Sabtu, 22 April 2017

Cantiknya Inspirasi Fashion Luna Habit dari Luna Maya

Mungkin selama ini Teman-teman ‘cuma’ mengenal Luna Maya sebagai aktris dan model cantik nan berbakat. Namun, ada yang tahu tidak kalau beberapa tahun terakhir Luna serius menekuni dunia bisnis fashion?

Sebagian orang mengira terjun ke dunia bisnis itu perkara gampang. Yang penting punya modal! Betul? Padahal, tidak seperti itu. Saya menjadi saksi jatuh bangun Abah memulai bisnisnya dan kemudian menjalankannya secara kontinu di Medan. Kata Abah, pebisnis sejati harus kreatif, memiliki semangat tinggi, dan penganut prinsip pantang menyerah. Boleh nekat, tapi tetap penuh perhitungan. :)

Luna menekuni dunia bisnis fashion lini clothing yang diberi nama: Luna Habit. Luna mengaku, dia mewarisi bakat retail dari sang ibu. Keputusan terjun ke dunia bisnis bukan sekadar ikut-ikutan. Ada proses pembelajaran dari orangtua dan … riset! Kenapa? Kelihatannya Luna tahu persis jenis fashion yang disukai kaum kekinian (terutama followers-nya di media sosial), yakni desain baju-baju yang fun, simple, dan edgy. Demi menjaga kualitas, pemilihan bahan dilakukan langsung oleh perempuan kelahiran Denpasar, 26 Agustus 1983 ini. Good news, harga koleksi Luna Habit cukup terjangkau pula. Yaaay!





Bertepatan dengan ulang tahun kedua Luna Habit sekalian menyambut Hari Kartini, Luna mengadakan fashion show dan pameran foto bertajuk Dia yang Kau Panggil Perempuan. Pameran foto ini bekerja sama dengan 3 fotografer, tiga pengarah gaya, dan 3 penata rias. Senangnya kami dari komunitas Indonesian Female Bloggers ikut diundang. :) Acara yang digelar di Atrium Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta (20/4) menarik banyak minat pengunjung. Seketika perhatian orang-orang di mal berpusat pada meriahnya acara Luna Maya dan Luna Habit sore itu. Yang tidak hadir Kamis lalu, jangan bersedih janganlah kau menangis. *kalau kalian bacanya sambil nyanyi, berarti kita seumuran* *halah* Booth Luna Habit bakal setia menunggu kalian di Kokas sampai tanggal 30 April 2017.   

            Teman-teman mau tahu apa yang paling gemesin dari acara ulang tahun Luna Habit? Kehadiran Ayu Dewi! Enggak tahu ya kayaknya kalau lihat wajah Ayu Dewi aja saya udah pengin ketawa, apalagi kalau lihat dia ngomong. :)) Saya dan suami ngefans sama polah dan lawakannya Ayu Dewi. :))

            Luna menggandeng Ayu Dewi yang sedang hamil untuk mempromosikan koleksi terbaru dari Luna Habit yakni maternity clothes LunaHabitxAyuDewi. Bahan dan desainnya pas banget untuk ibu hamil dan ibu menyusui. Nyaman, tapi tetap gaya. Saya perhatikan, sepertinya Luna Habit tidak begitu banyak bermain warna. Bagi kalian yang berhijab, koleksi Luna Habit bisa diakali dengan memakai manset dan atau leggings. Sepanjang acara Ayu Dewi asli bikin kami ketawa kepingkel-pingkel. Model yang lain pada kalem, sementara model yang ini saya no comment aja dah haha.    






Sebagian hasil penjualan koleksi Luna Habit nantinya disumbangkan ke Yayasan Beasiswa Dian milik Dian Sastro. Aksi amal ini merupakan bentuk penghargaan terutama kepada kaum perempuan dengan ekonomi kurang mampu di mana pun kalian berada. Perempuan juga butuh pendidikan yes. Beasiswa akan diberikan kepada para mahasiswa sampai kuliah mereka selesai. Kereeen kolaborasi Luna Maya dan Dian Sastro!   

Seperti yang udah saya sebutkan di atas, Luna juga menggelar pameran foto bertajuk Dia yang Kau Panggil Perempuan.   

Mereka adalah ibu, mereka adalah anak, mereka adalah istri, mereka adalah pekerja. Mereka berbeda, tapi mereka adalah yang kau panggil PEREMPUAN.

Pameran foto ini menampilkan 20 orang perempuan (istilahnya: muse), antara lain Ibu Veronica Tan, Dian Sastro, Raline Shah, dan Dewi Sandra. Dalam dunia fashion, ‘muse’ berarti sosok atau persona yang menginspirasi. Mereka semua cantik dan berprestasi di bidangnya masing-masing. Mereka semua memakai koleksi Luna Habit di foto. Muse favorit saya: Dewi Sandra. Dia berani mempertaruhkan kariernya yang gemilang di dunia hiburan demi berhijab. :) Oiya, saya tidak menyangka kemarin bakal melihat penampilan Tracy Trinita! Dia salah satu muse dari pameran foto ini. Fyi, Tracy adalah model asal Bali yang bintangnya bersinar banget sekitar tahun 90-an. Saya sempat mengikuti kisah perjalanan hidupnya yang berusaha survive sebagai model di luar negeri. Seru! Mantan model dengan tinggi badan 181 cm itu kini memutuskan mengabdi menjadi pendeta. Pengin berfoto sama Tracy buat nostalgia tahun 90-an, tapi suasana terlalu crowded. :( Aaah, semoga ada kesempatan lain kali.   




Ehm, ngomong-ngomong, beberapa bulan lagi Lebaran. Sekarang Teman-teman udah punya referensi buat cari baju Lebaran untuk diri sendiri atau untuk hadiah orang-orang kesayangan dong. Boleh juga mampir ke website www.lunahabit.com dan follow IG @lunahabit. Kalian yang senang baju dengan desain simpel, mesti jatuh hati sama koleksi Luna Habit. Kapan lagi bisa pakai baju ala ala gaya Amerika Eropa, tapi dengan harga lumayan ramah di kantong? Kapan lagi bisa membeli baju sekalian beramal? Kalau butuh bantuan, monggo kontak admin Luna Habit di WhatsApp 08111081118. Sukses terus buat Luna Habit! :) [] Haya Aliya Zaki



Selanjutnya ...

Rabu, 12 April 2017

Islah Cinta, Konflik Cinta Diva dan Indahnya Menelusuri Jejak Islam di India

Judul: Islah Cinta
Penulis: Dini Fitria 
Tebal: 307 hal
Penerbit: Falcon Publishing
Cetakan: I, 2017

Pada suatu masa mertua saya berkata, “Jarang orang memiliki keahlian menulis dan public speaking sekaligus. Biasanya kalau pandai menulis ya menulis aja. Kalau pandai public speaking ya public speaking aja. Kalau ada yang ahli di keduanya, itu langka.”

Saya lihat sepertinya begitu. Lingkungan saya rata-rata penulis. Sebagian besar lebih senang menuangkan kata demi kata ke atas lembaran kosong dibandingkan berbicara di depan umum. Dilalah dua minggu lalu di meja saya tergeletak kiriman novel Islah Cinta dari Falcon Publishing. Sebelumnya saya meresensi novel Surat Kecil untuk Tuhan NEW karya Agnes Davonar dari penerbit yang sama. Jadi penasaran, siapakah penulis novel Islah Cinta? Ternyata oh ternyata beliau adalah Mbak Dini Fitria! Mbak Dini Fitria ini penulis buku dan presenter (bahkan produser juga) acara Jazirah Islam, program spesial Ramadhan di Trans7 periode 2010-2015. Teman-teman yang belum pernah menonton acara Jazirah Islam bisa cek di Youtube. Hmmm … penulis dan public speaker, dua keahlian langka yang disebut-sebut mertua saya. Kereeen. Begitu dapat me time ala ibuk-ibuk, saya bergegas melahap buku tersebut.    

Dini Fitria (credit: akun G+ Dini Fitria)

Btw, sepertinya saya ketulah sama omongan saya sendiri tentang India. Kapan itu saya ngobrol sama suami yang curhat kapok bussiness trip ke India. Demikian waktu membaca postingan terbaru travel blogger Adis (@takdos) yang juga kapok travelling ke India. Alasan suami dan Adis lebih kurang sama. Di India bunyi klakson memekakkan telinga kedengaran di mana-mana, hewan-hewan berkeliaran jemawa di jalanan, orang-orang pada hobi tarik urat leher (dan pipis sembarangan, OMG!), tubuh pengemis bergelimpangan di lorong-lorong, sulitnya menemukan makanan bersih, dll. Somehow, saya merasa sangat beruntung jika membandingkan kondisi antara Jakarta dan India. Alamak, tahu-tahu sekarang saya membaca buku Islah Cinta yang ber-setting India. :))))





Kabar baiknya, setelah membaca buku Islah Cinta, penilaian miring saya terhadap negara India dan seisinya lumayan berkurang hohoho. Apa hal? Let’s see. Islah Cinta berkisah tentang Diva, presenter acara Oase Ramadhan di teve, yang mendapat tugas meliput di India. India, negara berpenduduk terbesar kedua di dunia ini ternyata menyimpan cerita kejayaan Islam yang tak kalah gemilang daripada peradaban Islam di Eropa. (hal. 21)

Konflik awal aja udah bikin gregetan. Gaet (pemandu) Diva dan Mas Jay (rekan kerja Diva) selama di India adalah Andrean, mantan kekasih Diva! Kebayang tak kalau kalian terpaksa ketemuan lagi sama mantan yang telah menikah (dan kalian belum!). Dulu Diva berpisah dari Andrean karena hubungan mereka tidak direstui ibu Andrean. Awkward banget pastinya, Diva harus bareng Andrean setiap hari selama sebulanan di India. Sementara itu, sosok cowok bernama Maher hampir berhasil merekatkan satu per satu serpihan hati Diva yang hancur karena keputusan sepihak Andrean.  

Misi utama Diva ke India adalah untuk syiar kepada khalayak bahwa Islam agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, agama yang dipenuhi cinta dan berasal dari yang Maha Cinta. Islah cinta. Damainya cinta. Berbagi kisah tentang jejak Islam dan perjuangan kaum muslim minoritas di India. Teman-teman mungkin tahu, sekarang ini pemberitaan media sering simpang siur. Buat Diva, media harus menjadi propaganda yang baik, bukan kompor meleduk sana sini yang bikin orang kejeduk. 
  
Tugas Diva di India bukannya tanpa tantangan (selain tantangan melawan godaan dari mantan yang telah menikah tentunya). Seperti yang udah saya sebutkan di atas, budaya India dan Indonesia sangat berbeda. Saat perjalanan, kekacauan demi kekacauan terjadi. Tidak mudah bagi Diva untuk masuk dan meliput tempat-tempat tertentu. Semakin banyak dia mencari tahu semakin banyak pula pertanyaan tentang sejarah masa silam Islam yang muncul. Selain dari penjelasan aneka narasumber, jawaban-jawaban lahir dari perenungan batin Diva sendiri.         

Teman-teman especially traveller writer wajib beli buku Islah Cinta, nih. Cantik sekali cara Mbak Dini Fitria mendeskripsikan semua tempat dan peristiwa. Detail, informatif, dan menarik untuk dibaca. Saya seolah ikut merasakan panasnya cuaca di area makam Salim Chisti, riuhnya transaksi jual beli di Pushkar, indahnya setiap lekuk bangunan Hawa Mahal, syahdunya pertemuan Diva dan Maher di Taman Lodhi, dst. More than that, Mbak Dini Fitria pandai nian bermain diksi. Coba perhatikan.   

Semburat sinar mentari pagi musim semi telah tersibak di balik gumpalan awan Kota Agra. (hal. 107)
Cinta adalah udara yang terus berembus meski kau tak pernah memilikinya. (hal. 150)
“Kamu bisa melupakan aku, jangan menodai kerapian benang takdir yang sudah tersulam, Ndre.”  (hal. 265)

Senang mendapat wawasan jejak Islam di India dari perempuan muda keturunan Minang yang memang sudah melanglang buana ke berbagai belahan negara di dunia ini. Saya jadi tahu istilah-istilah bahasa India seperti ‘qawwali’, ‘dulpatta’, ‘sadhu’, ‘paan’, dll. Ada kisah cinta Raja Shah Jahan yang membangun Taj Mahal sampai kisah Raja Akbar yang membiarkan Jodha (istrinya) tetap beragama Hindu. Saya juga mendapat pengetahuan seputar dunia profesi presenter teve, dari persiapan hingga eksekusi liputan.





Satu-satunya hal yang agak mengganggu saya adalah kenapa waktu di India, Diva dkk baru mikirin urusan sim card ponsel? Saya aja yang cuma ke Singapura, jauh-jauh hari udah tanya sana-sini tentang urusan sim card supaya bisa tetap terkoneksi internet selama di Singapura. Apa karena kerjaan saya hari-hari ngeblog dan ngemedsos, ya? Enggak tahu juga, deh.

Oiya, mau tahu quote favorit saya dari buku Islah Cinta?

Rantai kemiskinan di India tidak akan pernah putus dan akan semakin memburuk jika semua orang hanya memberi mereka (anak-anak pengemis) uang tanpa peduli dengan masa depan mereka yang sebenarnya, yaitu pendidikan. (hal. 122)

Laiknya manusia, hidup pun tak sempurna. Tetapi, ternyata kesempurnaan hidup itu akan terasa saat kita bisa menemukan Tuhan pada cinta manusia. Betapa bahagianya jika hati kita senantiasa merasa dekat dengan Sang Pencipta kala kita bisa mencintai, menghargai, dan membantu sesama tanpa terhalangi oleh perbedaan apa pun. (hal. 298)

Lalu, laluuu, siapa yang berhasil memenangi hati Diva? Apakah Andrean (mantan terindah), Maher (cowok Suriah yang handsome), atau … Mas Jay (rekan kerja yang diam-diam menyayangi Diva)? Kalau saya jadi Diva sih saya bakal memilih Maher. Pilihan telak hahaha! Etapi, enggak tahu kalau Diva, yaaa. Baca aja sendiri ceritanya hahay!

Jelang 1,5 bulan menuju Ramadhan, rasanya cocok sekali jika Teman-teman membaca buku Islah Cinta. Kangen Ramadhan euy. Dhaniyawad (terima kasih – bahasa India), Mbak Dini Fitria, telah menulis buku ini. Sekali lagi, buku ini membawa pesan bahwa sesungguhnya Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, agama yang dipenuhi cinta dan berasal dari yang Maha Cinta. Jika dalam praktiknya ada yang salah, berarti yang salah adalah manusianya bukan ajarannya. Bagaimana indahnya jejak Islam di Negeri Hindustan dan perjuangan muslim minoritas di sana. Semoga Mbak Dini Fitria selalu dianugerahi kesehatan sehingga dapat terus menulis ragam kisah yang memiliki muatan dakwah, edukasi, dan humanis, tanpa harus menggurui. Aamiin yaa Rabb. [] Haya Aliya Zaki

PS. Foto-foto India diambil dari Pixabay
Selanjutnya ...

Jumat, 07 April 2017

Digital Financial Literacy for Children, Edukasi Keuangan Digital untuk Anak

           Hari gini apa sih yang enggak berbau digital? Beli baju bisa via onlineshop. Pesan tiket tinggal tap tap aplikasi layanan booking tiket. Baca koran cukup klik alamat web situs koran kesayangan. Nah, konon pula anak-anak. Anak-anak zaman sekarang ‘ahli’ banget soal gadget. Mungkin hampir setiap hari mereka terpapar gadget. Betul?

“Derasnya arus informasi melalui internet sangat sulit dibendung. Anak-anak memakai gadget untuk bermain games dan menonton video. Kami berusaha memanfaatkan tren pemakaian gadget untuk tujuan positif dengan memasukkan modul edukasi keuangan yang aman, interaktif, dan menyenangkan bagi anak-anak. Edukasi keuangan dimulai dari yang paling mendasar seperti mengajarkan perbedaan antara kebutuhan dengan keinginan,” jelas Ibu Elvera N. Makki, Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia.     

Elvera N. Makki

Citi Indonesia melalui payung kegiatan kemasyarakatannya, CitiPeka (Citi Peduli dan Berkarya), memperkenalkan program Digital Financial Literacy for Children kepada siswa SD kelas 3, 4, dan 5 di Indonesia. Ada sekitar 2.244 siswa SD dari 7 sekolah dilibatkan. Saya dan teman-teman blogger diundang menghadiri acara yang diadakan di SDN Tanjung Duren Utara 06, Jakarta Barat (4/4). Acara ini merupakan inisiatif Citi Indonesia (Citibank) bekerja sama dengan tim yang selama ini fokus dengan financial literacy, yakni Prestasi Junior Indonesia (PJI).  

Rob Gardiner, Management Advisor PJI, berkata, “Semoga siswa bisa menjadi duta keuangan cilik bagi keluarga. Nantinya info yang mereka dapat di kelas didiskusikan kepada ayah, ibu, dan saudara-saudara. Modern but simple learning about earning, spending, and donating. Jadi siswa bukan hanya belajar tentang menabung dan jual beli, melainkan juga belajar cara membantu sesama.”

Kiat mendidik anak di era digital
            Pada hari tersebut, pihak Citi Indonesia menghadirkan Ibu Rosdiana Setyaningrum, Psikolog Anak, untuk berbagi kiat mendidik anak di era digital. Aduuuh ... jadi minder sama Ibu Rosdiana. Anaknya udah SMA, tapi bodinya langsing singset kayak gadis muda belia remaja huhuhu. Apa kabar bodi saya yang terus mengembang mirip kue bolu ini? *abaikan*

Rosdiana Setyaningrum

            Menurut Ibu Rosdiana, anak-anak zaman sekarang disebut generasi digital native. Mereka amat sangat terhubung dengan internet. Saking terhubungnya, polah dan hobi anak-anak di Indonesia dengan anak-anak di luar negeri hampir sama. Pernah memperhatikan enggak, Teman-teman? Contoh, anak-anak kita di rumah main slime dan squishy, anak-anak di luar negeri juga pada rame main slime dan squishy. Kalau anak-anak zaman dulu di Medan mainnya apa, di Surabaya mainnya apa, di luar negeri mainnya apa. Beda lokasi beda pula permainannya.   

            Anak-anak hobi main games? Monggo aja. Hanya, jangan sampai ketagihan. Sebagian pasien Ibu Rosdiana adalah anak-anak yang kecanduan games. Ada yang sampai mencuri kartu kredit orangtuanya segala buat membeli senjatalah, kendaraanlah, apalah untuk keperluan main games itu. Serem euy. Anak sulung saya kebetulan hobi main games. Saya pribadi mengarahkannya dengan ikutan kursus coding dan kursus membuat games. Sekarang dia sudah bisa membuat beberapa games sederhana. Siapa tahu nanti potensinya lebih tergali lagi dan lagi. Berikut hal utama yang harus diperhatikan jika orangtua ingin anak mengenal dunia digital.

1. Gadget bukan untuk anak usia di bawah 1 tahun
2. Lama pemakaian gadget untuk anak di bawah 5 tahun itu maksimal 1 jam dan di atas 5 tahun itu maksimal 2 jam (orangtua kudu tegas euy)
3. Pilih konten yang edukatif (no violence, no sex, no horror)
4. Konten tidak menyilaukan mata
5. Pasang lock atau pengaman
6. Gunakan prinsip 15:1 supaya mata tidak lelah (15 menit melihat layar dan 1 menit melihat jauh, dst).

Ki-ka: Rob Gardiner, Rosdiana Setyaningrum, Elvera N. Makki, Nurhayati (Kepsek) 

Foto bersama guru dan orangtua

            Pemakaian gadget pada anak pastinya punya dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif: pengetahuan anak semakin luas, kosakata bertambah, dan daya imajinasi berkembang. Dampak negatif: fokus pendek, komunikasi cuma satu arah, dan kemungkinan anak menjadi agresif. Selain gadget, pikirkan hal lain untuk menarik minat anak, misal berikan buku yang mereka suka, ajak bermain outdoor, olahraga bareng, dll.   

Digital Financial Literacy for Children
            Jadi, sebenarnya bagaimana praktik Digital Financial Literacy for Children itu? Nah, setelah talk show, kami diberi kesempatan untuk melongok aktivitas siswa SDN Tanjung Duren Utara 06 di kelas. Masing-masing memegang tablet yang sudah dilengkapi software khusus dari kakak-kakak tim PJI. Tablet digunakan untuk belajar interaktif secara berkelompok.

            Seperti yang disebutkan Ibu Elvera di atas, siswa belajar mulai dari hal-hal yang paling mendasar seperti perbedaan antara kebutuhan dengan keinginan, macam-macam metode pembayaran (tunai, kredit, debit), cara mengurus pajak, dan pengetahuan kewirausahaan. Hmmm, mendadak ingat tokoh Ismail bin Mail di serial Upin Ipin. Kecil-kecil jiwa wirausahanya luar biasa hahaha.

Apa aja konten Digital Financial Literacy for Children? Well, ada 3 modul edukasi keuangan dengan tema Keluarga Kami, Daerah Kami, dan Kota Kami. Semua modul sejalan dengan kurikulum pendidikan nasional Indonesia, termasuk konten perbankan. Saya perhatikan sih kontennya mudah dipahami, colourful, dan lucu! Siswa berasa nonton video animasi gitu. Tidak membosankan sama sekali.

See, gadget dan teknologi punya sisi positif, manfaatkan! Saat penyelenggaraan program, kakak-kakak Citi Indonesia yang tergabung di dalam Citi Volunteers aktif membantu para siswa menyelesaikan aktivitas yang memakai tablet tersebut. Waaah, ada siswa yang berkerut kening dan ada pula yang ketawa senang. Seru! :))




Yuk, menabung! :)

            Dengan pendanaan dari Citi Foundation, program yang dimulai Agustus 2016–Juli 2017 ini siap lanjut ke berbagai kota besar lain di Indonesia seperti Tangerang, Bandung, dan Surabaya. Insya Allah semakin banyak siswa yang merasakan manfaatnya. Mudah-mudahan ke depan ada program digital financial literacy buat para ortu, yaaa. Memangnya anak-anak doang yang pengin? Kita yang ibuk-ibuk kan juga pengin atuh. :)) [] Haya Aliya Zaki 

Selanjutnya ...

Jumat, 24 Maret 2017

Buku sebagai Jendela Dunia dan Inspirasi Kehidupan

“Books were my pass to personal freedom. I learned to read at age three, and soon discovered there was a whole world to conquer that went beyond our farm in Mississippi.” – Oprah Winfrey

Pada suatu masa, kisah hidup Oprah Winfrey begitu menarik perhatian saya (sampai sekarang pun masih). Saya pun membeli komik biografi Oprah (karya penulis Ahn Hyong mo) untuk saya dan anak-anak baca. Ya, siapa yang tidak kenal dengan perempuan asal Mississippi berusia 63 tahun ini? Popularitasnya meroket berkat acara Oprah Winfrey Show. Orang-orang menjulukinya ratu media. Oprah mengakui, dia terbebas dari masa kecilnya yang kelam berkat benda bernama BUKU. Kok bisa? Teman-teman sila baca lengkap kisah hidup Oprah Winfrey di internet, koran, majalah, atau buku. Insya Allah menginspirasi. :)

  Dan, kisah hidup Oprah menjadi pembuka yang manis di acara Kafe BCA V bertema Membaca dari Generasi ke Generasi yang berlokasi di gedung Menara BCA, Jl. Thamrin, Jakarta. Waaah ... asli saya terpesona melihat dekor di TKP. Di mana-mana ornamen buku bahkan sampai hanging mobile-nya pun buku! Panggungnya? Buku raksasa! Seru! :))







Btw, ada yang belum tahu Kafe BCA? Kafe BCA merupakan wadah berdiskusi yang menghadirkan para pakar dan praktisi untuk membahas tema tertentu. Tujuannya memberikan informasi dan ilmu kepada masyarakat demi kemajuan bersama. Kafe BCA tampil perdana pada tanggal 13 Januari 2016. Pada tanggal 15 Maret 2016 lalu sudah sampai ke acara diskusi yang kelima. Makanya diberi nama: Kafe BCA V.

Di forum Kafe BCA V saya rada takjub soalnya narsum acaranya sampai 5 orang. :)) Mereka adalah Muh. Syarif Bando (Kepala Perpustakaan Nasional RI), Tjut Rifameutia Umar Ali (Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia), Lucia Ratih Kusumadewi (Dosen Sosiologi Universitas Indonesia), Dadang Sunendar (Kepala Badan Pengembangan dan Pembina Bahasa), dan ... Andy F. Noya (Duta Baca + presenter acara Kick Andy). Narsum yang paling bikin penasaran pastinya Andy F. Noya dong. Siapa yang tak kepincut sama acara Kick Andy? So inspiring! Saya ulas semua diskusi berdasarkan nama-nama narsumnya, ya. Siapkan energi kalian untuk membaca tulisan panjang. Semoga enggak pada bosan dan pindah ke postingan lain haha.

1. Muh. Syarif Bando (Kepala Perpustakaan Nasional RI)
            Berdasarkan studi Most Littered Nation in the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016, Indonesia dinyatakan sebagai negara yang menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Hampir nomor buncit! :((

Menurut Pak Syarif, sebenarnya minat baca di Indonesia cukup baik. Hanya, buku yang mau dibaca itu SANGAT SEDIKIT. Sekitar 74% perpustakaan bertumpu di Pulau Jawa. Standar UNESCO, 1 orang membaca 2 buku. Faktanya, di berbagai daerah di Indonesia (terutama di pelosok), 1 buku diantre baca oleh 50 orang! Alamak!

Bagaimana dengan internet? Ada 130 juta penduduk Indonesia yang terkoneksi internet dan cuma 2,5% yang menggunakannya untuk browsing ilmu pengetahuan. Bukan apa-apa, kontennya itu kurang sekali. Jadi, Pak Syarif berharap, ke depannya jumlah penulis (terutama penulis buku) bertambah banyak dan jumlah literatur atau buku yang ditulis juga bertambah banyak. Alhamdulillah, tahun lalu dan tahun ini saya mendapat kepercayaan menulis 10 serial moslem fairy tale pictorial book. Semoga bisa sedikit membantu ya, Pak. Aamiin.   

2. Tjut Rifameutia Umar Ali (Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia)
            Kebiasaan membaca tidak muncul sekonyong-konyong. Anak senang membaca jika orangtua dan lingkungannya juga senang membaca. Ketika menunggu, anak melihat ibu membaca buku. Ketika di rumah, anak melihat ayah duduk santai membaca buku. Demikian seterusnya. Kebiasaan ini sebaiknya ditanamkan ketika anak berusia di bawah 6 tahun. Bacakan buku. Dongengkan mereka. Tunjukkan ekspresi kece saat membaca. Obrolkan buku yang telah mereka baca.

3. Lucia Ratih Kusumadewi (Dosen Sosiologi Universitas Indonesia)
            “Sebagian besar sistem komunikasi di institusi pendidikan kita masih satu arah. Guru ibarat sumber ilmu pengetahuan dan murid ibarat celengan yang selalu menerima,” papar Bu Lucia. Istilahnya, murid punya ilmu pengetahuan, tapi nantinya sulit untuk memproduksi ilmu pengetahuan. Yang lebih parah sih kalau murid jadi generasi penghapal. Baca buku cuma saat ujian dan setelah lulus apa yang dipelajari pun hilang. Hmmm, sounds familiar? :))

            Saran Bu Lucia, alangkah idealnya jika murid ramai-ramai diajak membaca buku. Setelah itu, berdiskusilah tentang apa yang mereka baca. Biarkan mereka menyampaikan pendapat dan mengajukan pertanyaan. Murid dibiasakan berpikir kritis dan kreatif. Setuju pakai banget, Bu Lucia! Mari kita tinggalkan sistem pendidikan zaman lawas di mana murid cuma bisa manggut-manggut elus janggut ngeliatin gurunya di depan kelas. :p

4. Dadang Sunendar (Kepala Badan Pengembangan dan Pembina Bahasa)
            Info dari Pak Dadang, sesuai program Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) dari Kemendikbud, setiap sekolah mewajibkan murid-muridnya membaca buku selama 15 menit setiap hari sebelum pelajaran dimulai. Boleh baca buku apa aja, tidak harus buku pelajaran kok. Siswa bebas memilih buku yang disukainya dan buku tersebut memperkaya pengetahuan. Apakah itu dongeng, cerita rakyat, sastra, dll. Kira-kira berat tidak melaksanakannya, ya?   

5. Andy F. Noya (Duta Baca dan presenter acara Kick Andy)
            Eng-eing-eng. Here we go. Kayaknya diskusi dari Bang Andy ini bakal paling panjang sendiri haha. Soalnya saya terkesan banget sama perjalanan hidup beliau. Adakah di antara Teman-teman yang bertanya-tanya kenapa Bang Andy selalu memberikan hadiah buku kepada audiens acara Kick Andy? Aksi bagi-bagi buku ini menjadi ciri khas acara Kick Andy. Audiens di rumah juga berkesempatan mendapat hadiah buku dengan cara ikutan kuis. Nasiiib, beberapa kali ikutan, saya belum pernah beruntung. :p




Ternyata oh ternyata ada cerita pilu di balik bagi-bagi buku tersebut. Kehidupan Bang Andy kecil di Kota Malang sangatlah sulit. Dia suka membaca buku, tapi tidak sanggup membeli. Senang sekali rasanya ketika bu guru rutin memberikan hadiah majalah Si Kuncung. At least Bang Andy punya bahan bacaan. Berkat gemar membaca, laki-laki kelahiran Surabaya ini jadi gemar menulis.

“Dengan hobi menulismu ini, suatu saat kamu akan menjadi hartawan,” kata salah seorang guru sekolah Bang Andy.

       Melihat anaknya sangat suka membaca, ibu Bang Andy tersentuh hatinya untuk menyisihkan uang dan membeli koran setiap hari. Padahal ibu Bang Andy hanya penjahit berpenghasilan pas-pasan. Makan sehari-hari aja sering sama nasi dan garam. Kedua orangtua Bang Andy telah berpisah dan 3 anak menjadi tanggungan ibu Bang Andy. Kalau dipikir-pikir, sepertinya mereka mustahil berlangganan koran. Tapi, ibu Bang Andy mampu melakukannya demi melihat anaknya semangat mencari ilmu. Setiap Bang Andy ulang tahun, ibu memberi hadiah buku. Dari buku, Bang Andy jadi tahu cara membuat macam-macam prakarya bagus. Dia yang selama ini diremehkan karena miskin, tiba-tiba panen pujian di sekolah. Saat bercerita pengorbanan ibu, mata Bang Andy berkaca-kaca. Tenggorokannya tercekat selama sekian detik.

Beberapa tahun kemudian, Bang Andy pindah ke Papua mengikut ayahnya. Dia pikir hidupnya bakal berubah. Ternyata podo wae sami mawon, Saudara-saudara. Ayahnya tukang reparasi mesin tik yang miskin. Soal buku, jangan bandingkan ketersediaan buku di Jawa dengan di Papua. Di Papua, buku luar biasa susah dicari. Kalaupun ada, harganya mahal ampun-ampunan.        

Setelah itu, Bang Andy diajak saudaranya pindah ke Jakarta. Dari sisi pengetahuan, dia menyadari banyak tertinggal dengan teman-teman sebayanya. Apa yang dilakukan Bang Andy? Well, dia menebusnya dengan ‘brutal’ membaca buku! Uang dari mana? Alhamdulillah, ada Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Di sana merdeka baca buku. Gratis! Jika punya uang, Bang Andy berburu buku-buku bekas di Kwitang.

Demikian akhirnya hingga Bang Andy berhasil menggapai cita-citanya menjadi wartawan di berbagai media kesohor dan lanjut menjadi presenter teve acara Kick Andy. Di tangan dingin Bang Andy, acara ini telah beberapa kali diganjar award bergengsi. Wah, ucapan guru Bang Andy dulu sudah terbukti. :) Saya pribadi mengukur kata “hartawan” bukan dari materi aja sih. Jangan bandingkan dengan Princess Syahrini yang ke mana-mana naik jet pribadi hihi. Tapi, berkat buku, Bang Andy bisa memeluk profesi yang dia idam-idamkan. Berkat buku, Bang Andy bisa menolong masyarakat di daerah terpencil yang butuh perluasan akses buku. Kalau Amerika punya Oprah WInfrey, Indonesia punya Andy F. Noya. Mereka menunjukkan bagaimana buku mampu mengangkat derajat hidup seseorang. Diskusi bersama Bang Andy diselingi gelak tawa dan rasa haru. Kelihatan memang kalau presenter andal itu, ya. Pandai betul membawa suasana.

“Anak-anak miskin yang tinggal di daerah terpencil akan terbuka wawasannya jika rajin membaca buku. Mereka jadi punya harapan. Mereka jadi punya keberanian untuk mengubah hidup asalkan mereka mau berusaha.” - Andy F. Noya

  Guess what, kita juga bisa ambil bagian seperti Bang Andy! BCA mengajak kita berpartisipasi dalam gerakan berbagi Buku untuk Indonesia. Pilih paket donasi yang tersedia. Dana yang terkumpul akan dikonversi menjadi buku. Buku-buku tersebut nantinya disalurkan ke berbagai daerah di Indonesia. Sebagai bentuk apresiasi, BCA mempersembahkan kaus kebaikan untuk kita yang berpartisipasi dalam gerakan berbagi Buku untuk Indonesia. Detailnya lihat di banner. 




Teman-teman ikutan, yuk! :) “Mari sebarkan buku ke seluruh penjuru negeri untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” tutup Pak Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA. [] Haya Aliya Zaki

Selanjutnya ...

Iklan