Rabu, 05 Juni 2013

Writing Clinic Femina: Menulis Fiksi, Merangkai Kata menjadi Cerita




 Tahun lalu, saya beruntung terpilih menjadi peserta Pelatihan Menulis Gado-Gado Femina dan alhamdulillah tulisan Gado-Gado saya termasuk tulisan terbaik. Tahun ini, saya terpilih lagi menjadi peserta Writing Clinic (Fiksi) dengan pemateri Leila S. Chudori dan Iwan Setyawan.


Fiksi Femina
            Sejak tahun 1975, Femina menyediakan ruang untuk fiksi (Cerpen dan Cerber). Selain rubrik fiksi reguler, pula ada sayembara menulis fiksi yang diadakan setiap setahun sekali.

Kenapa harus ada fiksi?

            Femina ingin memperluas wawasan wanita melalui fiksi dan yang utama, ingin meneruskan cita-cita Sutan Takdir Alisjahbana untuk mempertahankan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seperti yang kita ketahui, pendiri majalah Femina Group adalah anak cucu Sutan Takdir Alisjahbana, yakni Sofjan dan Mirta Alisjahbana.
Nama-nama penulis fiksi Femina tahun ’80-an mungkin tidak asing di telinga Teman-Teman. Tahu dengan NH. Dini, Titie Said, Mira W, dan Marga T pastinya, ya? Nah, fiksi-fiksi yang dimuat di Femina waktu itu selalu dikirim ke Sang Paus Sastra Indonesia, H.B. Jassin. H.B. Jassin pun mengusulkan agar dibuat sayembara menulis fiksi Femina. Penulis lawas yang pernah memenangkannya antara lain Ike Soepomo, Putu Wijaya, Arifin C Noer, Marga T, Mira W, dan Marianne Katoppo.
Menurut Yoseptin Kristanto, Redaktur Femina, empat tahun belakangan ini, peserta sayembara meningkat secara signifikan alias membludak-dak-dak! Femina jadi tergerak untuk mengadakan gathering penulis fiksi (Writing Clinic). Femina ingin berbuat sesuatu bersama-sama penulis, selangkah seirama mengembangkan dunia fiksi.  Kali ini, Femina mengundang Leila S. Chudori dan Iwan Setyawan untuk memberikan materi soal fiksi. Lanjuuuttt ....

Sesi 1: Pemateri Leila S. Chudori
            Siapa yang tidak kenal Leila S. Chudori? Beliau adalah wartawan senior majalah Tempo dan penulis novel. Alumnus Universitas Trent, Kanada, ini telah menulis enam buku. Novel yang teranyar berjudul Pulang. Dalam waktu sebulan, Pulang sudah cetak ulang.

Leila S. Chudori

“Bakat menulis merupakan hal penting, tapi bukan yang terpenting. Bakat adalah pemberian alam dan bakal sia-sia jika tidak diasah terus-menerus.” Leila S. Chudori

Leila meyakini, penulis yang gigih dan bekerja keras, insya Allah akan menghasilkan karya yang luar biasa. Ayo, berlatih membentuk kalimat menarik, membuat kejutan plot, dan lain-lain. Paling tidak, ‘paksakan diri’ setiap hari menulis di blog selama sejam atau dua jam. Tulis cerita sehari-hari, perjalanan, resensi buku, resensi film, apa saja. Rajinlah mengobservasi dan mengamati. Peka. Lihat sekitar. Observasi sangat berguna saat kita membentuk karakter tokoh.
           Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Penulis akan membutuhkan buku seperti layaknya orang butuh makan dan minum. Jatahkan minimal membaca satu buku dalam dua minggu. Ikuti diskusi komunitas buku. Dengarkan berbagai ulasan dan tanggapan dari orang lain. Sadari bahwa pemikiran dalam hidup ini tidak tunggal.

“Meski nanti kita sudah menjadi penulis besar, kita tetap harus rendah hati. Ingat, meski kita berhasil, kita baru ‘menorehkan’ satu titik di dunia ini. It’s almost nothing. Sikap rendah hati akan membuat kita ingin terus belajar. “ – Leila S. Chudori

            Leila juga memaparkan tip dan teknik menulis.
Ide
            Segalanya berawal dari ide. Ide didapat dari rumah, saat jalan-jalan ke sekolah, kampus, dan lain-lain. Ide tidak harus megah atau ‘heboh’. Boleh saja, sih, kita membuat cerita dengan ide berlatar belakang sejarah, misalnya. Tapi, konsekuensinya juga besar. Butuh riset panjang dan mendalam. Tanya kepada diri sendiri, sanggupkah? Kalau sanggup, hayuk! Tapi, kalau belum, mending pakai ide yang sederhana saja dulu. Catat ide yang datang. Satu cerita bisa terdiri dari beberapa ide.

Tema
             Tema sebetulnya hanya akan membantu kita untuk fokus. Jika kita ingin menulis kisah cinta dengan latar belakang zaman kemerdekaan, janganlah latar belakang itu sekadar tempelan. Niscaya karya kita menjadi karya gagal.

Plot
            Sejak awal, seorang penulis harus menyiapkan kerangka plot. Yang paling umum adalah plot 3 babak:
Babak 1: perkenalan karakter dan problem
Babak 2: puncak problem dan klimaks
Babak 3: penyelesaian
            Tidak setiap karya harus mengikuti konsep plot seperti ini, sih. Contohnya, novel-novel Virgina Woolf dan James Joyce. Plot konsep 3 babak lazim digunakan oleh novel-novel Inggris dan Prancis abad ke-19, antara lain Oliver (Charles Dickens), Les Miserables (Victor Hugo), dan Pride and Prejudice (Jane Austen).

Karakter
            Jika kita ingin menciptakan karakter anak guru yang lahir di sebuah desa di Jawa Tengah, maka tingkah laku, bahasa lisan, bahasa tubuh harus sesuai dengan yang kita sudah rentangkan sejak mula. Kita bisa membuat perkembangan kepribadian tokoh melalui proses. Jangan menciptakan karakter ‘palsu’. Mungkinkah anak guru yang tinggal di desa jago berbahasa asing? Mungkinkah pakaiannya modern? Kecuali, ada alasan-alasan tertentu. Jangan ‘mengkhianati’ tokoh ciptaan kita sendiri.

Akhir cerita
            Ini merupakan hal pelik. Pembaca Indonesia umumnya menyukai akhir cerita yang bahagia. Mereka sering kecewa jika sebuah fiksi diakhiri dengan perpisahan, kematian, atau kekalahan. Namun, kita harus jujur kepada diri sendiri. Apakah cerita karya kita lebih baik diakhiri dengan kebahagiaan atau kepedihan? Jangan memaksakan diri. Kalaupun kita sudah merencanakan akan mengakhiri cerita dengan kepedihan, jangan mendadak saja membuat akhir cerita yang sedih. Sisipkan ‘tanda-tanda’ di babak-babak awal, tanpa menghilangkan daya kejut.

Menulis Intro
            Kesan pertama begitu menggoda .... Mungkin hampir semua pernah mendengar jargon iklan ini, ya? Kesan pertama memang penting! Ringkus perhatian pembaca pada alinea pertama cerita. Jika aline pertama datar dan membosankan, itu berbahaya. Berikut contoh alinea yang menarik.

            “ORANG MEMANGGIL AKU: MINGKE. Namaku sendiri. Sementara ini, tak perlu benar tampilkan diri di hadapan mata orang lain.
            Pada mulanya, catatan pendek ini aku tulis dalam masa berkabung. Dia telah tinggalkan aku, entah untuk sementara, entah tidak.” – (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia)
      Analisis: Elemen misteri sudah terbangun. Kenapa kalimat pertama harus ditulis dengan huruf kapital? Kenapa nama seorang pribumi ini tidak lazim, yakni Mingke? Siapa yang meninggalkan dia sehingga dia berkabung? Ini menyedot rasa penasaran pembaca untuk lanjut ke halaman berikutnya.

Sesi 2: Pemateri Iwan Setyawan
            Pukul dua belas teng, Iwan Setyawan hadir di tengah-tengah kami. Siapakah dia? Haaa ... hari gini belum baca 9 Summers 10 Autums? Apa kata duniaaa ...? Hehehe. Iwan Setyawan adalah penulis buku laris 9 Summers 10 Autums dan Ibuk.
            Iwan sharing tentang proses kreatif penulisan buku 9 Summers 10 Autums. Sebenarnya sharing ini lebih kurang sama dengan yang saya dengar beberapa tahun lalu saat menghadiri talkshow buku Iwan. Saya menuliskannya di sini. Yang bikin kening saya mengerut, gaya Iwan sekarang, kok, agak beda, ya? Dulu kalem, sekarang ngebodor abis. Abaikan.

"Menulis adalah refleksi dari jiwa-jiwa yang 'gelisah'. Saya sudah menulis and for me, that’s beautiful.” – Iwan Setyawan

            Pada dasarnya, Iwan menulis karena ingin membebaskan jiwanya yang ‘gelisah’. Sepuluh tahun berada di New York, membuatnya banyak berpikir tentang nilai hidup. Betapa hidup adalah perjuangan, bukan penderitaan. Best selling moment for Iwan adalah ketika ada pembaca yang terinspirasi dan tersentuh hatinya membaca buku Iwan.

Iwan Setyawan

“Ibuk pernah berkata, ‘Siapa tahu dengan membaca bukumu, ada anak sopir angkot yang lain, yang termotivasi untuk meraih cita-cita, Wan.’ Ya, Ibuk benar. Ibuk benar sekali.” – Iwan Setyawan 

            Lalu, apakah kesuksesan selalu dinilai dari materi, berhasil kuliah keluar negeri, dan sejenisnya?

          Bagi Iwan, tidak. Contohnya, adik Iwan sendiri (saya lupa namanya). Adik Iwan tidak berlimpah materi atau kuliah di luar negeri. Namun, dia memberdayakan tetangga sekitar, mengajak membuat kerajinan, menciptakan lapangan kerja. Itu juga sebuah kesuksesan. “Yang penting, kalau sudah sukses, jangan lupa rumah. Kalau sudah sukses, bikin hidup orang lain jadi mudah,” pesan Iwan.
Berikut arti menulis bagi Iwan: menulis untuk membebaskan jiwa yang ‘gelisah’, menulis untuk berdamai dengan masa lalu, menulis adalah bermeditasi dengan diri sendiri, menulis itu menyembuhkan, menulis adalah kegiatan asyik between me and myself.
             
Apa kriteria menulis fiksi untuk Femina?

            Sekarang kita kembali ke fiksi Femina, yuk. Fiksi yang bagaimana, sih, yang laik tayang di Femina? Ini dia kriterianya:
1. Semisi dan sevisi dengan Femina
Fiksi harus menceritakan wanita yang aktif, modern, dan berdaya. Jadi, cerita tentang wanita yang dimadu, dipoligami, dan lemah, tidak akan dimuat di Femina. Fiksi yang merendahkan harkat marabat wanita, juga mendiskreditkan wanita, akan bernasib sama. Catet!
2. Cerita dan usia karakter tokoh sesuai pembaca Femina
3. Mudah dicerna, inspiratif, dan menghibur
4. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

Jika fiksi memenuhi syarat dan dianggap laik tayang di Femina, penulis akan dikabari. Nah, Teman-Teman mau tahu pemenang Sayembara Menulis Cerber Femina tahun ini? Mereka adalah:

Juara 1 Pengorek (Yohana L.A. Suyati, Kalimantan Barat)
Juara 2 Hikayat Negeri Terapung (Mellyan Cut Keumala, Aceh)
Juara 3 Janji di Negeri Titi (Siti Rahmah, Depok)


Yohana L.A. Suyati (milik Femina)

 Salut, deh, Yohana spesial datang dari Kalimantan Barat! Demikian juga Siti Rahmah, hadir di acara. Suasana penganugerahan hadiah kepada pemenang Sayembara Menulis Cerber Femina berlangsung hangat. Yohana menguraikan secara singkat tentang proses kreatif penulisan cerbernya. Cerber Pengorek dia tulis selama 1,5 bulan. Tapi, jangan salah, risetnya sudah 2 tahun, lho! Pengorek bercerita tentang peristiwa yang kerap terjadi di kampung halamannya, yakni pencurian organ-organ tubuh untuk dijadikan sesembahan pemujaan hiiiy. Yang bikin tambah miris, terkadang orang yang tidak bersalah, dituduh sebagai pelaku pengorek.

Kenapa ketiga cerber di atas yang dipilih sebagai pemenang?

        Menurut Ketua Juri Sayembara Menulis Cerber Femina, Leila S. Chudori, ketiga cerber di atas memenuhi kriteria berikut:

1. Story telling yang baik
Apakah fiksi di Femina harus melulu mengangkat unsur lokalitas? Mungkin sebagian Teman bertanya-tanya soal ini, ya. Jawabnya, tidak harus. Kita bisa mengangkat sesuatu yang khas dari sebuah daerah, bisa juga menulis sesuatu yang dekat dengan kita (Jakarta, misalnya). Asal, penceritaannya baik. It's all about story telling. Ketiga pemenang bisa meramu apik cerita yang mereka tulis dengan latar belakang yang mereka pilih. Jadi, bukan sekadar tempelan. Tokoh-tokohnya terasa akrab dengan pembaca, meski cerita yang satu nun jauh di Kalimantan, yang satu lagi di Aceh. Uniknya, Yohana dan Mellyan mampu menyisipkan unsur humor, meski tulisan mereka ironik. Humor yang jujur, bukan yang menertawakan. Sementara itu, cerber Siti adalah drama romantis. Tidak ada unsur humor, namun cerita tradisi tato yang diangkat sangat menarik.
2. Teknik penulisan yang baik (editing yang baik)
           Tulisan para pemenang Sayembara Menulis Cerber Femina sudah rapi, enak dibaca, tidak perlu banyak diedit oleh dapur Femina.


Foto bareng (milik Femina)
         Acara yang berlangsung hingga pukul dua siang ini dimeriahkan aneka hadiah dan diakhiri dengan makan siang. Rina Susanti dan Winda Krisnadefa terpilih sebagai penanya terbaik. Sementara, Ani Berta beruntung mendapatkan doorprize. Terima kasih telah mengadakan acara Writing Clinic, Femina! Teman-Teman siap mengirim fiksi ke Femina, kan? Jangan lupa ikut sayembaranya tahun depan, ya! [] Haya Aliya Zaki                       

        


68 komentar:

  1. makasih mak...
    info bagus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mak. Semoga bermanfaat. :)

      Hapus
  2. mbakk.. warna hurufnya jd agak blur.. gak bisa diganti hitamkah? seperti biasanya.. lbh bersahabat dgn mata hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya, enggak bisa, Binta. Sudah dari sananya hiks. Ini aja udah ku-bold semua tulisannya.

      Hapus
  3. Wow, cerita pengalaman sekaligus bagi-bagi informasi penting. Makasih ya mak :)

    BalasHapus
  4. Sepertinya memang setiap tahun ada pemenang yang mengangkat unsur lokal, ya Mak. saya inget banget (dan suka banget) sama pemenang tahun 2011--kalo saya gak salah inget. Dia mengangkat tema tentang pekerja di Papua.

    Kapan ya, saya bisa nulis sebagus itu buat diikutin ke lomba tahunan Femina ini? Hiks. T____T Harus banyak latihan menulis sepertinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerber karya Anindita S. Thayf ya, Mak? Iya, aku perhatikan pasti yang menang ada yang mengangkat unsur lokal yang unik-unik. Tapi, enggak tertutup kemungkinan untuk menuliskan daerah yang umum juga, Mak. Asal, story telling-nya baik. Itu kata Mbak Leila. :D

      Hapus
    2. Hayuk, semangat, Mak. Risetnya bisa dicicil dari sekarang. :D

      Hapus
  5. Udah dicatet semua.. Thanks for sharing, mbak Haya ;)

    BalasHapus
  6. TFS kak haya... jadi tau deh tips menulis cerpen biar dimuat femina. dan wow, juara dua sayembara cerber dari aceh, pingin kenalan langsung nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, siapa, ya? Saya juga jadi pengin kenalan. Kata Mbak Leila, intro cerber penulis asal Aceh ini bagus banget. :)

      Hapus
  7. Jadi penasaran pengen baca karya pemenang. Thanks infonya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerber sudah tayang di majalah, Fita. :)

      Hapus
  8. Wah keren infonya nih.. Poligami, lemah catet

    nanti gak boleh nulis begitu ya mak hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Yuk, kita nulis buat Femina, Mak. :)

      Hapus
  9. mak alya bermanfaat sekali, TFS...jd penasaran mau baca cerber nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Cerber sudah tayang di majalah. Atau, boleh juga cari cerber para pemenang di website Femina www.femina.co.id. :)

      Hapus
  10. thanks infonya Mak Haya..

    BalasHapus
  11. terkadang bingung juga, apa menulis itu butuh bakat.. :D
    mksi mak infonya, jadi tau apa kriteria dari femina :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerja keras dan terus berlatih yang utama, kata Mbak Leila, Mak. Yuk, semangat nulis buat Femina. :)

      Hapus
  12. Makasih artikelnya, memang fiksi Femina selalu beda dibanding yg lain, entah kenapa walaupun temanya sehari2 juga mampu terasa spesial saat dibaca dan kadang "wah saya jg ngalamin.." Atau yg memuat kebudayaan lokal pasti mampu membuat kita serasa berada disana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Cerpen yang dimuat di Femina memang cerpen terpilih, ya. Mungkin karena penulisnya benar-benar riset dan menulis dengan baik (editing baik). :)

      Hapus
  13. Asyiiik.. Mak Haya ngebongkar rahasia Femina, Hayuk KEB serbuuuu :)

    BalasHapus
  14. makasih mak haya untuk tips-tips dan nasehatnya
    kata-kata para penulis di atas sangat memotivasi
    memang benar bakat tanpa di asah juga akan sia2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mak. Jangan mengandalkan bakat tok. Insya Allah, kalau terus berlatih, pasti bisa. :)

      Hapus
  15. Mak, informasi yang sangat menarik sekali, jadi tau deh sekarang kriterianya. Thanks for share ya, Mak! :) Mau makin rajin belajar lagi ah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mak. Mak Alaika senang nulis panjang-panjang, ayo serbu cerber Femina. :)

      Hapus
  16. Makasih infonya Mak Haya. Udah hampir 2 tahun gak nulis fiksi. Semoga segera menemukan soulnya lagi, nih....

    BalasHapus
  17. Makasih infonya Mak Haya. Udah hampir 2 tahun gak nulis fiksi. Semoga segera menemukan soulnya lagi, nih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Pelan-pelan aja, Mak. Jangan dipaksakan. :)

      Hapus
  18. makasih mak, info yang sangat berharga...jadi tambah semangat untuk terus belajar nulis...:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip. DItunggu karya-karyanya, Mak. :)

      Hapus
  19. Terimakasih, mbak.... mudah2an suatu saat saya bisa berkesempatan ikut acara serupa ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Sering-sering main ke website Femina, Mbak. :)

      Hapus
  20. trimakasih infonya mbak. saya sekarang tau kenapa kok cerpen saya ditolak2 terus :D

    BalasHapus
  21. Terima kasih sharingnya Mbak.. Dapet ilmu, dan insyaalloh akan dicoba walau bukan utk dikirim ke Femina (msh terlalu tinggiii utk dijangkau :))
    Ya walaupun cuma utk dibaca2 sendiri tapi kalo nulisnya pake ilmu pasti hasilnya enak dibaca, ya kan Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Boleh mulai dari media mana aja, Mbak, termasuk dari blog. Sukses, ya. :)

      Hapus
  22. Semoga infonya bisa dipraktekkan segera ya Mak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Ditunggu karya-karyanya, Mak. :)

      Hapus
  23. Salam kenal n Makasih sharingnya ya mbak, sangat bermanfaat. Btw sepakat dg Mbak Titi, warna font-nya blur agak kurang nyaman baca tapi karena topiknya menarik jadi saya paksakan utk baca :) Itu bisa diubah di settingan blognya kok mbak. Kayak blog saya http://DiaryInspirasi.blogspot.com tadinya secara default emang setingan font-nya blur kayak punya mbak ini, tapi bisa kok diutak-atik, saya ubah otomatis jadi warna hitam. Jadi jelas dan enak dibaca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sarannya. Nanti saya coba lagi. :)

      Hapus
  24. Selalu ada ilmu baru yang saya dapat dari Mba Haya, terimakasih sharingnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak. Semoga manfaat. :)

      Hapus
  25. Tema lokal, itu pengen bgt bs nulisnya...ayo latihaan...tfs mba hay...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dedeeew dikau mah dah jago. Tinggal polas-poles. :D

      Hapus
  26. Wah, makasih sharingnya mbak Haya. Serasa ikut workshopnya nih :)

    BalasHapus
  27. reportasenya komprehensip: )) oh ya mak haya, foto bareng feminanya dapat dari mana? mau donk linknya hehehe

    BalasHapus
  28. Aku ambil di Twitter @feminamagazine, Mbak. Di fanpage-nya belum ada. :)

    BalasHapus
  29. jadi inget kerusuhan waktu mau ndaftar acara ini mba heuheuheu

    BalasHapus
  30. Story telling & Editing yang baik.
    Hihihi saya masih jauh banget dari keriteria ini. Imajinasi yang sempit dan miskin kosakata, berpengaruh ya pada story telling. Editing yang baik? Huaa.. thypo saya berceceran.
    Tapi keep learning, and keep writing. Thanks infonya maakk

    BalasHapus
  31. ikut menyimak ....dan sepakat banget dengan pernyataan Bu Leila bahwa penulis yang gigih dan bekerja keras, insya Allah akan menghasilkan karya yang luar biasa.

    Dan untuk membentuk kalimat yang menarik, apalgi membuat kejutan plot...saya masih sangat keliatan "terpaksa" rangkaian kalimatnya. Hiks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat, Mbak. Yuk, terus belajar. Kita semua pasti bisa. :)

      Hapus
  32. Postingan yang sangat berguna sekali,,terima kasih sangat,,,

    BalasHapus
  33. Apakah Femina setiap tahun mengadakan acara semacam ini? Gimana caranya ikut? Jadi tertarik :)

    BalasHapus
  34. Seneng... lagi ubek-ubek tulisan mak Haya, eeh dapet informasi ini! Trmks ilmunya ya..:)

    BalasHapus
  35. Kalau saya kok malah suka baca cerita yang sad ending

    BalasHapus
  36. saya sering baca femina dan juga nova (biasa ibu beli)
    he he he

    ini postingan udah 2 tahun tapi tetap timeless
    betul juga telling story harus kuat biar ga ngambang...

    #inspiratif

    BalasHapus
  37. Pengalamannya asyik Mbak ...

    Jadi ingat ... saya sudah kirim 5 naskah Gado2, belum ada satu pun yang dimuat hihihi. Tapi kalo ada ide saya masih mau kirim lagi koq .. penasaran euy :D

    BalasHapus
  38. Wahh... Trim Mak Haya infonya, sangat, sangat,sangat membantu buat mengikuti lomba tahun ini :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan