Selasa, 10 April 2012

Talkshow Kumcer Teenlit “Bukan Cupid” di Kompas Gramedia Fair 2012: 14 Penulis, 14 Cerita Cinta

             Apa jadinya kalau empat belas penulis teenlit nan beken berkumpul dan menulis cerita cinta? Hm, sudah pasti lahirlah sebuah buku teenlit bertema cinta yang keren!

         Valentine boleh berlalu. Akan tetapi, bicara cinta ...? Jalan teruslah, ya .... Makanya, Kompas Gramedia Fair mengadakan acara Talkshow Kumcer Teenlit Bukan Cupid (Gramedia Pustaka Utama) di Panggung Utama, Istora Gelora Bung Karno, Jakarta (4/11/2012).  Pada talkshow ini hadir 6 dari 14 penulis yang tergabung dalam kumcer tersebut. Mereka adalah Christina Juswar, Esi Lahur, Irena Tjiunata, Janita Jaya, Lea Agustina Citra, dan Pricillia Anastasia Warokka. Semuanya kompak pakai kaus pink
   
Awal mula lahir kumcer teenlit Bukan Cupid
            “Bagaimana sih, awal mula lahir kumcer ini?” tanya Bintang Siahaan, sang MC, kepada para penulis yang hadir.

            Pricillia menjawab bahwa semua berawal dari jejaring sosial fesbuk. Pricillia, penggagas hadirnya grup fesbuk Teenlit Author (grup yang beranggotakan para penulis novel teenlit terbitan Gramedia Pustaka Utama), mengajak teman-teman Teenlit Author untuk menulis kumcer remaja. Temanya tentu yang dekat dengan kehidupan remaja sehari-hari, yakni cinta.  

            Bisa dibayangkan hebohnya saat mereka berdiskusi. Diskusi dilakukan secara online karena penulisnya ada yang tinggal di Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, bahkan Balikpapan. Wow! Dari diskusi, diputuskan jumlah penulis 14 orang, yakni 11 cewek, 3 cowok. Berhubung waktu itu sebentar lagi akan Valentine, maka, Bukan Cupid diterbitkan pas momen Valentine, tanggal 14 Februari 2012. Pas sekali dengan tagline yang mereka buat “14 Penulis, 14 Cerita Cinta, pada hari penuh cinta” – 14 Februari. Judul untuk kaver buku dipilih Bukan Cupid dari cerpen Valleria Verawati. Sementara, gambar cupcakes warna-warni pada kaver buku, merupakan simbol dari rasa manis (kebahagiaan) dalam hidup karena cinta. Aih, syedaaap ...! 

Cerita cinta yang berbeda
            “Bukan Cupid bukan kumcer cinta biasa, lho,” demikian kata Irena. “Cerita cinta tidak melulu tentang hubungan antara cewek dengan cowok, kan?”

Nah, Irena menulis cerpen berjudul Kak Johan. Kisahnya tentang cinta (kasih sayang) antara seorang adik dengan kakaknya yang menyandang autisme. Sangat mengharukan.  Kalau Pricillia, lain lagi. Dia menulis cerpen berjudul Take My Heart, Not My Soul. Rada-rada horor nih, soalnya kisahnya tentang hubungan cinta antara manusia dan malaikat kematian (hihihi ... bolehlah penulis berimajinasi, ya). Ada juga kisah unik berjudul Kartu AS Hati, ditulis oleh Janita Jaya. Tokoh utamanya adalah pesulap. Asal tahu saja, supaya cerpennya tampil oke, sebelum menulis, Janita melakukan riset, lho. Ia bertanya kepada temannya yang jago main sulap, membaca buku-buku sulap, memperhatikan penampilan para pesulap di televisi, sampai menonton berulang-ulang video ilusionis fantastis asal Amerika, David Copperfield. Hebring!



Apa asyiknya menulis cerita remaja?
            Obrolan berlanjut seputar tanya jawab tentang dunia menulis. Yang menarik adalah ketika para penulis melontarkan alasan mereka menulis cerita remaja. Lea berkata, “Masa remaja adalah masa transisi. Begitu banyak gejolak, begitu banyak pertanyaan yang ngumpul di dalam kepala. Saya ingin memberikan ‘solusi’ kepada remaja melalui cerita yang asyik dibaca.”

            Christina menyambung bahwa dunia remaja sangat dinamis. Banyak hal yang bisa dieksplorasi dan dituangkan menjadi cerita. Sampai saat ini, ia merasa nyaman menulis cerita remaja. Sementara,  Pricillia memilki alasan yang berbeda.  Ia ingin mewujudkan angan-angannya melalui cerita. Contoh, semasa SMA ia ingin menjadi ketua OSIS tapi tidak kesampaian. Akhirnya, di dalam cerpen ia menulis tokoh utamanya adalah ketua OSIS, dan seterusnya. Penulis ibarat “dalang” yang bisa menulis tentang segala hal yang ia inginkan. Seru, bukan?

            Dan, ternyata oh ternyata, meski suka menulis cerita teenlit, sebagian penulis teenlit sudah bukan teen lagi, lho!

“Wah, bagaimana ini? Sudah bukan teen, kok, bisa menyamar jadi penulis teenlit, ya?” MC berkelakar. 

Penulis yang bukan teen (hihihi ...) berbagi tips mereka menulis cerita teenlit. Irena selalu memperhatikan aksi para remaja saat menunggui anaknya sekolah, Lea memutar ulang memorinya saat masih remaja dulu, Esi rajin memantau status fesbuk dan twitter dari remaja seantero Indonesia. Kalau Christina, supaya bisa menghayati sekaligus riset obrolan atau tingkah remaja sekarang, biasanya ia melakukan kegiatan menulisnya di Seven Eleven. “Seven Eleven itu tempat tongkrongan remaja yang sedang in sekarang. Sambil menulis, saya sambil menguping dan mengamati polah remaja. Saya jarang menulis di rumah,” jelas Christina. 

            Sebelum berpisah, ada sedikit kalimat dari pengantar kumcer Bukan Cupid yang ingin saya share. “Kasih sayang tak hanya sebatas 14 Februari, melainkan juga dalam 365 hari lainnya sepanjang tahun. Demikian pula karya –sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat banyak- akan selalu ada selama matahari dan bulan masih ada.” [] Haya Aliya Zaki 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan