Selasa, 10 April 2012

Bedah Buku “9 Summers 10 Autums” di Tangerang : Impian menjadi Nyata Anak Seorang Sopir Angkot

“Saya menulis novel ini karena saya ingin berdamai dengan masa lalu. Saya sadari, masa lalu yang pahit bukan untuk dilupakan. Akan tetapi, untuk dimengerti dan dijadikan pembelajaran.” - Iwan Setyawan

Demikian antara lain kalimat yang terlontar dari Iwan Setyawan, penulis novel laris manis 9 Summers 10 Autums (Gramedia Pustaka Utama), di acara bedah bukunya di toko buku Gramedia Plaza Bintaro, Tangerang (28/5/2011). Gaya berbicaranya yang santai, dibalut penampilan kasual pula, sama sekali tak membuat Iwan kehilangan karisma. Justru ia menarik perhatian sekian banyak mata karena cerita pengalaman hidupnya yang mengesankan. Siapa sangka, Iwan, anak seorang sopir angkot dari Kota Apel Malang, sukses menggenggam jabatan direktur sebuah perusahaan bergengsi di Kota “Big Apple” New York.

Tak ingin mengikuti jejak Bapak
Iwan membuka ceritanya dari kenangan tentang gubuk berukuran 6 x 7 meter tempat tinggalnya semasa kecil, di Malang. Ia tinggal bersama Bapak, Ibuk, beserta empat saudaranya. Setiap hari Iwan dan keluarganya hidup 'umpel-umpelan' di dalam gubuk mereka.  

Selama 36 tahun, Bapak bekerja sebagai sopir angkot. Lekat dalam ingatan Iwan, berpuluh tahun menjadi sopir angkot, polusi bukan cuma menyekap pernapasan, namun juga 'hati' Bapak. Pergaulan keras antarsopir dan kernet angkot, membuat Bapak bersikap agak temperamental. Iwan urung menyalahkan Bapak. Hanya, sedikit demi sedikit, ia mulai membangun istana mimpi miliknya sendiri. Lelaki berperawakan kecil ini bertekad bangkit dari lumpur kemiskinan. Ia sungguh tak mau mengikuti jejak Bapak yang bekerja sebagai sopir angkot.   

Ibuk, simbol kesederhanaan yang luar biasa
Sementara sosok Ibuk digambarkan Iwan sebagai sosok perempuan yang lembut dan penuh kasih. “Ibuk, simbol kesederhanaan yang luar biasa bagi saya. Ibuk tahu bagaimana membelah satu telur menjadi lima bagian yang persis sama rata. Ibuk tahu berapa liter beras yang harus dimasak dan pas habis tak bersisa untuk satu hari. Ibuk tahu di mana tempat menyimpan tempe yang aman karena kakak saya rakus kalau makan!” tutur Iwan, tertawa.

Ibuk memang tak lulus SD, tapi pola pikirnya jauh ke depan. Ibuk memacu semua anaknya supaya belajar giat dan harus mengecap bangku perguruan tinggi. Omong-omong, ada cerita lucu. Waktu kecil, Iwan sangat takut pada hantu. Hebatnya, rasa takutnya pada kemiskinan, mampu mengalahkan rasa takutnya pada hantu. Saban pukul dua dini hari, Iwan kecil memaksakan diri untuk bangun, demi belajar. Selain waktu ini, jangan harap ia bisa memegang buku. Hiruk-pikuk suasana rumah dan berisik suara tetangga kanan-kiri, membuatnya sulit berkonsentrasi. 

Peristiwa yang paling membekas di hati Iwan, ketika Ibuk meminta Bapak menjual angkot mereka guna membiayai kuliah Iwan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Dipikir-pikir, bagaimana mungkin? Angkot adalah periuk nasi keluarga. Namun, Ibuk yakin, perjuangan bakal berbuah manis. Ibuk yakin, pendidikan mampu menyelamatkan hidup mereka.
  


Di tanah rantau New York            
Lepas kuliah di IPB, Iwan mendapat tawaran emas bekerja di New York.  Bermodal kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan, Iwan nekat menerima tantangan. Di sana, sambil intens belajar bahasa Inggris, ia sambil bekerja penuh dedikasi. Tantangan demi tantangan ia terima dengan berani. Alhamdulillah, perlahan tapi pasti, jabatannya terus naik. Sekadar tahu, tajuk novelnya yakni 9 Summers 10 Autums diilhami dari sepuluh tahun ia berkiprah di New York. Dan pastinya, keseluruhan isi novel Iwan merupakan rekam jejak kisah nyata perjalanan hidupnya.

Iwan mengakui, setelah menulis novel ini, beban di pundaknya seperti terangkat. Keinginannya berbagi kisah kepada khalayak, tunai sudah. Harapan Iwan, novelnya bisa menginspirasi pembaca agar tak takut membangun istana mimpi masing-masing dan tentu saja, berusaha keras mewujudkannya.

Penutup
Mungkin tidak semua generasi muda zaman sekarang mengalami masa kecil yang prihatin seperti Iwan. Era serba-ada dan serba-instan, membuat para orangtua khawatir akan lemahnya daya juang generasi muda mencapai sukses. Untuk itu, Iwan mengajak para orangtua merangkul erat hati generasi muda, namun biarkan mereka bercita-cita sejauh mungkin. Kekuatan cinta dalam keluarga, menjadi penolong sejati melewati masa-masa sulit. Bila waktunya tiba, semua jerih payah terasa luar biasa nikmatnya.

“Intinya, semua berawal dari cinta dan kehangatan dalam keluarga. If you want to win a nation, first you must win a family,” tegas pria yang pernah tampil di Kick Andy Show ini. Lebih kurang dua jam kemudian, acara diakhiri dengan sesi penandatanganan novel oleh sang penulis. [] Haya Aliya Zaki


12 komentar:

  1. woow, tak pikir dulu judul buku itu kisah romance or berbau luar negeri. hhehehem akibat men judge lewat cover sih saya :D, ternyata isinya begitu ya,,,, jadi pgen baca and nnton juga nih

    thx mba ulasannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe bukan, Mak. "9 Summers 10 Autums" itu simbol 10 tahun lamanya Iwan tinggal di New York. ) Yuk, bukunya bagus. Filmnya juga bagus, katanya. Saya pengin nonton. :)

      Hapus
  2. wow keren mak haya reportasenya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mamaaak. Minta daweeet! :)))))

      Hapus
  3. Wah, bunda harus sering-sering nih baca reportasi dari siapa aja tentang apa aja, terutama dari Guru Penulis Haya Aliya Zaki ini. Reportasi yang singkat tapi padat, jadi pengen baca nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Bunda Cantik. ALhamdulillah kalau manfaat. Saya pun masih terus belajar, Bunda. :)

      Hapus
  4. memang keren ya..
    mau ah baca bukunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Bukunya keren. Katanya filmnya juga keren. :)

      Hapus
  5. Sering denger temen pada ribut ngajak nonton tp ngga tertarik. setelah baca ini jd penasaran sm bukunya malahan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ... yuk, baca bukunya, Mak. :D

      Hapus
  6. Anakku ngajak nonton ini, tapi kok kayaknya lebih tertarik bukunya ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukunya bagus, Mak. Inspiratif. :)

      Hapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan