Kamis, 28 Februari 2013

Saya dan Batik-Batik Cantik



Batik identik dengan kain khas asal daerah Jawa. Saya tinggal di Sumatera, tepatnya Sumatera Utara, tapi saya sudah mengenal batik semenjak saya masih kecil. Keluarga saya termasuk pencinta batik, terutama almarhumah Jiddah (Nenek). Jiddah selalu memakai kebaya dan kain batik, baik di rumah maupun saat berpergian. Saya sering melihat Jiddah melingkarkan kain batik di tubuh bagian bawah, kemudian memasukkan ujung kain batik ke setagennya.  

Oiya, omong-omong soal tanah kelahiran, belakangan, saya mendengar tentang Batik Batak. Batik Batak mengangkat motif khas Batak, yakni Gorga. Motifnya berani, warna-warnanya atraktif. Saya sendiri belum pernah melihatnya.Teman-teman mungkin ada yang pernah melihat? Atau, ada yang sudah punya? :D

Selama ini, saya memilih batik berdasarkan feeling saja. Boleh dibilang, pengetahuan saya terhadap detail jenis-jenis kain batik, awam sekali. Terkadang saya masih bingung membedakan antara Batik Yogyakarta dengan Batik  Hardjonagaran hehehe. Mirip, sih. Namun, semakin saya tahu bahwa masih banyak yang belum saya ketahui tentang batik, semakin saya mencintai batik itu sendiri.  

Saya berbatik hampir di segala kesempatan. Selain ke undangan perkawinan, batik-batik cantik setia menemani kegiatan rutin saya, seperti ke acara pelatihan menulis, peluncuran buku, dan seminar-seminar. 

 



Saya mengenakan batik prada (sentuhan emas) saat menjadi juri lomba menulis cerpen anak di acara Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2012 di kantor Kemendikbud, Jakarta.


Saya dan si sulung kompak bergaya pakai batik.


Anak-anak saya senang berbatik.


Ehm, bahkan, batik juga menjadi “saksi” momen-momen terindah dalam hidup saya .... *seketika hening*



Oleh-oleh Andalan
Nah, ngobrolin soal batik, saya jadi ingat mertua saya, nih. Mertua saya bekerja di sebuah departemen di pemerintahan dan sering dinas keluar kota. Dan, tebaklah, setiap beliau pulang, saya pasti dibelikan oleh-oleh kain batik! Dari beliaulah saya tahu bahwa Madura dan Jambi juga memiliki batik. Ya, begitu banyak daerah di Indonesia, masing-masing memiliki batik dengan ciri khasnya. Masing-masing batik pun memiliki filosofi, bahkan legenda daerah asalnya.

Sebagian batik dari mertua, saya jahitkan menjadi pakaian. Sebagian lagi, buat koleksi saja. Semua saya simpan baik-baik. Bagaimana tidak, selain cantik, batik-batik itu, kan, pertanda kasih sayang mertua kepada saya? Uhuk! Hihihi.

Batik-batik cantik oleh-oleh dari mertua


Sebaliknya, suami sering meminta saya membelikan oleh-oleh batik untuk rekan bisnisnya yang ada di luar negeri. Untuk rekan bisnis perempuan, biasanya saya belikan kain batik. Sedangkan untuk laki-laki, kemeja batik. Pastinya, ukurannya selalu XL atau XXL.

I love batik! Thank you!” demikian komentar rekan bisnis suami, selalu.

Bangganya, batik disukai dan dikenal oleh bangsa-bangsa di luar negeri. Jadi, jangan ragu jangan bimbang kalau mau kasih oleh-oleh. Batik-batik cantik, oleh-oleh andalan!

Berbelanja Batik

Mau tahu di mana saya biasa berbelanja batik? Selama ini, pilihan saya jatuh pada toko batik atau butik batik. Harganya ada yang murah meriah, ada pula yang mahal.

Tempat saya biasa berbelanja batik

Akan tetapi, zaman semakin canggih. Sekarang saya bisa berbelanja batik dengan sekali klik! Tempat yang paling klop untuk berbelanja batik online adalah Berbatik. Saya memilih batik yang saya sukai, lalu pesan, dan bayar. Setelah itu, tinggal menunggu batik diantar ke alamat rumah. Tentunya ini menguntungkan. Saya tidak perlu repot meninggalkan rumah dan anak-anak yang masih balita. Selain mudah, juga hemat waktu serta tenaga. Kisah-kisahnya mampu memekarkan kecintaan kita kepada batik, sang produk lokal nan memesona.

Berikut beberapa batik yang dijual di Berbatik. Cantik, ya?



Melestarikan Batik   
Kini, batik bukan lagi busana kuno yang hanya dikenakan kaum kerajaan dan bangsawan semata. Batik telah populer dan memasyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, batik mengalami perkembangan pesat. Desainer seolah berlomba dalam kreativitas demi mengenalkan batik ke mata dunia. Sebut saja nama Ramli, Carmanita, Edward Hutabarat, dan Stephanus Hamy. Model busana berbahan batik tak lagi "begitu-begitu" saja. Warna batik bukan sekadar cokelat. Motifnya semakin beraneka. Kita bisa membeli kain batik dan menjahitkannya sesuai desain yang kita inginkan. Dibikin model pakaian pesta, pakaian ngantor, pakaian santai, semua bisa. Tidak perlu lagi repot-repot melingkarkan kain batik ke tubuh seperti yang dilakukan Jiddah dulu. Sekarang kain batik tinggal diwiru, dilipat sedemikian rupa, terus dipasangkan ritsleting. Gampang, ya? Lebih dari itu, batik tidak terbatas sebagai sandang saja. Aksesori seperti gelang dan anting ada yang dari batik. Ada sepatu, selop, tas, dan penunjang penampilan lainnya. Kerja sama yang sinergi antara perancang busana, pembatik daerah, dan sejumlah pemerintah daerah (Dewan Kerajinan Daerah) pastinya berbuah manis. 

Saya berharap, batik yang pada tanggal 2 Oktober 2009 diakui UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) ini, semakin lestari.  Oiya, harapan saya juga tertera di dalam novel karya saya, Hilangnya Berlian Pink (DAR! Mizan), lho. Saya menyisipkan pesan agar pembaca Indonesia mencintai batik.  :D


Batik identitas budaya kita. Kalau bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi?

Saya pribadi, menyimpan idam. Suatu saat, saya ingin melihat proses pembuatan batik secara langsung, khususnya batik tulis. Mulai dari memotong kain, nggirah (mencuci), memberi kanji, ngemplong (memukul kain secara berulang-ulang), membuat pola, pelekatan lilin (malam), sampai pewarnaan. Saya terutama ingin belajar menggunakan canting, melihat cairan malam mengalir melalui ujung canting  yang seperti paruh burung. Sesungguhnya, saat membatik, dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan kepekaan yang luar biasa. Hingga lahirlah begitu banyak kisah di atas sehelai kain batik.

Semoga impian saya terwujud. Semoga. [] Haya Aliya Zaki

Foto-foto dokumentasi pribadi

PS. Terima kasih kepada Carolina Ratri yang sudah mendukung saya dalam menyelesaikan tulisan ini.

Referensi :
Kusumawardhani, Reni. 2012. How to Wear Batik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ratna, Biliq. 2009. Padu Padan Batik. Depok: Kriya Pustaka.
Wahyu, Ami. 2012. Chic in Batik. Jakarta: Penerbit Erlangga.
www.berbatik.com




48 komentar:

  1. batik emang pas dipakai kemana ajh ya maaak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, Mak. Love batik forever. :)

      Hapus
  2. Keren Haya!
    Batik memang enggak ada matinya ya. Aku juga pecinta batik lho. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tos, Kak Wiek! Apalagi, sekarang batik bisa dimacem-macemin. :D

      Hapus
  3. Dan itulah sebabnya batik tulis mahal banget ya, Mbak, hihihi.. soalnya ngerjainnya enggak bisa sembarangan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa. Mudah-mjudahan kesampaian aku ngeliat proses pembuatan batik, khususnya batik tulis, Del. Pengen banget. :D

      Hapus
  4. aku juga pecinta batik, gara2 liat koleksi batik tulis almarhumah nenekku :) mbak haya koleksi baju batiknya kayanya banyak nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan, In. Eh, mau dong liat koleksi batik tulis almarhumah nenek. Pasti bagus-bagus banget. :)

      Hapus
  5. eaaaaaaaaaaaaaa udah baca sambil serius dan tiba2 jadi cengar cengir karena ada namaku di akhir cerita :))))))

    sama2 Bunda.... aku jelas penggemar batik, makanya juga jualan batik *numpang nampang* hahahahahha...

    sukses ya Bunda :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... hidup batik! Makasih ya, Moooom. :D

      Hapus
  6. Balasan
    1. Waaa ... makasih, Mak Lusiii. Aamiin. :D *doa yang kenceng*

      Hapus
  7. Disidoarjo juga ada batik lho bu, lebih berkesan flora dan burung merak gitu warna nya juga genjreng bok batik sidoarjo :D

    Ngomongin batik emang gag akan ada habisnya yaa bu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti keren Batik Sidoarjo. Semoga kapan-kapan saya bisa lihat ya, Niar. :)

      Hapus
  8. sy juga awalnya taunya batik itu termasuk warisan budaya Jawa aja.. Trus terkagum2 ketika melihat batik papua dan skrg sy tau lagi ada batik batak.. Wah Indonesia emang kaya akan batik ya *Bangga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiii ya ampuuun Batik Papua juga ada ya, Mak? Indonesia kaya banget, ya. Makasih infonya, Mak Myra. :)

      Hapus
  9. jadi makin awet muda kalo mak haya pake batik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Qiqiqi ... bisa aja, Mak Isti. :)) *bedakan*

      Hapus
  10. mak disini juga ada batik india, china dan thailand.. untung aja udah di resmiin punya indonesia yang duluan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoaaa pengen lihat Batik India, Cina, Thailand. Iya, untuk batik dah diresmikan milik Indonesia ya, Mak. Beruntung kita. :)

      Hapus
  11. Wahhh, mak Haya ternyata pencinta batik bgt ya ? :)
    aku juga suka batik, meski koleksinya gak terlalu banyak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cinta banget, Mak Irma. Kalau ada yang bagus dan aku senengin, aku beli. :D

      Hapus
  12. Selalu suka dengan ulasan mak Haya, lengkap, penuh informasi tetep dg bahasa yg mengalir enak dibaca :) eh ini u lomba ya? Pasti juara deh ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih, Mak Vanda. Masih harus banyak belajar. :)

      Hapus
  13. saya juga awalnya mengenal batik dari mbah putri..dan keterusan cintanya sampai sekarang..

    salam kenal maak

    BalasHapus
  14. Salam kenal juga. Warisan orangtua memang sangat berharga, ya. Makasih dah mampir, Mak. :)

    BalasHapus
  15. Batik pengisi segala situasi :))
    Wajib ada di lemari ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wajib dan menuh-menuhi qiqiqi. Setuju, Mbak! :D

      Hapus
  16. Batik itu up to date...
    Semoga sukses dengan kontesnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, uptodate ya, Mbak. Sekarang bisa dibikin bolero, legging, macem-macem, deh. Gaya kalo pake batik. :)

      Hapus
  17. Tulisannya inspiratif banget mak Haya, moga menang yaaa :-) aku juga suka batik, setelah tinggal di LN wkwkw ...

    kalau ada waktu baca juga kisahku ya di sini mak http://sriwidiyastuti73.wordpress.com/2013/01/04/keluarga-batik/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakaka ... maksudnya? Kenapa setelah tinggal di LN, Mbak? Aamiin. Makasih dah mampir. Tadi aku dah mampir juga di rumahmu, Mbak. :D

      Hapus
  18. sebagai orang jawa aku juga cinta batik, apalagi dg model yg unik antik batik :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mbak. Sebelas dua belas kita. :)

      Hapus
  19. Balasan
    1. Batik cantik pasti mengundang orang untuk jatuh cinta ya, Binta. :)

      Hapus
  20. sukses ya mbak, I love batik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak Lisa. Love batik forever. :)

      Hapus
  21. saya bangga dengan kekayaan ragam batik indonesia. keindahan batik luar biasa ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, Mas Iwok. Beragam banget dan ngegemesin semuaaah. :))

      Hapus
  22. siiip banget artikel Batik-nya. Wow, keren. Secara tidak langsung sudah mempromosikan multifungsi si Batik. Hehehe. Jujur juga,mbak Haya aku paling sering ngintipin tulisan berikut tips dalam blog mbak ketika sempat OL :) Semoga sukses, Batiknya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kyaaa ... makasih banget, Mak. Senang kalau blog ini bermanfaat. :*

      Hapus
  23. wah..,mak Haya betul-betul pecinta batik nih :) batik memang bikin cantik ya? kalo aku memang gak banyak tau juga jenis-jenis dan beda batik satu dengan yang lain. Tapi suka dengan keunikannya.

    Semoga sukses lombanya ya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mak. Eike juga ga paham batik terlalu dalam, sih. Tapi suka banget makenya. :D Aamiin, makasih doanya, Mak. :)

      Hapus
  24. sukkkaaa dengan tulisannya, good luck ya mak ^_^

    nb: eh si sulung ganteng yo mbak #dueeeng salah fokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih doanya, Mak.
      Wakaka ... bisa diatur itu, rencana jangka panjang. :)) *sisirin Faruq*

      Hapus
  25. semoga melalui tulisan ini kita tidak terburu-buru untuk meninggalkan seni yang penuh dengan keindahan yang sudah kita punya tapi mungkin belum kita sadari :-)

    BalasHapus
  26. Aamiin. Setuju banget, Mas Adjie. Matur nuwun sudah mampir ke gubuk saya yang sederhana ini. :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan