Sabtu, 22 September 2012

Tidak Ada yang Sia-sia


Tulisan ini dimuat di majalah Sekar rubrik Kata Hati. Rubrik Kata Hati memuat kisah-kisah inspiratif seputar dunia istri dan ibu. Tulisan sekitar 300 kata. Tidak perlu menyertakan foto. Dikirim ke sekar@gramedia-majalah.com. Jangan lupa cantumkan biodata singkat dan nomor rekening di akhir naskah.
 

            Saat saya masih kuliah, yang ada di pikiran saya hanya satu. Saya ingin menjadi wanita karier. Hasrat saya menjadi wanita karier demikian kuat.


Belum lagi mengecap acara seremonial wisuda dari kuliah profesi, saya telah diterima bekerja di sebuah apotek modern ternama. Namun, seiring berjalannya waktu, suami mulai mengkhawatirkan kesibukan saya. Saya sering merasa capek dan stres. Saya juga selalu melewatkan acara keluarga karena jatah libur saya bukan seperti pegawai biasa (akhir pekan). Justru di akhir pekan saya wajib bekerja lebih keras karena di akhir pekanlah apotek kebanjiran pelanggan.

            Setelah berdiskusi dengan suami, dengan perasaan berat, saya memutuskan berhenti bekerja. Sebagian mengacungkan jempol atas keputusan yang saya pilih. Sebagian lagi, seperti menyesalkan. Mereka berkata bahwa sia-sia saja saya kuliah kalau toh, ujung-ujungnya cuma dapur. Ada nyeri di sudut hati. Benarkah demikian?

Tidak! Tidak ada yang sia-sia dari menuntut ilmu. Saya yakin itu.

Saya mencoba menerapkan pengetahuan saya kepada keluarga kecil saya. Misal, salah satu manfaat dari ilmu yang saya miliki adalah tak sulit bagi saya memilah-milih konsumsi makanan keluarga karena saya paham unsur-unsur kimia, baik kegunaannya ataupun bahayanya. Ketika anak-anak sakit demam atau flu, saya tidak mudah terserang panik. Untuk beberapa kasus penyakit ringan lainnya, saya bisa melakukan penanganan sendiri di rumah. Anak-anak tentu merasa aman dan nyaman dirawat oleh ibunya sendiri.

Betapa penting peran para ibu berilmu di lingkungan keluarga kecil mereka. Insya Allah, bila para ibu membekali dirinya dengan ilmu, keluarga akan terpelihara. Kepada siapa kita berharap peningkatan akhlak dan kemajuan intelektualitas penduduk bumi ini kalau bukan kepada generasi penerus kita?

Oiya, saya bukan hendak menyatakan bahwa ibu yang berkarier di luar rumah adalah ibu yang buruk. Tidak, sama sekali tidak. Hanya, inilah pilihan saya. Semua pilihan punya konsekuensi masing-masing.

Kini, impian saya menjadi wanita karier yang bekerja nine to five di luar rumah, sempurna memudar bersama waktu. Biarlah ia menjadi bagian masa lalu. Allah telah mengganti semuanya dengan anugerah yang lebih indah, yakni menjadi istri dari lelaki pemilik senyum bersahaja dan ibu penuh waktu bagi malaikat-malaikat cilik di rumah kami. [] Haya Aliya Zaki
                                   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan