Sabtu, 31 Desember 2011

Mencari dan Menggali Ide di Sekitar Kita

Foto dari sini

    Biasanya, kesulitan yang sering mendatangi penulis 'pemula' adalah mendapatkan ide dan cara menuangkannya ke dalam tulisan. Ada yang bengong sepanjang hari, ada yang bertapa di tempat sepi, sampai kucel karena tak mandi berhari-hari demi menanti sepotong ide jatuh dari langit.  Nyooos ....
          Jangan bingung. Banyak jalan menuju Roma, kan? Banyak cara untuk mencari dan menggali ide. Yuk, mariii ....


Ide di Sekitar Kita
          Menurut Arswendo Atmowiloto, ide berawal dari ilham. Kalau batin kita sudah terkena letikan, maka semua yang dilihat, bisa menjadi ide. (Mengarang Itu Gampang, Gramedia, 2004). Pengertian 'melihat' di sini, tidak selalu berarti melihat dengan mata secara langsung. Bisa dari mendengar, merasa, membaca, dan mencium. Pokoknya, kita memaksimalkan panca indra kita terhadap peristiwa yang terjadi di sekitar kita (tambahkan indra batin kalau bisa).






          Jadi sebenarnya, kalau kita mau lebih peka pada lingkungan sekitar, kita tidak  akan pernah kekeringan ide. Coba perhatikan tingkah teman yang sedang terpanah asmara atau gaya mengajar dosen di kampus. Amati repotnya istri di rumah, mengurus, dan menyiapkan kebutuhan setiap hari. Semuanya bisa menjadi ide!

          Mungkin kamu akan bertanya, apa istimewanya kejadian-kejadian tadi? Hm, jangan salah. Semua bisa diangkat menjadi cerita menarik. Saya pernah menulis dongeng anak yang idenya hanya dari melihat sebuah kaca pembesar (bisa dibaca di sini), menulis cerpen remaja yang idenya didapat setelah ikutan reuni, menulis artikel tentang gosip setelah melihat tetangga yang asyik bergosip, dan lain-lain. Tinggal langkah  kita selanjutnya, menggali ide itu lebih dalam. Lanjuuut ....

Menggali ide
           Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menggali ide. Poin-poin di bawah ini bisa  diikuti.

1. Observasi

         Wawancaralah dokter, guru, pedagang sayur, pemulung, atau semua orang yang kamu butuhkan pengalaman dan pengetahuannya untuk bahan tulisan kamu. Bagaimana mungkin kita bisa menulis kisah tentang seorang dokter dengan baik jika kita tidak pernah minimal mengenal profesi dokter atau mengobrol sejenak dengannya?




 
          Mari simak pengalaman menarik penulis Gola Gong berikut. Dengan bermodal sekilo jeruk atau apel, dia pernah beberapa kali mendatangi pasien yang sedang sendirian di rumah sakit. Kebetulan Gola Gong hendak menulis buku yang berkisah tentang pasien yang menderita penyakit tertentu.  Gola Gong menjadi teman si pasien dan berempati dengan penyakit mereka. Dia 'mewawancarai' pasien-pasien tadi. Selama ini, dia mengaku kehadirannya tidak pernah ditolak walau dia bukan saudara. Bahkan, pasien-pasien tadi merasa senang dijenguk. Dari 'wawancara' dengan pasien, Gola Gong tidak hanya bisa menggali ide lebih dalam. Namun, dia juga banyak mendapatkan pelajaran berharga yang lebih mahal daripada sekilo jeruk atau apel! Sungguh bermanfaat untuk mengisi ceruk jiwa (MATABACA, September 2005).

2. Membaca

          Seperti yang kita tahu, ayat yang pertama kali diturunkan Allah membawa perintah: membaca. Dalam Alquran surat Al-Alaq ayat 1-5, membaca dikaitkan dengan al-qalam yang berarti “pena”. Menggoreskan pena bermakna menulis. Nah, sepakat kan, membaca dan menulis memang sudah jadi satu paket! Hubungan keduanya sangat erat, tidak mungkin dapat dipisahkan.

          Membaca adalah observasi dalam bentuk lain. Membaca memberikan banyak ilmu, wawasan, dan membuka cakrawala berpikir. Karena itu, dengan membaca, ide-ide akan lancar mengalir dari isi kepala dan sanubari. 





          Biasakan menyimpan atau mengkliping artikel yang kamu anggap menarik. Suatu saat, artikel-artikel ini akan berguna, bisa jadi salah satu sumber referensi andalan, yang membuat materi tulisan semakin kaya. Sayang sekali kalau ide yang sudah mampir di kepala, dibiarkan menguap begitu saja karena kita malas mencari referensi.

          Lalu,  bagaimana dengan karya fiksi? Sekalipun menulis fiksi, kamu juga butuh data dan pengetahuan yang matang. Imajinasi saja tidak cukup. Tujuannya agar karya terlihat nyata di mata pembaca. Jangan sampai ngawur dan benar-benar terkesan 'ngarang'. Bisa-bisa kita dianggap tidak profesional.

3. Jalan-jalan
          Mungkin sebagian dari kamu sudah ada yang mendapat ide, misalnya ingin berkisah tentang A yang tinggal di kota Jakarta. Kamu tidak bisa hanya menceritakan tentang si A yang tinggal di kota Jakarta. Titik. Bagaimana sudut Kota Jakarta, penduduknya, gedung-gedung pencakar langitnya? Tujuannya agar tulisan terasa hidup. Siapa yang tak kenal Sidney Sheldon? Membaca novel-novelnya, kita serasa diajak 'piknik'. Betapa menyenangkan membaca karya yang seperti itu. Nah, untuk mewujudkannya, kamu punya beberapa alternatif cara.

         Pertama, jalan-jalan. Mungkin kamu pernah mendengar nama penulis Novia Syahidah? Novia adalah penulis yang kerap bercerita dengan latar (tempat dan budaya) yang berbeda-beda. Novia mengaku, dia lebih sering berangkat dari latar, baru menentukan ide cerita yang akan ia garap. Baginya, jalan-jalan ke suatu daerah sangat membantu dalam menggali dan menuangkan ide cerita. Bila bepergian, buku catatan dan sebuah peta selalu tergenggam dalam tangannya. Semua diperhatikan Novia dengan sungguh-sungguh. Mulai dari nama-nama jalan, tempat bersejarah, penduduk, budaya, tradisi, sampai sisi-sisi unik lain dari daerah tersebut. Tekadnya, setiap pulang ia harus ‘membawa sesuatu’ untuk ditulis (Proses Kreatif Penulis Hebat, DAR! Mizan, 2003).
 


          Kedua, bisa dengan cara menjelajah internet. Jadi, tidak harus selalu melakukan perjalanan secara fisik. Ada penulis yang bisa melukiskan latar suatu daerah dengan baik, padahal dia sama sekali belum pernah berkunjung ke daerah tersebut. Ternyata, tulisannya itu adalah hasil kejeliannya memanfaatkan teknologi canggih internet. 

               Novel saya Hilangnya Berlian Pink (DAR! Mizan) sebagian setting-nya di Singapura. Novel ini saya tulis sebelum saya menjejakkan kaki di sana. Supaya akurat, saya surfing data melalui internet, buku-buku, menonton video, dan mewawancarai teman-teman yang tinggal di Singapura. 

4. Menulis diari atau blog

           Kalau biasanya kamu curhat ke teman atau orangtua, mulai sekarang cobalah curhat ke … diari atau blog. Tulislah sesuatu yang unik dan menyentuh hati (berdasarkan peristiwa yang kamu lihat, rasa, dan alami). Selain untuk menyalurkan luapan emosi, menulis diari atau blog ibarat 'menabung' ide. Dijamin, kamu tidak akan pernah kehabisan bahan!




         
 Kunci utama, selalu buka mata, pasang telinga, dan pertajam rasa. Setelah dapat, galilah ide agar tulisan menjadi lebih kaya. Berlatih dan terus berlatih. Yakinlah dengan hasilnya. Kamu akan takjub sendiri! 
[] Haya Aliya Zaki

Foto: www.fotosearch.com

59 komentar:

  1. Kerennn, tks pencerahannya mba ;-)

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Alhamdulillah, jangan bosan mampir ke sini, Mak. :)

      Hapus
  3. Cocok dgn gelar srikandi blogger inspiratifnya mak Haya :)

    Makasih sudah berbagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiaaah ... bisa aja Uni ini. Terima kasih atas apresiasinya, Uni. Sukses untuk buku-buku terbarunya. :D

      Hapus
  4. mak Haya...
    makasih infonya..

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Sama-sama, Mak. Moga ide mengalir lancar. :D

      Hapus
  6. Selalu keren tulisan2 nya Mak aku suka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mak Hana yang lebih keren. :D

      Hapus
  7. Wah...betul betul nambah ilmu baca blog emak ni, salam kenal mak *salama*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal balik hihi. Aku juga suka mampir ke blogmu, Mak. :D

      Hapus
  8. Kereeen banget pencerahanya Mak Hayaaaa...# ilmunya berasa nambah berlipat kali kali mampir ke blog mbak Haya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih, Mak Lies yang keren juga. Saling berbagi, Mak. :D

      Hapus
  9. Mak Haya, sumber inspirasi...inspirasi memang datang dari mana saja, asal satu, ada kemauan juga, hehee...nice share...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, malas musuh utama ya, Mak. :)

      Hapus
  10. menuliskan dengan cermat lokasi yang kita kunjungi, perlu itu. makasih sharingnya bunda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak, biar banyak yang 'dibawa pulang' nantinya, ya. :)

      Hapus
  11. makasih, Mak Haya...Saya akan berlatih dan terus berlatih. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mak. Yuk, kita terus belajar. :)

      Hapus
  12. Iya betul mbak... Dimana2 dpt ide...cm pas nulisnya kadang mentok hehe... Btw, aku lg belajar nulis positif...doakan saiah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo mentok tembok, belok kiri atau kanan, ya hihi.

      Hapus
    2. Insya Allah, kita saling mendoakan, Mak. :)

      Hapus
  13. Suka pas poin jalan-jalan nya hehehehehe....
    Memang klo nyari idenya cuma dirumah aja, sendiri pula, malah jadi buntu. Tapi pas jalan2 pasti banyak yang mau ditulis. Masalah klo udah nyampe dirumah, saya bukannya langsung nulis, malah jadi tidur krn capek habis jalan2 xixixixi....

    Makasih banyak pencerahannya, Mak :)

    BalasHapus
  14. Ilmu yang sering terabaikan. Makasih Mak Haya telah diingatkan ttg hal kecil tapi besar manfaat. #Mencari dan menggali ide. Suksess terus ya Mak !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih. Sukses terus buatmu, Mak. :)

      Hapus
  15. Idenya keren bangett mak, kalau saya biasa ada main idea yang lewat langsung saya tulis walaupun judul aja. Begitu ngga ada ide langsung lihat catatan lagi hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak Shintaaa ... kalau melihat namamu, aku langsung terbayang design web yang cantek-cantek ituuuh. *lostfocus*

      Hapus
  16. Inspiratif.. Saya selalu suka tulisannya mbak Haya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya, Mak Rita. :)

      Hapus
  17. bener banget mak, ide itu bertebaran dimana2, tinggal kita mau menampungnya ato tidak, hihi
    :)
    makasih sharingnya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Tangkep ide satu-satu. :)))

      Hapus
  18. Harus banyak belajar untuk bisa melalui prose ini semua. Terimakasih atas informasi ilmu yang sangat berguna ini Mba.

    Sukses selalu
    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali. Btw, Mase, aku, kok, susah ninggalin komen di blogmu. Kenapa, ya? Hiks.

      Hapus
  19. Hehehe serasa dicuci otak nih buat penulis pemula sptku..-̶̶-̶̶̸ϟ̸thankyou̸ϟ̸-̶̶-̶ mbak Haya, sangat bermanfaat. Aku bookmark ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan, Mas. Senang kalau bermanfaat. Saya pun masih terus belajar. Jangan bosan mampir, ya. :)

      Hapus
  20. Hehehe...kemana aja bunda ya? Sejak tahun 2005 atau 2006 bunda udah punya buku "Mengarang itu Gampang", udah baca juga. Tapi disimpen lagi rapih di rak buku, hiks, hiks, makanya sekarang mulai dari NOL lagi deh. Gpp dengan membaca postingan mak Haya ini akan membangkitkan "macan tidur", hehe....

    BalasHapus
  21. Ups, ampe lupa bilang terima kasih nih sama mak Haya untuk postingan yang menyemangati ini. Thank u so much my dear Haya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bundaaaa ... aku malah malu sama Bunda yang rajin banget posting. Keep the spirit! You are welcome. :)

      Hapus
  22. ini yang sering terjadi pada saya kehilangan ide waktu mau nulis. makasi mbak Haya atas sharingnya..benar2 bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, Mak. Alhamdulillah. :)

      Hapus
  23. Haduuh, kok tulisan mb Haya bisa JLEBB githu sih, apapun temanya....*kok aku masih pas-pasan gini ya, padahal udaha setahun ngeblog.hiks *jadi curhat

    BalasHapus
  24. klo saya sering dapat ide dari jalan-jalan dan membaca mak haya, walau begitu sering juga macet idenya, yang sering saya alami, untuk memulai sebuah tulisan, namun klo udah mulai susah berhentinya, begitu juga klo bicara dgn seseorang, susah memulai basa-basinya, tp klo udah klop malah susah berhenti ngobrolnya.hehhehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe mugi-mugi kita sohiban terus ya, Mak. Biar obrolan kita ga pernah habis. :D *peluk*

      Hapus
  25. Alhamdulilah dapat ilmu lagi dari Mba Haya, terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, Mak Ety. Saling berbagi. :)

      Hapus
  26. seneng deh baca ini..
    makasih banyak mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang juga dikau sudah mampir. Terima kasih kembali, Mak. :)

      Hapus
  27. Sesungguhnya ide itu ada di sekitar kita ya jeng. Tak perlu ke ruang angkasa atau ke dalam Lautan Atlantik. nanti malah pusing sendiri.

    Ketika kita melihat anak sekolah berlarian dengan gembira maka kita sudah mendapatkan ide lalu menulis artilkel dengan judul;"Manfaat Pakaian Seragam Bagi Para Pelajar"

    Ketika kita masuk ke kamar mandi lalu melihat odol dan sikat gigi, kitapun bisa menulis artikel "How To", misalnya : Cara Menggosok Gigi dengan baik da benar"

    Terima kasih tipsnya yang ciamik.

    Ketika ada orang kaya gampang membagi uang atau barang kepada wanita-wanita cantik, kita bisa membuat postingan dengan judul "Sedekah Untuk Siapa ? Sudahkah Ibumu Kau Santuni ?"

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  28. Bener, Pakde. Mantap contoh letikan idenya. :D Maturnuwun sanget sudah mampir. :D

    BalasHapus
  29. abis baca ini, saya jadi semangat lagi buat nulis :D

    BalasHapus
  30. Mak Haya, bunda tuh udah punya bukunya Arswendo "Mengarang itu Gampang" dari tahun jebot, tapi koq ya, ternyata masih susah mengarang itu, hehehe...tapi baca yang diatas ini, bunda harus berusaha membuka membuka mata, telinga dan jadikan apa yang dilihat bisa setidaknya menjadi pemicu untuk menjadikannya sebuah ide yang cemerlang. Aamiin.

    BalasHapus
  31. Bermanfaat mak ulasannya :) trims yaa..

    BalasHapus
  32. Suatu tips nyata untuk membantu para penulis pemula seperti saya. Namun terkadang, bahan itu terpendam di dalam kepala, tidak keluar-keluar dalam bentuk tulisan mbak. Saya titip blog mbak, mungkin bisa diberi catatan. terima kasih. Ini blognya www.kosmaslawa.blogspot.com

    BalasHapus
  33. Menarik sekali tips menulisnya ini Mbak...
    Terima kasih, ini menjadi catatan bagi saya.

    Salam,

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan