Jumat, 03 Mei 2013

Reni Erina, Bergiat Mencari Bakat-bakat Baru

            Teman-Teman, kalau kamu penggemar berat cerpen remaja, kamu pasti tahu dengan majalah Story. Yap, majalah ini memang spesialisasi majalah cerpen untuk remaja. Nah, kali ini kita akan mengulik profil di balik suksesnya majalah Story. Siapa lagi kalau bukan Reni Erina (Erin), sang Managing Editor yang cantik dan ramah.
 
Reni Erina
 
            “Sejak kecil saya sudah mencintai dunia menulis,” demikian kata perempuan kelahiran Jakarta, 2 September ini. Di bangku SD, Erin telah mengikuti ragam perlombaan menulis dan memetik kemenangannya satu demi satu.
             Bagi Erin, menulis sangatlah mengasyikkan. Dia selalu tertantang untuk menghasilkan karya-karya bagus.  Namun, beranjak remaja, Erin malah tidak pernah lagi mengikuti perlombaan apa pun. Dia aktif menulis cerpen dan mengirimkannya ke majalah-majalah. Hingga kini, ratusan cerpennya sudah tersiar di media cetak nasional. Prestasi dalam bentuk lain pun mengisi. Novel yang ditulisnya bareng beberapa sahabat, laris manis di pasaran. Naskah puisinya dibukukan bersama sastrawan Asia dalam Suara-suara Nurani dan Kalbu.
            Sederhana saja pencarian Erin di dunia yang digelutinya sekarang. 
              Kepuasan diri. 
      Mungkin terdengar klise, namun sesungguhnya tiada yang ingin dia raih selain menyemangati diri sendiri. Soal materi, jujur dia mengakui, berkat menulis, kebutuhan hidupnya dan keluarga tercukupi. Perkara popularitas, itu hanya bonus dari kerja keras.
          Erin memang baru tiga tahun memangku kepercayaan sebagai Managing editor  majalah Story, namun jabatan ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing baginya. Empat tahun sebelum majalah Story lahir, Erin pernah menjadi Chief Editor di sebuah majalah musik (untuk remaja). Sebelumnya lagi, dia sudah bertahun-tahun malang melintang di berbagai media cetak dan online, baik sebagai reporter, maupun redaktur tamu.

            
              ”Saya pikir, sekarang waktunya saya berbagi hal-hal yang pernah saya dapatkan. Saya sedang bergiat mencari bakat-bakat baru dalam dunia menulis. Kegiatan ini tidak kalah asyik dan menantang dibandingkan kegiatan menulis itu sendiri lho,” tutur perempuan yang pernah mengecap pendidikan di STSI Bandung ini.  
            Maka, Erin benar-benar menikmati saat-saat dia memilih cerpen yang layak untuk dimuat di majalah. Dia membuka kesempatan seluas mungkin kepada penulis pemula yang potensial dan benar-benar mau belajar. Demi menjunjung komitmennya, Erin rela 'berlelah-lelah' memberikan workshop seputar dunia menulis kepada remaja (khususnya penulis pemula) di berbagai lokasi. Si penyuka (banget) camilan cokelat ini juga membuat grup diskusi terbuka di jejaring sosial Facebook. Peserta grup ternyata cukup banyak dan terlihat antusias terlibat diskusi. Meski didera kesibukan, setiap hari Erin berusaha menjawab pertanyaan atau setidaknya menyapa teman-teman di sana. Minat menulis yang tinggi di kalangan muda, membuatnya gembira.   

            
           ”Selain untuk saling sharing ilmu, grup ini memacu saya memenuhi kebutuhan para remaja akan cerpen tertentu. Contohnya, sekarang saya rutin menghadirkan cerpen-cerpen remaja bernuansa lokalitas. Saya melihat cerpen remaja yang seperti ini belum banyak, padahal cerpen seperti ini bisa membantu mendekatkan remaja pada budaya dan kulturnya,” terang Erin.  
           Dalam pekerjaan, Erin tak cuma bertemu  suka. Duka juga sesekali singgah. Dukanya, ada sebagian penulis bersikap semena-mena karena ingin segera menerima kabar tentang nasib cerpen mereka. Mereka menggedor-gedor wall Facebook, mengirim e-mail, bolak-balik SMS, atau memberondong via telepon. Wah … asal tahu saja, setiap bulan redaksi menerima kiriman 5000 judul cerpen! Erin berharap, para pengirim cerpen bisa lebih bijak menyikapi masa tunggu tersebut. Sembari menunggu, kita tetap konsisten melahirkan karya tanpa harus merasa terganggu dengan cerpen yang belum berkabar.
           Duka lain, Erin yang sangat senang membaca buku Chicken Soup Series ini mengaku pernah 'kecolongan'. Cerpen yang terpilih dimuat di majalahnya, ternyata karya plagiat. Terus terang, Erin sangat menyayangkan. Di matanya, penulis tak sekadar perangkai kata dan pembangun konflik. Ada nilai lebih yang harus ditanam dalam hati. Hargai karya orang lain, dengan demikian, karya kita akan dihargai. Dan, pastinya, masa-masa menjelang deadline, tentu masa yang paling 'sensitif'. Menggabungkan begitu banyak ide dari banyak kepala, bukan hal mudah. Apalagi tim redaksi terdiri dari sejumlah orang yang karakternya berwarna-warni. Ledakan emosi  kadang terjadi tanpa mampu dicegah.
            ”Bicara deadline, beberapa kali saya terjebak pada posisi lain yang sama-sama sulit. Misalnya, saat saya heboh dikejar deadline, anak saya sedang sakit atau ingin merayakan ulang tahun. Hm, tapi mau gimana lagi. Ini sudah risiko pekerjaan,” ujar Erin, tersenyum sendu.  



             Oiya, Erin mau cerita sedikit, nih. Selagi remaja, ia pernah mengalami peristiwa lucu. Dia berkali-kali mengirimkan cerpen ke sebuah majalah dan hasilnya, penolakan terus! Selidik punya selidik, olala … ternyata cerpennya tidak sesuai dengan visi misi majalah tersebut. Ketika dikirim ke majalah lain, cerpen Erin langsung dimuat. Intinya, kita harus jeli membidik media yang hendak kita tuju. Sebelum mengirim cerpen, baca berulang-ulang tulisan yang ada di media itu, selami pula selera redakturnya.
            ”Oiya, jangan salah, sampai sekarang pun cerpen saya masih ada yang ditolak! Jadi, penulis pemula harus punya nyali mencoba. Semua penulis memiliki kans yang sama, kok. Kalau belum dimuat, bikin lagi yang baru, demikian seterusnya. Kendala-kendala yang dihadapi saat menulis merupakan sebuah pendewasaan karya. Lalui dengan sabar, karena menulis adalah proses, bukan sim salabim,” imbuh Erin, bijak.
            Berikut pesan Erin kepada Teman-Teman, ”Barangkali kita semua pernah terserang krisis percaya diri. Bagi saya pribadi, menulis  salah satu cara ampuh untuk mengikis krisis percaya diri. Maka, menulislah!” 
            Teman-Teman yang ingin menambah teman dan wawasan seputar dunia menulis (terutama tema remaja), boleh bergabung di grup Facebook Story Teenlit Magazine (Official Grup). [] Haya Aliya Zaki 

Foto-foto: Reni Erina

8 komentar:

  1. assalamu'alaikum mbak Haya ...
    baru pertamakali saya singgah disini, terimakasih sudah berbagi dan menginspirasi. Saya punya buku mbak berjudul Hilangnya Berlian Pink, hadiah dari bunda Yati saat GA blog beliau. Putri saya suka sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam, Mbak Ani. Salam kenal. Terima kasih banget atas apresiasinya. Semoga buku itu bermanfaat. Salam buat putrinya ya, Mbak. :)

      Hapus
  2. Aq selalu kagum dg wanita wanita yang hebat seperti ini,menginspirasi bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga, Mbak. Senang melihat kiprah mereka, ya. :)

      Hapus
  3. pingin juga bisa sukses seperti mereka, salutnya juga dengan mbak haya yang makin sukses melalui tulisan2 yang menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mak Lisa. Jangan bosan mampir kemari, ya. :)

      Hapus
  4. waks... 5000 judul cerpen mak?

    Keren banget mbak Erin ini, pengen juga ah belajar bikin cerita-cerita remaja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak, kalau mau, boleh bergabung di grupnya itu. :)

      Hapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan