Sabtu, 17 November 2012

Sudah Siapkah Anda Menjadi "Hantu" Lomba Menulis?


Kalau Teman-teman bergaul rapat dengan dunia media sosial sekarang ini, pasti sebagian besar sudah pada tahu, di media sosial ramai sekali ‘gentayangan’ info lomba menulis. Duh, gemas! Rasanya semua lomba pengin diikuti! Betapa nikmat menghirup aroma kompetisi. Hadiah yang ditawarkan bermacam-macam mulai uang tunai, gadget keren, sampai ‘sekadar’ paket buku. 


Cincin berlian hadiah lomba menulis Ponds *pamer* *weee*

Senangnya bila bisa turut dalam lomba yang ditujukan untuk kepentingan amal. Dan, salah satu hal terindah adalah ketika tulisan kita bakal bersanding dengan tulisan penulis-penulis beken dalam sebuah buku. Waw ... aw ... aw ... aw .... 

Mengasah keterampilan menulis melalui terjun ke aneka lomba, sah-sah saja. Apalagi, iming-iming hadiahnya sangat menggiurkan. Eit ... tapi, jangan asal ikut lomba. Kadung terjebak lomba yang salah, bukannya girang, hati malah geram. Rugi waktu, tenaga, pula uang. Supaya terhindar dari sindrom sakit hati,  yuk, simak tip menjadi ‘hantu’ lomba menulis ala saya. Mariii …. 

Pilih lomba yang cocok
Sebelum mengikuti lomba,  lihat dulu, lomba itu benar-benar cocok untuk kita atau tidak? Misal, selama ini kita hanya piawai menulis artikel ilmiah. Ketika ada woro-woro lomba menulis cerpen komedi, kita nekat ikut. Tak tahunya, tulisan garing alias tak ada lucu-lucunya sama sekali. Atau, ada lomba menulis naskah nonfiksi pengalaman nyata, namun kita sendiri belum pernah mengalami langsung kejadiannya. Sampai menjelang deadline lomba, tak ada narsum yang bisa diwawancara. Daripada ‘mengarang indah’, mending mundur teratur, Kakaaak …. Pilih  lomba menulis yang klik dengan minat, sesuai pengalaman/narsum (kalau yang diminta adalah naskah pengalaman nyata), punya referensi mendukung, dan lain-lain. Yang paling enak, sih, jadi penulis kanan kiri oke alias gape menulis banyak genre. Menulis cerita humor, hayuk. Menulis cerita melow, hayuk juga, dst. Tapi, kalau tidak, jangan dipaksakan.

Kenali panitia lomba
Mengenali panitia lomba sebelum bertanding itu perlu. Eh, ini bukan untuk ‘tebar pesona’ atawa KKN supaya nanti kita jadi pemenang. Fakta berbicara *duilah*, pernah ada kejadian tidak mengenakkan yang menimpa teman-teman penulis. Setelah nama pemenang diumumkan, berita kelanjutan lomba hilang ditelan bumi. Facebook panitia dihapus, hadiah tak kunjung dikirimkan, janji untuk membukukan karya  omong kosong belaka. Ke mana kita hendak melacak? Sedihnya melihat tulisan (baca: buah pikiran) kita lenyap bersama panitia tidak bertanggung jawab tersebut. Jangan sampai, deh, suatu saat kita menemukan karya kita terbit dengan nama orang lain. Huaaa ....

Berikut contoh pertanyaan tentang panitia lomba yang mestinya memiliki jawaban positif sebelum Anda memutuskan untuk ikut. 
> Pernahkah panitia mengadakan lomba menulis sebelumnya? 
> Adakah alamat dan nomor kontak panitia yang bisa dihubungi? 
> Selain Facebook, apakah mereka punya blog resmi yang menjelaskan aktivitas mereka, berkaitan dengan dunia tulis-menulis, atau lomba yang sedang mereka selenggarakan? 

Ketika mendaftar harus membayar
Ada panitia yang meminta calon peserta lomba harus membayar sekian ribu rupiah saat mendaftar. Beberapa hal  sebaiknya menjadi pertimbangan bila kebetulan Teman-teman berpapasan dengan lomba menulis yang seperti ini. Salah satunya, poin nomor 2 di atas. Kalau kita sama sekali belum tahu-menahu tentang panitia lomba, sebaiknya telusuri dulu. Jangan sampai tertipu. Alih-alih menang, uang pendaftaran malah melayang. Bayangkan, andai 1 peserta diwajibkan mentransfer uang pendaftaran Rp10 ribu, saat pesertanya 200 orang panitia sudah menangguk Rp2 juta!   

Bagaimana dengan panitia yang terang-terangan mengaku bahwa hadiah lomba justru berasal dari akumulasi uang pendaftaran dari peserta? Ow ... rasanya, kok, jawaban ini agak mengganjal di hati, ya. Sebelum menggelar event, penyelenggara lomba mestinya telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, termasuk urusan hadiah pemenang. Cari sponsor, dunk. Panitia yang mengandalkan uang pendaftaran peserta untuk dijadikan hadiah, jelas termasuk panitia yang belum siap menyelenggarakan lomba. Bahkan ada yang berpendapat kalau lomba tipe begini tidak diperbolehkan. Kecuali, proyek amal. Semakin banyak uang yang terkumpul dari peserta lomba, semakin banyak pula uang yang bisa disumbangkan. 

Juri yang kompeten
Rasul pernah bersabda, “Serahkan pekerjaan kepada ahlinya. Jika tidak, tunggulah kehancurannya.” 

Nah! Hadis ini sedikit banyak berhubungan dengan penjelasan poin nomor 4 ini. Begini, dalam hampir setiap lomba, biasanya dicantumkan nama para juri. Juri dipilih berdasarkan kompetensi di bidangnya masing-masing. Untuk lomba menulis novel, biasanya jurinya adalah penulis novel andal atau minimal telah menelurkan beberapa buah novel. Untuk lomba menulis puisi, jurinya adalah penulis puisi yang karyanya telah tersiar di media cetak atau sudah cukup lama malang-melintang di dunia puisi, dst. Bukankah terasa ganjil  jika dalam lomba menulis cerpen komedi, yang menjadi juri adalah penulis artikel medis? Wakakaka ... syalalala .....


Juri galau (sumber)

Mungkin tidak semua kenal juri lomba menulis. Jika demikian, cobalah bertanya kepada teman-teman sesama penulis, apakah mereka pernah mendengar kiprah juri tersebut? Paling gampang sih mengadu ke Mbah Google. Tinggal tik nama juri yang dimaksud, lalu baca satu per satu keterangan yang terpampang. 

Bagaimana? 

Tentunya langkah Teman-teman menjadi lebih mantap setelah mengetahui bahwa tulisan Teman-teman dinilai oleh orang yang tepat.

Teknis persyaratan lomba
Jangan salah, lho, meskipun teknis persyaratan lomba sudah disajikan lengkap-kap-kap oleh panitia, teteeup, masih saja ada peserta yang lalai. Ada peserta yang mengirimkan tulisannya di badan e-mail, padahal disuruh mengirim dalam bentuk  lampiran (attach). Atau, saat panitia mewajibkan peserta menyisipkan biodata deskriptif, ternyata banyak yang tidak melakukan. Walhasil, panitia refooot belakangan. Pakai acara menagih biodata para pemenang lomba segala. Mending ketika ditagih, langsung dikasih. Eh, ini ada yang panitia sampai bolak-balik minta, pemenangnya asli cuek. Bebek saja kalah cuek. Kasihan, kaaan?

Mulai sekarang, perhatikan benar dan patuhi semua teknis persyaratan lomba untuk memudahkan kinerja panitia dan dewan juri.  Jangan sampai kalah sebelum bertanding. Gara-gara persyaratan tidak dipenuhi, naskah Teman-teman sukses didiskualifikasi. Manyun.

Deadline lomba
Sudah bukan rahasia, sebagian penulis merasa sangat bersemangat menjelang deadline lomba. Istilahnya, sih, The Power of Kepepet. Apakah Teman-teman salah satunya? *ngaca*

Hati-hati.  Gara-gara menganut prinsip The Power of Kepepet, kita bisa ketiban rugi. Bagaimana jika saat akan mengirim tulisan, listrik tiba-tiba mati atau koneksi inet sedang superlelet? Sering, saking banyaknya peserta lomba yang mengirim tulisan   di waktu mepet, e-mail penerima menjadi overload. Akibatnya, tulisan diterima lewat waktu. 


The Power of Kepepet (sumber)

Biar aman, kirim tulisan jauh-jauh hari. Setelah kirim, silakan duduk manis menunggu pengumuman. Lebih asyik lagi menunggu sambil disambi menulis untuk lomba-lomba yang lain. Waktu  pun berlalu tanpa terasa. 

Bersikap sportif
“Keputusan juri mutlak, tidak dapat diganggu gugat”. 

Pernahkah Teman-teman membaca kalimat ini? 
Yap, biasanya kalimat ini tertera di persyaratan lomba. Ketika bukan kita yang keluar sebagai pemenang, jangan langsung marah-marah lebay. Juga, jangan memprovokasi peserta lain supaya ikut-ikutan merasa diperlakukan tidak adil. Bertanya kepada juri tentang kekurangan tulisan, sih, boleh, asal dengan bahasa yang santun. Yakinlah satu hal,  rezeki tidak akan tertukar. Kalau belum menang di lomba A, kamu bisa berlaga di lomba B, C, D, dan seterusnya. Siapa tahu rezeki kamu ada di lomba-lomba berikutnya. Hahay …! 


Positif! (sumber)

Kian sering mengikuti lomba menulis, tentunya kita kian mahir menulis. Berawal dari lomba-lomba kecil, pelan tapi pasti, menanjak ke lomba tingkat nasional. Semakin tinggi skala lomba, semakin besar hadiahnya, semakin yahud prestisnya. Berusahalah seoptimal mungkin. Jangan lupa, berdoa juga, ya. Ocreeeh.

Ayo, tunggu apa lagi? Sudah siap bukan menjadi ‘hantu’ lomba menulis? [] Haya Aliya Zaki



53 komentar:

  1. yups betul sekali mba.. aku jg klo lomba yang minta daftar pakai uang mending ngacirr duluan dehhh.. thanks y mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sama-sama, Mbak. Mending ikutan lomba lain kalau begitu. :D

      Hapus
  2. Mbak, aku paling sebal pada lomba yang hadiahnya "cuma" beberapa buku tapi syaratnya macam-macam. Seperti harus memasang banner mereka pada side bar blog selama lomba berlangsung. Itu berlangsung beberapa bulan..Kalau yang itu aku gak banget deh..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dah sering ikutan lomba, kita bisa menilai mana lomba yang setimpal antara effort dan reward, mana yang tidak. Kalau memang tidak setimpal, lebih baik ikut lomba yang lain ya, Mbak. :)

      Hapus
  3. Makasih sharingnya ya mbak, informatif! Insya allah semuanya udah dijalani, tinggal pede ikut lomba-nya yg harus dipompa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk, jadi "hantu" lomba, Mbak. Jangan ragu dan malu. Menang kalah biasa. Ga ada yang marahin juga. :))

      Hapus
  4. info yg sangt bermanfaat terutama buat sy yg msh belajar ikut lomba :) untuk sekarang hantu lombanya mbak Haya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk, nyusul jadi "hantu" lomba, Mbak. :))

      Hapus
  5. Paling suka foto terakhir. :p Hantu lomba itu jempoool, Kakak! *tunjuk diri sendiri, meski sering kalah wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cemungudh, Kak Fitaaa. :)) Yang penting sudah mencoba, kemampuan menulis terus terasah. :)

      Hapus
  6. Mantapz mb Haya postingannya, kalau saya ttg 'sreg' dengan tema ato tidak. mau ikut lomba blog mobil petualang. kayak maksaaa mikir idenya.wkwkwkw *tapi ngiler hadiahnya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga awalnya nat mau ikut lomba itu, mbak. tapi ga ketemu-ketemju idenya. ya, udah.:)) hati-hati jangan sampai stres, mbak. :))

      Hapus
  7. Jempol untuk Haya. Kalau anak bungsu saya bilang gak pha pha menang. Gak pa pa tidak kalah. Terbalik ya.

    BalasHapus
  8. hahaha salam buat si bungsu, mbak. makasih dah mampir. :D

    BalasHapus
  9. Siiap, Mbak :D
    Sedang menyusun draft ini bersiap menjadi hantu hehehe

    Salam kenal,
    Phie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gimana? Sudah ikutan lomba nulis apa aja? Hehehe. Salam kenal juga. Makasih sudah mampir. :)

      Hapus
  10. Makasih tipsnya Kak Haya :) meski sering kalah *sampai ga keitung hihi* tetep semangat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Ga papa. Ikut loma sekalian melatih skill menulis. Insya Allah ga ada ruginya. :)

      Hapus
  11. Hallo Mbak Haya... numpang baca dan pengen nyapa *kangen :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mbaaak. :D Lam kangen juga. :D :D :D

      Hapus
  12. Tulisan + gaya bahasanya ringan n bagus banget nih, Sista

    Salam

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    BalasHapus
  13. kalo lomba menulis blog seperti ini bagaimana

    http://gayatekno.blogspot.com/2013/01/memilih-bank-menentukan-masa-depan.html

    BalasHapus
  14. makasih sharingnya mbak, sy juga sering gak pede kalo ikut lomba, terutama kalo yg bukan based on experience. misal tentang lomba blog di salah satu bank, krn bukan nasabahnya ya gak pede ikutan takut salah hehehe...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ... yang paling aman dan nyaman kalau memang jadi nasabahnya ya, Mbak. Nulisnya jadi lebih mantap. :D

      Hapus
  15. saya tidak bisa menulis mba, malah bisa dibilang tulisan saya kagak jelas. Maka'a kagak ikut lomba, soalnya malu2in :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya nulis buat senang2 aja, buat curhat2an. Jangan jadi beban. Banyak baca buku. Nanti pelan2 kemampuan menulis akan terasah. Tulisan tambah bagus, lebih pede juga. :D Makasih dah mampir. :)

      Hapus
  16. mbak , gimana caranya agar tulisan kita itu menarik?? dan biar greget yang ngebacanya,?

    BalasHapus
  17. Practise makes perfect. Terus latihan. Baca-baca tulisan para pemenang lomba. Cari referensi yang mendukung. Bisanya, sebelum nulis naskah lomba, saya suka baca-baca tulisan kompetitor. Untuk perbandingan. Pengalaman saya ikut lomba nulis, silakan dibaca di tag "Tulisanku yang Menang Lomba". Mudah-mudahan bermanfaat. :)

    BalasHapus
  18. nice sharing, mak :)
    kebetulan beberapa hari yang lalu saya liat ada info lomba menulis dan harus bayar 15rb. munking keliatannya ga seberapa ya, tapi ras-rasanya kok kayak ngganjel di saya gitu. mending saya ikutan lomba nulis yang gratisan aja deh. nyari ide aja udah susah masa harus ngeluarin uang lagi untuk masukin ide tersebut?? hihihi
    seneng deh baca2 tulisan di blogmu, mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Saya juga senengnya ikutan lomba yang gratisan. Apalagi kalau hadiahnya gede. :D
      Seneng juga kalo blog ini bermanfaat. Sering-sering mampir, Mak. :)

      Hapus
  19. sungguh senang bisa berkunjung ke blog ini. tulisannya bagus2.

    BalasHapus
  20. waaah..salam kenaaal maaak..setuju sekali dengan tips-tipsnya...when it's too much at stake, saya selalu mencoba realistis terutama dengan waktu :D...thanks for sharing...lovely piece, indeed...

    BalasHapus
  21. mantap tipsnya.. saya baru mau belajar nulis nih.. mohon bimbingannya ya.. :)

    BalasHapus
  22. Aku pernah baca postingan ini.
    Dan, aku baca lagi, lagi dan lagi.
    Makasih mak Haya. Setelah baca tulisan ini, Alhamdulillah, aku... MAU JADI HANTU LOMBA BLOG ((((wakakakkakaka)))))

    BalasHapus
  23. postingan yang mantap... serasa langsung terjangkiti virus hantu lomba blog hehe...

    BalasHapus
  24. thanks for sharing mak Haya.. Selama ini sering banget liat nama mak muncul di pemenang lomba blog.. Hebring euy.. Dan akhirnya mampir ke post yang ini dari blognya mak Nurul. Aih tipsnya mantap. Salam kenal mak. :)

    BalasHapus
  25. TFS mak....manfaat banget nech buat yang masih takut ikutan lomba...

    BalasHapus
  26. Top tipsnya. Satu lagi kayaknya, sebelum bikin bahan untuk ikutan lombanya, jangan liat2 punya orang lain dulu, huahaha itu kalo aku loh ya. :D abis suka urung niat kalo udah liat yg bagus2 -__-

    BalasHapus
  27. Point terakhir iya penting banget itu, jangan dibiasakan posting mendekati DL. Warning bangets! Kalo tiba2 koneksi inet memble, waah jadi sia2 deh mau ikutan lomba :))

    Tfs mak Haya :)

    BalasHapus
  28. Mau coba ah, ikut2 lomba. Thanks for sharing mbak....

    BalasHapus
  29. Nice tips, yuk ikut lomba2... kalau dah baca ini saya jadi pe-de ikutan lomba... semangaaaat...

    BalasHapus
  30. Bodo amat ada yang bilang Bunda ini jago kandang, EGP? Ini dia nih baca donk postingan Mak Haya ini. Kalo emang merasa diri kurang, apalagi 'gak' mampu,ya jangan ikutan. Banyak sekali pembelajaran yangharus disimak di postingan ini. Makasih, Mak Haya.

    BalasHapus
  31. huwaaa mak.... tips2nya berguna banget nih... makasih sharing nya ya... semakin sering nulis, kita akan semakin piawai ya mak....

    BalasHapus
  32. Tips yang sngat menghantui hihih *apaseeeeh*

    Makasih mak Hayaa sharingnya....semangat menghantukan diro do lomba menulis..
    .buat adah kemampuan nulis n ngeblognya

    BalasHapus
  33. Tips nya bermanfaat banget mak,. aku dulu juga pernah ketipu lomba juga eh kuis dink... dan yang bikin senewen itu kalau admin lomba ditanyain ga dijawab..hiks hiks

    BalasHapus
  34. Saya belum pernah nemu lomba yang harus bayar Mbak. Kalau nemu juga udah keburu malas..hihihi..

    BalasHapus
  35. Sip, aku keep ilmunya mbak. ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ

    BalasHapus
  36. saya belum jadi hantu. cuma jd pengamat doang. pengamat hantu lomba :)

    BalasHapus
  37. Hehe...postingan lama ternyata justru yang ini nih, bikin hati Bunda legaa, selega luasnya lautan #cailee. Kenapa? Karena paling gak, Bunda tuh sudah merasa "cerdas berpikir" untuk ikutan lomba menulis, apapun itu. #antologipastinya Tanpa memulainya dengan ikutan Lomba menulis untuk antologi, mungkin Bunda gak akan sampe tuh kenalan sama penulis-penulis beken dari online trus ke offline a.l. Haya Aliya Zaki, Wylvera Windayana, Indari Mastuti, Leyla Hana dan beberapa yang lain, yang memang sudah layak mendapat sebutan Penulis yang menerima bayaran. Mau menang atau gak, yang penting kita cocok sama temanya, heeg wae, soook..ikutan, karena sensasinya okpu tuh.

    BalasHapus
  38. Maakkk saya pernah ah ikutan lomba yg katanya mau dibukukan karyanya sampai sekarang nggak jelas. Pernah ikutan juga lomba foto, karena peserta cuma dikit juga nggak jelas. Xixixixi.. komplen? Saya agak males mak.

    BalasHapus
  39. Tulisan lama namun tetap bermanfaat, jadi ini yang menghantui ku, kakak cincinnya silau

    BalasHapus
  40. makin bersemangat abis baca ini, diniati melatih skill menulis ya mbak, hehe..TFS

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan