Selasa, 21 Februari 2012

[Resensi] Jejak Pengikut Aliran Sesat dalam Balutan Kisah Cinta Romantis - dimuat di Harian Jurnal Medan 2009


Judul buku                  : Tinta Cinta Sitti Hawwa
Penulis                        : Dellafirayama
Penerbit                      : Zaman
Cetakan                       : I, 2009
Hal                               : 167 hal

          


              Maraknya aliran keagamaan yang berkembang seperti Ahmadiyah, Lia Eden, salat dua bahasa ala mantan petinju profesional  Yusman Roy, Satrio Piningit, dan lain-lain, menuai banyak kontroversi. Belum tuntas masalah aliran yang satu, sudah muncul aliran lain. Aliran-aliran ini disinyalir sebagai aliran sesat dan menyimpang. Rata-rata berujung pada manipulasi uang dan eksploitasi seks. Sudah banyak masyarakat yang menjadi korban. Belakangan diketahui kalau  pemimpin aliran-aliran sesat itu adalah orang-orang  frustrasi, juga bermental penipu.
              Di media cetak dan elektronik, ramai betul tersiar jejak para pengikut aliran sesat.  Kisah mereka terburai satu per satu dan menyisakan  rona pedih. Namun, entah mengapa,  khilaf  terus saja berulang. Mungkinkah hal ini terjadi karena masyarakat kita kurang pengetahuan? Atau, mungkinkah masyarakat kita sudah terlampau putus asa dengan kondisi negeri dan rindu akan kehadiran Sang Penyelamat?  

            Dellafirayama (Della) mencoba mengangkat tema ini melalui novelnya, Tinta Cinta Sitti Hawwa.  Novel dibuka dengan jalinan kalimat indah tentang asal muasal nenek moyang tokoh utama, Sitti Hawwa. Menelaahnya ibarat membaca cerita dongeng kerajaan yang sangat digandrungi anak-anak putri. 

            Hawwa adalah muslimah keturunan tionghoa. Kulit putih pucat, mata sipit, rambut hitam lurus, dan tubuh kurus tinggi menegaskan performanya sebagai gadis oriental. Ketika masih duduk di Sekolah Dasar, Malik (teman sekolah Hawwa) selalu mengejek Hawwa karena mata sipitnya dan wajah putih pucatnya itu. Hawwa sering  menangis. Untung ada sang bunda. Bunda  selalu siap menghibur dan menjawab segala pertanyaan Hawwa kecil.   Seiring waktu berlalu, tak disangka, ternyata Malik memendam cinta. Ketika mereka sama-sama kelas 6 SD, Malik mengungkapkan perasaannya yang telah tertular virus merah jambu, kepada Hawwa. Kontan saja Hawwa menolak mentah-mentah cinta Malik  karena terlanjur sakit hati dengan sikap Malik selama ini.
             Lalu, cerita melompat ketika Hawwa beranjak dewasa.  Ia terobsesi dengan dongeng yang selalu diceritakan sang bunda semasa ia kecil. Hawwa paling suka kisah Nabi Adam.  Ia membayangkan sesosok pria bernama Adam diciptakan untuk dirinya yang bernama Sitti Hawwa, persis kisah perjodohan Nabi Adam dan Hawwa yang telah diatur Tuhan di surga. Hawwa sangat yakin, suatu saat, Adam-nya akan menghampirinya.
               Dan, pertemuan tak terduga, terjadi begitu saja. Pertemuan Hawwa dengan Adam.  Sebenarnya, Adam bukanlah orang baru. Ia  tetangga sebelah rumah Hawwa dulu. Hanya sejenak bersama,  lalu mereka terpisah di antara dua benua. Adam menghabiskan masa kecilnya di Paris dan melanjutkan studi S1 dan S2-nya di sana.  Sosok Adam cerdas dan kharismatik. Bagi Hawwa, pastilah Adam cinta sejati yang sengaja dianugerahkan Tuhan untuknya. 
            Sayang seribu kali sayang, ternyata Adam telah berdua. Adam menikahi  wanita Prancis tapi belum dikaruniai anak. Sesungguhnya, Adam dan Hawwa merasakan awan-awan cinta masih menyelimuti mereka. Adam  menyatakan keinginannya untuk bercerai dari istrinya dan  membina biduk rumah tangga dengan Hawwa. Hawwa pun didera bimbang.
             Saat itu, muncullah Malik. Malik yang dulu, berbeda dengan Malik yang sekarang. Ia tampan dan menarik. Malik tak lagi menjengkelkan. Ada perasaan hangat menelusup ketika Hawwa bersamanya. Hawwa pun terbujuk rayuan Malik  mengikuti sebuah aliran. Aliran ini ingin mendirikan negara Islam, di mana penduduknya harus beragama Islam dan taat pada hukum Islam. Aliran yang aneh karena pengikutnya diharuskan mencuci diri (mencuci dosa) dengan tebusan sejumlah uang dan setelah itu, mereka diwajibkan berganti nama. Hawwa juga sangsi dengan penampilan Ummi (istri Abi, ’kepala desa’ aliran itu) yang masih berusia belasan tahun dan menemui tamu bukan muhrimnya dengan daster tipis, bukan busana sopan, apalagi memakai kerudung. Namun,  keraguan itu tertepis setelah Hawwa beberapa kali mengikuti pengajian rutin aliran ini. Semua jawaban atas pertanyaannya tentang negara Islam, terpenuhi oleh pemimpin aliran.
              Bab-bab berikutnya adalah bab-bab yang menggelontorkan kisah Hawwa ketika menjadi pengikut aliran ini. Sang penulis, Della, mendeskripsikannya dengan cantik dan sangat detail. Menurut Della, semua aksi tentang aliran sesat dalam novel ini, ia tulis berdasarkan survei pustaka dan tanya jawab langsung dengan anggota pengikut aliran sesat tersebut. Tak heran, cerita ini terasa begitu ’hidup’. Perang batin Hawwa terhadap prinsip-prinsip ganjil dalam aliran sesat, menjadi semacam masukan cerdas untuk pembaca agar pembaca berpikir lebih kritis dan tidak gampang termakan manisnya bujukan para pemimpin aliran sesat. Argumen-argumen yang memancing kebijakan logika, mampu menggiring pembaca kepada kewaspadaan karena aliran-aliran sesat ini sebenarnya memang ada dan berbahaya.
              Diceritakan selanjutnya, Hawwa memutuskan untuk keluar dari aliran sesat setelah menemukan prinsip-prinsip ganjil, antara lain: muslim tak perlu salat-puasa-naik haji,  tak adanya makhluk gaib (seperti malaikat dan jin) di muka bumi, dan kasus pencurian yang dilegalkan. Akan tetapi, ternyata tidak semudah itu! Berbagai ancaman dan teror mengerikan mengikutinya.  Hawwa hampir menjadi korban penculikan, keluarganya sempat celaka, dan yang paling parah,  Andini (temannya sesama pengikut aliran sesat), ditemukan tak bernyawa di sebuah danau! 
              Bagaimanakah akhir kisah cinta Adam dan Hawwa? Mungkinkah Malik masih menyimpan rasa terhadap gadis bermata sipit yang selalu jadi bahan ejekannya dulu? Mampukah Hawwa melepaskan diri dari jerat aliran sesat ini? Sila mencari jawabnya di novel ini. 
              Diakui, berita atau data-data meresahkan tentang fenomena aliran sesat di media cetak dan elektronik, kerap terkesan formal dan serius. Sebagian masyarakat pasti kurang tertarik menyimak. Namun, bila informasi-informasi itu dikemas dalam sebuah novel sastra, tentu akan jadi lain ceritanya.  Boleh dikata, melalui novel ini, Della telah berhasil membuka mata dan hati pembaca tentang paham aliran sesat yang kian merebak. Selain mencerahkan, petikan kisah cinta nan romantis dan hamburan kalimat-kalimat puitis, bagai magnet yang menyedot segala  perhatian. 
               Dan, berbicara mengenai ending cerita, berarti berbicara tentang daya pikat lain dari novel ini. Ending ceritanya sungguh  tak tertebak. Pembaca akan tertegun-tegun atau barang kali hening sejenak demi melepas keterkejutan. Ending ini juga melambungkan harapan pembaca akan hadirnya novel sekuel Tinta Cinta Sitti Hawwa.  Semoga penulis dapat mewujudkannya dan kembali dengan kisah yang lebih mencerahkan dan lebih mengentak pada pungkas cerita.
              Hanya, latar belakang keluarga Hawwa yang keturunan Tionghoa, mungkin bisa dieksplorasi lebih dalam. Misalnya, penggambaran tentang desain rumah, pakaian, alas kaki, model rambut, sampai kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di masyarakat Tionghoa. Lalu, kilas balik masa kecil Hawwa dan Adam terasa sekadar bumbu dan kurang menggigit. Padahal, fase kilas balik  ini termasuk poin penting yang menguatkan cerita.  Namun, terlepas dari itu semua, Tinta Cinta Sitti Hawwa, layak menjemput hamparan pujian.*** Haya Aliya Zaki

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan