Jumat, 16 November 2012

Berlibur ke Negeri Sultan Deli



Tulisan ini dimuat di majalah Sekar rubrik Plesir. Sekarang majalah Sekar sudah tidak terbit.



“Apa saja yang menarik dari kota Medan?” seorang teman di Jakarta pernah bertanya kepada saya tentang kota kelahiran saya, Medan, Sumatera Utara.

Saya tersenyum. Ya, sebagian orang mungkin hanya mengenal Medan sebagai kota yang memiliki penduduk bersuku Batak. Padahal, banyak hal menarik yang bisa digali dari kota ini. Terutama, bangunan-bangunannya yang bersejarah dan cita rasa kulinernya yang unik. 

Beruntung saya. Beberapa waktu lalu saya berkesempatan pulang sekalian plesir selama seminggu di Medan. Dibandingkan sepuluh tahun lalu, wajah Medan sudah banyak berubah. Medan yang sekarang mulai dipadati gedung-gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan. Lampu warna-warni di sepanjang jalan, cantik menerangi kala malam. Saya mencoba mengurai kenangan dengan menjajaki tempat-tempat yang menjadi favorit saya dan keluarga

Berbelanja di Pajak Ikan Lama
            Salah satu agenda saya saat ke Medan adalah berbelanja di Pajak Ikan Lama. Di Medan, istilah “pajak” berarti “pasar”. Pajak Ikan Lama sudah ada sejak zaman Belanda dulu (dibuka tahun 1890). Awalnya, Pajak Ikan Lama memang pasar ikan. Ikan diambil dari Pelabuhan Belawan dengan memakai kapal tongkang, melewati Sungai Deli. Lama-lama, Sungai Deli tidak lagi mampu menampung kapal-kapal tongkang ini. Pajak Ikan Lama pun berubah menjadi pusat grosir perdagangan kain, busana muslim, dan benda-benda perlengkapan haji, di Sumatera Utara. Meski demikian, nama tempatnya sendiri tidak berubah.

Mata saya seolah tidak ingin lepas memperhatikan aneka busana muslim dan kain-kain cantik yang dijual di toko-toko. Kata Haji Ayub Jenggot, pedagang asal Pakistan yang sudah tiga puluh tahun membuka usaha di sini, Pajak Ikan Lama juga dikenal sebagai “kembaran Tanah Abang”. Pembelinya rata-rata warga Sumatera Utara, Aceh, dan Riau. Barang-barang dijamin berkualitas bagus. Harganya murah-murah.

Cantik-cantik, ya?

“Mendekati Lebaran dan Hari Raya Haji, jumlah pembeli meningkat. Untuk orang-orang yang mau naik haji, biasanya sebelum berangkat ke tanah suci, mereka berbelanja oleh-oleh haji dulu di sini. Jadi, kegiatan ibadah mereka di sana tidak terganggu oleh keinginan berbelanja ini-itu untuk oleh-oleh,” jelas Haji Ayub Jenggot lagi.

Oleh-oleh perlengkapan haji

  Untuk barang-barangnya, beberapa pedagang mengaku memproduksi sendiri, terutama jilbab. Sementara, telekung (mukena) dan baju koko, mereka ambil dari Tasik. Tasbih, ceret emas dan perlengkapan makan lainnya yang berwarna emas, dari Cina. Sementara, kurma dari Madinah, Dubai, Mesir, dan Iran.

Saya membeli jilbab, telekung, dan beberapa lembar kain untuk oleh-oleh. Selesai saya berbelanja, pas pula azan Zuhur berkumandang.

Masjid Lama Gang Bengkok Kesawan
            Saya menyempatkan diri salat Zuhur di Masjid Lama Gang Bengkok Kesawan. Letaknya di Jalan Mesjid, Kelurahan Kesawan, Medan Kota. Jaraknya tidak jauh dari Pajak Ikan Lama. Sebentar saja naik beca, saya sudah sampai.

Di teras masjid, saya “disambut” oleh desain “lebah bergantung” berwarna kuning di langit-langit masjid. “Lebah bergantung” adalah desain khas bangunan ala Melayu Deli. 

Masjid Lama Gang Bengkok Kesawan

Masjid Lama Gang Bengkok Kesawan istimewa karena nilai sejarahnya. Merupakan salah satu masjid tertua di Medan. Masjid dibangun di atas tanah yang diwakafkan Datuk Haji Muhammad Ali. Biaya pembangunan utama masjid berasal dari Tjong A Fie, seorang saudagar keturunan Tionghoa, pada masa pemerintahan Sultan Deli Makmun Al Rasyid tahun 1890.  

Di sebelah kanan masjid ada perpustakaan berukuran enam kali empat meter. Dari perpustakaan, ada pintu tembusan menuju belakang masjid yang ternyata tanah makam imam/nazir pertama, yakni Syekh H. Mohammad Ya’qub. Yang menarik perhatian saya adalah sumur yang ada di tempat wudhu perempuan. Sumur berdiameter dua meter dan berkedalaman dua belas meter ini digembok supaya anak-anak tidak kecemplung. Sumur tersebut merupakan sumber air utama masjid, khususnya berwudhu. Airnya selalu jernih. Walau musim kemarau, sumur tidak pernah kering.

Oiya, Masjid Lama Gang Bengkok Kesawan tidak memakai nama islami seperti kebanyakan masjid lain. Menurut keterangan dari nazir masjid, Nasrun Tanjung, hal ini karena dulu di depan masjid ada sebuah gang yang bentuknya bengkok. 

Selain istimewa karena nilai sejarahnya, masjid Lama Gang Bengkok Kesawan juga disebut-sebut sebagai simbol toleransi antarumat beragama di Medan. Arsitekturnya perpaduan antara gaya Cina, Melayu, dan Timur Tengah. Lihat saja, bentuk kubahnya memanjang dan kedua ujungnya menukik ke atas, mirip kelenteng. Warna bangunan didominasi kuning (emas) sesuai warna kebanggaan kerajaan Melayu Deli. Biasanya, warna kuning ini dipadukan dengan warna hijau untuk memberikan sentuhan Islam. Setelah direnovasi, warna kuning dan hijau jadi berkurang. Tembok luar dan dalam berganti marmer warna abu-abu. Saya senang melihat model mimbarnya yang tinggi, antik, dan bergaya Timur Tengah. Saya menghitung ada tiga belas anak tangga pada mimbar. Sementara, tempat imam juga baru direnovasi. Bentuknya mirip seperti pintu Romawi. Harapan saya, semoga semangat toleransi antarumat beragama tidak punah seiring perkembangan dan kemajuan kota Medan.  

Mimbar yang unik dan antik
 
Nikmatnya mi aceh dan bandrek
            Malam hari, rasanya paling pas makan mi aceh yang hangat dan pedas. Mi aceh yang terkenal di Medan adalah Mi Aceh Titi Bobrok. Letaknya di daerah Setia Budi. Dinamakan Mi Aceh Titi Bobrok karena rumah makan ini awalnya adalah warung kecil yang berdiri di dekat jembatan (titi) yang bobrok. 

            Mi Aceh Titi Bobrok selalu ramai oleh pembeli. Apalagi, malam Sabtu dan Minggu. Setiap harinya, minimal 100 kg mi terjual. Ketika saya datang, suasana restoran padat sekali. Suara pembeli yang antre dan suara pelayan dalam logat Aceh, hiruk pikuk memenuhi ruangan. 

Mi siap dimasak

Yang rada beda, dapur terletak di bagian depan. Begitu masuk, pembeli langsung disuguhkan “pemandangan” kelincahan pelayan yang sedang memasak dan mengolah mi aceh. Pembeli yang ingin take away, antrenya di dekat dapur ini.

 Kalau dilihat, penampilan mi aceh memang berbeda. Warnanya kuning betul karena sebelumnya dibaluri kunyit. Mi-nya juga besar-besar. Sekilas, seperti spageti. Yang paling laris adalah mi aceh kuah kepiting. Tapi, saya memilih mi aceh kuah udang karena saya penggemar udang. 

Begitu mi aceh sampai di meja saya, mmm ... aroma rempah-rempahnya langsung tercium. Kuahnya merah kental dan bercita rasa pedas (seperti kari). Disajikan dengan campuran udang, tomat, toge, seledri, bawang goreng, acar, dan emping. Selain mi kuah, ada juga mi goreng. Anda cukup mengeluarkan uang Rp8 ribu untuk seporsi mi aceh ini. Murah bukan? 

Selesai makan, tanpa sadar saya berdecak kagum melihat para pelayan yang tampak sigap bolak-balik membawa beberapa piring mi di tangan hingga sampai ke meja pengunjung. Akan tetapi, saya tidak bisa terkagum lama-lama karena harus segera beranjak. Pengunjung yang lain sudah mengantre tempat duduk. Selain itu, baju saya juga telah basah oleh keringat. Mungkin karena efek pedasnya mi aceh tadi. Mungkin karena suasana ruangan yang semakin padat pembeli.

            Makan mi aceh sudah. Kini, saatnya bersantai sambil menikmati segelas minuman bandrek yang diyakini mampu memulihkan stamina. Saya mampir ke Bandrek Said di Jalan Gatot Subroto.

Bandrek Said ada di empat tempat di kota Medan, yakni Jalan Gatot Subroto, Ringroad, Setia Budi, dan Krakatau. Letaknya biasanya di pelataran parkir ruko. Buka mulai sore hari hingga tengah malam. Pembelinya kebanyakan anak muda Medan. Keistimewaan Bandrek Said adalah rasanya yang tidak terlalu pedas. Benar-benar pas di lidah dan kerongkongan saya. Ketika saya tanya komposisi bandrek, penjual mengatakan tidak tahu. Mereka sudah menerima “bandrek jadi” dari sang pemilik usaha, Haji Said Nasrul Alatas. Menu andalannya adalah bandrek susu. Harga segelas bandrek berkisar Rp4 ribu-Rp7 ribu.

Selain roti, pasangan minuman tradisional ini adalah bubur jagung atau bubur kacang hijau. Yang membedakannya dengan bubur jagung atau bubur kacang hijau biasa adalah adanya campuran jali-jali berwarna putih, kecil-kecil seperti butiran nasi. Saya suka karena rasanya enak dan lembut. Seingat saya, saya belum pernah menemukan kuliner jali-jali di daerah Jakarta dan sekitarnya.   

Oke, oleh-oleh kuliner sudah di tangan. Saya bergegas berangkat menuju Bandara Polonia. Hm, seminggu berada di Medan, sepertinya tidak cukup. Masih banyak tempat yang ingin saya datangi. Masih banyak kuliner yang ingin saya cicipi. Saya akan terus menabung rindu. Suatu saat, saya pasti kembali ke Negeri Sultan Deli ini. [] Haya Aliya Zaki

22 komentar:

  1. Alamakkk... itu foto terakhir ituh.... -_____-"

    BalasHapus
  2. Wakakaka ... suka sate kerang, Mom? Yuk, main ke Medan. :D

    BalasHapus
  3. mi Acehnya sampai menggunung begitu . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Iya, Mak. Soalnya yang beli banyak banget. Sehari bisa 100 kg kejual.

      Hapus
  4. Aku favoritnya ke Tip Top mak, makan steak lidah telor setengah matang. sullrppp...
    Mak, komentarnya ditambahih "name/URL" dong biar kalau komentar aku nggak login dulu ke gmail

    BalasHapus
  5. Aku juga suka Tip Top. Aku ada nulis ttg Tip Top juga. Lagi nunggu terbit, Mak. Eh, maksudnya nambahi "name/URL" itu apa, Mak? Caranya? Xixixi wong gaptek iki. :))

    BalasHapus
  6. yang kutahu dari MEdan...bolu Meranti...oleh-oleh dari rekan saya dari Medan...heheeee,
    nice trip mba...
    *dapat ilmu lagi....

    BalasHapus
  7. Hahaha ... nah, bolu Meranti itu deket rumah orangtua saya, lho, di Medan, Mak. :D Ditunggu tulisan traveling Mak Astin, ya. :)

    BalasHapus
  8. whuuuuaaa menggoda iman itu futu-futunya

    pengen belanja dan makan jadinya :D

    makasih mak, sudah lebih cerah setelah membaca perjalanan mak haya :D

    BalasHapus
  9. Berbagi Kisah, Informasi Dan Foto

    Tentang Indahnya INDONESIA

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    BalasHapus
  10. salam mbak...,

    mau nanya niih...
    kalau kirim tulisan ke majalah Sekar dapet bukti terbit gak?
    makasih sebelumnya ya mbak...

    Dee An
    www.adventurose.com

    BalasHapus
  11. Salam Mbak Dee An.
    Kalau dimuat di majalah Sekar, tidak dapat bukti terbit, Mbak. Kita beli sendiri majalahnya. Demikian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak dapet informasi juga ya mbak, waktu tulisan kita dimuat, lewat email misalnya...

      Hapus
  12. oia, Mbak... saya follow yaaa...
    salam kenal dari Batam... :)

    Dee An

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu itu, mereka butuh beberapa foto lagi, saya dihubungi, Mbak. Tapi, biasanya, untuk rubrik lain di majalah Sekar, tidak ada pemberitahuan kalau dimuat. Kalau Mbak Dee An mau kirim, nanti saya bantu pantau. Tolong kabari kalau sudah kirim ke Sekar.
      Terima kasih sudah di-follow. Saya sudah mampir ke blog-nya. Pernah baca juga beberapa tulisan Mbak di majalah Ummi. AYo, kirim-kirim ke Sekar, Mbak. :)

      Hapus

    2. iya nih..., pengen coba kirim juga ke media lain, mbak... :)
      makasih banget infonya ya mbak... :)

      Hapus
    3. Oke, kabar-kabari kalau sudah kirim, ya. Nanti saya bantu pantau. :)

      Hapus
  13. mak keren banget tulisannya
    oya redaksi terima ga catatan perjalanan luar negeri, trus catatan yang udah kita tulis di blog apa masih bisa kita kirim

    BalasHapus
  14. woowww,, kerenn2 bangett tempatnya, apalagi kulinernya... hehehe pastinya enakk..

    BalasHapus
  15. Duh sayang ini majalah udah gulung tikar ya

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan