Minggu, 23 September 2012

[Artikel Sekar] Ketika Berjanji kepada Si Kecil


Tulisan ini dimuat di majalah Sekar rubrik Kata Hati. Rubrik Kata Hati memuat kisah-kisah inspiratif seputar dunia istri dan ibu. Tulisan sekitar 300 kata. Tidak perlu menyertakan foto. Dikirim ke sekar@gramedia-majalah.com. Jangan lupa cantumkan biodata singkat dan nomor rekening di akhir naskah.




”Ummi pembohong! Faruq sebal sama Ummi!”

Betapa kagetnya saya mendengar kalimat keras yang terlontar dari anak saya, Faruq (6 tahun). Di matanya, saya adalah seorang pembohong. Benarkah? Apa pasal? Penyebabnya mungkin terdengar remeh di mata kita, para orang dewasa. Berulang kali Faruq menagih janji kepada saya agar sepedanya diperbaiki dan berulang kali pula saya menunda dengan mengarang seribu alasan. Berhari-hari dikejar tenggat tulisan, membuat saya  mudah-mudah saja mengiyakan permintaannya, namun tidak menindaklanjuti. Inilah yang memicu kekesalan anak saya.  

Tanpa sadar, kita sering mengobral janji kepada si kecil dan lupa menepati karena mengganggap hal ini perkara sepele. Berbeda bila kita berjanji kepada pimpinan perusahaan, rekan bisnis,  atau teman sekantor, misalnya. Padahal sesungguhnya, sama saja. Berjanji kepada si kecil, meskipun hanya janji untuk membelikan mainan, atau mengajak jalan-jalan, janji ini tetap harus ditunaikan.

Setiap kali kita berjanji, anak-anak akan selalu mengingatnya dan menanti kita untuk menepati, dengan sepenuh hati. Jika diabaikan, alamat pengaruh buruk bagi perkembangan jiwa mereka.  Mereka merasa tidak dihargai dan lama-kelamaan, terbentuklah generasi tidak peduli peraturan, yaitu peraturan menepati janji. Di samping itu, dampak negatif tidak menepati janji dalam keluarga sudah jelas. Kemesraan hubungan orangtua-anak memudar. Sebagai orangtua kita tidak lagi dipercaya dan kehilangan wibawa di hadapan anak.   

Berbicara soal janji kepada si kecil, tentu erat kaitannya dengan bulan Ramadan. Saya yakin di bulan suci ini para orangtua banyak menebar janji kepada anak-anak agar anak-anak semangat meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.  Bulan Ramadan adalah bulan pendidikan (tarbiyah). Bulan Ramadan memang momen yang sangat tepat bagi para orangtua untuk mengenalkan nilai-nilai agama sedari dini. Diharapkan kelak, rasa cinta Allah dan menjalin hubungan baik dengan sesama, bakal erat tertanam di hati, juga perilaku anak. Tapi hendaknya kita  jangan sampai lupa, kala Ramadan usai,  anak-anak telah selesai melaksanakan kewajiban mereka, segera bayar segala utang janji kita. Bila belum sanggup, sampaikan tulus permintaan maaf. Kemukakan pula alasan sebenarnya penyebab janji belum bisa ditepati, dengan bahasa yang sederhana, agar anak mudah memahami. 

”Ummi, makasih, ya! Sepeda Faruq jadi kereeenn ... banget!”  Faruq benar-benar surprais saat pulang sekolah, ia mendapati sepeda rusaknya telah ’disulap’ menjadi bagus kembali. Ia memeluk saya erat-erat. Ah, adakah yang lebih indah selain melihat senyum merekah dan bintang berpijar di mata anak-anak kita? [] Haya Aliya Zaki 
           



11 komentar:

  1. Pernah merasakan hal yang sama :) ternyata tulisan u kata hati ha-hal sederhana yang terjadi di sekitar kita ya hehe *jadi pingin coba* makasih ya mbak sudah berbagi :)

    BalasHapus
  2. IYa, Mbak. Hal-hal "sederhana" tapi bermanfaat dan mudah-mudahan bisa menginspirasi orang lain. Mbak Vanda pasti bisa.:)

    BalasHapus
  3. "sederhana" tp inspiratif bgt mb :)
    kunjungan pertama mb haya..salam kenal yaa :)

    BalasHapus
  4. salam kenal juga, Mbak. Makasih sudah mampir.:)

    BalasHapus
  5. bener banget mba... hal2 yg kita kira sepele, tapi buat anak2 kita itu sangat berarti. saya juga kadang2 masih begitu mba :) moga2 enggak lagi2 deh 'mengingkari' janji. salam kenal mb Haya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal, Mbak. Iya, saya juga kadang-kadang masih begitu. Kasihan anaknya nunggu-nunggu janji ortunya dikabulin. :D Terima kasih sudah mampir, Mbak. :)

      Hapus
  6. Terima kasih infonya
    tahun 1983an tulisan saya berjudul "Sepakbola Wanita Melanggar Kodrat?" terbit di rubrik Gado-Gado Majalah Femina.
    Dapat honor dan paket kosmetik dari Rexona
    Juga rubrik humornya

    mau nyoba menulis di Sekar ach

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ayo, Pa, kirim-kirim lagi. Untuk nonfiksi, di Femina ada rubrik wisata "Oleh-oleh". Kalau sekarang Femina ga ada rubrik humornya lagi ya, Pak? Salam hangat juga dari Tangerang. Terima kasih sudah mampir, Pak. :)

      Hapus
  7. Kolom komentar sebaiknya di set ulang agar sahabat bisa menuliskan url blognya. Pada setting, klik comment lalu centang"everyone"

    Sekedar saran.
    Terima kasih

    BalasHapus
  8. inspiratif bgt mak :)
    anak saya jg udah bs nagih janji :D

    BalasHapus
  9. wah tulisannya bagus dan enak dibaca mak, asyik juga kalo mau coba-coba kirim tulisan ke sekar :) makasih infonya mak

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan