Selasa, 10 April 2012

Gathering Followers @Gramedia di Kompas Gramedia Fair 2012 : Silaturahim dan Bincang-bincang Seputar Dunia Penerbitan


Akhirnya ketemuan juga dengan teman-teman sesama followers twitter @Gramedia! Acaranya di mana lagi kalau bukan di Kompas Gramedia Fair. Persisnya di Ruang Kenanga, Istora Gelora Bung Karno, Jakarta (4/3/2012).

        Pukul dua belas siang, para peserta gathering mendaftar ulang. Saat mendaftar ulang, para peserta wajib menyerahkan buku yang dibawa ke panitia karena nanti bakal ada acara tukar buku (bookswap) antarpeserta gathering.

        Satu jam kemudian, acara dimulai. Semua khusyuk mengikuti kelas Trik Menulis Resensi Buku Online dengan pemateri Okta Wiguna (redaktur rubrik Pustaka Harian detik.com). Setelah Okta Wiguna selesai mempresentasikan materi, dibukalah sesi tanya jawab. Wow, kami-kami mendapat tambahan ilmu seputar soal meresensi buku. Sekadar informasi, setiap hari Selasa, Gramedia memilih resensi buku terbaik dari hastag Resensi Pilihan yang dikirim followers ke twitter @Gramedia. Yang resensinya terpilih, akan mendapatkan hadiah buku. Pastinya buku-buku baru! Asyik, kan?  

       Selanjutnya, Hetih Rusli mengajak berdiskusi soal dunia penerbitan. Hetih adalah editor senior untuk buku-buku fiksi di Gramedia Pustaka Utama. Diskusi berlangsung seru karena banyak peserta yang berminat mengirimkan naskahnya ke penerbit Gramedia Pustaka Utama.

   “Biasanya, saya membaca sepuluh halaman pertama dan sepuluh halaman terakhir dulu,” demikian papar Hetih. “Kalau ceritanya menarik, saya akan membaca sampai habis. Kalau tidak, maaf, naskah tersebut saya sisihkan alias tidak layak terbit.”

        Bukan apa-apa, dalam sebulan ada sekitar 150 naskah yang sampai ke meja redaksi. Satu naskah bisa beratus-ratus halaman. Sedangkan jumlah editor hanya 11 orang. Tidak mungkin editor membaca satu per satu, kecuali naskah tersebut memang dianggap menarik.

     Naskah yang langsung disisihkan biasanya naskah yang opening-nya membosankan seperti ‘Matahari terbit di ufuk timur ... bla, bla, bla ....’. Atau, yang adegannya klise seperti adegan seorang cewek yang bangun kesiangan, terus lari-lari ke sekolah, sampai di sekolah si cewek ketabrak cowok kece, dan seterusnya, dan seterusnya. Naskah yang bikin puyeng karena tanda baca dan EYD berantakan juga bakal disisihkan. Naskah berbahasa alay? Langsung ditolak! So Sobat muda, mulai sekarang, yuk, perbaiki kualitas tulisan kita. Minimal, tanda baca dan EYD sudah oke supaya editor senang membaca naskah kita.

          Menurut Hetih, sebelum tahun 2008, mereka bisa membaca satu per satu naskah yang masuk karena naskah yang sampai ke meja redaksi masih sedikit. Akan tetapi, setelah tahun 2008, entah kenapa tiba-tiba semua orang ‘terbangun’ dan ingin menjadi penulis hohoho .... Naskah yang sampai ke meja redaksi membludak-dak-dak! Jadi, kesimpulannya, kirimkan naskah terbaikmu ke penerbit karena naskah kamu bersaing dengan sekian ratus naskah setiap bulannya!  

Hetih Rusli

         Naskah yang diterbitkan penerbit Gramedia Pustaka Utama cuma naskah penulis terkenal, ya?

        Hetih sering mendapat pertanyaan seperti ini. Ini pendapat yang salah. Bukankah semua penulis terkenal awalnya tidak dikenal? Yang dipilih untuk diterbitkan adalah naskah yang menarik, bukan karena penulisnya terkenal. Selain itu, ada pertimbangan lain yang menentukan sebuah naskah terbit, misalnya momen. Kalau naskahnya bagus dan temanya tentang cinta, momen yang pas untuk menerbitkan naskah ini adalah momen Valentine, dan seterusnya. Penulis mesti sabar menunggu.

        Ehm, Hetih mengaku bahwa dia termasuk editor yang “kejam”. “Kejam” di sini demi kebaikan penerbit dan penulis sendiri, lho! Tujuannya supaya penulis betul-betul mengerahkan kemampuannya dalam menulis naskah sehingga naskah yang dihasilkan kualitasnya optimal. Boleh percaya boleh tidak, bahkan penulis sekaliber Clara Ng pun pernah diminta revisi berkali-kali oleh Hetih hihihi ....

         Sebagai editor, Hetih senang sekali menerima kritik dan saran dari pembaca. Karena itu, Hetih rela bergadang menjadi admin @Gramedia. Bersama temannya, Wisnu, yang juga admin @Gramedia, mereka menjawab pertanyaan pembaca seputar buku-buku yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Hingga kini, twitter @Gramedia memiliki lebih dari 100 ribu  follower, lho! Keren!   

          Acara diakhiri dengan bookswap antarpeserta gathering dan pemberian buku oleh Wisnu kepada tim Indonesia Menyala. Indonesia Menyala adalah gerakan buku dan perpustakaan yang diinisiasikan oleh Gerakan Indonesia Mengajar. Kamu yang mau mendonasikan buku layak baca kepada anak-anak yang membutuhkan, silakan simak informasi lengkapnya di website http://indonesiamengajar.org/tentang-indonesia-mengajar/indonesia_menyala/ atau  follow twitter @Penyala.

        Senangnya, semua peserta gathering yang selama ini cuma say hello di twitter, sekarang bisa kenalan langsung. Dan, kami semua pulang tidak dengan tangan kosong hihihi .... Soalnya ada pembagian goodie bag, doorprize buku seabrek-abrek, dan voucher belanja buku juga. Tahun 2012 ini, tahun kedua diadakannya Gathering Followers @Gramedia. Semoga tahun depan diadakan lagi dan acaranya lebih meriah! [] Haya Aliya Zaki 

Foto: http://angeliersindo.wordpress.com  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan