnya, modem wifi itu tidak saya gunakan karena saya malas mengutak-atiknya. Faruq juga memberi tahu bahwa dia bisa mengunduh games dari internet. Padahal, saya sama sekali tidak mengajarinya. Semenjak itu, saya menyadari, sebagai orangtua, saya tidak boleh menyerah begitu saja dengan pendapat itu. Teknologi jangan malah membuat saya paranoid. Tidak bisa dihindari, dunia maya akan menjadi bagian dari aktivitas anak. Mau tak mau saya harus terlibat di dalamnya.

2. Sesuaikan gadget dengan kebutuhan anak
Sekarang ini Faruq sudah memiliki smartphone. Hanya, saya memang tidak mengaktifkan fasilitas internetnya. Smartphone itu antara lain digunakan untuk menelepon, SMS, dan mengunduh surah-surah Alquran dari internet. Faruq hanya bisa memakai internet saat berada di rumah, di bawah pengawasan saya dan suami. Wifi cuma tersedia di ruang keluarga. Jadi, setiap dia akan mengunduh apa pun, saya pasti tahu. Kebetulan, Faruq termasuk auditory learner, yakni anak yang belajar dengan sistem audio (mendengar). Dia senang sekali belajar bahasa Arab dan menghafal surah-surah Alquran. Berbekal smartphone, dia bisa belajar di mana saja dan kapan saja, tinggal memutar ulang rekaman yang ada di smartphone-nya.  

Smartphone Faruq

3. Berteman dengan anak di dunia maya
Jika anak memiliki akun media sosial, sebaiknya orangtua menjadi friend anak atau saling follow. Namun, hindari terlalu ikut campur dengan aktivitas anak di akunnya tersebut. Misal, memarahi terang-terangan ketika anak menulis status Facebook yang menurut kita kurang pantas. Jangan sampai twitwar dengan anak. Jika anak merasa dikekang dan dipermalukan di dunia maya, kita bakal sulit memantau aktivitasnya. Kelak, ini menjadi problem. Cukup nasihati anak dan ajak bicara baik-baik seandainya dia melakukan hal-hal yang kurang pantas. Beri like atau retweet jika dia menulis status yang baik. Tidak perlu langsung berkomentar ekstrem dan blakblakan. Dengan begitu, anak akan merasa dihargai.   


Foto dari slide presentasi Elga Yulwardian

4. Beri limit waktu
Menurut hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal kedokteran Disease in Childhood, terlalu lama melihat layar monitor gadget, dapat meningkatkan tekanan darah. Orang yang cenderung diam bermain gadget, risiko obesitasnya juga meningkat. Biar bagaimanapun, anak butuh bergerak untuk tumbuh kembangnya. Beri limit waktu berselancar di dunia maya. Jika demikian, orangtua juga harus menjadi teladan. Tidak mungkin anak patuh kalau anak melihat orangtuanya terus-menerus asyik dengan gadget masing-masing.

5. Tidak menyebarkan biodata pribadi
Mengizinkan anak beraktivitas di dunia maya dan memiliki akun media sosial, sebenarnya setali tiga uang dengan melepas anak ke jalan, di mana ada kemungkinan orang-orang jahat yang berniat mencelakai anak. Di dunia maya juga ada orang yang bisa saja menipu soal status, umur, serta pekerjaan. Jadi, anak tidak boleh sembarangan memberikan biodata pribadi melalui dunia maya.

6. Periksa chat history
Jika anak senang chatting, ingatkan agar tidak chatting dengan orang yang belum dikenal betul. Chatting di dunia maya sama saja etikanya seperti mengobrol dengan orang lain di dunia nyata. Sebagai orangtua, sebaiknya kita menyimpan chat history anak. Sekali-sekala periksa chat history  ini.

7. Waspadai pornografi
Saya pernah mendengar tentang anak-anak yang menyimpan konten porno di smartphone mereka. Inilah salah satu risiko dunia maya. Ajak anak berdiskusi soal ini. Beri penjelasan yang lebih bersifat ilmiah (misalnya, menyangkut anatomi tubuh dan fungsinya). Orangtua juga bisa mengatur aplikasi di gadget berdasarkan umur. Games juga memiliki kans menyebarkan virus pornografi, meskipun cuma dalam bentuk kartun. Sebaliknya, sebagai orangtua, saya sendiri tidak pernah mengumbar foto anak dalam keadaan polos di dunia maya. Berhati-hatilah dengan kasus phaedofile yang mengintai anak.

8. Antisipasi cyberbullying
Beberapa waktu lalu saya membaca berita di media digital tentang anak-anak yang bunuh diri karena cyberbullying. Sungguh mengenaskan. Anak-anak tersebut mengalami stres tingkat tinggi dan memilih mengakhiri hidupnya dengan jalan seperti itu. Masalahnya sepele, seperti penampilan anak diejek oleh teman-temannya di dunia maya. Jika anak menjadi korban, segera arahkan agar tidak meladeni si pelaku. Tinggalkan percakapan dan block akun pelaku. Screen shoot bukti-bukti jika perlu.

9. Beraktivitas outdoor
Saya selalu mengajak anak-anak untuk beraktivitas outdoor seperti berkebun, berenang, dan lain-lain. Kadang-kadang kami berlibur ke gunung atau pantai. Beraktivitas seperti ini menambah energi dan asupan serotonin di dalam otak. Serotonin adalah hormon yang mengatur nafsu makan, pemahaman akan sesuatu, dan stabilitas emosi. Selain itu, hidup butuh keseimbangan. Salah satunya tidak boleh berlebihan.  


Shafiyya di arena bermain


Faruq dan Sulthan berenang

Shafiyya berkebun

10. Hindari menulis status check-in!
Beri pengertian kepada anak agar tidak menulis status check-in di Facebook, Foursquare, dan lain-lain. Status ini bisa membahayakan karena memudahkan aksi para penculik untuk mengetahui ke mana saja anak pergi. Simak betapa lihainya para penculik men-stalking akun di media sosial melalui video ini

11. Ajak anak berempati
Last but not least, empati. Bagi saya, poin terakhir ini merupakan poin terpenting. Dunia maya adalah aktivitas sosial dalam bentuk baru. Pahami kebutuhan friends Facebook atau followers Twitter kita. Jangan bicara dan bersikap sesuka hati. Beri bantuan jika ada yang membutuhkan. Tentu membantu semampu anak, seperti me-retweet tweet orang-orang yang dipercaya untuk menyebarkan maksud baik. Dulu kita butuh waktu lama untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke sebuah tempat. Sekarang, dengan memanfaatkan Twitter, misalnya, informasi bisa menjangkau banyak orang dan bantuan sampai dalam waktu cepat. Teknologi merobohkan tembok penghalang manusia berkomunikasi dan berkomunitas.   

 Keamanan anak ada dalam genggaman orangtua. Yuk, mari menjadi orangtua digital yang cerdas. Berikan pemahaman dan pengawasan internet sehat kepada anak sejak dini. [] Haya Aliya Zaki





41 komentar:

  1. Seperti biasanya deh Mak, salut danb acungin jempol. Salam sukses selalu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mak. Sukses juga buatmu. :)

      Hapus
  2. Kereeennn...semoga aku juga jadi ortu yang cerdas :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip. Tantangan bagi kita sebagai orangtua di era digital ya, Cha. :)

      Hapus
  3. anak2 zaman skrg umur 2 tahun aja udah akrab dengan games :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Bahkan, anak di bawah umur itu juga udah akrab dengan games, ya.

      Hapus
  4. wah jadi nambah wawasan anak nih, buat generasi z nanti

    BalasHapus
  5. Setuju mbak... anak2 jangan terlalu "terbuka" di dunia maya demi keselamatan mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Setuju. Terima kasih sudah mampir. :)

      Hapus
  6. Setuju dengan tidak membuatkan fb pada anak mak.... kemarin sih sempet buatin tapi udah deaktif mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ada manfaat, mungkin enggak apa-apa, Mak. Tapi, aku belum melihat ada manfaatnya. Jadi, aku bilang nanti dulu ke anakku. :)

      Hapus
  7. ditampung sebagai bahan ajar anak yang masih belum diberi olehNya
    karena saya dan suami maniak gadget, harus banyak paham soal ini :) TFS mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih juga udah mampir, Mak. Semoga berguna. :)

      Hapus
  8. setuju Maks, anakku sering autis gak peduli ama yang lain saat dia main games di ipad-nya. Jadinya sering-sering aku ajak main ke luar rumah dan bertemu dengan anak-anak yang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assal seimbang enggak apa-apa ya, Mak. Main games-nya jangan berlebihan. *mendadak sok jadi pakar* xixixi *guling-guling*

      Hapus
  9. miris liat temen2nya jav (2-3 thn) pd fasih main games di gadget ortunya.. jav jg ga bisa lepas sih dr gadget saya, tp untungnya cuman buat denger lagu anak & bacaan al-quran..

    BalasHapus
  10. Mak Mentor, kl sy parno bgt kl anak dikasih gadget. Kyk kmrn waktu anak sy minta dibelikan smartphone, sy lgsg menolaknya. Dia blg, "Mama aja punya bebe, masa aku ngga". Dan akhirnya sy memilih ikutan tdk berbebe. Sy lbh siap tdk b'bebe, krn sy blm siap menjawab p'tnyan/akibat kl anak b'gadget. Diblg ga gaul deh...Salah ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau menurut hemat aku, sekarang zaman digital, Mak. Sedikit banyak, anak pasti bersentuhan dengan gadget atau dunia maya. Penjelasan dari kita dibutuhkan supaya anak tidak penasaran terus. kalau tidak, khawatirnya anak mencari penjelasan dari luar dan yang memberi penjelaan bukan orang baik-baik pula. Mungkin kalau sudah cukup umur, bisa, Mak. Btw, Maaakkk ini diskusi, lho, ya. Soale aku, kan, bukan pakar. :)))))

      Hapus
  11. Mantap dan keran ulasannya mak Haya. Tambah ilmu nih sebagai ibu dengan anak yang juga menyukai games :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga manfaat, Mak. Sekadar sharing ini. :)

      Hapus
  12. Uwaahh... iya yah, ngena banget status cek in itu, ngeri culik euy. thanks sharingnya mak Haya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Kalau aku sendiri, sih, suka nulis status check-in. X_X

      Hapus
  13. Wah, komplit ulasannya :)
    Anak2 sy br sebatas main game aja, itu jg cuma wiken n dijatah ga boleh lama2, hehe
    Aih, anak2nya manis2, deh, Mak Guru Haya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mak. Anak kita memang keren-keren, ya. :))))

      Hapus
  14. Alhamdulillah anak saya tidak maniak pada alat2 digital seperti itu. Dia lebih senang bergerak aktif daripada duduk monoton bermain alat2 digital.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip. Anak-anakku juga kadang main games, tapi enggak candu, Mak. Buat selingan aja. :)

      Hapus
  15. seharusnya pemerintah buat satu program untuk membatasi anak2 dalam membuka situs porno. kalau di jerman, setiap Hp anak2 di haruskan bagi orang tua untuk memasang satu program, yang mana program ini sebagai pengaman agar anak-anak tidak membuka web yang di luar batas umur mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sharingnya, Mak. Iya, mestinya begitu, ya. Setuju. Menurut penelitian, pornografi lebih berbahaya daripada narkoba karena merusak 5 bagian dari otak, sementara narkoba merusak 3 bagian dari otak.

      Hapus
  16. Infonya membantu, bersyukur di rumah terpasang Speedy dah 3 tahun, tetapi alhamdulillah anak dah kelas IX SMP, belum punya akun FB, n hanya punya HP lipat Samsung GT-E1195.

    Salam sukses selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir. Salam kenal. Semoga bermanfaat. :)

      Hapus
  17. mak ijin share ya...penting nih buat teman-teman yang lain...

    BalasHapus
  18. tulisa yang sangat bagus dan sangat bermanfaat, terimakasih sharingnya..

    BalasHapus
  19. makasih sharingnya mba haya, bermanfaat banget, alde dan nai kusuruh main outdoor...

    BalasHapus
  20. wehhh bermanfaat sekali nih buat adek sma keponakan2 hhhee
    terima kasih banyak untuk ilmunya ya bunda :D

    BalasHapus
  21. Wah.. Tulisan lama yg bermnafaat banget buat saya, Mak. Secara anak saya 5,5 tahun juga seneng main games di smartphone. Makasih sharing ilmunya ya, Mak :)

    BalasHapus
  22. Ini yang belum bisa direm, Mbk. Anakku masih suka games yang ada di hp. Saat liburan di Bengkulu duluj 24 jam pakai Wifi di rumah kakak, pulang ke Padang kena dampaknya deh :(

    BalasHapus
  23. Setuju banget sama sampean mbak :) jadi orang tua kalau bisa harus selalu lebih pintar dari anak :D biar kalau anak tanya kita selalu bisa jawab

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan