Selasa, 02 April 2013

Demam, Musuh atau Teman Anak?


Apa yang biasanya Teman-teman lakukan kalau anak sedang demam? Langsung membawa anak ke dokter? Sibuk menurunkan suhu anak menjadi normal? Atau, malah heboh ‘bertengkar’ dengan orangtua tentang cara terbaik mengurus anak?

          Pfiuuuf ... *peras handuk keringat*

      Sebagian besar orangtua mungkin mengalami kepanikan ini. Bahkan, ada yang menjadi ‘fever phobia’. Nah, kalau sudah membaca penjelasan lengkap tentang demam dari acara PESAT 5 Tangerang berikut, mudah-mudahan tidak panik lagi. Kebetulan, saya mendapat undangan untuk hadir di acara yang berlokasi di Palm Trees Montessori School, BSD, Tangerang (23/3) ini. Rere, salah seorang panitia, mengatakan bahwa PESAT merupakan singkatan dari Program Edukasi Kesehatan Anak untuk Orangtua. Program yang berada di bawah naungan Yayasan Orangtua Peduli tersebut memang rutin diselenggarakan di berbagai daerah. Akhir Maret lalu adalah kali yang kelima. 



Tepat pukul 08.00 pagi, dr. Yoga Pranata SpA., membuka sesi pertama yang membahas tentang demam.  Menurut dr. Yoga, sebenarnya, demam adalah ‘teman’ bagi anak. Wah, kok, bisa, ya?


Demam merupakan mekanisme alami tubuh melawan penyakit. Saat demam, produksi netrofil dan limfosit meningkat. Keduanya bertugas mengurangi pertumbuhan virus dan bakteri. Demam adalah GEJALA, BUKAN PENYAKIT.


Anak disebut demam jika suhu tubuhnya > 37o C. Pakailah termometer digital untuk mengukur suhu, jangan hanya menempelkan tangan kita di kening atau pipi anak. Tempat pengukuran suhu bisa melalui oral (mulut), telinga, ketiak, atau rektal. Bayi < 3 bulan (rektal), bayi dan anak < 4 tahun (rektal atau ketiak), anak > 4 tahun (oral atau ketiak). Suhu yang akurat akan membantu dokter menegakkan diagnosis jika demam anak berkelanjutan.

Bagaimana jika anak tidak bisa demam?

Berarti, tidak ada warning bahwa tubuh sedang bermasalah (terserang virus, bakteri, atau penyebab lain). Tidak ada mekanisme alami tubuh melawan penyakit. Tahu-tahu saja anak drop kondisinya. Ini berbahaya. Anak yang tidak bisa demam biasanya anak yang sistem kekebalan tubuhnya terganggu. Contoh, anak penderita HIV.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, selain karena virus dan bakteri, demam bisa juga terjadi  kalau anak sedang tumbuh gigi atau baru mengalami trauma (terbentur atau jatuh). Demam yang disebabkan oleh keganasan (kanker) sedikit sekali persentasenya.

Sebaiknya, orangtua tidak ‘terobsesi’ menormalkan suhu anak. Demam akan hilang seandainya penyebabnya juga hilang. Obat antipiretik (pereda demam sementara) boleh saja diberikan supaya anak merasa lebih nyaman. Obat antipiretik yang aman untuk anak adalah PARASETAMOL dan IBUPROFEN. Perhatikan bahan aktif obat di kemasan, ya, bukan mereknya. Obat antipiretik yang berbahan aktif asam setil salisilat (asetosal) JANGAN DIBERIKAN kepada anak < 12 tahun. Berikan obat antipiretik sesuai dosis dan aturan pemakaian.

Ingat, obat antipiretik bukan penyembuh. Obat antipiretik tidak bisa melenyapkan penyebab demam. Beberapa jam kemudian, masa kerjanya habis, demam pun akan muncul kembali. Oiya, stop sembarang memberikan antibiotik! Kalau memang penyebab demam adalah bakteri, baru, deh, antibiotik diberikan. Tapi, kalau penyebabnya hanya virus (85% penyebab demam adalah virus), anak tidak perlu diberikan obat apa pun. Virus akan capcuuus dengan sendirinya berkat perlawanan alami dari antibodi. 



Fakta yang saya baru tahu adalah, sampai sekarang (berdasarkan informasi dari dr. Yoga), kompres BELUM TERBUKTI memberikan manfaat. Hanya, jika anak merasa lebih nyaman dikompres, silakan kompres. Saya pribadi, kalau demam, senang banget dikompres hehe. Sebaliknya, pasti rada sulit mengompres anak-anak, ya? Kompres bakal dicopot melulu.

Apa yang paling dibutuhkan anak demam? 

            AIR! 

       Kebutuhan cairan meningkat saat anak demam. Jangan sampai anak dehidrasi (bibir kering pecah-pecah, tidak BAK > 6-8 jam, BAK keruh, mata cekung, menangis tidak keluar air mata). Selain itu, istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi.

 Bagaimana ciri-ciri demam yang harus diwaspadai?
- Demam tidak turun > 3 hari (72 jam) tanpa diikuti gejala lain (batuk, pilek, diare, muntah)
- Bayi < 3 bulan dengan suhu > 37,9o C
- Bayi 3-6 bulan dengan suhu > 38,3oC
- Anak > 6 bulan dengan suhu 39,4oC
- Anak dehidrasi, menangis kuat terus-menerus, sesak napas, biru, sakit kepala hebat.

          Kejang demam bagaimana? Berbahayakah? Kejang demam terbagi atas kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana tidak perlu terlalu dicemaskan. Ciri-ciri kejang demam sederhana adalah kejang pada seluruh tubuh (bukan anggota tubuh tertentu), durasi kejang < 15 menit, kejang hanya terjadi 1 x 24 jam. Berikan diazepam rektal, aman dan efektif, bisa dilakukan di rumah. 

Dr. Yoga menekankan, tidak ada hubungannya suhu tinggi dengan kejang demam. Kejang demam bisa terjadi pada suhu tinggi maupun suhu yang tidak begitu tinggi. Belum ada yang mampu meramalkan. Apakah anak akan mengidap epilepsi kalau pernah mengalami kejang demam? Jawabannya tidak. Apakah anak akan jadi bodoh bila pernah kejang demam? Jawabannya juga tidak. Semua mitos belaka.

Setelah membaca seluruh informasi di atas, sekarang Teman-teman setuju, kan, kalau demam adalah ‘teman’ anak?

Sesi pertama acara yang didukung oleh majalah Ayahbunda, The Urban Mama, Mommies Daily, Lippo Insurance, dan #AyahASI ini berakhir pukul 10.00 pagi. Sayang, berhubung ada hajatan keluarga, saya berhalangan mengikuti dua sesi menarik berikutnya, yakni Kehamilan, Persalinan, dan Bayi Baru Lahir (dr. Fransisca Handy, SpA., IBCLC) dan Imunisasi (Putri Suhendro). Semoga kali lain saya mendapat kesempatan lagi untuk hadir di acara PESAT. Sebagai orangtua, kita memang perlu terus belajar dan menambah wawasan seputar kesehatan anak. 

          Teman-Teman yang berminat ikutan acara PESAT, silakan mengakses infonya di PESAT Tangerang [] Haya Aliya Zaki  
     



23 komentar:

  1. informasinya berguna banget, terima kasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Terima kasih sudah mampir, Mas Chandra. :)

      Hapus
  2. Setujuu buanget..!
    Kalo anakku demam, langsung tak kasih persediaan obat penurun panas yang biasa di minum, biasanya suka langsung turun Mak, ga nyampe sehari..
    Tapi pernah panik juga, kalo 3-4 hari ga turun aja, jatahnya nengok Dokter langganan deh :D.

    Makasih ya sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebaiknya tidak langsung dikasih obat penurun panas, Mak. Kalau rewel saja. Yang paling penting adalah AIR. Saat demam, kebutuhan carian meningkat. Jangan sampai anak dehidrasi. :)

      Hapus
  3. kemarin Nisa baru aja demam, >38 dercel. Penyebabnya kayaknya masuk angin, soalnya sebelumnya muntah2. Demamnya enggak kuapa-apain, soalnya anaknya dikompres enggak mau, hehe. Muntahnya kukasih obat anti mual yang diresepkan dokter. Itupun cuma sekali dipake (dimasukkan lewat dubur), setelah enggak muntah lagi, enggak kukasih lagi. Jadi, anginnya keluar lewat 'pup' nya yang agak encer. Demamnya turun setelah seharian istirahat (banyak tidur), banyak minum (nenen juga), berendam air hangat (pagi&sore), dan skin to skin sama emak. ^_^ Sekarang Alhamdulillah udah ceria lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sharingnya. Bermanfaat. Skin to skin, betul banget. Semoga Nisa sehat selalu. Salam buat Nisa Cantik. ^_^

      Hapus
  4. Benar-benar bermanfaat infonya. Sy blm punya anak, tp pnya adik kecil & tiap adik demam, mamah pasti langsung bawa ke dokter krn panik. Trim's infonya.

    Salam kenal, ditunggu kunjungan balik & komentarnya disini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Salam buat adik, ya. Insya Allah saya mampir ke blog Mbak. :)

      Hapus
  5. Nice share mbak. Memang sebaiknya kita menahan diri utk tidak terburu2 memberikan obat kepada anak.
    Kalau anak-anak demam, saya kasih madu dan dikompres.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, madu bagus banget, Mbak. Saya juga suka kasih madu untuk anak saya. :)

      Hapus
  6. klo anak demam, biasanya suami yg lebih panik.. bolak-bolak nanya sama saya kpn perlu dkasih obat & kpn perlu ke dokter hehe..
    slama anak tdk rewel & bnyk minum sih saya tenang aja meskipun rasa khawatir sih pasti ada, namanya jg ibu2 hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi untung Mak Nathalia ga panikan, ya. Bisa nyeimbangin suami. :D Iya, namanya ibu pasti khawatir ya, Mak. Yang penting anak ditangani secara tepat. :)

      Hapus
  7. wah komplit mak, saya kalau anak demam sekarang sudah ga panik. Suruh minum aja yang banyak tapi klo disertai flu dan batuk biasanya akan radang tenggorokan jadi saya kasih obat dan jus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus banget minum jus, Mak Hana. Alhamdulillah, ga ada acara panikan lagi, ya. :D

      Hapus
  8. Sangat bermanfaat infonya Mak Haya, tapi saya punya teman yang kasus anaknya deman tinggi pas ibunya ke luar kota. Di rumah si anak hanya dengan asisten. Katanya sih step gitu, dan anaknya berubah jadi...hmm.. itu.. agak lambat.

    Pernah juga anak saya demam tinggi, dokternya memberi banyak obat yang menurut saya dosisnya mungkin berlebihan. Kata dokter tersebut kasihan kalo panas, sebab yang di serang jaringan otaknya. Saya juga sekarang waspada ngga percaya semua dokter sih (Loohh....)



    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak, kalau dikasih obat banyak, tanya satu-satu kegunaannya. Diagnosisnya apa. Kalau bingung, cari second opinion kali, ya. :)

      Hapus
  9. Terima kasih, Mak Haya Aliya Zaki. Informasi yang sangat bermanfaat sekali. Jika anak saya demam, maka saya akan mengkompres dengan air biasa, mengenakan kaos kaki dan sebisa mungkin memberikan minum air hangat atau madu. Jika panas belum turun selama 1X24 jam, maka saya akan segera membawa anak saya ke dokter anak. Memang saat anak demam adalah hal yang sangat mengkhawatirkan kita sebagai orang tua. Dan, saya selalu ingat anjuran ibu mertua, saat anak sakit, misalnya demam, jangan panik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya masa tubuh 'berperang' dengan virus adalah 3x24 jam, Mak. Alhamdulillah, ibu mertua sevisi, ya. Ga malah nambah panik hihi.

      Hapus
  10. terimakasih sharingnya bunda. klo anak saya demam, saya berusaha tenang. saya banyak belajar juga dari bukunya dokter Wati dan milis sehat. usefull banget.Dan Puji Tuhan, anak saya skg 31 bulan belum pernah sama sekali dikasi obat. Bukan karena parno obat atau dokter, tapi saya hanya berusaha untuk smart patient seperti kata dokter Agnes. salam sehat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, benar banget, Mbak Rika. Setuju. Semoga ananda sehat selalu, ya. :)

      Hapus
  11. informasi yang bagus untuk kelauraga,sayangnya saya belum punya keluarga cuma dua ponaan lucu hehe,,tapi informasinya bagus juga buatku

    BalasHapus
  12. Bu Guru, baru bisa mampir nih.
    Infonya bagus, InsyaAllah bisa buat bekal kalau sudah punya anak :)

    BalasHapus
  13. Sama, dirumah kalau anak anak demam ya dikasih minum air putih yang banyak sama dikasih parasetamol. Kalau dua hari masih demam baru bawa ke dokter.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan