Selasa, 10 April 2012

Bedah Buku Tanah Tabu di Taman Ismail Marzuki: Tanah Tabu, Menyuarakan Ketidakadilan Nasib Perempuan di Tanah Papua

Tak dimungkiri, sastra bisa menjadi pintu masuk bagi kita untuk mempelajari sosial kultur budaya suatu daerah. Namun, novel sastra yang berlatar belakang budaya masih  dapat dihitung dengan jari. Padahal, negara Indonesia terkenal dengan aneka macam etnis. Semestinya kenyataan ini memberi banyak ilham kepada para penulis untuk melahirkan karya. Terutama dari  wilayah Indonesia bagian timur. Novel sastra berbingkai etnis asal sana berpotensi besar untuk digarap.

Anindita S.Thayf, baru-baru ini menelurkan buku berjudul Tanah Tabu (Gramedia Pustaka Utama ). Tanah Tabu, novel sastra berlatar belakang budaya Papua, berhasil mencuri perhatian para dewan juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2008. Bukan hanya karena tema-nya langka, Tanah Tabu gagah mengusung pesan mulia. Melalui karyanya, penulis muda asal Makassar ini menyuarakan ketidakadilan terhadap kaum perempuan di tanah Papua.  Pantas bila Tanah Tabu meraih juara pertama. Bahkan, yang lebih istimewa, novel ini ditabalkan sebagai satu-satunya juara di ajang Sayembara DKJ 2008!

Siang yang cerah di TIM Jakarta, tepatnya di Yayasan Dokumentasi Sastra HB.Jassin,  dihelat acara bedah buku Tanah Tabu (17/6/2009). Acara yang mengetengahkan  Dr. Tommy Christomi   (pakar antropolog, juga alumnus Fakultas Sastra Universitas Indonesia) dan Dr. Maria Yosefina M.Kumaat Mantik (ahli analisis sastra jender) sebagai pembicara, Maman S. Mahayana sebagai moderator, dan tentu saja  Anindita, sang penulis novel, berlangsung hangat namun berantusiasme tinggi.

Tanah Tabu berkisah tentang perjalanan hidup perempuan Papua bersuku Dani, dari tiga generasi. Mabel,  Mace dan Leksi, bersama-sama berjuang menapaki getirnya hidup dan bertahan di antara ketegangan konflik di daerah mereka. Penyebabnya antara lain ulah PT Freeport yang meraja dan menyengsarakan (terutama penduduk di sekitar PT Freeport), efek negatif budaya barat yang diperkenalkan pada masyarakat Papua (seperti kebiasaan menenggak minuman keras), diskriminasi jender, dan kungkungan adat. Ironisnya, kompleksitas masalah mendorong perempuan Papua  jatuh ke jurang penindasan.

 Tommy mengakui, Anindita sangat cerdik mengolah cerita. Tanah Tabu mengurai tutur melalui kacamata tokoh ‘aku’, yakni Leksi, Pum, dan Kwee, secara bergantian.  “Anindita menyodorkan salah satu cara menyiasati penulisan cerita yang rumit. Saya merasakan ada sesuatu ‘estetika menguping dan mengintip’ yang menjadi kekuatan yang ditonjolkan Tanah Tabu. Dengan menguping suara-suara menjadi sayup tapi menggoda, dengan mengintip peristiwa hadir tak utuh dan menyisakan misteri,” jelas Tommy tersenyum. Ya, sudut pandang penokohan ala Anindita dengan sendirinya membuat pengarang tidak terbebani untuk  menjadi ‘sok objektif’.  Pilihan tokoh ‘aku’  dalam Tanah Tabu terbilang  tepat dan efisien. Satu hal  unik, kehadiran tokoh Pum dan Kwee disini,  sungguh tidak lazim. Pembaca baru akan menyadari tentang mereka sebenarnya, di akhir cerita.

Sementara, Yosefina mengulas Tanah Tabu dari sudut diskriminasi jender. Dalam hal ini, yang tertindas adalah perempuan Papua. “Pada Tanah Tabu kita mendapati, perempuan hanya boleh melakukan kegiatan seputar wilayah domestik (mengurus suami, keluarga, kebun, dan babi). Tapi, di sisi lain, mereka juga dieksploitasi finansialnya,” demikian analisis Yosefina. Lanjutnya, “Posisi yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan, sikap pasrah  para istri pada belenggu takdir, juga tuntutan adat yang tidak berpihak, membuat perempuan Papua menonjol sebagai korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).”

Bagi Anindita sendiri, Tanah Tabu diharapkan dapat dimengerti oleh pembaca dan dipahami pesannya. “Melalui sastra, saya ingin ‘menggerakkan’ orang-orang untuk memberi perhatian pada nasib perempuan Papua. Bahkan, jika ada yang mau terjun ke Papua langsung untuk membantu mereka, saya akan sangat bersyukur,” tegas Anindita.

Sang moderator, Maman, sepakat dengan Anindita. Menurutnya, novel ini menjadi ‘provokator’ bagi kita untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. “Karya sastra biasanya mampu menyentuh hati, merebut simpati, serta merangkul empati pembaca. Di sini Tanah Tabu mencoba mengetuk jendela kesadaran  para pembaca untuk mencari tahu dan membantu kondisi di Papua. Tanah Tabu, saya rekomendasikan Anda untuk membacanya,” tutup  Maman mantap.

Sedikit ulasan proses kreatif Tanah Tabu, awalnya Anindita hendak menulis buku anak yang menggambarkan keindahan panorama alam Papua. Namun, di perjalanan, ia ‘resah’ karena menemukan begitu banyak fakta nasib perempuan Papua yang tertindas.  Anindita pun memutar haluan ke novel sastra. Ia melakukan riset pustaka tentang kondisi Papua beserta segala permasalahannya selama dua tahun! Anindita yang juga langganan juara lomba menulis ini, rajin menonton film-film dokumenter dan memantau berita di televisi. Ketekunannya berbuah manis. Perkawinan antara fakta dan imajinasi tentang Papua yang dituang ke atas kertas dalam kurun waktu enam bulan tanpa jeda, tidak terlihat gagap. Sebaliknya, karya ini menuai banyak  pujian.

Nahalam Indonesia yang kaya budaya dan sarat dengan permasalahan, pantas  diangkat sebagai tema dalam ragam tulisan, khususnya sastra. Anindita sudah memulainya! Beranikah Teman-Teman mencoba? [] Haya Aliya Zaki 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan