Jumat, 13 Januari 2017

Rahasia Percaya Diri (Mantan) Model Dadakan Saat ke Pesta


Cewek slebor berubah wujud jadi model dadakan?
Bisa kalian bayangkan? Cewek yang biasanya pakai kemeja kotak-kotak atau kaus warna-warni, tahu-tahu harus pakai dress anggun. Cewek yang biasanya pakai sepatu teplek, tahu-tahu wajib mengoleksi minimal tiga warna high heels; hitam, silver, dan gold. Cewek yang biasanya jalan gerabak-gerubuk kalau perlu gelundung supaya cepat sampai, tahu-tahu kudu melenggang manjah seperti bidadari yang turun dari kereta kencana. Yap, itulah saya belasan tahun lalu. Cerita singkatnya pernah saya tulis di sebuah postingan di blog ini. Cari aja sendiri postingan yang mana hahaha. *anduk buluk mana anduk buluk*
Pengalaman fashion show yang paling berkesan itu saat saya hampir jatuh kepeleset karena lantai panggung agak licin. Untung bisa tetap tenang. Pesan pengajar dari agensi, apa pun masalahnya, penonton jangan sampai tahu. Seandainya beneran kepeleset, ekspresi dan gesture kita sebisa mungkin segera back to normal. Tak mungkin pula kita meringis jongkok lama-lama menunggu pertolongan orang di situ yekan.  
     Semua pengalaman di masa lalu saya anggap berharga. Ada ajalah pelajaran yang bisa kita ambil. Dulu saya “akrab” dengan gaun pesta dan gaun pengantin saat show, kini tidak lagi. Saya ya saya perempuan yang kadang masih cuek sama penampilan. Meski begitu, saya berusaha kasih glamorous look ala ala jika mau ke kondangan kawinan. Uhuk.
Nah, ini beberapa tip tampil glamor ke pesta dari saya.
1. Pakaian
            Pakaian dengan payet atau manik-manik akan memberikan kesan mewah. Hijabnya yang yang sederhana aja. Jangan yang berpayet atau bermanik-manik lagi. Hindari motif yang terlalu ramai supaya tidak “tabrakan”. Untuk pesta siang hari saya pilih pakaian warna cerah atau warna lembut seperti pink. Untuk pesta malam hari saya pilih abaya hitam. Warna hitam memang enggak ada matinya. Selain itu memberi kesan langsing juga. Setuju?
2. Perhiasan
            Buat saya, perhiasan tidak perlu ditumpuk semuanya. Nanti kerincing kerincing disangka toko mas berjalan. Biasanya saya pakai cincin karena ujung lengan gamis udah penuh payet. Percuma pakai gelang, nanti gelangnya malah “tenggelam”. Dipadukan dengan kalung panjang pun boleh. Perhiasan untuk pesta malam hari mestinya lebih blink blink daripada pesta siang hari. Selain perhiasan, saya mengakali hijab dengan aksesori bros atau headpiece.        
3. Sepatu
            Berhubung sekarang berat badan udah tidak mendukung untuk pakai high heels, saya pakai sepatu tanpa hak aja, tapi yang ujungnya lancip. Kesannya feminin. Sepatunya ada sedikit permata.
4. Make up
            Fyi, wawasan saya soal make up itu cetek abis. Kalau ke pesta saya pakai alas bedak, bedak padat, terus ditambahin blush on supaya pipi tampak segar saat difoto. Baru-baru ini saya belajar pakai eye liner dan yey berhasil! :)) Setahu saya, jika rias mata udah smokey eyes, warna lipstik jangan terlalu mencolok. Demikian pula jika rias bibir udah merah membara, rias mata jangan ikutan lebay. Jadi, fokus ke salah satunya aja, rias mata atau rias bibir.  *tsaaah* Bawa bedak dan lipstik di dalam tas untuk touch up. Maklum, pestanya sih dua jam, tapi kadang perjalanan ke lokasi bisa tiga jam sendiri. *nasib tinggal ibu kota*
5. Parfum
Parfum! Ini penting biar suami enggak malu-malu amat kalau menggandeng saya. :)))) Saya pun tampil lebih percaya diri depan umum. Oiya, baru-baru ini saya dikirimi parfum Vitalis Fragranced Body Spray Glamorous oleh clozette.id. Oke banget dipakai ke pesta. Ada 3 varian, yakni Vitalis Fragranced Body Spray Glamorous Sheer London (fruity, floral, gourmand, musky), Vitalis Fragranced Body Spray Glamorous Fantasy Paris (floral, powdery, musky), dan Vitalis Fragranced Body Spray Glamorous Dream New York (orange, floral, musky). Berikut review-nya. Mungkin bisa jadi parfum referensi Teman-teman untuk ke pesta. 


- Kemasan
            Seperti kemasan body spray lainnya, kemasan produk Vitalis Glamorous 100 ml terbuat dari kaleng. Kemasan semprot yang praktis. Waktu paling oke untuk memakai parfum sih setelah mandi. Cara pemakaian, semprot parfum ke beberapa titik tubuh dari jarak 15 cm. Jangan terlalu dekat. Dua minggu ini saya mencoba pakai Vitalis Glamorous, lubang spray-nya mantap, tidak geser sana-sini. Dipencet tidak pernah macet. Bodi ringan. Simple and travel handy. Hanya, kalau boleh rikues, saya pengin kemasan yang lebih imut dan terbuat dari kaca bening yang cantik. Parfum yang imut gampang dimasukkan ke tas pesta. 




- Ketahanan
            Apa yang paling Teman-teman harapkan ketika memakai parfum? Pastinya harumnya tahan lama, ya.
Harum Vitalis Glamorous bertahan sekitar 6 jam di badan saya. Lumayan. Pulang ke rumah masih ada harum samar-samar. Formula quick dry-nya bikin kulit tidak basah dan tidak lengket setelah parfum disemprotkan.
Oiya, tempo hari saya membaca artikel bagus di Kompas Female. Selain di leher dan pergelangan tangan, ada lagi bagian tubuh yang bisa kita semprotkan parfum supaya harumnya bertahan sepanjang hari. Pusar, rambut, kaki (paha hingga pergelangan kaki), dan bagian dalam siku. Serius? Pusar? Ya, menurut pakar parfum asal Inggris, pusar merupakan titik nadi yang memancarkan panas sehingga ideal banget kalau kita menyemprotkan parfum di sini. Untuk rambut, hati-hati rambut berubah kering karena kandungan alkohol. Pakai sisir, jangan semprotkan parfum secara langsung.       


- Aman
            Sering baca tentang produk yang mengandung bahan berbahaya? Nah, ini tugas BPOM untuk memastikan apakah sebuah produk aman kita gunakan atau tidak. Jika aman, BPOM akan memberikan nomor BPOM untuk produk tersebut. Bahan-bahan yang berbahaya, antara lain formalin, merkuri, dan rodamin B. Kira-kira seperti itu ilmu yang saya dapat waktu kuliah di Farmasi.
            Gimana mau mengecek apakah nomor BPOM palsu atau tidak? Sila ke website pom.go.id. Pilih “Daftar Produk” dan masukkan nomor BPOM yang tertera di kemasan. Saya mencoba memasukkan nomor BPOM produk Vitalis Glamorous dan terbukti memang produk ini tercatat aman di BPOM. Lebih jauh lagi, Vitalis Glamorous udah dibuat sesuai IFRA (The International Fragrance Association). Semacam ISO produksi parfum gitu. 

Produk Vitalis Glamorous tercatat di BPOM
Expired date juga jelas

- Halal
            “Produknya halal kok. Kan udah ada nomor BPOM.”
            Duh, pengin garuk-garuk kepala kalau baca komen kayak gini. Sekali lagi, nomor BPOM itu didapat jika sebuah produk dianggap aman dipakai atau dikonsumsi alias tidak memiliki kandungan yang membahayakan bagi tubuh. Soal kehalalan, beda lagi. Buat saya, perusahaan yang jempol itu perusahaan yang mau mendaftarkan sertifikasi halal produknya (pangan, obat, kosmetika) ke LPPOM MUI. Kalau udah ada sertifikat halal dari MUI, kita para muslimah ini kan jadi lebih tenang.
Syukurlah Vitalis Glamorous SUDAH sah memiliki keduanya, nomor BPOM dan sertifikat halal dari MUI. :)     

Sertifikat halal dari MUI

Vitalis Glamorous favorit?   
            Hmmm … bingung juga karena semua harumnya … enak! Tapi, kalau terpaksa memilih, saya pilih Vitalis Fragranced Body Spray Glamorous Fantasy Paris. Harumnya maniiis, bikin saya tambah manis. Harumnya relatif paling ringan. Bukan pendapat saya aja, suami dan anak-anak ikut memfavoritkan yang Fantasy. Selera kami semua sama ternyata. :)) Actually, saya pakai Vitalis Glamorous bukan cuma saat kondangan kawinan. Hari-hari untuk keluar rumah juga, terutama ketika pergi ke event blogger. Bikin tubuh fresh serasa baru mandi terus. Kerjaan pun deal! Bayangkan jika tubuh kita bau kecut binti asem saat ketemu klien. Aiiih, yang ada malah pada sibuk tahan napas sambil mual-mual! Belum termasuk “bonus” sumpah serapah dari dalam hati. >.< We don't expect an admiration, but it would be nice if we are appreciated because of our work and our good performance. Performance di sini termasuk tubuh yang harum. Pokoke, siap sedia selalu produk Vitalis Glamorous di tas. Teman-teman bisa mendapatkannya di toko terdekat. Harga cukup terjangkau sekitar Rp25 ribu per botol.

My glamorous look

            Ngomong-ngomong, Vitalis lagi bikin OOTD competition #GlamorousQueen periode 28 November 2016 –28 Januari 2017. Pengin ikutan? Like fanpage Facebook Pesona Vitalis, IG @pesonavitalis, dan Twitter @PesonaVitalis dulu. Terus, main-main ke website Pesona Vitalis untuk tahu info lengkapnya. Hadiah utama berupa perhiasan swarovski senilai jutaan rupiah huhuuuy! Cocok banget buat dipakai ke pesta!
            Nah, itu cerita (mantan) model dadakan tampil percaya diri ke pesta haha. Apakah Teman-teman suka memakai parfum? Udah coba Vitalis Fragranced Body Spray Glamorous? Harum yang mana yang paling kalian suka? Share di sini, ya! :) [] Haya Aliya Zaki
Selanjutnya ...

Jumat, 06 Januari 2017

My Sister's Keeper: Dilema Cinta Ibu



“If you have a sister and she dies, do you stop saying you have one? Or are you always a sister, even when the other half of the equation is gone?” – My Sister’s Keeper
 “Jika kamu berjuang untuk Kate, lalu siapa yang berjuang untuk Anna?” tanya sang pengacara dengan pandangan tajam.
Sara terdiam, seolah berusaha mengumpulkan kekuatan. Beberapa detik kemudian, dia membalas garang, “Kamu tidak tahu posisiku sebagai ibu! Anna itu anak yang sehat, sementara Kate sakit. Jika Kate tidak ditolong, dia akan mati! Jika aku tidak berusaha, aku akan mengubur anakku sendiri!” (kurang lebih begitu dialognya) 
 Adegan di atas adalah adegan persidangan Sara Fitzgerald (Cameron Diaz), ibu 3 anak remaja, di film drama keluarga My Sister’s Keeper (Penjaga Kakakku). Fyi, film ini diadaptasi dari novel karya Jodi Picoult dengan judul yang sama. Ceritanya, Sara dituntut oleh Anna Fitzgerald (Abigail Breslin), anak bungsunya yang berusia 13 tahun. Iyes, Sara dituntut oleh anak kandungnya sendiri.

Sara dan pengacara Anna, Mr. Campbell

What?! Anak durhaka! Malin Kundyaaang … dyaaang … dyaaang … dyaaang!
Pasti itu respons spontan Teman-teman. Wait, baca dulu cerita saya selanjutnya, mungkin … mungkiiin kalian akan berubah pikiran.
Kemarin secara tidak sengaja saya membuka channel HBO Hits dan ternyata film My Sister’s Keeper sedang tayang. Film yang rilis tahun 2009 di Amerika. Sudah lama pengin baca bukunya, belum kesampaian. Sudah lama pengin nonton filmnya, lagi-lagi belum kesampaian. Eh, kali ini saya beruntung bisa menikmati filmnya tanpa direncanakan. :)
Sara Fitzgerald dan Brian Fitzgerald (Jason Patric) dianugerahi sepasang anak laki-laki bernama Jesse Fitzgerald (Evan Ellingson) dan anak perempuan bernama Kate Fitzgerald (Sofia Vasilliev). Kebahagiaan mereka lengkap. Namun, kebahagiaan itu tidak lama. Pada usia 4 tahun, Kate divonis mengidap leukemia akut (kanker darah). Menurut dokter, kelak Kate bakal kesulitan mendapatkan donor, kecuali Sara dan Brian melakukan satu cara. Apakah gerangan?
Sara dan Brian disarankan melakukan program bayi tabung. Dokter akan membantu semacam rekayasa genetika untuk “menciptakan” janin yang gen-nya nanti cocok untuk Kate. Istilahnya: design baby. Sara dan Brian setuju.
Lalu, lahirlah anak ketiga yang diberi nama Anna. Sara memutuskan berhenti bekerja sebagai pengacara karena ingin fokus merawat Kate. So here’s the drama. Sejak bayi, Anna sudah menyumbangkan tali pusarnya untuk Kate. Selanjutnya, tak terhitung berapa kali Anna mengalami operasi dan transfusi demi kelangsungan hidup Kate. Ya, Anna melakukan semua kemauan ibunya, dari mendonorkan darah, mendonorkan granulosit, sampai mendonorkan sumsum tulang belakangnya demi sang kakak. Poor little Anna. Bisa kebayang enggak sih anak yang sehat kondisinya jadi sama seperti anak yang sakit? Dari bayi hingga remaja kerjaannya bolak-balik masuk RS aja. Anna TIDAK MEMILIKI wewenang atas tubuhnya sendiri.    

Anna, Kate, dan Jesse

 Tahun demi tahun berlalu. Sara semakin “berambisi” supaya Kate sembuh. Dia melupakan hak anak-anaknya yang lain, Anna dan Jesse. Lho, emang Jesse kenapa? Jesse mengidap disleksia. Sekolahnya berantakan. Jesse luput dari perhatian orangtuanya yang sibuk mengurus Kate. Puncaknya ketika Kate berusia 16 tahun. Sara meminta Anna mendonorkan ginjalnya untuk Kate karena ginjal Kate telah rusak. Kate menolak menerima. Dia merasa CUKUP sudah. Enough is enough!
Kate tidak ingin adiknya berkorban lagi, meskipun adiknya mau. Kate tidak mampu membayangkan Anna bakal kehilangan masa depannya sebagai cheerleader dan pesepak bola. Tapi, Sara ngotot terus. Sara sangat takut Kate meninggal. :((
Sara rela membotaki kepalanya supaya Kate tidak merasa sendirian (Kate botak karena terapi kanker)

Apa akal? Bermodalkan 700 dolar hasil dari menjual liontin, Kate menyuruh Anna menyewa pengacara Campbell Alexander (Alex Baldwin). Anna menuntut kebebasan mengiyakan atau menolak permintaan ibunya untuk melakukan macam-macam operasi, transfusi, donor, dll itu. Anna menuntut kewenangan atas tubuhnya sendiri. Ekstrem ya menuntut ibu sendiri? Terpaksa dilakukan karena keinginan Sara tidak pernah bisa dibantah. Kenyataannya, Anna jauh dari kejam kok. Justru dia luar biasa menyayangi Sara dan Kate. Anna melakukan  ini karena dikompori Kate yang kasihan kepadanya. Btw, kenapa Kate dan Anna memilih Mr. Campbell untuk menjadi pengacara? Mr. Campbell mengidap epilepsi. Jadi, Mr. Campbell tahu seperti apa rasanya tidak memiliki wewenang terhadap tubuhnya sendiri (saat penyakitnya kambuh).
Malam usai sidang, Kate duduk berdua di dalam kamar di RS bersama ibunya. Dia menceritakan betapa bahagianya dia selama ini. Meski sakit, keluarga selalu ada untuknya. Kate memohon Sara mengikhlaskan dia pergi dengan damai. Sara urung menjawab. Hanya isakan panjang yang terdengar. Keeesokan pagi, Kate tidak terbangun. Dia benar-benar telah pergi.   
Setelah Kate meninggal, kehidupan keluarga Fitzgerald terus berlanjut. Sara kembali bekerja sebagai pengacara. Brian pensiun dini karena ingin menjadi konsultan buat remaja bermasalah. Anna berprestasi di sekolah. Soal sidang? Anna memenanginya. :) Jesse mendapatkan beasiswa sekolah seni di New York. Yey! Jesse melanjutkan sekolahnya lagi! Setahun sekali mereka sekeluarga mengunjungi Montana, tempat favorit almarhumah Kate.  
The story behind My Sister's Keeper novel
Pada usia 5 tahun, Jake (anak Jodi Picoult), terserang choleateatoma, yakni tumor jinak di telinga kiri. Tumor jinak, tapi sewaktu-waktu bisa menyerang otak dan membunuh Jake. Jake harus menjalani 13 macam operasi! 
Film kelar, ada kali setengah jam saya sesenggukan. :(( Dilema betul posisi Sara sebagai ibu. Saya teringat pedihnya perasaan kala merawat anak yang semingguan sakit di RS. Sementara, anak-anak saya yang lain, yang kondisinya sehat, juga tetap harus diperhatikan. Itu “cuma” semingguan. Gimana dengan Sara yang sampai belasan tahun. :( Saya pula teringat satu per satu keluarga di Medan. Jika dikatakan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga, bagi saya itu benar adanya.
Saya tidak akan membahas soal akting Cameron Diaz dkk. Cukup dua kata: keren gilak! Soal hikmah, banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah My Sister’s Keeper. Sekuat apa pun usaha manusia, kalau Allah menakdirkan lain, kita harus ikhlas. Ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Dalam keadaan sulit, sebuah keluarga hendaknya tetap bersatu. Keluarga yang saya maksud di sini bukan hanya keluarga sedarah. Orang-orang yang paling dekat dan paling mengerti kita, bisa jadi saudara kita juga. Seandainya sekarang kalian merasa belum memiliki keluarga, berjanjilah suatu saat kalian akan menjadi pasangan yang baik, orangtua yang baik, dst. Ini sebenarnya sekalian nasihat untuk diri saya sendiri. :) Well, have a blessed Friday, Teman-teman! Jadilah “penjaga” bagi orang-orang tersayang. [] Haya Aliya Zaki
Foto-foto milik Curmudgeon Films
Selanjutnya ...

Sabtu, 31 Desember 2016

5 Blog Terbaik 2016 versi Saya



Wah, sebentar lagi ganti tahun Masehi, ya. Segala status tentang revolusi teman-teman terpampang manjah dan nyatah di timeline medsos saya. Saya sendiri masih bingung mikir resolusi apaan tahun 2017 nanti. Cuma, poin saya bikin postingan ini bukan mau membahas resolusi. Saya ingin merekam jejak tentang beberapa blog yang berkesan buat saya selama tahun 2016. Tambah lama kenalan blogger tambah banyak. Yang awalnya tidak pernah saya sambangi blognya sama sekali, sekarang rajin saya baca (walaupun tidak selalu komen). Yuk, langsung aja cari tahu siapa mereka. 

            Lupa kapan dan di mana saya kenal Fika haha. Tapi, sejak kenal, saya sering jjs ke blognya. Fika ini blogger Surabaya yang produktif sangat. Mostly post about food, travel, and lifestyle.
Seingat saya, saya  tidak pernah menemui konten “pilih kasih” di blog Fika. Tidak ada konten yang so so. Semua konten berasa full effort. Kalimat-kalimatnya informatif, detail, dan pastinya lengkap dengan foto-foto kinclong (apalagi foto-foto makanannya). Refreshing banget buat mata. Dijamin pada setuju sama saya, terutama followers IG @diarysivika. Fika mengakui bahwa dia lebih suka membidikkan kamera ke tempat yang dia kunjungi, bukan foto selfie. Foto selfie atau foto diri sesekali aja untuk membuktikan travelingnya bukan hoax. :))))


Fika Anaira (foto milik diarysivika.com)

“Saya bikin blog tahun 2010 karena tugas kuliah. Dosen mewajibkan kami memiliki blog,” cerita Fika. “Nah, semakin ke sini kok saya semakin mencintai dunia blogging. Blog merupakan tempat menyimpan memori dan tempat berbagi.”
Tip menulis pengalaman traveling di blog ala Fika: buat catatan traveling di aplikasi note di ponsel, mulai dari jadwal, kegiatan, sampai biaya. Kalau kulineran, jangan lupa potret buku menu, ya. Kita bisa melihat harga dan bahan-bahan makanannya. Lumayan, kan, buat materi tulisan? Selain Fika, saya juga demen “cuci mata” di blog Nurul Noe, Timothy W. Pawiro, Zizy Damanik, Ransel Ahok, aMrazing, dan Evi Indrawanto.

            Saya kenal Kania di acara sebuah brand susu. Kami sama-sama menang lomba foto di IG. Kania ramah, tapi tidak begitu banyak bicara. Postingan di blognyalah yang sungguh-sungguh “berbicara”. Kania seorang beauty blogger dengan dua anak yang lucu-lucu. Postingan di blognya kebanyakan tentang kecantikan dan review make up.
Konten di blog Kania tak pernah luput membuat saya jatuh hati. Saya sukaaa … ekspresi-ekspresi Kania di foto! Tak kalah sama foto model andal. “Kadang-kadang suami yang fotoin kalau dia enggak capek pulang kerja,” ujar Kania tersenyum. Wah, boleh juga kolaborasi suami dan istri kayak begini. :)  

Kania Safitri (foto milik beautydiarykania.com)

Kania lumayan banyak menulis review produk dalam negeri maupun yang langsung dikirim brand dari luar negeri. Demi profesionalitas, dia pernah make up tengah malam dan bikin postingan sampai subuh! “Rasanya kurang enak kalau review produk cuma swatches di tangan. Saya pengin pembaca juga melihat make up look produk yang saya review,” jelas Kania. Berhubung tidak punya ART, Kania sadar diri. Dia harus menyayangi tubuhnya, jangan sampai drop gara-gara rempong sama urusan domestik dan ngeblog. Kania memilih mengurangi jadwal datang ke event blogger. Amanah kerjaan menulis review produk harus selesai dulu, baru bisa ke event blogger. Kudu ditiru nih komitmennya, Teman-teman.     
            Selain Kania, beauty blogger yang mencuri perhatian saya adalah Yonna Kairupan (Mbak Yonna lebih ke vlogger sih sebenarnya ya), Buleipotan, dan Aldila.

            Saya tidak memungkiri, pilihan saya di sini juga tergantung kepada profil si blogger itu sendiri. Kalau si blogger hobinya nyinyir sambil makan roti sisir duduk melipir sepanjang hari, belum apa-apa saya juga udah males baca blognya. :p Mbak Zata tipe blogger yang menyenangkan. Menyenangkan bukan berarti caper bikin senang semua orang, ya. Maksud saya, Mbak Zata ini pandai menempatkan diri di mana pun dia berada. Meski femes, humble-nya jempol. Meski udah ke mana-mana, orangnya low profile aja. 

Mbak Zata dan keluarga (foto milik zataligouw.com)

             Membaca konten blog Mbak Zata seolah menemukan “teman senasib”. Klop sama postingan dunia ibuk-ibuk muda tapi udah punya anak ABG yang beraneka warna. Jadi, kalau baca blog Mbak Zata, tanpa sengaja saya komen dalam hati, “Ini gue banget!” Contohnya, jam me time kami yang sama, yakni pukul 09.00–10.00 wib. Setelah melepas seisi rumah berangkat, kami sarapan, menyeruput kopi, dan menonton serial kesayangan. Persis! *LOL* Berasa happy!   
            Speechless kalau bicara soal blogger yang satu ini. Auranya selalu positif. Beliau ibu dua anak, diplomat, dan pencinta warna ungu yang berdomisili di New York. Meski mengidap kanker payudara, Mbak Indah tidak merutuki hidup. Masa-masa down itu ada, tapi beliau berhasil bangkit. Bahkan sekarang beliau gencar mengampanyekan breast cancer awareness baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris melalui blognya. Mulanya blog dijadikan semacam pelepas penat setelah ngantor, kini blog juga dijadikan “alat” untuk membantu sesama kaum hawa di berbagai belahan dunia. Teman-teman bisa membaca pengetahuan seputar kanker (terutama kanker payudara) di blog Mbak Indah. Terus berbagi pengetahuan, Mbak Indah. Terus berbagi semangat. Allah bless your journey! :) 


Mbak Indah Nuria (foto milik indahnuria.com)

            Nemu blog Mas Teguh tidak sengaja awalnya. Waktu itu googling cari-cari blog review film dan kecantol di ulasanpilem.com. Postingannya update sekali. Info penghargaan film? Ada! You name it, dari Festival Film Indonesia (FFI), Golden Globe Awards, sampai Academy Awards/Oscars. Urutan box office? Ada! Box office berdasarkan jumlah penghasilan sebuah film maupun jumlah penonton. Trailer film terbaru juga ada (sebelum filmnya muncul di Indonesia).

Meski menulis review, story telling Mas Teguh enak dibaca. Kalimat-kalimatnya lugas, tidak bertele-tele. Sesekali pakai curcol. Dan, pastinya berbobot. Saya belajar macam-macam istilah film di sini. Untuk review film Indonesia, Teman-teman bisa main ke blog Raja Lubis. Recommended.     
Selain Mas Teguh, saya suka cara story telling Hoeda Manis, Belalang Cerewet, Eko Nurhuda, Jihan Davincka, Anne Adzkia Indriani, Sitta Karina, dan Erry Andriyati.
            Soal konsistensi, saya menyerap ilmu dari blogger-blogger lama seperti Ani Berta, Lidya Fitrian, Echaimutenan, Pakde Cholik, dan Amril Taufik Gobel. Mereka aktif sejak tahun 2008 dan masih eksis sampai sekarang. Tabik! Kapan-kapan saya pengin nulis tentang mereka.
Punten, blog yang tidak tercantum di sini bukan berarti blog yang tidak baik. Hanya, blog-blog inilah yang saya kenal dan rajin saya sambangi selama tahun 2016. Tahun 2017 saya pribadi tidak punya target yang gimana-gimana di dunia blogging. Penginnya bisa tetap menulis, menulis, dan menulis di blog. Belajar motret dan belajar bikin video insya Allah lanjut. Soal parameter, blogger memang perlu paham Alexa, DA, PA, dll itu, tapi jangan jadi blogger yang desperate saban waktu mikirin parameter tanpa mikirin gimana caranya meningkatkan kualitas konten. Itu sikap kurang realistis, menurut saya. :)
            Akhir kata, selamat Tahun Baru, Teman-teman! Semoga berkah umur dan bisa terus menebar manfaat melalui dunia blogging. Share yuk blog yang menurut kalian inspiratif di kolom komentar ini! Siapa tahu jadi referensi saya juga. Makasih! :) [] Haya Aliya Zaki   


Selanjutnya ...

Selasa, 27 Desember 2016

Teman Murni Itu Serupa Mentari Pagi



Beberapa waktu lalu berseliweran hestek #TemanMurni di Twitter. Wah, lagi pada rame bahas apa, ya? Seperti biasa, setiap buka Twitter, yang nomor satu saya kepoin adalah trending topic alias TT. :p Setelah itu, saya cari info kompletnya dari media mainstream, postingan blogger, atau teve. Hare gene jarang bangetlah nonton teve sebenarnya, kecuali kalau kebetulan saya tahu ada jadwal film bagus yang main.
 Soal hestek #TemanMurni, ternyata, oh, ternyata teman-teman lagi pada seru-seruan mengomentari sebuah video. Penasaran, saya ikutan tonton videonya di bit.ly/hayaTMN dan hasilnya aaakkk … bikin mewek sendiri! Rudi Soedjarwo memang paling bisa. :(( Terutama saat mendengar kalimat di detik ke-43.
“Gak tahu deh gue jadi apa kalau gak ada dia (Nia).”


Saya langsung ingat teman murni saya. Siapa lagi kalau bukan Mama. Mama orangtua sekaligus teman yang luar biasa. Saya bebas curhat apa aja (beneran, apa aja!) seperti layaknya curhat kepada seorang teman.
Sebelum jadi ibuk-ibuk kalem dan tomblok *LOL* begini, pastinya kondisi saya sama seperti anak-anak lain yang mengalami warna warni masa remaja. Apa-apa pengin tahu dan kadang berontak sama nasihat orangtua. Nah, waktu itu ceritanya, saya mainnya rada “jauhan”, sempat temenan sama beberapa model catwalk Kota Medan. Eciyeeeh. Alhasil saya ikutan berubah wujud (((BERUBAH WUJUD))) jadi semacam model (abal-abal) setelah diajakin join di salah satu modelling agency. Kebayang saya yang aslinya slebor binti bodor disuruh belajar jalan lemah gemulai pakai high heels dengan membawa tumpukan buku di atas kepala. :p Belajar jalan oke pakai high heels oke, tapi belajar make up no way. “Pan di setiap fashion show dijamin udah pasti ada tim make up yekan,” saya ngeles.   
Awalnya Mama melarang, tapi karena saya keukeuh, beliau pun membolehkan. Dengan syarat, beliau harus menemani. Rada tengsin juga diledekin “anak mami” sama teman-teman. Namun, perhatian Mama membuat saya luruh. Setiap saya fashion show (duilaaah), beliau sigap memotret saya dari berbagai angle dan memberi masukan ini itu. Tahun 90-an belum ada kamera ponsel. Mama bela-belain motret pakai kamera biasa, ke studio mencetak filmnya, dan memasukkan rapi foto-fotonya ke album khusus. Albumnya masih saya simpan. Cuma, mohon mangap, foto-fotonya urung saya pajang di sini karena saya udah berhijab. :) 

Saya dan Mama

Pernah saya bebal pengin main ke diskotik sampai-sampai entah berapa kali adu mulut dengan Mama saking ngototnya. Duh duh. Kalau ingat, rasanya nyesal, deh. Akhirnya, apa yang terjadi, Teman-teman? Mama membolehkan, dengan syarat, beliau yang menemani saya ke diskotik! Ajiiib! Yang saya khawatirkan Mama bakal “rese” atau gimana, tidak terjadi. Mama bisa ngobrol sante bareng teman-teman saya di sana (padahal mungkin dalam hati Mama sebenarnya enggak sante)! Aneh, setelah ke diskotik sekali itu, ya sudah. Saya tidak pengin main ke sana lagi. Nothing special about that place anyway. Justru saya semakin menyadari betapa istimewanya sosok Mama. Jangan sangka Mama tipe orangtua yang permisif. Saya ingat betul, tidak seujung kuku pun beliau mengizinkan pria ganjen (dan udah beristri pula) untuk mendekati saya waktu itu. Kritik pedas bukannya nihil saya terima. Mama paling murka kalau saya melalaikan ibadah demi urusan dunia.     
Teman-teman yang lain datang dan pergi, tapi Mama tidak. Mama selalu ada saat suka maupun duka. Usah saya risau mencari perhatian ke mana-mana. Mama bisa menerima bahwa kami berbeda. Beliau senang menjahit dan memasak, sementara saya senang menulis dan mengajar. Ya, di saat sebagian orang meremehkan saya karena memilih profesi penulis, Mama tetap mendukung. Maklum, di zaman baheula, kerjaan menulis dianggap madesu (masa depan suram). Mama orang rumahan, sementara saya happy banyak kegiatan. Perhatiannya serupa mentari pagi, hangat menerangi tanpa pernah menyakiti. Masih banyak kenangan kami. Kapan-kapan aja saya ceritain lagi. Kalau saya pengin ngelakuin hal yang aneh-aneh, wajah teduh Mama langsung berkelebat. Kasih sayang beliau menjelma menjadi “tameng” saya untuk menjaga diri. Insya Allah.     
“The older I grow, the more I realize that my mama is the best bestfriend that I ever had.” – NN
Meski sekarang saya dan Mama tinggal berlainan pulau, hati kami tidak pernah terpisah. Kami masih telepon-teleponan curhat ala teman haha hihi huhu huhu. Adaaa aja yang dibahas ora habis-habis. :)) Ketawa bareng dan nangis bareng. Sebaris SMS yang bertuliskan, “Jangan capek-capek menulis. Jaga kesehatan, ya,” dari Mama jadi mood booster paling ampuh. Kami saling support. Kami saling menguatkan. Kami saling menjaga dalam doa. Makasih udah mau memahami dan menemani aku selama ini, Ma. Makasih sangat. Aku gak tahu bakal jadi apa aku kalau gak ada Mama.    

"Jangan capek-capek menulis. Jaga kesehatan, ya," pesan Mama

Teman-teman udah nonton video di bit.ly/hayaTMN? Siapa teman murni kalian? Teman sejati yang selalu ada dan selalu bisa kalian andalkan bukan hanya di masa senang, melainkan juga di masa susah. Yuk, share di sini! :) [] Haya Aliya Zaki
Selanjutnya ...

Jumat, 23 Desember 2016

Tip Membimbing Anak-Anak Penggemar Games


Ada yang udah nonton film Sundul Gan: The Story of Kaskus? Ken Dean Lawadinata, salah satu tokoh film yang terinspirasi dari kisah nyata itu, penggemar berat games. I mean, Ken benar-benar maniak games! Sepanjang hari kerjaannya main games, main games, dan main games. Dari buka mata sampai tutup mata yang dilihat layar games thok. Bahkan, Ken menaruh botol air mineral di sampingnya supaya dia tidak perlu ke kamar mandi pas kebelet pipis. Iya, supaya nanti pipisnya tinggal dimasukin ke botol air mineral itu! Gustiii. >.< Demi menyela kecanduan Ken, terpaksa Andrew membius Ken. Sampai segitunya. Bisa kebayang enggak, sih. >.<
Terus terang saya tipe orangtua yang “parno” melihat anak-anak main games (terlebih setelah nonton film Kaskus tadi). Saya bukan penggemar games sama sekali. Paling banter main Snake dan Tetris waktu zaman baheula. Ketika beberapa tahun lalu si sulung menunjukkan games buatannya sendiri, saya ogah-ogahan merespons. Saya khawatir, jika diberi angin, si sulung malah kecanduan main games.
Tapiii, tapiii, talkshow CoDe@BCA: Bagaimana Start Up Memberikan Manfaat untuk Anak-Anak akhir November 2016 di Menara BCA, Jakarta, membuka wawasan saya. Main games tidak selamanya buruk. Anak-anak pencinta games juga bisa sukses kok asal kita tahu cara mengembangkan dan mengarahkan potensi mereka. Dalam kata sambutannya, Inge Setiawati, Kepala Satuan Kerja Corporate Social Responsibility BCA, mengatakan bahwa BCA merupakan bank yang peduli dengan kemajuan teknologi digital dan pertumbuhan perekonomian bangsa. Kali ini BCA mengundang beberapa perwakilan start up Indonesia untuk menjadi narsum terkait dunia digital anak, yakni Aranggi Soemardjan dari Clevio Coder Camp, Kurie Suditomo dari Coding Indonesia, dan Wisnu Sanjaya dari Cody’s App Academy. Mas-mas dan mbak ini pemilik kursus coding dan games untuk anak.
Inge Setiawati, CSR BCA


Bicara tentang games, tentu tidak lepas dari persoalan coding juga. Teman-teman, apa yang terbayang di kepala kalian kalau mendengar istilah “coding”? Pastilah segala kode-kode programming yang njelimet itu, kan? Apa jadinya kalau anak-anak kita belajar coding? Wew, jangan pikir mereka yang belajar coding serta merta bakal berprofesi sebagai programmer atau seperti sosok Mark Zuckerberg, ya. Melalui ilmu coding, anak-anak minimal banget belajar logika, melatih kesabaran, dan memecahkan masalah ala programmer. “Ilmu coding bisa menunjang pelajaran lain. Contoh, anak-anak akan lebih mudah belajar matematika secara visual melalui ilmu coding,” jelas Kurie.   
Sayangnya pendidikan TIK di negeri kita mentok di Microsoft Office aja. Kurikulum TIK di sekolah ketinggalan 20 tahun. Ekskulnya pun masih sama seperti era saya pakai seragam putih biru; pramuka, PMR, dan OSIS. Padahal, banyak sekali ilmu TIK kekinian yang perlu dipelajari. Kurie udah berusaha mencoba masuk ke sekolah-sekolah memperkenalkan ekskul coding, namun sebagian besar sekolah masih menolak.     
Nah, seperti biasa, saya merangkum isi talkshow berupa tip. Berikut tip membimbing anak penggemar games dari narsum.
1. Kenali minat anak
            Ada ortu yang datang ke kursus, masih bingung minat anak mereka apa. Kata Wisnu, “Sebaiknya ortu mengamati terlebih dahulu minat anak, apakah memang senang main gadget, main games, atau apa.” Tapi kalau memang belum tahu dan tetap mau mencoba, silakan. Insya Allah bermanfaat. Siapa tahu akhirnya ketemu minat anak kita juga di situ yekan. Lagian anak-anak sekarang seperti “ditakdirkan” bersahabat dengan internet. Perhatikan, deh, mereka adaptif sekali saat memegang gadget. Lebih cepat mahir daripada ortunya!     
2. Kasih tools kepada anak
            Anak-anak sedang masa adsorbing. Kasih tools kepada mereka sebagai sarana belajar. Setelah mereka ikutan kursus bikin games, tantang mereka untuk membuat games kastil dengan menara es krim, misalnya. Kelihatannya anak-anak seperti bermain, tapi sesungguhnya mereka sedang belajar, lho. The result will be a surprise!
3.  Pertimbangkan sebelum memberi gadget kepada anak
            Dunia maya ibarat "hutan rimba". Ketika kita memberikan gadget kepada anak berarti kita udah tahu segala konsekuensinya. Beri pengertian apa do’s dan don’ts berinteraksi di dunia maya. Pilah pilih mana games yang boleh dimainkan mana yang tidak.    

Ki-ka narsum: Wisnu (Coddy's App Academy), Aranggi (Clevio Coder Camp), Kurie (Coding Indonesia), dan moderator


4. Didik anak agar bertanggung jawab
            Kalau sampai anak lupa segala-galanya karena main games, ini bukan salah games-nya, sih. Mungkin ada persoalan parenting di sini. Ajari anak untuk bertanggung jawab. Parenting setiap keluarga memang unik. Ilmu parenting keluarga yang satu belum tentu sama dengan keluarga yang lain. Hanya, mendidik anak agar bertanggung jawab itu termasuk hal universal. Setop main games jika anak  mengabaikan kewajiban mereka.   
5. Spend waktu bermain bersama anak
            Anak sekarang udah dijamin digital banget. Ortunya gimana? Saatnya ortu juga melek digital. Sesekali spend waktu main games bersama anak. Ngobrol kek apa kek. Perlihatkan antusiasme kita.  
Teman-teman bisa googling info tentang kursus coding dan games di atas. Oiya, di acara saya bertemu dengan Mercy. Anaknya, Andre Christoga (11 tahun), tergila-gila dengan ilmu coding. Menyadari hal ini, Mercy berusaha menyalurkan minat anaknya tersebut. Kini Andre berhasil menciptakan aplikasi Cepat Sembuh agar masyarakat mendapat layanan kesehatan yang lebih baik. Penghargaan Eagle Awards dari Metro TV diraih. Keren! Pengin mewawancara Mercy lebih lanjut, tapi beliau udah pulang sebelum acara selesai. Kapan-kapan kalau rezeki kami ketemu lagi.
Talkshow CoDe@BCA tambah istimewa berkat kehadiran Sony Sudaryana, Staf Direktorat E-Bussines Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo. Beliau mengajak generasi muda memanfaatkan internet untuk meningkatkan perekonomian bangsa. Semua stakeholders yuk bersatu. Gotong royong membuat macam-macam usaha digital baru, gitu.

Saya dan teman-teman blogger di acara CoDe@BCA


Mudah-mudahan para ortu tidak lagi parno parno amat melihat anak-anaknya asyik utak-atik coding atau main games. *tunjuk hidung* Well, saya harus mengakui, Ken pernah me-maintain Kaskus (sekarang Ken sudah meninggalkan Kaskus) hingga menjadi forum komunitas online terbesar di Indonesia, berawal dari minat luar biasanya terhadap games. Banyak ternyata keuntungan menekuni bidang yang satu ini. Duhai ortu, mari bantu anak-anak kita belajar menjadi creator, bukan sekadar user atau consumer. Bantu mereka menguasai dunia masa depan. :) [] Haya Aliya Zaki

Selanjutnya ...

Pagerank Alexa

Iklan