Kamis, 30 Mei 2013

[Film] Laura & Marsha, Mencari Makna Persahabatan Sejati dalam Perjalanan




“Kalau kamu ingin mengetahui apakah sahabatmu adalah sahabat sejati atau tidak, ajaklah dia ke gunung.” – anonim


Saya pernah membaca pepatah ini di sebuah majalah (nama majalahnya saya lupa). Setidaknya, menurut saya, pepatah ini ada benarnya. Lika-liku perjalanan untuk sampai ke puncak gunung pasti penuh dengan cerita yang amat sangat memungkinkan untuk mengeluarkan karakter asli seseorang. Kemampuan seseorang untuk menjaga imej, sepertinya mustahil. Pesan utama inilah yang saya tangkap dari film Laura & Marsha.

Laura dan Marsha sudah bersahabat sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Meski bersahabat, keduanya memiliki karakter yang bertolak belakang. Laura, yang diperankan oleh Prisia Nasution (Pia), adalah seorang agen travel. Dia single parent yang serbateratur, sistematis, dan serius. Marsha, yang diperankan oleh Adinia Wirasti (Asti) adalah seorang penulis buku traveling yang ceria, spontan, dan pencinta kebebasan.
Suatu hari, Marsha mengajak Laura traveling ke Eropa dalam rangka mengenang dua tahun kepergian mendiang ibunya. Laura menolak mentah-mentah. Sejak menjadi single parent empat tahun yang lalu, Laura tidak pernah terpikir sama sekali untuk traveling dan meninggalkan putri tunggalnya, Luna, sampai berhari-hari. Namun, Marsha tetap bersikeras mengajak Laura menjadi travelmate-nya.

“Hidup, tuh, singkat banget, La. Kematian bisa dateng kapan aja dan gue enggak mau mati sebelum mewujudkan mimpi gue.” Untuk yang kesekian kalinya Marsha memohon.

Akhirnya, Laura mengalah. Dia bersedia menemani Marsha traveling ke Eropa. Bisa dibayangkan, Laura begitu detail mempersiapkan segala sesuatunya menjelang keberangkatan. Semua diperhitungkan benar-benar. Demikian pula nanti sesampainya di Eropa. Apa-apa saja yang akan dilakukan selama dua minggu di sana, dia buat dalam bentuk poin-poin dan dicatat cermat di agenda. Sementara, bisa dibayangkan pula, Marsha adalah backpacker’s traveller dengan semangat let’s get lost-nya! Olala!

Marsha

Kekacauan demi kekacauan terjadi selama Laura dan Marsha menjelajahi Belanda, Jerman, Austria, serta Italia. Mulai dari soal bangun kesiangan sampai cekcok waktu bayar bill. Puncaknya, ketika Marsha dengan seenaknya mengajak bule bernama Finn menumpang mobil mereka. Gara-gara Finn, Laura dan Marsha tersesat!
Laura dan Marsha bertengkar hebat. Persahabatan mereka diuji dalam perjalanan. Persahabatan yang terbina sejak SMA ini, ternyata tidak menjadi jaminan mereka saling terbuka satu sama lain. Di Verona, Italia, semua rahasia terungkap. Termasuk misi tersembunyi Laura mengiyakan ajakan Marsha ke Eropa. Bagaimana nasib persahabatan mereka? Asli, adegan pertengkaran mereka mengaduk-aduk emosi saya. Bikin mbrebes mili ....


Saya memberikan nilai 3,5 bintang untuk film Laura & Marsha. Film yang memanjakan mata penonton dengan tampilan aneka view Eropa yang indah. Film semi dokumenter besutan Dinna Jasanti ini menghabiskan masa syuting 3 hari di Indonesia dan 20 hari di Eropa. 




              Meski merupakan debut pertama Dinna sebagai sutradara, hasilnya cukup gemilang. Sebelumnya, Dinna yang terlibat sebagai produser film Karma (2008), Under the Tree (2008), dan The Land of Towers (2011) pernah meraih penghargaan film, di antaranya penghargaan Bali International Film Festival Special Appreciation Award 2006 untuk film pendek Paper Cranes dan Script Development Fund dari Hubert Bals di Jakarta International Film Festival untuk film Opa's Letters

Saya dan sutradara Dinna Jasanti

 Dan, apalah artinya sebuah film tanpa skenario yang kuat. Bravo untuk Titien Wattimena. Quote menarik bertabur di sepanjang film. Oiya, saya juga ingin memberikan standing ovation untuk akting Pia dan Asti. Yang saya dengar, di kehidupan nyata, karakter mereka kebalikan dari film berdurasi 107 menit ini. Pia memiliki karakter Marsha, sementara Asti memiliki karakter Laura. Pendalaman akting yang hebat. Tidak heran, Pia adalah peraih Piala Citra 2011 sebagai Pemeran Wanita Terbaik (film Sang Penari) dan Asti peraih Piala Citra 2005 sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (film Tentang Dia). Saya jatuh cinta dengan akting Asti yang sangat natural. Tidak mudah, lho, memerankan tokoh Marsha yang kelihatan always happy and feel free all the time di depan kamera. Gara-gara tokoh Marsha, pulang dari XXI, saya membeli gelang kayu ini. Soalnya, Marsha selalu pakai aksesoris hihihi. Halah.



Soundtrack genre folk berjudul Summertime karya Diar menambah keapikan film. Mungkin musik genre folk masih asing di telinga penonton Indonesia. Saya juga merasakannya. Tapi, menurut sang sutradara, latar musik jenis ini sangat cocok untuk film-film perjalanan. Apalagi, setting-nya di Eropa. Yuk, dengar musiknya. 



Seingat saya, saya belum pernah menonton film tentang perjalanan, selain film The Simple Life yang dibintangi Paris Hilton dan Nicole Richie. Kasihan, kasihan, hiks. Eh, lhaaa ... itu, sih, bukan film, ya, melainkan serial televisi. Intinya, saya suka dengan tontonan bertema ini, deh.
Cuma, ada yang mengganjal dari film Laura & Marsha, nih. Adegan Laura mengalami kecelakaan sebelum dia terbang ke Eropa, kemudian koma, dan voila ... sembuh, terasa seperti tempelan belaka. Adegan ini terkesan ‘dipaksakan’ supaya bisa memberi alasan kepada Marsha untuk mengajak Laura menjadi travelmate-nya. Berikutnya, kenapa Laura dan Marsha memutuskan untuk menyewa mobil Mercedes Benz sebagai transportasi mereka di Eropa? Kenapa tidak menggunakan transportasi publik seperti bus atau kereta? Bagaimana cara Laura dan Marsha mengembalikan mobil sewaan mereka yang hilang itu? Harganya, kan, mahaaal. Uang mereka sudah amblas karena berbagai peristiwa tak terduga selama perjalanan. Ya, tidak semua harus ada penjelasan, sih. Tidak mengurangi keasyikan menonton film Laura & Marsha juga. Tapi, mungkin bisa menjadi perhatian di masa datang. 
Film Laura & Marsha bukan sekadar film tentang perjalanan biasa. Ada pencarian makna persahabatan sejati, pencarian makna sesungguhnya sebuah perjalanan. At the end, film yang  diproduseri Leni Lolang dan digarap Inno Maleo Films ini, sukses membuat saya mupeng ingin traveling ke Eropa, terutama Italia. Selain indah, Italia adalah salah satu kiblat mode dunia. Kali saja saya bisa cuci mata melihat fashion yang keren-keren di sana. Soal kiblat mode dunia, kata orang-orang, ini bisa jadi berawal dari bentuk negara Italia yang seperti kaki perempuan sedang memakai sepatu high heels. Lihat saja di peta. Percaya?

Foto dari sini

        Terima kasih kepada rekan blogger Ani Berta yang telah mengundang saya dan suami menonton film Indonesia yang bermutu ini. Merupakan salah satu hadiah cantik yang saya terima, tepat di hari ulang tahun saya 25 Mei lalu. Film Laura & Marsha serentak diputar di bioskop pada tanggal 30 Mei 2013. Cocok banget ditonton oleh Teman-Teman yang suka traveling, apalagi bareng sahabat tercinta. Mariii ...! ^_^ [] Haya Aliya Zaki



        



22 komentar:

  1. Aku liat iklannya di RCTI mak, pengen banget nonton film nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Yuk, nonton. Eh, tapi, dikau di Abu Dhabi, piye, ya? :(

      Hapus
  2. Wah, ntar nonton ah, jadi bisa cuci mata akan view indah luar negeri, juga jadi penasaran akan critanya nih gegara review Mak Haya. :) Tapi alangkah indahnya jika dapat undangan seperti yang dirimu dapatkan tuh, Mak. Haha. #NgarepDotCom.

    BalasHapus
  3. Film yg berbudget mahal ini :D. Jalan2 maak keeropah, saiah sudah :D gratis pulak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Lupa aku berapa miliar bujetnya.
      Huaaa jalan-jalan gratis? Maooo!

      Hapus
  4. reviewnya sip banget...

    BalasHapus
  5. Makasih, Mak Cantik. Yuuuk, nonton. :D

    BalasHapus
  6. Seruu Maak kayanya yaa:D
    Baca reviewnya keren, apalagi kalo sambil nonton ya..
    Penasaran sama View di eropa nya..!

    makasih ya sharing nya..
    #bisa2 nonton bareng Olive niy :D


    BalasHapus
  7. jadi pingin nonton filmnya. seru kayaknya

    BalasHapus
  8. Iya, seru, Mak. Sekalian cuci mata lihat pemandangan Eropa yang indah. :)

    BalasHapus
  9. Jd penasaran... Soundtracknya keren tuh .cocok dg filmnya :)

    BalasHapus
  10. Iya, Mak. Soundtrack untuk film-film road movie, kata sutradaranya. Yuk, nonton. :)

    BalasHapus
  11. Pengen nonton. Tapi, kapan bisa nonton bioskop lagi, ya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi Mak Sary baru punya baby, sih, ya. Aku waktu juga baru punya baby, ga bisa nonton ke bioskop, Mak. Kalo dibawa, kasihan baby. Kalo ditinggal, tahu-tahu baby pengin nyusu piye. :D *tidak memberikan solusi* :))))

      Hapus
  12. hiks..hiksss,,sayang saya belum nonton...

    BalasHapus
  13. keren mak filmnya ya, saya juga punya sahabat malah sejak SMP sampai kuliah selalu satu sekolah dan bersama, tp setelah nikah kami jauhan

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan