Jumat, 01 Juni 2012

Catatan Hati Muslimah di Kota Cahaya

           Saya mendapatkan info lomba meresensi buku ini dari Rini Nurul Badariah. Yang menyelenggarakan Penerbit Lingkar Pena. Atas saran Rini pula, saya mengirimkan resensi ini ke Harian Analisa Medan dan dimuat.  Pemuatan ini pastinya memberikan nilai plus di mata juri.:) 

          Oiya, saya sempat mewawancara Kak Ita (penulis buku) via e-mail. Tujuannya semata-mata untuk melengkapi data dalam resensi yang saya tulis. Alhamdulillah, saya meraih juara II. Berikut resensinya :
 
Judul buku    : Paris Lumiere de l’Amour: Catatan Cinta dari Negeri Eiffel
Penulis          : Rosita Sihombing
Penerbit         : Lingkar Pena Publishing House
Cetakan         : I, 2009
Tebal buku    : xi + 172 hal


            Mungkin tak pernah terbayangkan oleh seorang Rosita Sihombing (Rosita)  kalau ia akan menjadi pelaku pernikahan campuran, lalu menetap di negeri orang. Akan tetapi, jodoh, rezeki, maut, memang kuasa Allah. Cakrawala baru terbentang luas begitu wanita Batak kelahiran Lampung ini menautkan hati kepada Patrick Monlouis (Pat), pria berkebangsaan Perancis. Segala perbedaan,  macam berita miring seputar  nasib pernikahan campuran, serta berlikunya hidup di negeri orang, urung membuat Rosita tertahan langkah membangun biduk rumah tangga. ”Selama saya dan Pat masih takut kepada Allah, insya-allah semua akan berjalan baik,” jawab Rosita (melalui surat elektronik), bijak. 

             Setelah menikah, Rosita diboyong suaminya menetap di Paris (tahun 2003). Yap, Paris, kota yang selama ini hanya ia kagumi melalui kartu pos, tayangan televisi, dan film Perancis. Ragam kegiatan  Rosita  dirangkai elok dalam lembar rangkuman kisah.  Profesi penulis  menempatkannya  pada posisi paling ’nyaman’. Mengapa? Karena menulis dapat dilakukan dari rumah dan sebagai  muslimah berhijab di Paris, ia relatif sukar mencari pekerjaan lain (hal.98).
             Paris Lumiere de l’Amour  adalah buku nonfiksi berisi catatan hati Rosita  di Kota Cahaya. Di sana terbangun megah Menara Eiffel, di mana tubuhnya berselubung 800 senar kemilau cahaya nan memesona. Sungguh pemandangan yang  indah ketika kelam malam menjelang. Buku  yang terbagi atas lima bab yakni: Voila, Paris!, Bon Appetit!; Aktivitas-Aktivitas Seru; Keseharian; dan Saat Muslim Bukan Mayoritas; ditulis ala buku harian dan dilengkapi aneka foto. Foto-foto yang terpajang tidak cuma memudahkan memaknai  pesan tulisan, tapi juga membantu pembaca supaya ikut merasakan tempat-tempat yang pernah dikunjungi Rosita. 
              Tinggal di negeri orang, jelas berbeda dengan negeri sendiri. Dalam mencari tempat berteduh, misalnya. ”Di Paris, perjuangan hendak menyewa apartemen nyaris lebih sulit dibandingkan memperoleh pekerjaan,” tukas  Rosita yang juga mantan reporter Sumatera Post dan Tabloid Rektorat Unila. Setumpuk persyaratan dan sikap subjektif sang pemilik apartemen, benar-benar memerah perasaan. Bagusnya, di buku ini Rosita menjelaskan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh penyewa apartemen plus poin-poin tahap pengusiran penyewa apartemen.
               Dan kita mungkin tak menyangka kalau di Paris pun ada tunawisma! Pemerintah di sana memberikan perhatian berupa rumah singgah  dan uang tunjangan. Jangan kaget,  seorang tunawisma mendapat tunjangan  sekitar 300 euro (hampir lima juta rupiah) per bulan! Wow! Mungkin lebih baik  bila pemerintah mengajarkan para tunawisma hidup mandiri, ya? Mereka dibekali keterampilan cukup dan sejumlah modal. Soalnya, tunjangan itu sering disalahgunakan, dihambur-hamburkan untuk membeli minuman keras dan berleha-leha di hotel!
              Ada  lagi pengalaman tak terduga seputar apartemen, seperti biaya tukang kunci di Paris yang luar biasa selangit (hampir setara biaya tiket pulang pergi Jakarta-Paris!) dan perbaikan pipa bocor di kamar mandi apartemen yang memakan waktu lebih dari dua minggu!
            Berbicara tentang Paris, tentu tak afdol rasanya kalau tidak membahas aktivitas rekreasi di sana. Wanita yang akrab disapa ’Ita Sikrit’ karena rambutnya yang keriting ini, menampilkan romantisnya menonton opera di gedung Opera Garnier Paris, gegap-gempitanya pesta kembang api di Trocaredo, dan uniknya parade militer di Champs-Elysees. Sangat menarik! Wajar kalau Paris menjadi kota tujuan turis terpopuler di dunia. Hanya, saya pribadi berharap Rosita menyinggung (walau sedikit) rekreasi ke museum atau taman di Paris, mengingat Paris terkenal akan koleksi museumnya dan cantiknya ribuan spesies bunga dalam desain taman-taman yang menakjubkan.   
            Perihal makanan pun tak luput dibahas. Ini sangat penting mengingat sebagai keluarga muslim, ada aturan tersendiri dalam mengonsumsi makanan,  sesuai perintah agama.  Ibu dari Ilhan Barru Yusuf Pierson Monlouis (empat tahun) ini,  memaparkan lengkap, mulai dari  istilah-istilah makanan  minuman  haram dalam bahasa Preancis, sampai kode-kode matematis yang tercantum pada makanan mengandung bahan haram. Ada juga  tips praktis agar pembaca muslim nantinya tidak terjebak dalam kondisi rumit saat pilah-pilih makanan, info daerah  pusat perbelanjaan yang pas bagi orang Asia, nama-nama restoran Cina bermenu lezat namun halal, resep gado-gado istimewa khas Rosita, beda penyajian keju di Paris dan Indonesia, serta serunya  belanja durian di Paris! Kalau sedang mentok’ atau kangen makanan Indonesia, dagangan makanan di koperasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), menjadi ’target  utama’ goyang lidah yang sedap rasa dan harga. 
            Yang terakhir dan tak kalah penting, bab pamungkas, berkisah  suka duka  Rosita melakoni  ritual ibadah sebagai muslimah di Paris.   Umat muslim Paris siap-siap bergadang pada musim semi dan panas karena jadwal masuk waktu salat Isya, sekitar pukul dua belas malam! Dan bila Ramadan jatuh pada musim ini, umat muslim akan menunaikan ibadah puasa dengan waktu yang lebih lama dari biasa (sembilan belas jam).  Memasak sahur sering dilakukan gaya ’maling’ karena khawatir mengganggu  penghuni lain di apartemen. Penulis yang dalam waktu dekat berencana silaturahim pada sanak kerabatnya di Sumatera Utara ini, pun  tak luput mengungkap kegetirannya tentang tiada libur hari raya bagi umat muslim di Prancis. Menelaah bab terakhir, pembaca dapat menarik kesimpulan bahwa untuk menjadi umat muslim yang shahih  di Paris, kita harus berwawasan, istiqamah,  dan ’tahan banting’!
            Asyiknya buku ini, ia  dapat dibaca secara acak atau melompat. Namun, ada baiknya bila kisah demi kisah dalam satu bab disusun berurut sesuai almanak peristiwa, terutama jika berkaitan  momen spesial. Kebetulan saya membaca buku ini runut, dari awal sampai selesai. Ketika sampai pada  kisah proses Rosita melahirkan di rumah sakit Paris, dalam  Persalinan di Prancis (hal.25), yang tergambar dalam benak adalah, Rosita sedang melahirkan anak kedua (adik Ilhan). Ternyata saya keliru. Proses kelahiran yang dimaksud adalah proses kelahiran Ilhan. Pemikiran saya ini dikarenakan pada lembar sebelumnya hadir  Halte-garderie, Kado Istimewa untuk Ilhan (hal.15), berkisah tentang kegembiraan keluarga saat Ilhan  masuk sekolah.   
  
            Setelah menutup buku, mungkin sebagian pembaca merasa Rosita seperti belum tuntas menoreh tinta.  Akhir  Paris Lumiere de l’Amour kurang apik karena terkesan menggantung. Meski bukan karya fiksi, disarankan agar membuat bab atau sub bab yang bisa melabuhkan buku ini pada dermaga kisah. Selain itu, cuplikan kalimat  yang tertera pada  Opera Nan Penuh Kesan (hal.67), padahal seharusnya milik Nama Arab di CV? Nanti Dulu…! (hal.130), sedikit mengganggu.          
             Paris Lumiere de l’Amour adalah tulisan yang terpancar dari hati dan semoga mampu menyentuh hati pembacanya. Bertutur lugas sederhana, tentang cara seorang muslimah bertahan di negara Preancis, sebuah negara maju namun terkurung dalam bilik pengap sekularitas. Sangat cocok dibaca oleh Anda yang hendak menetap di luar negeri, terutama Perancis. Meski ditulis ala buku harian, hikmahnya tetap kuat tertancap, tak tergerus  oleh gaya penyampaian yang  ringan. Dan di atas itu semua, melalui bukunya, Rosita berhasil mengasah  permata-permata syukur  kita dalam meniti hidup sebagai insan  beragama, di bumi Allah tempat kita berada.[] Haya Aliya Zaki

1 komentar:

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan