Jumat, 22 Maret 2013

Mengoptimalkan Potensi Anak

Tulisan ini dimuat di majalah Sekar rubrik Kata Hati. Rubrik Kata Hati memuat kisah-kisah inspiratif seputar dunia istri dan ibu. Tulisan sekitar 300 kata. Tidak perlu menyertakan foto. Dikirim ke sekar@gramedia-majalah.com. Jangan lupa cantumkan biodata singkat dan nomor rekening di akhir naskah.

Sebagian orang beranggapan bahwa anak yang cerdas adalah anak yang mahir di bidang ilmu matematika atau sains. Terus terang, awalnya pendapat saya juga demikian. Saya sedih ketika melihat Faruq (7 tahun) tertatih mengerjakan soal matematika dan lambat menjawab pertanyaan seputar sains, sementara sepupunya malah sebaliknya. Di kelas, setiap ada kompetisi mengerjakan soal matematika atau sains, Faruq memilih diam. Ia hanya memandang lesu pada teman-temannya yang berlomba menjawab pertanyaan. Bila diajak belajar bersama dengan saya di rumah, Faruq terlihat enggan. 

Berbagai tip dan trik sudah saya terapkan, namun hasilnya belum sesuai keinginan.  Semakin saya desak ia bergelut di dua pelajaran ini, semakin ia stres. Wajah Faruq tampak mendung setiap berangkat maupun pulang  sekolah. Kadang malah disertai linangan air mata. Sikap Faruq  mulai memupuk kekhawatiran saya akan kenyataan bahwa anak saya bukan anak yang cerdas.   


Hingga suatu ketika, saya membaca tulisan seorang pakar pendidikan, Howard Gardner. Gardner berkata, tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang menonjol pada satu atau beberapa jenis kecerdasan. Saya langsung teringat dua hal. Yang pertama, daya hafal Faruq yang sangat kuat, dan kedua, minatnya yang tinggi pada ilmu agama. Faruq senang dan cepat sekali menghapal nama-nama nabi, berbagai macam surat Alquran, hadis serta doa. Hm, benar juga, kalau memang ia lemah di satu bidang, mengapa  saya tidak berusaha mengoptimalkan potensinya di bidang lain?

Saya pun bergiat mengajarkan ilmu agama lebih dalam kepada Faruq.  Bahagianya saya, semua hafalan surat Alquran, hadis, dan kosakata bahasa Arab, selalu dilahap Faruq, penuh sukacita.  Kami belajar dari buku, poster, puzzle, serta mainan edukatif. Saat belajar mata pelajaran ini di rumah, kami berdua sangat bersemangat. Supaya kondisi yang diharapkan terwujud sempurna, saya tak lupa meminta kerja sama dari para guru di sekolah.  

Alhamdulillah, kala digelar acara pertemuan antara guru dengan orangtua di sekolah, saya laksana memangku bulan. Berita yang saya terima dari wali kelas Faruq, sungguh membahagiakan. Menurut beliau, kemampuan Faruq dalam hal hafalan surat Alquran dan hadis, berada di peringkat tertinggi. Faruq bisa mengungguli teman-temannya yang sedari TK telah bersekolah di situ. Selain itu, Faruq juga menjadi role model (contoh) untuk attittude (sikap yang baik). Bila salat, ia selalu tertib, bacaan suratnya tepat serta lantang, karena itu ia mendapat predikat  ”imam salat terpuji”.

Sedangkan untuk matematika, Faruq memang masih harus berjuang ekstra. Saya tetap aktif mencari dan mempraktikkan tip dan trik tertentu agar Faruq mau belajar matematika, seperti bermain games, memecahkan teka-teki, dan sebagainya. Tapi, kalau ia sudah terlihat enggan, saya tak akan memaksa. Yang terpenting, kini potensi Faruq yang lain telah melejit dengan baik. Mendung tak lagi menggelayut di wajah bila ia hendak berangkat ke sekolah. Ternyata, selama ini Faruq merasa minder dengan kelemahannya di pelajaran matematika dan sains. Setelah ia tahu kalau ia punya kelebihan di  pelajaran lain, kepercayaan dirinya pun mekar. Ia kembali menjadi anak yang ceria seperti dulu.

     Peristiwa ini memberi hikmah kepada saya bahwa orangtua dan guru harus berkerja sama, melihat dengan jeli dan memantau secara cermat potensi masing-masing anak. Setelah itu, lakukan usaha seoptimal mungkin untuk melejitkan potensi mereka. Belajar sambil bermain, itulah cara yang sering saya terapkan. Setiap anak cerdas, saya yakini itu! []



4 komentar:

  1. Setiap anak memang berbeda ya, mba... kalo anak saya, dlm hal matematika, english dan hapalan sangat cepat, saya sempat terkagum2 akan kemampuan anak saya ini. Tapi kalo disuruh mewarnai... aduhai... sangat tdk rapi, apalagi jika disuruh menggambar... heg sprtinya tdk berbakat. Anak nya pun sangat aktif (pecicilan aja). Tapi tetap saya ingin anak saya juga bisa menggambar, walaupun tdk ahli. Dan kita sbgai orang tua memang harus bisa menggali potensi anak2 kita :)

    BalasHapus
  2. Iya, bener banget, Mbak. Jangan sampai berpikir anak kita tidak cerdas karena dia tidak menguasai satu bidang. Tugas kita mensuport dan menggali potensi mereka. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak, saya pernah kirim artikel ke majalah Sekar. Tapi saya tidak tahu, apakah artikel saya dimuat atau tidak, karena tdk ada pemberitahuan dr Sekar. Pernah saya tanya lewat email, tapi tdk dibalas, bagaimana menyikapinya ya... mohon saran. Makasih

      Hapus
  3. Kalau saya belum berkeluarga, ga bisa ikutan nulis entri gini ya ,bak? :(

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan