Selasa, 21 Februari 2012

Resensi buku Jumpalitan Menjadi Ibu di Majalah Tumbuh Kembang

Media yang meresensi : Majalah Tumbuh Kembang, Maret 2011
Buku yang diresensi    : Jumpalitan Menjadi Ibu (LPPH, 2011)




Jumpalitan Menjadi Ibu
Penulis   : Sari Mutia, dkk
Harga      : Rp. 34.000,-
Penerbit : Lingkar Pena

All mothers are working mothers.

Betapa tidak? Dalam 24 jam, seorang ibu harus berperan sebagai mitra suami, mendidik dan merawat anak, mengurus rumah tangga, dan aneka peran lain. Jumpalitan? Pasti.

Jumpalitan Harian
Jumpalitan  mengurus anak mewarnai sebagian besar kisah dalam buku ini. Mulai dari kesibukan pagi menyiapkan anak sekolah seperti tuturan Nunik Utami, juga Sylvia L' Namira yang putar otak menyelesaikan tugas anak sekaligus tepat waktu mengantar mereka ke sekolah.

Rutinitas jumpalitan juga dialami Qonita Musa yang mengurus dua batita, Nadiah Alwi saat menyisiri rambut keriting sang putri, Retnadi Nur'aini saat putrinya mogok makan, Erlina Ayu yang harus membujuk sang putra ke sekolah, sampai Dewi 'Dedew' Rieka yang belajar memasak.

Warna lain dalam jumpalitan mengurus anak juga hadir dalam kisah Triani Retno sebagai single mom, Fita Chakra dan Indah IP yang memiliki anak kembar, Aan Wulandari yang berlibur bersama keluarga, serta Indah Julianti yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga setelah nyaris sepuluh tahun berkarier.

Ketar-ketir Jumpalitan
Tidak mudah mencari ART (Asisten Rumah Tangga) yang pas. Seperti yang dialami Haya Aliya dan Ambhita Dhyaningrum. Tak jarang mereka ketar-ketir. Perasaan yang juga dialami Estu Sudjono saat menghadapi anak usia puber, Shinta Handini yang sempat terpisah dari putranya di mal, serta kisah Nita Candra tentang seorang narasumber saat sang putri menghadapi terpaan video asusila dari teman.

Sungguh, tak mudah menjadi seorang ibu. Penuh perjuangan seperti pengalaman Tria Ayu melawan asma saat hamil dan melahirkan. Namun, air mata dan keringat ini terbayar dengan kebahagiaan. Seperti saat Sari Meutia menerima kartu ucapan Selamat Hari Ibu dari putranya, "Ibu, kau membimbingku belajar. Kau menemaniku saat aku ketakutan, kau tidak pernah memarahiku, kau adalah orang terbaik, yang menyayangiku, dan menjadi penolongku."

Semua lunas.***


1 komentar:

  1. dan hebatnya lagi tidak ada sekolah untuk menjadi seorang ibu, tentu saja ibu yang baik untuk keluarganya

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan