Rabu, 23 Januari 2013

Seberapa Penting Judul untuk Tulisan?


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), judul adalah nama yang dipakai untuk buku atau bab dalam buku yang menyiratkan secara pendek isi buku tersebut atau bab itu; kepala karangan (cerita, drama, dan sebagainya); tajuk. Judul bisa dikatakan “taruhan” bagi penulis apakah calon pembeli buku jadi membeli buku kita atau tidak. Karena itu, buatlah judul semenarik mungkin, eye catching, tapi tidak norak. 

Maka, ketika menerima naskah tanpa judul, editor atau panitia audisi naskah pasti bingung dan bertanya-tanya dalam hati. 

Naskah ini bercerita tentang apa, ya? 
Penulis ini niat tidak ya, mengirimkan tulisannya? 
Kalau penulis sendiri tidak peduli dengan tulisannya, apakah kami harus peduli? :D

Nah, boro-boro diterbitkan, tulisan yang tidak memiliki judul biasanya akan langsung disingkirkan oleh editor atau panitia audisi naskah.



Sebenarnya mana yang lebih baik? Menentukan judul dulu, baru menulis cerita atau menulis cerita dulu, baru menentukan judul? 

Keduanya sama saja. Ini tergantung individu. Saya termasuk tipe yang pertama. Saya harus menentukan judul dulu, baru menulis cerita. Berikut beberapa tip membuat judul.


Cara menulis judul pada naskah

Pada naskah, judul dihitamkan/tebal (bold), dengan ukuran font ukuran besar. Saya menyarankan, ukuran font judul adalah 18. Sedangkan, nama penulis, cukup 12. Judul ditulis paling atas, baru nama penulis tepat di bawahnya.

Huruf awal dari setiap kata dalam judul harus huruf kapital, kecuali kata penghubung, contoh “dan”, “di”, “dari”, “untuk”, dan lain-lain. Judul tidak perlu diakhiri dengan tanda baca "titik".





Singkat dan padat

Judul harus singkat dan padat, jangan bertele-tele. Lazimnya, judul tidak lebih dari enam kata. Namun, ada juga penulis yang berani menulis judul agak panjang. Tentu hal ini telah diperhitungkan sebelumnya. Tujuannya untuk menarik perhatian.
Sekadar info, ternyata, penulis judul buku terpanjang di dunia adalah penulis asal Indonesia, lho! Namanya Damien Dematra. Ia menulis judul buku sepanjang 9.647 karakter (2.019 kata). Wow! Buku ini bercerita tentang kisah hidup Obama. Berkat usahanya ini, Damien mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia dan Guinness World Records.

Damien Dematra (foto dari sini)

Memakai nama tokoh

Sebagian penulis memakai nama tokoh sebagai judul tulisannya karena tokoh memiliki karakter yang kuat dan istimewa. Tokoh menjadi poros utama dalam alur cerita. Contohnya adalah karya Shakespeare yang fenomenal, yakni Romeo and Juliet.   

Foto dari sini

Novel remaja yang memakai nama tokohnya sebagai judul adalah Luna (Julie Anne Peters). Karakter tokoh di dalam novel ini memang sangat kuat, unik, dan jujur saja, ceritanya begitu membekas di hati saya. Tak heran bila novel ini meraih beberapa penghargaan bergengsi seperti American Library Associations Best Book for Young Adults 2005; Chicago Public Library Best of the Best 2004, Books for Geat Teens; 2005 Stonewall Honor Book, awarded by the GLBTQ Round Table of the American Library Association. Roald Dahl juga suka memakai nama tokoh sebagai judul buku-bukunya, antara lain Matilda, The Twits, dan BFG.  

Rima
Membuat judul yang berima, merupakan salah satu ide keren. Bunyi judul yang terdengar bagus di telinga, akan menarik perhatian pembaca. Contoh Cintaku di Kampus Biru (Ashadi Siregar), Galaksi Kinanthi (Tasaro GK), dan Mother Bukan Monster (Gola Gong – Tias Tatanka). Salah satu tulisan saya di buku A Cup of Tea for Single Mom, memakai judul berima: Aku, Mama, dan Dunia Schizophrenia. 

Memancing penasaran
Buatlah judul yang memancing rasa penasaran pembaca. Saya pernah membaca tulisan yang berjudul: Tentang Tawa, Kadal, dan Cinta. Hm, apa yang terbayang dalam benak Teman-teman saat membaca judul ini? Apa ya, hubungan antara tawa, kadal, dan cinta? Saat membaca Daftar Isi, pasti kita akan cepat-cepat mencari halaman yang memuat naskah berjudul di atas. 

Penasaran banget yak!

 Kesalahan dalam membuat judul
Jangan membuat judul yang “menjelaskan” keseluruhan kisah yang kita tulis sehingga membuat pembaca jadi malas membaca utuh tulisan kita. Contoh Anak Disambar Petir karena Durhaka atau Pacarku Meninggalkanku

Sebaiknya tidak asal membuat nama tokoh sebagai judul, kecuali tokoh tersebut memang memenuhi persyaratan seperti yang saya sebutkan di atas. Judul yang “enggak banget” adalah judul-judul pada kebanyakan sinetron di televisi swasta sekarang. Semua seolah-olah serentak memakai nama tokoh sebagai judul. Entah karena supaya sinetron lanjut terus, entah karena supaya mereka bisa asal menulis cerita (yang penting tokoh yang jadi judul masih main), dan entah-entah lainnya, saya tidak tahu.


Hindari membuat judul yang memakai setting tempat kecuali tempat tersebut memiliki ikatan emosi tersendiri dengan cerita, bukan sekadar tempelan. Contoh: Di Pantai Kuta, Setahun yang Lalu. Apa yang terjadi di Pantai Kuta setahun lalu, yang membawa kenangan tak terlupakan bagi sang tokoh? 

Jadi, seberapa penting judul untuk tulisan kita?

Jawabnya: penting sekali! Selamat membuat judul yang oke! [] Haya Aliya Zaki








17 komentar:

  1. saya masih membuat judul yang ga bagus kayaknya

    beberapa media yang tulisan saya terbit
    sering edit judul saya :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi lama-lama juga biasa dan bisa, Mak. Sering-sering pantengin judul-judul keren. :D

      Hapus
  2. beuh... saya sangat-sangat bermasalah dengan pemberian judul -___-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalah pasti akan nemu solusi. Percayalah, Mak. *tiup-tiup Mak Carra* :D

      Hapus
  3. huuuum, judul...kadang sering berganti-ganti saat membuat tulisan, kenapa ya mba? garuk-garuk pala jadinya, apa aku gak konsisten gitu? tapi pingin judul yang pas banget dengan isi tulisan.

    Tapi judul memang bisa berfungsi sebagai batas agar tulisan tidak melebar kemana-mana.

    Sip, mbak tks ur artikel, sangat bermanfaaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, ga apa-apa, Mbak. Pilih yang paling cocok dan paling kena di hati. Saya bikin judul baru nulis supaya bisa "ngontrol" tulisan, ga melebar ke mana-mana. :D
      Sama-sama, kembali kasih. :D

      Hapus
  4. kadang-kadang buat isi cerita dulu, baru buat judul :-D
    judul ohh.. judul kadang-kadang pusing memikirkan kamu :-D

    BalasHapus
  5. saya termasuk yang kedua, Mbak Haya. beda boleh donk hehehe :)

    biasanya judul sementara hanya sebagai penanda agar file yang saya ketik tidak "ngabur", biar gampang dicari lagi misal saya mentok kena mind block. udah kebiasaan juga, nanti judul bisa dipermak setelah tulisan selesai.
    ini hanya soal cara.

    salam,
    Phie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget. Tobh dah Mak Phie. Happy writing. :D

      Hapus
  6. saya yagn kedua, mba.. mbikin ceritanya dulu baru judul. tapi kalo udah yakin banget sih biasanya judul duluan, baru isi ceritanya. dan, yah, saya kebanyakan belum yakinnya daripada yakinnya. ahhaahhaha
    anyway, nice info mba :)

    BalasHapus
  7. Hahaha jadi ikutan geli. Semangat Maaakkk. :))

    BalasHapus
  8. Saya juga buat cerita/tulisannya dulu baru mikirin judul. Kadang mikir judul malah lebih lama dari mikir awal nulisnya...

    Kadang udah di saher malah suka pengen rubah judul. Payah yaaa...

    BalasHapus
  9. Ga, Maaakkk. Aku juga kadang-kadang mikirnya lama. Ga selalu cepat dan bagus. :D

    BalasHapus
  10. Salam kenal Bu Haya, kalau saya menulis cerita judul dan isinya suka ga nyambung ... he he, susah ya ternyata...

    BalasHapus
  11. Salam kenal kembali, Mbak. Saya baca blog-nya bahasa Inggris. Mau, dong, diajarin bahasa Inggris. :D

    BalasHapus
  12. Ingat dulu waktu sekolah menengah, guru bahasa Indonesia bilang kalo judul itu merangkum isi karangan. Ini membebani. Akhirnya buat bikin judul aja mikir lama, karangan malah gak kelar-kelar karena pikiran udah fokus dulu ke judul. Menurut saya judul bisa belakangan, yang penting isinya dulu. Saya membaca novel Andrea Hirata, kadang judul hanya secuil dari kalimat yang ada di dalam karangan. Intinya sih mari membuat tulisan, hehe...
    salam

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan