Sabtu, 27 April 2013

Rae Sita Patappa: Dongeng Ibarat Ruang Sederhana untuk Belajar Kehidupan

     
Kalau Teman-Teman senang membaca majalah anak-anak, pasti nama profil penulis berikut tidak asing lagi. Dia adalah Rae Sita Patappa (Sita), gadis kalem kelahiran Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, 14 Januari 1979.  Yap, Sita yang sehari-hari berprofesi sebagai penyiar di sebuah radio swasta di Pontianak,  sangat produktif menulis cerita anak, terutama dongeng, sejak tahun 2003.

”Bapak memberi pengaruh besar kepada saya untuk mencintai dunia cerita anak, khususnya dongeng. Dulu, waktu saya masih kecil, beliau rajin membacakan dongeng, juga rutin membelikan majalah anak-anak. Merpati Putih (Enid Blyton)  merupakan buku dongeng pertama yang saya miliki. Buku itu hadiah istimewa dari Bapak ketika saya ulang tahun. Saya membacanya berulang-ulang dan suka dengan semua isinya,” Sita mengawali pembicaraan.

Rae Sita Patappa


Kenangan masa kecil tentang bacaan berupa dongeng, rupanya meninggalkan jejak manis di hati Sita.  Tak heran bila kini goresan pena-nya konsisten mengalir di jalur ini. Prestasi sebagai juara II Lomba Menulis Dongeng Bobo (2003), juara II Lomba Menulis Dongeng Bobo (2005), juara III Lomba Menulis Dongeng Bobo (2006), sukses  diraih. Salah satu dongengnya   lolos dengan mulus sebagai Dongeng Pilihan Lomba Menulis Dongeng Bobo (2007).
             ”Dongeng ibarat sebuah ruang sederhana untuk kita belajar kehidupan. Dongeng tidak sulit dipahami dan selalu menoreh kesan,” kata si penggemar cokelat dan es krim ini, tersenyum. Jujur, saat Sita dewasa dan bersua dunia nyata, tanpa sadar, dia sering teringat dongeng yang pernah singgah di masa kecilnya. Pesan-pesan sederhana dalam dongeng, ternyata mampu menolongnya  menemukan solusi dari ragam masalah.

Kalau ditanya apa sesungguhnya yang Sita cari di dunia menulis, jawabannya sangat simpel: kebahagiaan! Sita bahagia karena bisa merekam hal-hal ’remeh’, lalu menjalinnya menjadi sebuah kisah.  Terus terang, justru inspirasi menulisnya sering pop up ketika melihat hal-hal ’remeh’ tersebut. Contoh, dia pernah menemukan sebutir kancing kecil yang sepintas lalu terlihat tak berarti. Namun, bagi gadis pemegang gelar Sarjana Ekonomi Akuntansi Universitas Tanjung Pura, Pontianak ini, kancing tadi pastilah sangat berharga bagi orang yang kehilangan kancing itu di pakaiannya. Pemikiran tersebut dia olah hingga berwujud dongeng cantik berjudul Jubah Satu Mutiara dan dimuat di majalah Bobo.   



Bicara soal dongeng, Sita mendapat ’panggilan sayang’ Peri Hujan dari teman-temannya lho hihihi .… Apa sebab? Ternyata, ini karena Sita sangat suka menulis kala hujan deras mengguyur bumi! Rasanya imajinasi seperti ikut menderas bersama hujan. Oiya, Sita pernah mengalami peristiwa unik berkaitan  hujan. Waktu itu, dia berencana mengikuti lomba menulis dongeng yang diselenggarakan majalah anak-anak. Berhubung komputer di rumahnya mendadak rusak, Sita pun nekat meluncur ke rental komputer terdekat, padahal hari hujan deras. Di  rental komputer, dia duduk terdiam karena tidak punya ide awal untuk naskah yang akan diketik, sementara besok adalah hari terakhir pengiriman naskah lomba! O-ow!  Sambil sesekali menatap hujan, jemari Sita  pun mulai mengetik. Dua jam di rental komputer, naskah selesai. Sore itu juga dia bergegas  mengirimkannya. Naskah Sita memang tidak menang lomba, tapi alhamdulillah berhasil dimuat di majalah anak-anak edisi reguler, judulnya Nian Teman Hujan.  

Psssttt … kalau boleh tahu, kenapa, ya, Sita memilih pekerjaan yang berbeda dengan latar belakang pendidikannya? Hm, putri dari pasangan Mahaseng Patappa dan Tina Sumarna ini mengaku bahwa dulu dia ingin menekuni lahan ilmu psikologi, bukan ekonomi. Hanya, begitu dijalani, suasana nyaman kampus dan hubungan akrab para sahabat, lumayan membuatnya betah. Saat lulus, keinginan bekerja sebagai akuntan kembali susut. Sebaliknya, niat memperdalam dunia menulis cerita anak kian menjadi-jadi. Inilah pilihan hidup Sita. Selain produktif menulis dongeng untuk media cetak, Sita juga telah melahirkankan 21 judul buku dongeng yakni, kumpulan dongeng Kisah Sepuluh Bintang Kecil (Pijar Publishing, 2007), dongeng Zir Penyihir Sisir (Pustaka Ola, 2010),  pictorial book Princess Jihan (Inti Medina, 2010) seri Kalimat Thoyyibah sebanyak 6 buku, Princess Zodiak (Tiga Serangkai, 2010) sebanyak 13 buku, dan masih banyak lagi. Keren!

Sebagian karya Sita


Kalau ditanya lebih asyik mana, siaran di radio atau menulis, maka jawab Sita, so pasti menulis! Saat siaran, segala materi acara sudah disiapkan oleh pihak stasiun radio. Tapi, ketika menulis, dia bisa menyampaikan semua hal berdasarkan isi hati pribadi. Alhamdulillah, kegiatan siaran mendukung kegiatan menulisnya. Pas  sedang menyetel lagu, mengadakan talkshow, atau berbincang dengan pendengar, kadang dia menemukan ide untuk ditulis. ”Dengan menulis rasanya saya bisa menyampaikan buah pikiran saya kepada banyak orang, tanpa harus capek berkoar-koar memaksa mereka agar mau mengerti. Andai diminta memilih, saya memilih dunia menulis. Suatu waktu saya akan berhenti siaran, tapi menulis bakal saya lakoni seumur hidup,” sahut Sita, mantap. 

 
               Sebelum berpisah, Sita mengurai kiat. Menurutnya, kunci sebuah kesuksesan adalah ketika kita memulai suatu pekerjaan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Bagi Sita, menulis lebih dari sekadar hobi yang menyenangkan. Disiplin bekerja dijunjung tinggi-tinggi. Jangan lupa, tetaplah berpikir positif saat mengirimkan naskah ke media atau penerbit. Selalu ada kali pertama di mana nama seorang penulis belum pernah sekali pun tercetak (dimuat) di media. Nah, bila  semua hal tadi dipraktikkan sesuai porsinya, insya Allah hasil pekerjaan juga akan ’serius’.  “Urusan mood, bisa diatur. Manusia tidak hidup selamanya. Jadi, kapan lagi kita merangkai karya kalau terus menunda?” imbuh sang pemilik e-mail rae_inter@yahoo.com ini, retorik.

Di luar stasiun radio, hujan mulai menetes satu-satu. Tampaknya benak Sita juga mulai menggeliat meneteskan butir-butir imajinasi .... [] Haya Aliya Zaki

Foto-foto: Rae Sita Patappa


          

21 komentar:

  1. Uhuk.... T___T keren. Mo minta tanda tangan ah.. oh.. mau ga ya kalo ta minta nyumbangin dongeng lagi ^__^ hohoho...

    BalasHapus
  2. liputannya baguss makk ^^
    seneng deh baca tulisannya Mak Haya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mak Shinta. Kapan-kapan ngedesain blogku, ya. :D

      Hapus
  3. Suka liputannya. Makasih Mbak Haya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, semoga bermanfaat, Mak Aisyah. :)

      Hapus
  4. Balasan
    1. Rasanya manis atau gurih? Qiqiqi ....

      Hapus
  5. keren! aku saja bikin dongeng anak sulit sekali. salut!

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. Betul, Mbak satu ini memang keren. :)

      Hapus
  7. seneng baca reportase ttg mbak Sita, jempol banget. makasih informasinya, isinya dalem banget :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak. Alhamdulillah, semoga manfaat. :)

      Hapus
  8. Buku Princess Jihan, anakku udah punya, cari buku yang lain ah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, pasti pada suka, ya, anak-anaknya, Mak? :D

      Hapus
  9. suka deh, termasuk sennag baca dongengya Mbak Sita:)

    BalasHapus
  10. Sama, Mbak. Idenya adaaa ... aja, ya. :)

    BalasHapus
  11. ohhh ini toh dibalik buku dongeng bobo selama ini he.

    BalasHapus
  12. Udah enggak penasaran lagi, kan, sekarang? :)

    BalasHapus
  13. Wow, salut dengan para penulis yang begitu kreatif menulis dongeng. Salam salut untuk mba Sita. Trimakasih liputannya yang tak kalah keren nih, Mak Haya. Tulisan Mak Haya selalu top markotop, suka cara Mak Haya mengulas. :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan