Selasa, 09 April 2013

Hidup Semakin Kaya karena Noda


Kalau ingat masa kecil dulu, saya tak henti bersyukur. Saya dibesarkan oleh orangtua (terutama Abah) yang tidak overprotektif terhadap noda (kotor). Saya dan adik-adik dibiarkan leluasa main kotor-kotoran. Biasanya, kalau kami sedang main kotor-kotoran, Mama dan Abah berada di dekat kami, mengawasi dan mengarahkan. Sebagian tamu, sanak saudara, atau teman Mama dan Abah yang berkunjung ke rumah, terkadang mengernyit heran.  

       “Abang tidak takut anak Abang sakit kalau main kotor begini?”
“Rumah Ibu pasti kayak kapal pecah terus, ya. Anak-anaknya dibiarin aja main kotor.”
“Aduh, Pak, anaknya kotor kali! Enggak jijik, ih!”

      Begitu kalimat yang mereka lontarkan. Namun, Mama dan Abah selalu menjawab santai, “Biarlah kotor. Nanti, kan, bisa dibersihkan. Dalam kotor, sebenarnya anak-anak sedang proses belajar.”   

 Tentu saja, waktu itu saya belum mengerti maksud kalimat orangtua saya. Barulah semenjak menjadi ibu, semua jadi jelas terbuka. Buku Cerita di Balik Noda yang sudah selesai saya baca, semakin menguatkan pemahaman itu.

Judul buku : Cerita di Balik Noda (42 Kisah Inspirasi Jiwa)
Penulis : Fira Basuki
Editor : Candra Gautama
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan Rinso Indonesia
Tahun terbit : 2013
Jumlah hal : 248 hal
Harga : Rp40.000,00

   
  
  
        Cerita di Balik Noda adalah karya terbaru penulis buku bestseller Fira Basuki. Ada 42 cerita inspirasi jiwa yang ditulis Fira, 38 cerita di antaranya terilhami dari cerita peserta lomba menulis bertema “Cerita di Balik Noda” yang diadakan oleh Rinso Indonesia melalui Facebook. Rinso, produk nasional deterjen pertama di Indonesia, percaya bahwa ‘noda’ adalah hal yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Bukan hanya anak, orang dewasa juga belajar banyak hal bernilai dari ‘noda’. Nah, beruntung, nih, saya hadir di acara launching buku ini, yang bertempat di Kembang Goela Restaurant, Jakarta, 31 Januari 2013 lalu. Saya jadi mengetahui proses kreatif pembuatan buku dari penulisnya langsung.

Launching buku Cerita di Balik Noda di Kembang Goela Restaurant, Jakarta

       Berdasarkan keterangan Fira, ‘noda’ di dalam buku Cerita di Balik Noda tidak seluruhnya diartikan secara harfiah. ‘Noda’ juga bisa berarti keburukan hati seperti rasa iri dan prasangka. Oiya, buku ini sepertinya tidak bisa dikategorikan sebagai buku nonfiksi. Soalnya, ada cerita yang difiksikan, termasuk 4 cerita karya Fira, yakni Bos Galak, Sarung Ayah, Pohon Kenangan, dan Foto. Dua di antaranya menjadi favorit saya, yakni Bos Galak dan Sarung Ayah. Bos Galak bercerita tentang Bu Elsi, seorang bos yang sangat ditakuti oleh karyawannya. Tak ada seorang pun yang berani membantah Bu Elsi. Namun, kehadiran Rani, karyawan baru, mampu meluluhkan hati bos galak ini. Pengin tahu, kan, apa yang dilakukan Rani? Baca saja bukunya, ya. Sementara, ide cerita Sarung Ayah berasal dari almarhum suami Fira sendiri. Suami penulis cantik kelahiran Surabaya, 7 Juni 1972 ini, suka memakai sarung semasa hidupnya. Ketika suami meninggal, Fira larut dalam kesedihan dan sempat tidak mau mencuci sarung suaminya yang dia peluk setiap hari. Namun, tersentak oleh kenyataan bahwa Fira harus tegar demi anak-anak, akhirnya Fira bangkit. Sarung almarhum suami pun dicuci. Fira sadar, kenangan cinta merekalah yang abadi.
 

                                Mata Fira berkaca-kaca ketika bercerita tentang proses kreatif penulisan Sarung Ayah

         Sebagian besar (sekitar 90%) cerita asli di dalam buku ditulis oleh perempuan (khususnya ibu). Sebagian besar cerita mengangkat hubungan ibu dan anak. Mungkin karena sehari-hari, ibu adalah sosok yang paling dekat dengan anak. Yang sangat menarik, melalui cerita-cerita ini, justru para orangtua belajar dari kearifan anak. Simak salah satu cerita favorit saya, Nasi Bungkus Cinta. Tokoh anak, Farhan, membantu memberikan nasi bungkus kepada para korban banjir, tanpa sepengetahuan ibunya. Lebih dari itu, betapa terkejutnya sang ibu ketika teman-teman Farhan menjelaskan bahwa Farhanlah yang memiliki ide, kemudian menggerakkan teman-temannya untuk ikut membantu. Siluman Tikus bercerita tentang rumah kosong yang mendadak berpenghuni. Penghuninya seorang nenek-nenek misterius. Siluman Tikus, demikian julukan warga sekitar karena rumah nenek itu sangat kotor dan sampahnya menjadi santapan tikus. Ternyata, oh ternyata, baru ketahuan kalau nenek itu bukan siluman! Jadi, siapa sebenarnya nenek itu? Yang jelas, warga malu dan kagum kepada Ali, tokoh anak dalam cerita ini. Suka, deh, sama cerita Siluman Tikus. Bikin penasaran dan seram-seram gimana, gitu. Berasa ikut jadi detektif hehehe. Ada juga cerita Imlek Buat Lela. Gwenn, tokoh anak, ingin membelikan sepeda buat Lela, anak pembantunya. Gwenn memakai uang angpao yang dia dapat pas Imlek. Ketika ibu Gwenn menawarkan supaya sepeda bekas Gwenn saja yang diberikan kepada Lela, sementara sepeda baru nanti untuk Gwenn, Gwenn menolak. Gwenn ingin memberikan sepeda yang benar-benar baru buat Lela, bukan bekas. Mulia sekali!

          Percayakah Anda, ‘noda’ dapat membuat anak kreatif? Simak cerita Baju Kreatif. Berawal dari ide Salsa, tokoh anak, yang ingin mengolah sampah menjadi sesuatu yang berguna, sang ibu jadi tergugah untuk berpartisipasi. Sampah-sampah plastik bungkus deterjen, plastik bekas pembungkus pelembut pakaian, botol bekas susu, ‘disulap’ menjadi baju, selendang, tas, dompet, dan aksesori. Keren, ya? Cerita Master Piece lain lagi. Mulanya, sang ibu ingin melatih kemampuan motorik halus anaknya, Aninda, dengan mengarahkannya untuk mencoret-coret. Benda apa pun tak luput dari coretan Aninda. Selimut, seprai, sofa, tembok, hingga bajunya sendiri haha! Lambat laun, sang ibu yang sabar, menuai hasil. Aninda tumbuh menjadi pelukis cilik yang berprestasi! Saya juga memfavoritkan cerita Koki Cilik. Nisa anak yang aktif. Ketika melihat acara Koki Cilik, sontak Nisa ingin belajar memasak. Tak disangka, Nisa berbakat menjadi koki cilik. Nisa yang dulunya susah makan, sekarang lahap sekali memakan makanan masakannya sendiri. Bukan cuma itu. Dibantu ibunya, Nisa membuka bisnis “Kue Nisa”.  Berkotor ria dengan sampah, coretan krayon, dan adonan masakan, membuat wawasan anak bertambah. Semakin besar ruang yang diberikan orangtua kepada anak, anak semakin percaya diri. Saat berkotor ria, ada interaksi positif antara orangtua dan anak. Ah, cerita-cerita ini membuat saya semakin mantap ‘membebaskan’ anak-anak saya (Faruq, Shafiyya, dan Sulthan) bereksplorasi dengan lingkungan walau pakaian dan tubuh mereka bakal jadi kotor. Selain cerita-cerita di atas, masih banyak cerita inspiratif lainnya, yang pastinya sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Faruq, Shafiyya, dan Sulthan


Oiya, mau tahu salah satu magnet utama buku Cerita di Balik Noda bagi saya?
Kumcer (kumpulan cerita).

Terus terang, saya lebih suka membaca kumcer daripada novel. Kumcer bisa dibaca melompat-lompat, tidak perlu runtut dari awal sampai akhir. Meski memiliki satu ‘benang merah’, masing-masing cerita berdiri sendiri, tidak saling berkaitan. Kalau sudah selesai membaca 2 atau 3 cerita, saya bisa meletakkan buku sebentar, untuk mengerjakan kewajiban lain. Kalau kewajiban sudah selesai ditunaikan, saya lanjut membaca cerita lagi. Saya juga bebas memilih cerita yang saya anggap paling menarik untuk dibaca terlebih dahulu. Dan, ketika Fira mengatakan bahwa cerita yang paling disukainya adalah Siluman Tikus, maka cerita yang pertama kali saya baca di rumah adalah cerita Siluman Tikus hehehe. Intinya, buku kumcer cocok banget buat ibu-ibu rempong seperti saiyah. :D   


Dapat tanda tangan Fira Basuki. Yeay!

Ok, back to the topic. Secara keseluruhan, cerita demi cerita dalam buku Cerita di Balik Noda dituturkan dengan cara yang menawan. Fira sangat kreatif mengolah sudut pandang. Ada cerita yang bertutur dari sudut pandang (pastinya) ibu, karyawan, kakak, bahkan anak-anak. Buku ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Kalimat-kalimatnya sederhana dan enak dibaca. Tidak sulit menyingkap hikmah di balik ‘noda’ dari setiap cerita. Hebatnya, hampir semua ending membuat mata saya berkabut karena haru. 

Meski begitu, tak ada gading yang tak retak. Saya memperhatikan ada beberapa kekeliruan penulisan kata yang belum sesuai dengan kata baku di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Contoh, cicak (hal. 11), seharusnya cecak; memerhatikan, seharusnya memperhatikan; assalammualaikum, seharusnya assalamualaikum; selang (hal. 54), seharusnya slang; dipungkiri, seharusnya dimungkiri; menghentak-hentak (hal. 98), seharusnya mengentak-entak; mencontek (hal. 126), seharusnya menyontek; alpukat (hal. 212), seharusnya avokad. Ada juga beberapa typo seperti Buaya (hal. 25), seharusnya Buya; sprei (hal. 33), seharusnya seprai; kuperhatian (hal. 54), seharusnya kuperhatikan; jazad (hal. 56), seharusnya jasad; mendali (hal. 198), seharusnya medali; behenti (hal. 211), seharusnya berhenti. Penggunaan kata “sosial media” (hal. 181), seharusnya dituliskan “media sosial” agar sesuai dengan hukum D-M (diterangkan-menerangkan). Namun, kekeliruan-kekeliruan ini sama sekali tidak mengganggu atau mengubah makna cerita. 

Selain itu, saya juga memperhatikan beberapa inkonsistensi tokoh dan sudut pandang dalam cerita. Pada cerita Sarung Ayah, tokoh anak awalnya bernama Dewi, namun belakangan berubah menjadi Wulan. Pada cerita Kado Ulang Tahun, sudut pandang “saya” kadang-kadang berubah menjadi “aku”. Pada cerita Imlek untuk Lela, tokoh anak Gwenn sempat bertukar nama menjadi Lela. Kemudian, beberapa kata sapaan tidak diawali huruf kapital contoh, “Mama ke mana anak-anak?” (hal 215), seharusnya dituliskan “Mama ke mana, Anak-Anak?”. Contoh lain, “Maafkan mama, ya, anak-anak.” (hal. 217), seharusnya dituliskan “Maafkan Mama, ya, Anak-Anak.”.   

Pada kesempatan launching, dengan rendah hati Fira mengakui bahwa buku Cerita di Balik Noda masih memiliki kekurangan. Ya, tidak ada sesuatu yang sempurna. Bagi saya pribadi, untuk buku yang ditulis dalam waktu yang sangat cepat, yakni tiga minggu (bahkan, ini buku yang paling cepat diselesaikan dalam sejarah kepenulisan Fira), saya patut memberikan apresiasi gemilang. Seperti yang sudah saya sebutkan di awal-awal paragraf, gema “Berani Kotor Itu Baik” yang diusung Fira Basuki dan Rinso Indonesia melalui buku, cukup berhasil membuka paradigma pemikiran orangtua bahwa sesungguhnya hidup akan semakin kaya apabila kita bersentuhan dengan noda.


Maka, jangan heran jika buku ini meraih tempat istimewa di hati pembaca, terutama kaum ibu. Jangan heran jika buku yang sudah beredar antara lain di toko buku Gramedia, Toga Mas, dan Gunung Agung ini, duduk manis di rak-rak buku Recommended dan BestSeller. Bravo! [] Haya Aliya Zaki, anggota komunitas Kumpulan Emak Blogger

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Ngeblog Review Buku Cerita di Balik Noda kerja sama antara Rinso Indonesia dengan Kumpulan Emak Blogger. Pengin ikutan juga? Cek infonya di sini


10 komentar:

  1. Kalo editor yg bikin review tambah banyak kelihatan typo nya :)

    BalasHapus
  2. Hehehe ... bisa aja, Mbak Arin. :)

    BalasHapus
  3. betul kata mbak Arin, btw, keren mak...:-)

    BalasHapus
  4. Makasih, Mak Nunung. Peserta yang lain bagus-bagus reviewnya, termasuk Mak Nunung dan Mak Arin. :)

    BalasHapus
  5. Jadi keder baca reviewnya Mba Haya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keder kenapa, Maaak? Review-mu bagus. :)

      Hapus
  6. Haduhh ngumpeti punya sayahhh hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiaaa ... ini kenapa lagi? :)) Yang penting, kita sudah berpartisipasi ya, Mak. :D

      Hapus
  7. Nyontek ini aah.. buat bekel nulis resensi novelnya mba Tias nanti hihihi

    BalasHapus
  8. Lha, resensiku ini, kan, ga menang, Mak hihihi.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan