Rabu, 09 Januari 2013

Sudut Pandang dalam Berkisah


Dalam menuliskan kisah, sudut pandang memiliki peran utama selain tema, alur, penokohan, dan setting. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan sudut pandang atau sering juga disebut dengan PoV (Point of View) ini?

Sudut pandang adalah cara penulis menempatkan diri dalam sebuah kisah. Penulis yang mampu berkisah dengan baik dengan sudut pandang yang dipilihnya, akan membuat pembaca seolah-olah menjadi tokoh utama atau berkawan dengan tokoh utama. Hal ini penting karena bukankah pada akhirnya untuk pembacalah kita menulis?



Sudut pandang yang biasa digunakan penulis ada dua:

Sudut pandang orang pertama
Sudut pandang  orang pertama biasanya memakai kata ganti “aku”, “saya”, “beta”, dan “gue”. Di sini, penulis menuliskan sikap, kelakuan, dan kata hati si “aku” tadi.

Contoh:  
Di usia sesenja ini, aku melihat indahnya pelangi. Aku tak pernah menyesal baru melihatnya sekarang. Masa lalu adalah pembelajaran berharga. Aku dan suamiku bahagia. Aku berharap, kelak jika kami kembali ke Sang Mahapencipta, anak-anak bangga mengenang kami sebagai orangtua mereka. Aamiin. (Pelangi Senja, Indah Juli) 
  
Contoh lain:  
Saya terpaksa mencari keterangan lebih lanjut tentang Kerajaan Sardinia karena Aghna hanya mengangguk tak jelas ketika ditanya. Ternyata, Kerajaan Sardinia adalah salah satu kerajaan di benua Eropa yang berdiri sekitar tahun 1830-an. Kenapa Aghna memilih mengaku sebagai raja dari Kerajaan Sardinia? Entahlah. Kalau itu, saya benar-benar tak tahu. (Raja Sardinia, Erna Fitrini)

Kelemahan memakai sudut pandang orang pertama adalah tokoh “aku” tidak mungkin bisa berkisah banyak atau mendalam tentang gejolak batin, selain “aku”.  


Perhatian

Kata ganti yang digunakan harus konsisten. Jika memakai “aku”, maka dari awal sampai akhir kisah, tokoh tetap “aku”, tidak berubah menjadi “saya”, “beta”, atau “hamba”.

Jangan sampai tokoh “aku” bisa mengetahui gejolak batin atau isi hati tokoh A, B, C, dan seterusnya.

Lakukan riset sebelum menulis tokoh “aku”. Jika “aku” adalah seorang perempuan, maka cara berpikir dan bersikap “aku” haruslah sebagai perempuan, jangan lelaki. Jika “aku” adalah anak kecil, maka cara berpikir dan bersikap “aku” haruslah sebagai anak kecil, jangan orang dewasa, demikian seterusnya.

Beberapa penulis menggali kreativitas mereka dengan menggunakan sudut pandang yang tak biasa. Contoh: novel Tanah Tabu karya Anindita Siswanto Thayf, memakai sudut pandang “aku” dengan tokoh utama: babi dan anjing. Cerpen Ranti Menderas (kumpulan cerpen Dokumen Jibril) karya Asma Nadia memakai sudut pandang “aku” dengan tokoh utama:  pajangan kayu di sebuah hotel.

Sudut pandang orang ketiga

Sudut pandang orang ketiga menggunakan kata ganti “dia” atau “ia”. Di sini, penulis bersikap sebagai pengamat dan menuliskan hal-hal yang dikerjakan oleh tokoh.


Contoh:
Eli heran melihat sikap Bang Win yang begitu peduli dengan perempuan lain. Padahal, kepada istri sendiri, tidak demikian. Sudah sepuluh tahun menikah, Eli hafal betul tingkah suaminya. Dia merasa Bang Win menyembunyikan sesuatu.  (Bayi dalam Selimut Merah Muda, Firma Sutan)


Manakah sudut pandang yang paling baik? 


Ini kembali ke soal pilihan. Bila Anda merasa lebih menikmati memakai sudut pandang orang pertama, silakan. Bila gaya berkisah Anda lebih terwakili dengan memakai sudut pandang orang ketiga, sah-sah saja.


Sebetulnya, selain sudut pandang orang pertama dan ketiga, ada sudut pandang orang kedua. Kata ganti yang digunakan adalah “kau” atau “kamu”. 


Contoh: 
Kamu duduk melamun di kafe itu. Seseorang menyapamu namun kamu seolah tak mendengar. Matamu terus saja menatap kosong pada gelas di atas meja.



Sudut pandang orang kedua jarang sekali digunakan. Contoh novel yang memakai sudut pandang orang kedua adalah Cala Ibi karya Nukila Amal dan Dadaisme karya Dewi Sartika.


Nah, tunggu apa lagi? Silakan tentukan sudut pandang yang Anda sukai dan mewakili gaya Anda dalam berkisah! [] Haya Aliya Zaki

 

40 komentar:

  1. wahh.. aku sering kelupaan dg yg satu ini. kata gantinya gak konsisten :( sebab biasanya ada kalimat yang enak pake "aku" dan ada juga yang pake "saya" #emg blm pinter sih hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus konsisten dari awal sampai akhir. :D Terima kasih sudah mampir, Mas. Keep on writing. :)

      Hapus
    2. Aku slalu pake 'aku'. Pengen sih sekali2 pk pov org ke-3. Tp kok susah ya

      Hapus
    3. Boleh dibaca-baca buku yang tokohnya PoV orang ketiga untuk menambah wawasan. Terus latihan, ya. :)

      Hapus
  2. Kalo saya lebih suka pake sudut pandang orang pertama aku :)

    Terimakasih sarannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demikian pula saya. :) Terima kasih juga sudah mampir. :)

      Hapus
  3. wah, tepat sekali tulisan mba haya menjawab pertanyaanku, kadang juga bingung nich mba...antara aku dan saya, mana yang tepat dan lebih baik digunakan sich?

    Kalau kata ganti, em, berganti-ganti sich...kalau menceritakan kisah sendiri aku atau saya, tapi kalau fiksi hehee...ia,

    Hujan-hujan penuh impian,
    dah...mba haya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuhuuu ... jangan lupa dicincing roknya kalau lewat jalan becek, Mak. Biar ga kebasahan. :D

      Hapus
  4. Kalo saya suka pakai "saya" daripada "aku". Kesannya kalau "saya" itu lebih sopan. :) Pasangannya kalo nunjuk orang jadinya "anda"... :)

    Btw, salam kenal ya, bu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip, dipilih yang paling nyaman. Cuma, disesuaikan juga dengan karakter tokoh dalam kisah. :)

      Hapus
    2. Salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir, ya. :)

      Hapus
  5. Selama ini ΔǨϋ memang blm pernah terjun ke dunia cerpen,krn,,, ya ini masalahnya, ΔǨϋ sering mencoba dan selalu mendapat benturan "hebat". Mengambil posisi utk memulai huruf pertama yg terlalu terbata2. Inilah salah satu masalah itu, 'sudut pandang'
    Trims mbak haya, atas kebaikan hatinya membagi tips dan info berharga ini..
    Semoga bs jd inspirasi awal buatku di Tɑ̤̈̊♓uϞ ini. Wsslm.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih kembali. Tetap menulis. Salam kenal. :)

      Hapus
  6. Wahh, kalau aku, lebih suka pakai sudut pandang 'aku'. Kayaknya lebih enak aja untuk ngirim-ngirim naskah. Tapi kalau urusan tulisan di blog,tergantung kisah yang ditulis. Nggak harus aku, terkadang suka pakai kata saya, atau kami biar gak terkesan sombong. (Lho? Apa hubungannya ya? Hihihi...)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kata ganti "kami" biasanya digunakan kalau tokoh berada dalam sebuah komunitas, misal di sekolah, rumah makan, dst. Dia menceritakan masalah yang sedang terjadi di komunitas dan sekelilingnya. IMHO. :)

      Hapus
  7. Tapi tetap lebih nyaman pakai 'aku', daripada saya. Kayaknya agak kagok kalau pakai 'saya'. (Nah.. loh.. bingung ya baca komennya? Hahaha.. Emang pengen bikin mak Haya bingung... hihihi. Kaboooorrr)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip, dipilih yang paling nyaman aja. :D *tarik ujung baju Mak Trance* :D :p

      Hapus
  8. masih belom konsisten nih mak. kadang pake "Aku", kadang pake "saya" tergantung situasi yang ingin di bagikan ke pembaca :)

    BalasHapus
  9. Boleh boleh aja, Mak. Kalau tulisannya berbeda. :D

    BalasHapus
  10. Nah loh, kalo saya malah sering kayak bunglon Mak Haya
    bukan ditulisan panjang sih, tapi dari percakapan tertulis dengan beberapa teman.

    Kalo chat dengan teman tertentu yang seusia pakai "ane"
    teman yang satu yang mudaan dikit, pakai "gw elu" #biar berasa muda getoh hihihi
    kalo sama emak2 pakai kata "saya" hehehe

    Dan karena kebiasaan, gak pernah tertukar tuh Mak.

    Kalo ditulisan, biasa dan memang lebih banyak menggunakan PoV "saya".
    Pernah malah ketika proses edit sana sini, PoVnya saya ganti jadi "aku" karena merasa itu yang lebih pas, jadi mesti merubah semua dari "saya" ke "aku"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dialog antartokoh, itu tidak apa-apa, Mak. Pasti beda saat kita dialog dengan orang tua dan dengan teman sebaya. Dengan orangtua, kita pakai "kulo", dengan teman sebaya pakai "gue, misalnya.

      Yang harus konsisten adalah "saya" atau "aku" ke pembacanya. Semoga bisa dipahami ya, Mak. :)

      Hapus
    2. Yep, paham Mak. Konsisten PoV pada kisah yang ditulis
      Kalau dialog2 biasa antar teman boleh beda2.

      Pernah loh Mak, teman yang lama gak ngobrol, giliran chatting bilang 'kayaknya ini bukan mbak Nur deh, kok bahasanya lain' *hihihi

      Thank u, ilmunya Mak.



      Hapus
  11. kalau saya sih lebih suka aku, tapi kalau koment begini lebih suka saya, plin plan kan? :( mksh ilmunya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ga apa-apa, Mak. Yang penting konsisten dalam cerita yang ditulis. :D Kalau di komen-komen, sih, sesukanya aja. :D

      Hapus
  12. Saya sering tidak konsisten Mak
    Ini yang harus hati2 ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setelah nulis, coba di-self edit, Mak. Nanti kelihatan yang perlu diperbaiki. :D

      Hapus
  13. kayaknya sih konsistensi aku dan saya itu beda-beda di lain tulisan ga masalah, asal tidak di satu tulisan... gitu kan Bunda?

    aku sih suka mengeksplore semua sudut pandang ... yang paling "ga biasa" yg pernah kubikin sih "aku" dengan tokoh utama orang gila itu hahahahaha... yg paling susah yang PoV orang kedua kayanya ya.. blom nemu yang pas :D pengen juga kapan2 pake.. hehehehe...

    Nice sharing Bunda ... as always :-*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau beda tulisan, tidak apa-apa, Mom. :D

      Wakakaka ... iya, aku dah baca yang cerita orang gila itu. :)) Eh, kalau PoV orang kedua memang susah, Mom. Aku jarang banget pakai. :D

      Hapus
  14. berharga sekali dan bermanfaat bagiku yang baru mau mulai dan belajar untuk menulis dengan baik terimakasih mak infonya

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah kalau bermanfaat, Mak Sri. Keep on writing. :)

    BalasHapus
  16. sudut pandang keduanya kelewat, mbaaa ;p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayooo ... coba baca yang teliti. Sudut pandang kedua saya sebutin, lho. :D

      Hapus
  17. ahh senang sekali baca ini...jadi jelas soal PoV ^.^
    makasih mbaak sharingnya
    menguji sampai dimana pengetahuan bahasa indonesia kita yah heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kembali. Senang kalau tulisan ini bermanfaat, Mbak. :D

      Hapus
  18. makasih mak udah share ilmu yang sangat bermanfaat ini,,
    jadi makin bnyk ilmu,,
    salam kenal ya mak :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali. Makasih sudah mampir. Sama-sama saling sharing, saling mengisi. :D

      Hapus
  19. Ikut ngeshare di fb ya mak
    Thanks a bunch

    IF ga sibuk, mampir dong mak ke FF sy yg ini
    www.knitknotlove.blogspot.com/2013/02/miss-innocent-vs-miss-everything-ok.html

    Sy coba bikin twistPov dr org ketiga menjadi org pertama.
    *mohon koreskinya bu guru*

    BalasHapus
  20. aku juga seringnya pake "aku" mbak, tapi pengen nyoba pake PoV orang ketiga..
    Kayaknya lebih luwes kalo pake PoV orang ketiga :D
    Makasih infonya mbak :)

    BalasHapus
  21. Coba buat contoh dialog POV3 kak..??

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan