Selasa, 21 Februari 2012

[Resensi Koran Analisa] Dengan Hati, Rangkul Luka Penderita AIDS

Judul buku : Dengan Hati
Penulis : Syafrina Siregar
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2008 
Tebal buku : 280 hal




   
Dukung kami dan pedulikan kami/Kami semua manusia/Kami juga normal/Punya tangan/Punya kaki/Mampu berjalan/Mampu bicara/Kami pun punya kebutuhan seperti yang lainnya/Jangan takut kepada kami/Karena kami pun sama dengan kalian!
Novel Dengan Hati diawali dengan kutipan kata sambutan almarhum Nkosi Johnson (12 tahun), aktivis AIDS di Afrika Selatan. Penggalan kata sambutan tersebut disampaikan sang bocah berkulit hitam pada pembukaan Konferensi AIDS Internasional ke-13 di Durban, Afrika Selatan. Simpul kalimat yang terlontar dari bibir mungil itu memang sederhana namun sangat menyentuh dan berbalut makna.

Jeritan hati Nkosi Johnson selaku penderita AIDS mewakili jeritan hati banyak penderita AIDS lainnya. Dalam pidatonya, bocah yang terlahir dengan HIV positif itu intinya ingin menyampaikan kepada khalayak, supaya mau bersama-sama merangkul ’luka’ para penderita AIDS dan bukan malah mengucilkan mereka. ”Beri pertolongan kepada penderita AIDS, dukung mereka, sayangi mereka, beri perhatian kepada mereka,” lanjut Nkosi Johnson, setelah menceritakan kisah hidupnya di depan 10 ribu hadirin yang diam dalam luruh air mata.




Dan, di sinilah seluruh kisah Dengan Hati bermuara. Tentang getir perjuangan para penderita AIDS serta cara masyarakat sekitar memerlakukan mereka. Nurani penulisnya, Syafrina Siregar (Nana), tergugah untuk mengupas topik AIDS, setelah ia bergelut rapat dalam organisasi yang mengurus isu HIV/AIDS, beberapa tahun lalu. Tetes demi tetes wawasan dan pengalaman penulis muda kelahiran Medan, 9 Februari ini, dituang hingga menjelma sebuah novel cantik, Dengan Hati. Kota Medan tercinta, ia pilih menjadi latar belakang novelnya.

Hati Kamila Zakaria (Mila), putri tunggal dokter spesialis kebidanan terkenal di Medan (Prof. Dr. dr. Zakaria, SPOG), sedang melonjak gembira karena diterima bekerja sebagai konsultan di WorldCare, organisasi nirlaba dari Amerika. WorldCare adalah organisasi nonprofit yang mendapat dana dari pemerintah Amerika untuk menangani program mengenai isu HIV/AIDS di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia. Bagi Mila, pekerjaan ini tidak saja menjanjikan kocek tebal serta lingkungan kerja yang akrab menyenangkan tapi juga menebar aroma prestisius.

Beberapa hari menjejakkan kaki di WorldCare, Mila telah menganyam persahabatan dengan Santi, rekan sekantornya. Hal ini tentu sangat menggembirakan Mila, mengingat ia sering dibelenggu kesepian. Papanya sibuk menangani pasien hingga larut malam sedangkan sosok lembut Mama, telah menyongsong awan-awan nirwana, sejak Mila masih SD.

Dua faktor yakni, bidang pekerjaan yang sangat baru serta awam terhadap informasi penyakit AIDS, menjadikan semangat Mila terpacu untuk menelaah buku-buku kedokteran nan gemuk milik papanya. Detik-detik kedatangan Ian Weber (Ian), si bos tampan dari DC, kian memompa semangat belajar Mila.
 

Ternyata, minim pengetahuan tentang AIDS, membuat Mila gegabah memutuskan bahwa penyakit ini adalah penyakit kutukan. Kutukan layak diterima para penderita AIDS karena perbuatan menyimpang mereka. Menurut Mila pula, penyebaran virus HIV sangat mudah, semudah penularan panu! Para penderita AIDS sebaiknya diisolasi agar tidak menularkan virus kepada orang lain. Kontan Ian menghardik Mila karena telah mengemas semua paham tentang penyakit AIDS menjadi paham menyesatkan!

Tergopoh-gopoh Mila mengejar ketinggalan. Belajar keras dan lembur setiap malam. Akhirnya, modul pelatihan yang ia garap, dinilai lumayan berhasil meluruskan pemahaman masyakarat tentang penyakit AIDS. Modul pelatihan tersebut pun sukses dipresentasikan di hadapan audiens.

Meski demikian, ketakutan berlebihan Mila terhadap penyakit ini belum pudar. Terbukti ketika Ian mengajak Mila ke Yayasan Cinta Kasih, yayasan yang khusus mendampingi ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Di sana, Mila memuntahkan semua penganan yang dibuat oleh penderita AIDS penghuni Yayasan Cinta Kasih. Setelah bersalaman dengan mereka, Mila segera membasuh tangannya seperti orang kesurupan. Tampaknya, inilah salah satu permasalahan mustahak yang hendak diangkat Nana dalam novelnya. Dskriminasi bukan hanya dilakukan oleh masyarakat awam informasi AIDS tapi juga oleh mereka yang bekerja di lingkungan peduli HIV/AIDS (disebut diskriminasi tersamar).

Persoalan semakin meruncing tatkala Mila mendapati Santi, juga menderita AIDS! Bagaimana kelanjutan persahabatan mereka? Dengan Hati tampil semakin memikat karena kehadiran romansa merah jambu antara Mila dan Ian. Cuma, mekarnya bunga cinta ini seolah terhalang tembok pembatas. Charlie, sosok wanita bule jelita, tempat Ian selalu berbagi rasa, kerap mengobar api cemburu Mila. Siapakah gerangan sosok Charlie? Apakah Charlie atau Mila yang bertahta di hati Ian? Rahasia besar apa yang didekap erat oleh Ian, sebenarnya? Untuk memecahkan teka-teki ini, saya yakin Anda enggan menaruh novel Dengan Hati sebelum tiba pada pungkas cerita.


Sampul depan novel ini begitu menyentuh. Ilustrasi hamparan tanah tandus, ditumbuhi gelisah retakan batang kayu, menggambarkan betapa kemaraunya derita para ODHA dalam bertarung menghadapi penyakit dan pandangan negatif masyarakat sekitar. Dengan Hati bertutur dengan bahasa Indonesia baku namun jauh dari kaku. Jujur, novel ini berbeda dibandingkan novel bergenre metropop lain, yang sering mengangkat tema kaum metropolis penganut gaya hidup hedonis. Pesan moral Dengan Hati justru melecut kepekaan kita sebagai manusia bahwa di sekeliling kita ada ODHA yang ’terluka’, dan mari kita rangkul mereka ’dengan hati’. ’Dengan hati’, insya-allah semua masalah bisa terselesaikan.

Salut, penulis yang sekarang bermukim di Jakarta ini, terlihat lihai menyelipkan pengetahuan-pengetahuan AIDS di sela cerita yang mengalir. Ya, tanpa kita sadari, saat membaca novel ini, sesungguhnya kita tengah belajar segala sesuatu tentang AIDS.

Di Indonesia, jumlah penderita AIDS tiap tahun kian meningkat. Sementara, stigma sosial yang melekat pada penderita penyakit ini juga masih saja menjulang. Menyambut Hari AIDS Sedunia tanggal 1 Desember, tak ada salahnya kita menggamit novel Dengan Hati, menggaruk informasi AIDS di dalamnya, terbuai candu drama percintaan (bukan hanya hubungan cinta antara sepasang kekasih tapi juga cinta persahabatan serta cinta orangtua-anak), dan hirup harum episode tulusnya pengorbanan. Resap dengan nikmat pesan-pesan yang tersirat. Jangan lupa, sediakan tisu di samping Anda bila mata Anda mendadak berembun karena disergap haru.

Sayang, kurangnya promosi novel ini seolah menenggelamkan geliat ingin tahu pembaca kita. Meski tak termasuk novel terbitan baru, isi Dengan Hati tetap mutakhir. Kabar bagus, novel ini masih terpajang apik di rak toko-toko buku di kota Medan. [] Haya Aliya Zaki

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan