Sabtu, 02 Juni 2012

Keajaiban Sentuhan Medis

Lomba Menulis Esai Keajaiban Sentuhan Medis saya ikuti bulan April 2008. Penyelenggaranya Majalah Reader's Digest Indonesia dan Singapore Medicine. Saya mendapatkan info lomba ini dari Tria Ayu K.

Tujuan saya mengikuti lomba ini, antara lain untuk berbagi tentang sosok tenaga medis yang "ideal". Kebetulan, saya dan keluarga memiliki pengalaman tentang itu. Kisahnya sendiri saya tulis seperti kisah inspiratif.

Alhamdulillah, saya menang. Hadiahnya 400 dolar Singapura berupa voucher belanja di Takashimaya, Singapura. Ketika suami dinas ke Singapura, voucher bisa dibelanjakan. Berikut naskahnya :


Awal Januari 2007, ibu mertua saya, Hj.Siti Rosyidah (58 tahun), divonis menderita kanker otak ganas (Glioblastoma multiforme). Anehnya, tidak ada keluhan sakit atau pusing yang dirasakan di kepala. Hanya, bila berbicara, lidah ibu seperti cadel. Ternyata, sel-sel kanker itu bersarang di otak kirinya, mendesak syaraf pusat bicara. 

Setelah berkonsultasi dengan beberapa dokter, kami memilih  dr. David Tandian, SpBS untuk menangani Ibu. Beliau ramah, selalu tepat waktu, dan janji (ini penting!), sangat sabar dan detail bila menjelaskan  tentang penyakit dan tindakan yang akan diberikan pada Ibu. Setiap dihubungi, dr. David selalu menerima dengan tangan terbuka. Baik untuk konsultasi atau sekadar mendengarkan keluhan kami. Di waktu Subuh atau tengah malam sekali pun! Menghadapi masa-masa sulit seperti ini, kami tidak hanya membutuhkan dokter yang pintar dan berpengalaman, tapi juga dokter yang mampu memberi suport, empati, dan membesarkan hati kami. 

Ibu berjuang melawan penyakitnya. Beliau telah dioperasi satu kali, menjalani kemoterapi dan radioterapi, tapi tumor itu tumbuh dan tumbuh lagi di tempat yang sama. Di saat dokter lain menyerah dan memprediksi umur ibu paling lama lagi 3 bulan, 6 bulan, dsb, dr. David tidak demikian. Beliau berupaya mengoperasi ibu untuk kedua kalinya. Operasi  dilakukan segera karena kalau terlambat, nyawa ibu bisa melayang. Pertumbuhan sel-sel kanker itu sangat pesat. Selesai operasi, dr. David langsung meng-implant satu jenis obat kanker di tempat sel-sel kanker selalu bercokol. 

Kira-kira dua bulan kemudian, dilakukan ct scan. Hasilnya, sel-sel kanker memang tidak tumbuh di tempat yang biasa, tapi tumbuh sedikit di tempat lain (masih di sekitar syaraf bicara juga). 

Kini, tujuh belas bulan berlalu. Ibu masih bertahan. Memang, keadaan Ibu tidak lagi seperti sediakala. Tangan dan kaki kanannya telah lumpuh. Bibir beliau juga sudah tak mampu mengeluarkan suara sama sekali. Tapi alhamdulillah, kondisi kesehatan Ibu stabil. Beliau masih tetap dalam pantauan dr. David dan rekannya, dr.Nanang Sugiarto, sebagai pasien home care. Di setiap embusan napas yang masih dianugerahkan Allah kepadanya, itulah hal yang patut kami syukuri. Hingga detik ini.[] Haya Aliya Zaki
 


Catatan : tanggal 2 Oktober 2008, ibu mertua saya harus menyerah berjuang melawan sakitnya. Beliau dipanggil Sang Khalik dengan senyum tersungging di bibir. Semoga arwah almarhumah  mendapat tempat terindah di sisi-Nya. Allahumma laa tahrimnaa ajroha walaa taftinnaa ba'daha waghfir lanaa walaha ....


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan