Jumat, 21 September 2012

Ternyata, Oh, Ternyata ....


Tulisan ini dimuat di majalah CHIC rubrik My Point of View. Rubrik ini memuat kisah-kisah inspiratif seputar dunia kerja perempuan. Tulisan sekitar 300 kata. Anda tidak perlu menyertakan foto. Kirim ke chic@gramedia-majalah.com. Jangan lupa mencantumkan biodata singkat dan alamat lengkap di akhir naskah. Rubrik ini tidak menyediakan honor, melainkan bingkisan.


 
Dulu, semasa masih bekerja di apotek, saya selalu berusaha aktif berkomunikasi dengan pasien yang hendak membeli obat bebas maupun menebus resep dokter. Saya tidak ingin menjadi apoteker yang hanya “duduk manis” di belakang meja. Sesungguhnya, tugas apoteker tidak cuma menghitung stok obat atau mengatakan kepada pasien bahwa obat A dimakan 3x1 atau obat B diminum 1x1. Apoteker wajib menjelaskan lebih jauh dari itu. Antara lain, soal efek samping obat, reaksi obat dengan makanan, dan jadwal yang benar untuk makan obat.

Tentang hal yang terakhir ini, saya punya cerita lucu. Teman saya yang mengalaminya. Sebut saja namanya Rina. 

Rina apoteker yang ramah dan selalu berkomunikasi dengan pasien. “Kantornya” di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Suatu hari, Rina melayani pasien langganan rumah sakit, yakni Ibu Dewi (nama samaran). Ibu Dewi menderita penyakit jantung. Umurnya hampir separuh abad.

Awalnya, Ibu Dewi enggan menjawab pertanyaan Rina. Namun, bukan Rina namanya kalau tidak bisa membuat pasien merasa nyaman dan akhirnya mau mengobrol dengannya. 

Beberapa minggu kemudian, Ibu Dewi datang lagi ke rumah sakit.

“Mana mbak-mbak yang tugas di sini? Yang orangnya tinggi dan rambutnya agak merah?” tanya Ibu Dewi dengan suara keras.

Petugas di apotek ketakutan. Wah, yang dimaksud Ibu Dewi pasti Rina! Ada masalah apa, nih? Gawat!

“Rina sedang dinas sore, Bu. Ini masih pagi. Nanti sore saja Ibu datang lagi,” jawab salah seorang petugas apotek.

Sore hari, berita ini sampai ke telinga Rina. Sontak Rina ketakutan. Sampai malam Rina menunggu, tapi Ibu Dewi tidak muncul juga.

Keesokan paginya, Ibu Dewi datang lagi. Kebetulan Rina shift pagi. Dada Rina sudah gedebak-gedebuk melihat Ibu Dewi dari jauh. 

Begitu sampai di apotek, tidak disangka-sangka, Ibu Dewi langsung memeluk Rina seraya tak henti mengucapkan terima kasih. Apa pasal?

Leganya Rinaaa .... Ternyata, berkat konsultasi dengan Rina, kesehatan jantung Ibu Dewi membaik. Selama ini, Ibu Dewi makan obat jantung sesuai dengan jadwal ibadahnya. Pukul setengah lima pagi sebelum salat Subuh, pukul sembilan pagi sebelum mengaji dengan ibu-ibu di masjid, dan pukul sepuluh malam sebelum salat Isya. Ini tidak benar. Jadwal makan obat yang pertama dan kedua sangat dekat, sedangkan jadwal yang berikutnya sangat jauh. Padahal, obat harus dimakan  tiga kali sehari dengan rentang waktu yang sama, yakni delapan jam. 

“Sekarang saya bisa olahraga jalan kaki setiap pagi. Saya juga bisa menggendong cucu saya. Terima kasih, Mbak Rina!” kata Ibu Dewi gembira.

      Ya, terkadang pasien diam bukan berarti sudah tahu. Bisa jadi mereka malah tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Informasi obat yang sepertinya terlihat sepele, ternyata memberi pengaruh besar terhadap kesembuhan pasien. Pelajaran berharga dari seorang sahabat. Terima kasih, Rina! [] Haya Aliya Zaki - Apoteker yang kini aktif menulis dan mengajar

12 komentar:

  1. huum, benar...akdang menjadi pasien kita menjadi sok tahu...hehee, *mantan medreps saya mba haya, jadi sekarang lebih sok tahu dari dokter dan yang lainnya , maap...(kerjaannya kasih tahu dokter dan nitip ke apoteker....hihiii *pernah ketemu mba haya gak ya>dulu)

    BalasHapus
  2. Kadang mau nanya malu juga, MBak. Padahal, kalau nanya pun ga ada yang marahin, ya? :)) Wah, Mbak mantan medreps, ya? Pernah ketemu kali kita dulu hihihi ....

    BalasHapus
  3. Wow, kereh ih, artikel ini dimuat di majalah CHIC. Slmt ya, Mak! Dirimu memang Te O Pe.

    Bener banget, Rina telah meyebarkan sikap positif yang tanpa disadari sendiri olehnya, ternyata sangat berarti bagi orang lain ya, Mak. Sikap ringan tangan dalam menebar manfaat bagi orang lain seperti ini lah yang sudah seharusnya melekat pada diri kita ya, Mak. Yuk ikutan belajar dari sikap Rina, ah! Trims for the article, Mak. :)

    BalasHapus
  4. Ayo, Mak Alaika, kirim dunk. :)

    BalasHapus
  5. mak banyak cerita indah ya semasa jadi apoteker yang dulu juga lucu yang ada yang mabok itu hehe

    kaya pengalaman deh :D Suka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya, Mak. Itu yang paling terekam dalam ingatan. :))

      Hapus
  6. iya nih, Rina sungguh menginspirasi. asyik ceritanya mak Haya :)

    BalasHapus
  7. iya nih mak.wah ternyata tugas apoteker begitu toh mak.biasanya saya kalo beli obat di apotik penjelasannya singkat banget. kadang bener juga tuh mak, engga tanya mah saya karena engga ngerti.bukan karena gak ad pertanyaan ^^ hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Makanya aku jadi ingin menuliskan hal ini. :)

      Hapus
  8. perlu dicoba untuk mengirim..:)

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan