Kamis, 17 Mei 2012

Rindu untuk Ayah


Aku dan adikku, Dina, sangat dekat dengan Ayah.  Setiap Ayah pulang kerja, pasti Dina bergelayut manja, minta dibonceng keliling kompleks rumah dengan sepeda motor. Setelah itu, gantian aku menyodorkan buku gambar, mengajak Ayah melukis bersama. Ayah memang piawai melukis. Goresan sketsanya tegas dan dalam. Sapuan kuasnya halus. Warna-warna pilihannya bersanding memesona. Ayah juga pandai menulis. Aku diajari menulis cerpen dan puisi. Selain dengan kami, anak-anak perempuan Ayah, hubungan Ayah dan Ibu pun sangat harmonis. Kami keluarga kecil yang bahagia. 

Sehari setelah aku merayakan ulang tahunku yang kelima belas, Ibu bercerita kepadaku bahwa Ayah akan membangun perusahaan bersama beberapa temannya. Pekerjaan baru Ayah menuntut Ayah sering bepergian ke luar kota. 

Pelan-pelan kami mulai terbiasa dengan jadwal pekerjaan baru Ayah. Aku sering menasihati Dina supaya dia tidak rewel dan minta macam-macam. Ayah kan, sibuk bekerja. Ini untuk perbaikan ekonomi keluarga. 

 Tiga tahun berlalu. Suatu hari, Ayah diantar pulang dari luar kota oleh asistennya, Pak Candra. Biasanya, tidak demikian. Ayah selalu berangkat dan pulang sendirian, tak pernah diantar oleh teman atau anak buahnya. 

Ternyata, kondisi kesehatan Ayah tidak memungkinkan untuk pulang sendirian. Ayah sakit. Bukan sakit fisik, namun sakit batin. Jenis penyakit yang belum aku mengerti waktu itu.
“Bu ... aku takut ... tadi Ayah bicara sendiri, Bu ...,” kataku kepada Ibu.

Jujur, aku takut melihat “pribadi” Ayah yang baru. Tingkah Ayah seperti orang linglung. Kadang membentak, memaki, bahkan menghamburkan kata-kata kotor kepada lawan bicaranya yang tak ada. Kadang-kadang Ayah juga mengeluh pusing.

Pernah sekali aku mendengar Ibu bertanya kepada Pak Candra tentang penyebab sakit Ayah. Kata Pak Candra, di tempat kerjanya, Ayah sangat aktif membela kaum buruh. Kebetulan Ayah bergabung dengan organisasi pembela kaum buruh. Sepertinya, ada “orang dalam” perusahaan yang kurang suka dengan sepak terjang Ayah. Dugaan mereka, Ayah ditenung oleh rekan kerjanya yang sakit hati. Entahlah. Sebenarnya keluarga kami kurang memercayai hal-hal semacam itu. Apalagi, Ayah sangat taat beribadah.

Semenjak itu, hidup kami berubah bagai langit dan bumi. Aku dan Ibu rutin mengantar Ayah ke dokter. Keuangan kami menipis dan Ayah tidak sembuh juga. Sampai akhirnya, kami stop membawa Ayah berobat karena tak lagi punya biaya. Mustahil kami mengharapkan bantuan dari keluarga besar Ayah maupun Ibu. Mereka semua berekonomi pas-pasan. Sementara itu, teman bisnis Ayah memutuskan menjual perusahaan. Naas, Ayah tak diberi sepeser pun uang hasil penjualan perusahaan. 

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Ibu menjadi buruh cuci dan berjualan lauk pauk di depan rumah. Aku membantu Ibu memasak dan jualan. Alhamdulillah, aku mendapat beasiswa dari sekolah. Namun, beasiswa itu cuma cukup untuk membayar SPP. Biaya buku, alat tulis, seragam, dan lain-lain, semua ditanggung sendiri. 

Setiap hari, aku berjalan kaki sejauh tujuh kilometer ke sekolah. Aku tidak pernah naik kendaraan umum karena harus berhemat. Sepatuku yang berdebu, adalah teman setiaku. Karena dibawa berjalan kaki terus, alas sepatuku jadi  tipis dan bolong-bolong. Aku tahu Ibu belum mampu membelikan aku sepatu baru. Makanya aku berusaha untuk tidak mengeluh apalagi meminta dibelikan. Aku segan menyusahkan Ibu

Setiap pulang sekolah, kakiku pasti penuh pasir. Di teras, aku membuka sepatuku dan menepuk-nepuk sampai seluruh pasir di dalamnya keluar. Setelah itu, aku meniup-niup telapak kakiku yang nyeri dan panas.  

Jika Ibu kebetulan melihat aku pulang sekolah, beliau langsung sigap membawakan ember berisi air dingin dan meminta aku merendam kakiku di sana. Aneh, setiap Ibu melakukannya, Ibu selalu menunduk. Belakangan baru aku tahu. Ternyata, Ibu tak kuasa menatapku dengan mata menangis. Ibu menunduk dan membiarkan air matanya jatuh ke dalam ember.

Alhamdulillah, atas seizin Allah, aku berhasil menamatkan kuliah. Semua berkat perjuangan Ibu. Sayang, Ayah tak sempat melihatku berdiri memakai toga. Beberapa hari sebelum aku diwisuda, Ayah berpulang. Beliau dipanggil Allah kala sedang tidur. Innalillahi wainna ilaihi rooji’uun ....

Terkadang, rasa rinduku kepada Ayah menyeruak. Aku menyalurkannya dalam bentuk lukisan dan puisi. Berikut puisi yang pernah aku tulis untuk Ayah.

            Puisi Rindu untuk Ayah
Pada temaram matamu
ada lentera yang selalu benderang
senandung kasihmu merdu terbawa angin
menyembuhkan sayap camar yang luka
membuat mawar-mawar merekah tanpa beban
Ayah, tahukah engkau
telah beratus senja kucatat
senja yang merah karena terbakar rindu
Rinduku kepada Ayah .... [] Haya Aliya Zaki 
 Berdasarkan kisah seorang teman, sosok tegar sang pemilik sepatu berdebu.

Catatan : tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kisah Inspirasi Sepatu Dahlan yang diselenggarakan Noura Books.

6 komentar:

  1. T_T

    #very touchy

    salam ku buat teman mb ya

    semoga menang ya mb tulisannya =)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak apresiasinya, Zee. Aamiin. Sukses buatmu juga.:)

      Hapus
  2. Nice sory^^ sekarang kabar ayahnya gimana mba???
    oh ya, kalo berkenan mampir juga ya ke tulisan saya di sini
    http://kucingmushy.blogspot.com/2012/05/insiden-sepatu-baru.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayahnya kan meninggal. Ada disebutkan dalam cerita. Makasih sudah mampir. Insya Allah saya mampir ke blog mbak juga.

      Hapus
  3. Ada keindahan dalam rasa perih. Mantap, Tabib. Ah, libur-libur dibikin nangis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir, Tacik. Kapan-kapan aku beritahu siapa pemilik sepatu berdebu itu.:) Maaf libur-libur sudah bikin sedih, ya.:D

      Hapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan