Sabtu, 24 November 2012

Customer Nekat


Tulisan ini dimuat di majalah Femina rubrik Gado-Gado. Info jenis tulisan bisa dibaca di sini.  Syarat teknis: font Arial 12, spasi 2, maksimal 3 halaman folio. Tulisan belum pernah dimuat di media cetak atau online. Dikirim ke kontak@femina.co.id. Jangan lupa mencantumkan biodata singkat dan nomor rekening di akhir naskah.


Sepuluh tahun yang lalu, saya bekerja di apotek modern di sebuah mal. Customer saya macam-macam. Mulai dari yang penampilannya sederhana, sampai yang bling-bling. Mulai dari wajah asli lokal, hingga orang asing dari bermacam ras. Keinginan mereka datang ke apotek juga macam-macam: menebus resep dokter, membeli kosmetik, produk perawatan tubuh, atau kursi roda. 

Ini salah satu nostalgia customer nekat, yang seumur hidup enggak mungkin bakal saya lupa. Suatu malam, menjelang apotek tutup, seorang customer, pria berkulit putih, masuk. Jalannya sedikit terhuyung. Penampilannya kusut dan matanya merah. Hati saya mendadak waswas. Bau alkohol tercium.

Do you have V*****?” tanyanya, dengan suara keras

Olala, dia menyebutkan nama  pil biru, obat anti-impotensi terkenal! Gayanya beda banget dengan customer biasa yang selalu bisik-bisik kalau bertanya tentang obat itu. Beberapa staf dan customer lain menengok ke arah saya dan pria itu.

Prescription please, Sir?” saya langsung menanyakan resep dokter kepadanya.

Adegan berikutnya, jangankan menerima secarik resep, justru sumpah serapah memenuhi ruangan apotek. Si pria kulit putih mencak-mencak, enggak sabar untuk mendapatkan obat V*****. Saya dan staf betul-betul keder.  

Melihat saya tetap bergeming, ia mulai mengancam. Customer lain memilih meninggalkan apotek, tentu mereka takut terjebak keributan. Saya, yang masih manajer anak bawang alias manajer baru, tambah gemetaran. Bukan apa-apa, ngeri rasanya ngotot-ngototan sama orang setengah mabuk. Saya khawatir dia bertindak agresif

 Akhirnya, saya menyerah. Saya mengeluarkan pil biru dari lemari penyimpanan. Si pria tadi menyerahkan kartu kredit buat membayar. O-ow, malang, bolak-balik digesek, kartu kreditnya tertolak!

Sorry Sir, your credit card .…”

Gubrak! Ia menggebrak meja, tidak terima. Dengan kasar dia mencopot jam tangan mahalnya dan menyerahkan dua ponsel canggih kepada kami sebagai jaminan. Ia berjanji akan kembali esok harinya untuk menebus barang-barang itu. Hmmm ... antara takut, jengkel, dan geli jadinya. Nihil resep, kempes dompet, dan kartu kredit tertolak, ternyata tidak mampu menghalanginya menggondol pil biru idaman!

Karena amat ketakutan, kami terima semua barang jaminan. Aduh, sebenarnya ini apotek atau pegadaian, sih? Terus, bagaimana kalau tahu-tahu dia mati gara-gara makan obat tanpa resep dokter?
 
Malamnya, pikiran saya tidak tenang. Semoga pria itu kembali lagi ke apotek dalam keadaan sehat dan waras. Syukurlah, doa saya terkabul. Dia kembali lagi ke apotek dengan wajah ramah dan bahasa yang santun. 

Sumpah, ganteng abis! Kalau enggak ingat insiden semalam, mungkin saya sudah naksir hahaha ...!
 
Setelah kejadian itu, saya baru kepikiran. Kenapa saya enggak memanggil sekuriti mal saja, ya? Hmmm ... mungkin saking takutnya, otak jadi tidak bisa diajak berpikir lagi.

Setelah insiden itu, customer nekat lainnya masih datang silih berganti ke apotek saya. Ada yang berniat mencuri, ada yang mengajak jualan berlian, ada juga yang mengajak nikah hihihi …. Tapi, saya sudah lebih lihai menghadapinya. [] Haya Aliya Zaki

32 komentar:

  1. pengen juga mak kirim tulisan ke femina, selamat ya mak... :D

    BalasHapus
  2. Keren mbak tulisannya.
    makasih ya mbak, udah nampilin di sini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih. :D Ayo, ditunggu tulisannya. :)

      Hapus
  3. Wow... hebat,banget nih artikelnya mbak.Siip bgt :-bd

    BalasHapus
  4. hahaha... 'ternyata ganteng'... hehehehhee tp kok pake obat2an gitu sih......qqqqq
    panik emang jadi lupa segalanya yah.. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang pede kali, Mbak hihihi. Bener-bener pengalaman unforgettable seumur hidup ini. :))

      Hapus
  5. mba haya,terima kasih semangatnya...bagus dan mengalir ceritanya.
    ***ada-ada aja ya customer itu.

    BalasHapus
  6. nekat demi membahagiakan pasangan :shutup:

    BalasHapus
  7. Balasan
    1. Iya, Mbak. Ga bakal lupa sampai sekarang. Udah lebih 10 tahun. :D

      Hapus
  8. Balasan
    1. Kalau diinget-inget sekarang, geli, Fit. Tapi, pas ngalami dulu, asli serem. Mana pas apotek dah mau tutup shift malam pula. :)

      Hapus
  9. Hahahahaha....yg ngajak nikah tu yang asyeek...asyeek...! Menandakan yg jaga lumayan cantik!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kyaaa ... bisa aja, nih, Mak Sumarti. :))

      Hapus
  10. Hayya, bisa jadi satu buku ya, jurus menghadapi pelanggan apotek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi iya, kayaknya bisa, Mak. Masih ada lagi yang aneh-aneh yang belum diceritain. :)

      Hapus
  11. cie cie yang nekat.. hehe...
    slam kenal ya, mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi puyeng ngadepin yang nekat-nekat. :)) Salam kenal juga. Makasih dah mampir, ya. :)

      Hapus
  12. kalau nekat nekatan tuh bikin orang menjadi sadar dan tahu diri lohhh bagus dong nekat bisa merubah hidup dan pandangan hidup

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nekat, tapi tetap pakai perhitungan, ya? Sip, sip. :)

      Hapus
  13. eeh mas mas gantengnya ndak sempoyongan lagi yaa bu :D

    Wah yang jadi model di blogcamp niyee, salam kenal bunda :D

    BalasHapus
  14. Mbak Haya, minimal berapa kata ya.

    BalasHapus
  15. Mba untuk tulisan yang dikirim ke rubrik gado-gado apa harus berdasarkan kisah nyata ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, harus pengalaman nyata, bukan fiksi.

      Hapus
  16. Nekat juga ya si Bule, nggk malu malu

    BalasHapus
  17. Coba juga ah kirim hihi. Keren mak tulisannya selamat ya

    BalasHapus
  18. waaaaaa, Ada yang ngajak nikah juga mbak? mbaknya cantik sih makanya banyak yang naksir, hehehe

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan