Selasa, 21 Februari 2012

[Resensi Koran Analisa] Sketsa Tragedi Tsunami di Mata Penulis Belanda

Judul buku : Tsunami! (de Dag  van de Golven) 
Penulis  : Corien Oranje
Alih bahasa : Indira Ismail 
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : 168   hal
        



Selalu saja ada air mata yang menetes ketika menelaah karya tentang tragedi  tsunami. Baik itu berupa cerpen, novel, puisi, lukisan, atau bentuk karya seni lainnya. Tsunami salah satu musibah mahadahsyat yang pernah menimpa negeri kita. Bisa dikata, Aceh-lah yang paling terkena dampaknya. Pada  26 Desember 2004, retakan gempa berulang dan amuk gelombang laut itu menewaskan ratusan ribu penduduk  bumi Serambi Mekkah. Sementara penduduk yang masih bertahan,  didekap trauma,  gangguan mental, serta emosional. Tak terhitung pula jumlah kerugian materi. Aceh luluh lantak  sungguh  oleh tsunami.


Diakui, tsunami menginspirasi banyak orang untuk menuangkan karya. Seniman asal Aceh seolah berlomba. Tak terhitung karya yang lahir dengan latar belakang tragedi tsunami. Namun, ternyata, inspirasi tsunami Aceh tak hanya bersemayam dalam lubuk  seniman  lokal dan sekitarnya.  Ia juga menarik perhatian Corien Oranje (Corien), seorang penulis asal Belanda. Mengesankan,  Corien menorehkan sketsa tragedi tsunami dari kacamatanya sendiri.

 Tsunami!  berjudul asli de Dag van de Golven (The Day of The Waves). Novel ini menceritakan persahabatan dua orang anak Aceh bernama Dewi dan Yensi. Seperti anak-anak pada umumnya, hari-hari mereka penuh dengan suka ria. Tak ada beban berarti. Ayah mereka bermatapencaharian nelayan. Tempat bermain mereka adalah pantai. Hidup Dewi dan Yensi sangat akrab dengan laut.   

Dan, tiba di pagi naas,  Dewi sedang menjaga warung di rumahnya. Tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dari dalam perut bumi. Orang-orang panik dan lari membabi buta menyelamatkan diri. Beberapa saat kemudian, air laut naik! Dinding-dinding air luar biasa tinggi melahap habis tanah kelahiran Dewi. Semua lebur! Semua musnah! 

Dinding air memang usai menerjang namun gempa masih susul-menyusul. Dewi berhasil menyelamatkan diri. Ia didera luka dan ketakutan. Keluarganya entah di mana. Semua bagai mimpi. Rasanya baru saja kemarin ia dan Yensi menyalakan api unggun dan memanggang ikan di tepi pantai. Kini,  kenyataan pahit seolah menghantui.

Bersama penduduk Aceh lain, Dewi memilih berdiam sementara di masjid. Beruntung ia berjumpa dengan  Yensi dan Agus, abang Yensi. Mereka membantu Dewi mencari keluarga Dewi.

Dewi berhasil menemukan ayah, ibu, dan Erna. Akan tetapi Nova, adik kecilnya, sepertinya  harus diikhlaskan kembali ke pangkuan Sang Khalik. Dewi menggenggam lara. Hari-harinya tak akan sama lagi. Rumah rata dengan tanah. Sekolah, tempat bermain, dan Nova…. Bagi kanak-kanak seperti Dewi, semua terlalu berat untuk dipahami. Namun, Dewi tetap bersyukur. Nasibnya masih lebih baik daripada Yensi dan Agus. Keluarga mereka tak diketahui nasibnya. 

Dewi dan Yensi berjuang menata kembali hari-hari mereka. Mereka bahu-membahu membangun rumah.  Mereka mengikuti program-program rutin yang diadakan relawan untuk anak-anak Aceh. Dan Allah berkehendak lain. Walau telah kehilangan Nova, Dewi dianugerahi anggota keluarga baru yakni, Yensi dan Agus! Dulu mereka bersahabat, sekarang menjadi saudara.

Tsunami! dituturkan dengan bahasa yang ringan dan lancar. Corien pintar mengaduk emosi pembaca. Mengikuti alur cerita tsunaminya, perasaan pembaca seolah tercabik-cabik  hingga akhirnya, tak kuasa menahan jatuh air mata. Terjemahan novel ini pun dinilai luwes  dan tidak  membosankan. Dalam alur cerita, Corien mendeksripsikan situasi dan kondisi tsunami di Aceh dengan baik.  Khusus untuk keperluan penulisan naskah, beberapa minggu setelah tsunami Aceh, ia datang ke Aceh dan melakukan survei di sana. 

Meski ringan, Tsunami! sarat pesan. Setelah bencana tsunami, banyak sekali hal yang harus dibenahi.  Kalau semua pihak tidak saling dukung, mungkin Aceh akan sulit bangkit. Dalam novel ini diceritakan  mencuatnya berbagai aksi solidaritas peduli korban tsunami Aceh. Bantuan mengalir deras, meski kadang distribusi terkendala oleh sulitnya transportasi ke daerah tujuan. Tenaga-tenaga relawan asing antara lain dari Australia dan Amerika, menunaikan tugas tanpa pamrih. Salah satu tokohnya di sini adalah Lexie, relawan asal Australia. Ia tulus membantu proses penyembuhan sakit ayah Dewi.  Di tenda penampungan, ia menyusun sejumlah agenda untuk memulihkan trauma anak-anak secara bertahap. Mulai dari menggambar, menyanyi, mengumpulkan foto, bahkan piknik ke pantai. Peran jurnalis juga sangat penting. Mereka aktif  menyiarkan kabar melalui koran, radio, dan televisi. 

Lalu, mengapa novel ini ditulis dari sudut pandang anak-anak? Karena melalui novel ini, Corien ingin anak-anak ‘bersuara’ tentang bencana, kehilangan, dan trauma. Dewi dan Yensi, tokoh sentral dalam novel ini, berusaha mewakili ‘suara’ anak-anak tersebut.  Di Aceh, Corien berkomunikasi  dengan anak-anak yang mengalami bencana. Banyak anak kehilangan keluarga mereka. Mereka jelas terguncang. Menurut cerita Corien, salah satu anak, pada waktu-waktu tertentu, terlihat  menyendiri di atas perahu yang tertambat di dermaga. Anak itu  tak pernah mau didekati oleh siapa pun. “Berdasarkan  pengamatan saya di Aceh, hamparan cinta tanpa pamrih dapat membuat perubahan besar dalam kehidupan seorang anak,” demikian papar wanita berambut merah ini. (www.corienoranje.nl).  

Tersurat  dalam novel ini, Corien berusaha meyakinkan kepada korban tsunami (terutama anak-anak) agar  jangan pernah berhenti berharap serta selalu optimistis menatap masa depan. Masa lalu biar menjadi masa lalu. “Semua memang tidak sama seperti dulu lagi. Tapi akan baik. Akan baik. Akan kembali baik.” (hal 157).

Beberapa foto tanah Aceh setelah diterjang tsunami dan aktivitas anak-anak Aceh,  ditayangkan di halaman akhir novel. Fakta data diimbuhkan untuk memberi penjelasan. Sangat informatif. 

Kekurangan novel Tsunami! terletak pada kosakata  percakapan penduduk Aceh sehari-hari. Tak ada logat  Aceh atau istilah dalam bahasa Aceh yang bisa dicicipi. Misal: orang Aceh biasanya mengatakan ‘keudee’ bukan ‘warung’ dan  ‘kereta/honda’ bukan ‘motor’.  Identitas lokal  yang akrab di telinga penduduk Aceh seperti agam, inong, abu, mak, adoe, dan lain-lain, juga tidak tercantum. Tentu hal ini mengurangi kentalnya rasa etnik lokal  Aceh novel Tsunami! di hadapan pembaca.  Meski demikian, kekurangan tadi lumayan tertutupi oleh alur dan plot yang cantik.   

Corien  telah menerbitkan lebih dari tiga puluh judul buku. Semuanya berbahasa Belanda. Novel Tsunami! adalah buku pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Corien kini menetap di Jakarta bersama suami dan keempat anaknya. [] Haya Aliya Zaki

1 komentar:

  1. Mbak Haya, saya juga bikin resensi buku ini tapi gak sebagus punya Mbak... T^T
    Di sini: http://hellohildaikka.blogspot.com/2014/07/tsunami.html

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan