Senin, 10 September 2012

Hari Raya di Masjid Raya Medan


Tulisan ini dimuat di harian Republika Leisure rubrik Jalan-jalan Religi tanggal 28 Agustus 2012. Kirim tulisan sekitar 800 kata. Sertakan foto-foto pendukung yang baik. Kirim ke leisure@rol.republika.co.id. Jangan lupa cantumkan biodata singkat dan nomor rekening di akhir naskah.



          Pulang ke kampung halaman di Medan, Sumatera Utara, menjelang Idul Fitri merupakan momen yang paling saya nanti. Selain acara silaturahim keluarga, Idul Fitri kali ini ingin saya rayakan dengan wisata religi ke masjid-masjid megah di kota Medan yang kental akan nuansa Melayu Deli. 

Masjid Raya Al-Mashun
Saya dan keluarga salat Idul Fitri di Masjid Raya Al-Mashun. Masjid Raya Al-Mashun dikenal juga sebagai Masjid Raya Medan. Masjid ini dibangun oleh Sultan Ma’moen Al-Rasjid Perkasa Alamsyah dari Kesultanan Deli pada tahun 1906. Biaya pembangunan sepenuhnya dari Sultan Deli. Berdasarkan keterangan di prasasti, masjid ini pertama kali dipergunakan pada tanggal 19 September 1909. Dulu keluarga sultan selalu melaksanakan salat berjamaah di sini. Sampai sekarang masjid masih dipergunakan untuk kegiatan beribadah. Uniknya, saat Idul Fitri, imam, khatib, dan seluruh pengurus Masjid Raya Al-Mashun berpakaian adat Melayu lengkap.  




Salat Idul Fitri dimulai tepat pukul delapan pagi. Selesai salat dan mendengarkan khutbah, saya berjalan-jalan melihat masjid. Total luas wilayah masjid sekitar satu hektare. Ukuran masjid yang didominasi warna kuning dan hijau ini sangat besar. Bangunannya terbagi tiga, yakni bangunan utama, tempat wudhu, dan pintu gerbang. Model bangunannya segi delapan. Ornamen di dalam merupakan perpaduan budaya Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Pilar-pilar indah terbuat dari marmer tampak kokoh menyangga langit-langit dalam.



Menara masjid terletak di sebelah kiri, agak jauh dari bangunan masjid. Di sebelah kiri masjid juga ada taman teduh dengan kolam air mancur. Malam hari, lampu air mancur yang berwarna biru menyala cantik. Sementara, di belakang taman, terbentang makam Sultan Deli XII dan XIII beserta keluarga. Saya menyempatkan diri untuk berziarah dan berdoa. Seorang lelaki tua berbaju putih menunduk sambil terisak perlahan di sudut makam salah satu keluarga Sultan Deli XII. Rupanya beliau adalah Tengku Laksmana, adik dari atok (kakek) Sultan Deli XIV. 


Usai ziarah, saya melihat para jamaah salat Idul Fitri riuh mengerubungi seseorang berpayung emas di halaman masjid. Ternyata, beliau adalah Pemangku Kesultanan Deli. Para jamaah tadi berebut ingin berfoto bersama. Saya juga tidak mau ketinggalan foto-foto. Sekadar info, Pemangku Kesultanan Deli ini bernama Tengku Hamdy Osman Deli Khan Al-Haj. Gelarnya Raja Muda Deli. Beliaulah yang melaksanakan tugas-tugas kerajaan selama Sultan Deli XIV yang bernama Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam, belum dewasa. Saat ini, Sultan Deli XIV berada di Makassar (kakek Sultan Deli XIV mantan Gubernur Sulawesi Selatan). Kelak, jika sudah dewasa, dia akan pulang ke Istana Maimoon.  


Masjid Raya Al-Osmani
            Tunai sudah acara santap lontong sayur Medan dan silaturahim keluarga. Saya pun melaju menuju Masjid Raya Al-Osmani, masjid tertua di Medan. Letaknya di daerah Medan Labuhan, di pinggir jalan raya. 

Masjid Raya Al-Osmani dibangun dari bahan kayu pada tahun 1854 oleh Sultan Deli VII, yakni Sultan Osman Perkasa Alam. Pada tahun 1870-1872 masjid diubah menjadi bangunan permanen oleh putra Sultan Deli VII, tak lain dan tak bukan Sultan Deli VIII yang bernama Sultan Mahmud Perkasa Alam. 



Sama seperti Masjid Raya Al-Mashun, warna bangunan Masjid Raya Al-Osmani juga didominasi kuning dan hijau. Hanya, kuning Masjid Raya Al-Osmani lebih semarak. Warna kuning (emas) memang warna kebanggaan kerajaan Melayu Deli. Biasanya dipadukan dengan hijau untuk mengembuskan napas Islam. 

Kubah Masjid Raya Al-Osmani cukup unik karena bergaya India. Sementara, interior dalam masjid merupakan kombinasi gaya India, Timur Tengah, Cina, Spanyol, dan Melayu. Balutan budaya Melayu semakin terasa kala saya melihat desain mimbar khatib. Saya langsung teringat kepada desain khas Istana Maimoon.


Salah satu keinginan saya saat berencana berkunjung ke Masjid Raya Al-Osmani adalah melihat beduk tua yang populer. Usianya diperkirakan sudah puluhan tahun. Beduk disimpan dan dikunci di dalam rumah adat Melayu, di belakang masjid. Sayang, keinginan saya ini belum kesampaian. Ketika saya datang, pengurus masjid sedang tidak ada. 
  


Saya sedikit kecewa. Namun, tidak mengapa. Bagi saya, Idul Fitri tahun ini  sangat berkesan. Wisata religi ke masjid-masjid di kota Medan menambah kebanggaan sebagai orang asli Medan, mempertebal semangat spiritual, dan tentunya memperluas wawasan sejarah saya.  

Naik apa habis berapa?
Masjid Raya Al-Mashun terletak di Jalan Sisingamangaraja, Medan. Berjarak 10 kilometer dari Bandara Polonia dan 200 meter dari Istana Maimoon. Persis di seberang depan masjid ada Madani Hotel. Tak jauh dari Madani Hotel, ada pula Garuda Plaza Hotel. Setiap tahun di bulan Ramadan dan Syawal, kedua hotel ini memberikan tarif promo menginap dimulai dari harga tiga ratusan ribu rupiah per malam.  

Masjid Raya Al-Osmani terletak di Jalan Yos Sudarso km. 18,5 kecamatan Medan Labuhan, Medan (arah menuju Pelabuhan Belawan). Daerahnya melewati kawasan industri. Waktu tempuh dari kota ke Masjid Raya Al-Osmani tidak sampai satu jam. Ongkos naik kendaraan angkot hanya lima ribu rupiah. [] Haya Aliya Zaki


5 komentar:

  1. artikel yang sangat menarik dan ditulis dengan sangat informatif mba... saya belum pernah berkesempatan shalad Ied di mesjid Raya ini.....
    trims informasinya...
    salam kenal...:)

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas apresiasinya, Mbak Alaika. Salam kenal juga. Semoga kapan-kapan bisa berkunjung ke masjid ini.:)

    BalasHapus
  3. masjidnya arsitekturnya bagus. pantas untuk dijadikan wisata religi :)

    BalasHapus
  4. Makasih, Mbak. Iya, sebagai orang Medan, saya bangga karenanya.:)

    BalasHapus
  5. Ini yang saya cari Mak maksih ya :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan