Sabtu, 02 Juni 2012

Ketika Dongeng Cinta Bersenandung Lara


       Asyik juga membaca novel romance Mbak Sefryana Khairil. Kebetulan ada lomba resensinya bukunya, saya ikut, deh. Resensi saya meraih Juara Favorit. Alhamdulillah. Berikut resensinya :

Judul buku : Dongeng Semusim

Penulis : Sefryana Khairil

Penerbit : Gagas Media

Cetakan : I,  2009        

Tebal buku : viii + 260 hal
ISBN : 979-780-369-4 


Ketika sebuah kapal berencana  mengarungi samudera, seyogyanya, kapal itu telah mempersiapkan perlengkapan berlayar dengan matang. Termasuk perihal nakhoda. Tentu nakhoda yang dipilih adalah nakhoda terbaik. 

Hanya ada satu nakhoda dalam satu kapal. Ke arah mana nakhoda memutar haluan, ke situlah kapal melanjutkan perjalanan. Bisa dibayangkan bila dalam satu kapal memuat dua nakhoda. Alamat kapal karam karena tak tentu memastikan arah tujuan.

Uraian paragraf di atas sesungguhnya adalah kiasan. Dalam menjalankan  biduk rumah tangga, layak kita berada di bawah satu bendera. Mengatasi konflik yang mencuat atau cara mendidik anak-anak, misalnya, mestilah  menuju pada satu  muara. Bahkan negara juga mengeluarkan undang-undang ketat mengatur permasalahan ini. Negara tegas menyatakan tidak mengakomodir pernikahan berlandaskan dua agama.

 Hal ini ternyata dipahami betul oleh Sarah, gadis cantik yang berkarier sebagai redaktur majalah kuliner, Delicious. Cinta Sarah kepada Nabil, seorang fotografer muda, membuat Sarah berani mengambil keputusan melawan arus. Sarah memilih berpindah pada keyakinan Nabil demi merajut mimpi bersama dalam mahligai cinta. Sarah rela menghadapi amuk keluarganya, terutama dari sang ayah  dan Ruben, kakaknya.  Untung, mama Sarah tak ikut-ikutan menghakimi pilihan Sarah. Bahkan, ketika Sarah tergugu di ijab kabul karena ketidakhadiran sang ayah, mama menghibur dan menampung semua keluh-kesah Sarah.

Akan tetapi, rupanya, manis madu asmara tak lama dikecap Sarah. Indahnya dongeng percintaan hanya semusim berjalan. Sikap Nabil begitu kekanak-kanakan. Prinsip ’just for fun’ Nabil dalam hidup, menjadi bumerang. Ini jelas terlihat saat Nabil merasa tidak siap tatkala mengetahui Sarah hamil. Ia melampiaskan kekesalan dengan menenggak minum-minuman keras dan tenggelam di dunia malam. Parahnya, kekacauan memuncak saat Sarah sedang semangat-semangatnya mendalami agamanya yang baru. Nabil merasa terganggu dengan rentetan pertanyaan seputar agama, karena ia telah lama meninggalkan ajaran-Nya demi kesenangan dunia.

Perselisihan demi perselisihan terjadi. Dalam labilnya, Nabil memutuskan untuk meninggalkan Sarah. Sarah merasa Nabil berlaku tak adil. Ia telah mengorbankan segalanya demi hidup bersama Nabil. Dongeng percintaan mereka bersenandung lara. Semua menjadi rumit. Semua menjadi sulit. Batin Sarah semakin terempas saat ayahnya meninggal. Ruben mentah-mentah menyalahkan dirinya atas kematian ayah mereka. Sementara, Nabil masih asyik dengan kegamangan meneruskan pernikahan mereka.

Sampai akhirnya, sebuah kenyataan pilu menimpa Sarah. Nabil terenyak. Mungkinkah Nabil akan menyadari kekeliruannya? Benarkah dongeng percintaan mereka menjadi dongeng semusim belaka? Apa pula hubungan manis, gurih, asam pancake hazelnut blueberry dalam cerita ini? Silakan cari jawabnya dalam novel Dongeng Semusim.

Novel Dongeng Semusim  berkisah tentang lika-liku hidup berumah tangga. Sang pengarang, Sefryana, mencoba membuka wawasan bahwa pernikahan tak selalu indah seperti di permukaan. Namun, bila diiringi niat suci dan usaha gigih, insya Allah semua mampu diatasi. Lancarnya komunikasi,  menerima kelebihan-kekurangan pasangan, menjadi faktor penting  membangun rumah tangga harmonis. ”Mungkin, awalnya kita nggak tahu siapa jodoh kita sampai kita bertemu. Tuhan tahu kita tidaklah sempurna, tapi menjadi sempurna saat bersama.” (hal 257).

   Yang membuat novel ini unik adalah keahlian Sefryana menaburkan resep-resep lezat sebagai pelengkap cerita. Yap, pekerjaan Sarah sebagai redaktur majalah kuliner, tampil klik dengan taburan resep-resep makanan ini.   Petikan-petikan lirik lagu romantis, menghiasi setiap awal bab cerita. Menyusuri sentuhan maknanya lalu menghubungkan dengan alur kisah, menjadi kenikmatan tersendiri bagi pembaca.

Sayang, ada sedikit kejanggalan dalam logika cerita. Contoh, ketika Sarah mampir ke sebuah toko buku-buku muslim, ia terlihat kaget bertemu Puspa, adik Nabil. Ternyata toko itu ada di depan kampus Puspa. Bagaimana mungkin Sarah tidak tahu kampus adik iparnya sendiri? Pindahnya keyakinan Sarah disebutkan di sini hanya beralaskan cinta. Kemungkinan besar, alasan ini tidak cukup kuat menggiring Sarah untuk memahami ajaran agama barunya lebih dalam. Kecuali, bila ia telah dilimpahi hidayah akan kebenaran ajaran agama barunya ini. Keputusan Sarah untuk berhijab juga kurang dibasisi argumen kokoh. 

Mengenai kemasan, sampul depan novel Dongeng Semusim terkesan terlalu ’biasa’ (kurang greget). Ilustrasi dan campuran warna terlampau sederhana, seolah menyurutkan makna. Terus terang, karena sampul depan yang demikian, awalnya saya enggan meraih novel ini dari rak di toko buku. Namun, setelah membaca beberapa halaman, saya berubah pikiran.

Akhir kata, novel Dongeng Semusim layak diapresiasi karena keunikan dan topik permasalahan yang diangkat. Selamat menikmati potret pernikahan yang khas (meminjam istilah Ifa Avianty) dari seorang Sefryana Khairil ... lengkap dengan sensasi manis, gurih, dan asam di dalamnya .... [] Haya Aliya Zaki



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan