Jumat, 01 Juni 2012

Pendekar Bawel Terpanah Asmara

       Pertengahan tahun 2009, saya kenal dekat dengan Mbak Triani Retno  (Eno) gara-gara saya ikut lomba resensi bukunya ini. Yang menyelenggarakan Gramedia Pustaka Utama. Kata Mbak Retno, "Eh, Hay, kamu kan suka menulis resensi buku tuh. Ikut lomba resensi bukuku, yuk. Ini kebanyakan naskah yang masuk kayak bukan resensi, tapi curhat semua huaaa ...!"

        Saya terkikik geli mendengar kalimat Mbak Eno. Saya pun mengikuti sarannya. Saya baca bukunya benar-benar, kemudian saya berusaha membuat resensi sebaik mungkin. Entah kenapa, tiba-tiba saja muncul di benak saya untuk mengaitkan "bawel" (unsur utama di novel ini) dengan penjelasan medis (bisa dilihat di paragraf pertama). Biar tampil beda saja dengan yang lain hehehe .... Sebelum mengirim, saya meminta tolong kepada pakar menulis resensi, Mas Nur Mursidi, untuk membaca resensi saya. Komentar beliau, "Resensi Mbak semakin tajam. Bagus!"

         Wow, jadilah saya semangat 45 mengirimkan resensi ini untuk lomba. Alhamdulillah, resensi saya meraih Juara I. Berikut resensinya : 

Judul buku : Bodyguard Bawel

Penulis : Triani Retno A.       

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I,  April 2009                                           

Tebal buku : 184  hal



Mungkin sudah  takdir ya, cewek lebih banyak bicara daripada cowok. ”Potensi” ini bahkan telah  terbaca sejak mereka masih kanak-kanak. Tidak percaya? Fakta menyatakan, anak cewek mulai   berbicara lebih awal daripada anak cowok.  Pada usia tiga tahun, jumlah kosakata anak cewek dua kali lipat daripada anak cowok. Lalu, bandingkan obrolan harian seorang cewek dengan cowok.  Cowok mengatakan 2000-4000 kata saja. Sedangkan cewek, bisa sampai tiga kali lipatnya! Ternyata, setelah diteliti, cowok hanya punya sedikit titik penting di dalam otak yang fungsinya mengendalikan ketrampilan berbicara. Sedangkan di otak cewek, areanya lumayan besar (Alan & Pease, 2008:109).  Hm, jadi wajar saja bila cewek sangat menikmati kegiatan berbicara dan sering melakukannya! 

Tapiii ... bagaimana kalau ada cewek yang kelewat banyak bicara alias bawel?  Ya, bawel. Seperti Alea Nandhika (Lea)! Hm,  terbayang tidak ya berapa porsi area di otaknya yang mengendalikan keterampilan berbicara berdasarkan teori di atas? Hihihi ... teman-teman Lea sering minta ampun melihat kebawelan Lea. Soal bicara, siswi kelas XI SMA Pelita Ilmu Jakarta ini bisa diibaratkan mobil yang remnya blong. Ditanya 1, jawabnya 1000. Teman-teman Lea memiliki keluhan yang sama bila di dekat Lea: berisiiikkk ...!

Menilik sekilas judul novel ini, mungkin kamu-kamu langsung teringat film romantis jadul (atau malah pada belum pernah nonton saking jadulnya film ini?:D), seperti :  Bodyguard (Kevin Costner-Whitney Houston) dan The Defender (Jet Li-Christy Chung). Film-film tersebut berkisah tentang cewek yang akhirnya kesetrum api cinta dengan bodyguard (pengawal pribadi) mereka. Namun, kisah Bodyguard Bawel  ini sama sekali berbeda. Bodyguard Bawel adalah julukan sosok Lea yang selalu membuat teman-temannya jatuh  kangen. Lea yang baik hati dan pantang melihat ketidakadilan di depan mata. Hohoho ... kesannya pendekar sekali, ya?  Tapi, benar, buktinya cewek bersabuk hitam karate ini hobi  mengejar copet.  Statusnya sebagai cewek, urung  menghalanginya  ’beraksi’. Singkat cerita, siapa saja yang butuh bantuan, Lea bersedia memberikan bahu untuk bersandar.    

Kisah bermula saat Yola, teman Lea, kelimpungan mencari Adit, cowok tampan yang jago melukis. Beberapa hari lagi, sekolah mereka akan mengadakan lomba lukis untuk anak-anak SD. Adit  yang nyata-nyata menjabat ketua panitia lomba, malah mendadak raib! Sebagai salah satu anggota panitia, bagaimana Yola tidak  stres! Apalagi waktu perlombaan semakin dekat.   

Nah, bukan Lea namanya kalau tidak menolong sahabat. Lea pun gencar berburu informasi tentang Adit. Akhirnya, berdasarkan informasi yang didapat , Lea, Yola, dan Yugi (sahabat kental Lea), mencari Adit di rumah sakit. Sesungguhnya, Adit tidaklah sakit. Rumah sakit baginya hanya tempat untuk menyendiri, mengenang kejadian suram masa lalu. Badai dalam keluarga menorehkan banyak luka dan membuatnya trauma. 

Melihat Lea dan Adit sama-sama jomblo, Yugi mencoba menyambung ’rasa spesial’ antar keduanya. Hati Lea berbisik, Adit lumayan tampan, tapi aneh. Masa cowok tampan hobinya  menyambangi rumah sakit!  Saat ini, Adit belum mampu menggetarkan hati Lea.  Perasaan Lea cuma sebatas kagum pada lukisan-lukisan Adit. Lea mencari cowok yang bisa membuatnya terpanah asmara pada pandangan pertama.  

Bagai mimpi menjelma kenyataan, akhirnya Lea bertemu cowok idaman. Namanya, Gilang. Dasar pendekar bawel, bertemu dengan sang pujaan pun dalam rangka kejar-mengejar copet. Waktu itu Lea membantu menangkap orang yang mencopet tas mama Gilang. Lalu Lea dan Gilang berkenalan. Pada pandangan pertama, Lea terpanah asmara!

Sedikit demi sedikit Lea mulai menyesuaikan diri dengan kepribadian Gilang. Lagu RBT Kucing Garong nan garang favoritnya, diganti dengan lagu Gita Gutawa yang manis. Lea rela belajar musik klasik, jenis musik kesayangan Gilang. Untuk mempermulus hubungan asmaranya, Lea berguru khusus pada buku 25 Kiat Mendapatkan Pacar Idaman.

Hmmm ... bagaimana kelanjutan hubungan Lea dan Gilang? Benarkah tak ada percik cinta antara Lea dan Adit? Akankah Dewi Amor tetap setia menaungi perjalanan asmara sang pendekar bawel? Agar tak lebih lama berselubung jubah penasaran, silakan cari novel ini dan baca sampai tuntas!

Tema cinta serta persahabatan dalam kemasan novel, memang tidak pernah mati. Dari waktu ke waktu peminatnya membengkak, terutama dari kalangan anak muda. Dan, Bodyguard Bawel  mengurai kisah bertema tersebut dengan bahasa yang lincah dan segar, khas remaja.  Lelucon-lelucon menggelikan namun bernilai positif, mengalir bak air. Sangat cerdik, di sini penulis menyelipkan antara lain informasi seputar isu pemanasan global yang kini menjadi momok penghuni bumi dan kerennya pemakaian biogas yang ramah lingkungan. Penokohan Lea sebagai cewek superbawel dibangun cukup sukses. Petikan tips-tips lucu 25 Kiat Mendapatkan Pacar Idaman pun lumayan mencuri perhatian. Tak heran bila novel ini berhasil menghantarkan  penulisnya meraih predikat Pemenang Berbakat (Lomba Cerita Konyol Remaja 2008).

Sedikit masukan untuk novel Bodyguard Bawel. Ruang imajinasi pembaca tentang penampilan masing-masing tokoh, masih tersekat dikarenakan minimnya deskripsi. Misal, keriting atau luruskah rambut Lea? Apa pakaian favoritnya? Setampan siapa wajah Gilang? Rupa indo seperti  Christian Sugiono-kah? Atau paras  oriental mirip Glen Alinsky? Deskripsi visual terasa kering di sini.

Mengenai alur cerita, kehadiran tokoh Adit menimbulkan tanya. Di bab-bab awal, tokoh Adit menjabat peran lumayan penting. Tapi setelah itu, sosoknya seolah menguap, menyisakan akhir cerita yang kurang menggigit. Trauma masa lalu Adit, mungkin bisa dieksplorasi lebih dalam. Juga kelanjutan hubungannya dengan Lea.

 Namun, di atas itu semua, Bodyguard Bawel layak diapresiasi. Novel ini kocak, ringan, tanpa terlupa pesan. Sangat cocok menemani kamu minum cokelat hangat di sore hari atau melepas penat setelah  menyelesaikan setumpuk peer  dan  ujian sekolah. [] Haya Aliya Zaki

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan