Jumat, 26 Agustus 2016

BCA dan UNICEF Bersinergi demi Pendidikan Anak-Anak di Papua

Kalau bicara tentang anak-anak Papua, saya punya cerita sendiri. Alhamdulillah tahun 2013 saya mendapat kehormatan menjadi salah satu juri di Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI) di Jakarta. Kalau tidak salah, tahun 2013 itu merupakan tahun pertama KPCI punya kontestan asal Papua (kalau salah, koreksi, ya). Begitu ketemu anak-anak Papua, tubuh saya semacam kesetrum aliran listrik. Merinding euy. Mereka keren! Tanpa ba-bi-bu menunggu, saya rikues berfoto bareng mereka. Perjalanan mereka dari daerah asalnya hingga menginap beberapa hari di Jakarta, bukannya tanpa hambatan. Untung kakak-kakak dari Kelas Inspirasi ikut membantu. Beberapa anak sakit telinga ketika naik pesawat. Ya, ini kali perdana mereka naik pesawat! Mereka juga kesulitan makan nasi karena sehari-hari makanan pokok mereka adalah sagu. Seru, lucu, ada saja peristiwa tak terduga yang terjadi. Benar-benar pengalaman berharga yang sulit dilupakan! :)

Dan, ketika Senin lalu (22/8) saya diundang BCA untuk menghadiri konferensi pers tentang gerakan peduli BCA terhadap anak-anak Papua, kenangan ini terurai kembali. Saya senyum-senyum menonton video laku anak-anak Papua yang diputar di Menara BCA lantai 22, Jakarta. Miris, Papua negeri yang kaya, namun sebagian pola belajar mengajar di sana masih belum maju. :(


Pendidikan memang ujung tombak kemajuan sebuah bangsa. Dalam konferensi persnya, Bapak Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya seputar pendidikan akademis, melainkan juga pendidikan karakter. Anak-anak pula harus pandai bersosialisasi. Tantangan ada pada penyediaan guru yang berbobot. Bagaimana menciptakan suasana belajar mengajar yang baik dan menyenangkan untuk anak-anak. Faktor pengasuh juga penting yes. Kalau pengasuhnya tidak bener, bisa jadi nanti anak-anaknya juga tidak bener.

Presiden Direktur BCA, Bapak Jahja Setiaatmadja

Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia, Mrs. Gunilla Olsson

Untuk itu, BCA tergerak bersinergi kembali dengan UNICEF setelah tahun 2014 dan tahun 2015 lalu. BCA memberikan donasi senilai Rp850 juta kali ini khusus untuk program Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) yang digagas oleh UNICEF. Program PAUD HI yang dicanangkan pemerintah melalui Keputusan Presiden nomor 60 tahun 2013 diharapkan dapat meningkatkan mutu dan angka partisipasi PAUD di Papua. Programnya apa saja, nih? Advokasi serta koordinasi dari tingkat kabupaten hingga desa mengenai kesadaran akan pentingnya PAUD, pelatihan untuk penyelenggara program dan orangtua, identifikasi PAUD berbasis masyarakat, dan membangun sistem monitoring + evaluasi. Program PAUD HI dilaksanakan oleh 20 PAUD di Sorong dan Raja Ampat untuk 750 anak usia 0 – 6 tahun dan 1500 orangtua asuh/pengasuh.  

Penyerahan donasi BCA kepada UNICEF

Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia, Mrs. Gunilla Olsson, menyampaikan penghargaannya atas dukungan BCA. Tahun-tahun sebelumnya BCA dan UNICEF bersinergi untuk Pendidikan Ramah Anak di Papua. Pendidikan Ramah Anak merupakan implementasi dari salah satu pilar Bakti BCA, yakni Solusi Cerdas. Tahun ini khusus PAUD. Kenapa PAUD? Kita pasti udah paham tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan, kan? Kualitas seorang anak terutama dibangun dari 1000 hari pertama kehidupannya, yakni 9 bulan 10 hari dalam kandungan (270 hari) dan 2 tahun (730 hari). Bisa dikata 1000 hari pertama kehidupan menjadi penentu masa depan bangsa. Pada masa janin sampai anak berusia 2 tahun inilah terjadi proses tumbuh kembang yang cepat nian, yang tidak terjadi pada kelompok usia lain. Contohnya, pertumbuhan otak. Sekitar 80% pertumbuhan otak anak terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan. “Nah, program PAUD HI bertujuan mempersiapkan anak-anak pada periode emas mereka,” jelas Mrs. Gunilla.

Foto bareng teman-teman blogger

Semoga semakin banyak kerja sama seperti ini, ya. Saya ikut mendukung dengan cara menulis dan menyebarkan berita baik. Negeri kita butuh lebih banyak berita baik seperti berita Tontowi-Liliyana yang meraih emas di olimpiade Rio, berita Musa hafidz cilik yang meraih peringkat 3 kompetisi hafalan Alquran pada Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Internasional Sharm El Sheikh (Mesir), berita Joey Alexander pianiz jazz muda Indonesia yang meraih 2 nominasi Grammy 2016 di Los Angeles, dll. Berita baik membuat kita lebih optimistis, berpikiran positif, dan bersemangat. Sip? Siiip! [] Haya Aliya Zaki

Selanjutnya ...

Selasa, 02 Agustus 2016

[Nusantara Bertutur] Dame Tidak Mau Mengantre

Cerpen Dame Tidak Mau Mengantre dimuat di Nusantara Bertutur (NB), Kompas Klasika, 31 Juli 2015. Cara pengiriman naskah sila dibaca DI SINI. Panjang tulisan maksimal banget banget banget 400 kata ya karena kapling terbatas. Kita bisa menulis cerpen atau dongeng. Kalau menulis dongeng, ada nilai plusnya. Dongeng kita akan dibacakan oleh kakak-kakak pendongeng NB dan divideokan. Anak-anak se-Indonesia bisa menonton. Bunda Yessy Gusman dan Bunda Ratih Sanggarwati juga pernah membacakan dongeng NB. Asyik, kan? :)



Dame Tidak Mau Mengantre


Kriiing! Bel istirahat makan siang di sebuah sekolah dasar di Sidikalang, Sumatera Utara, berbunyi nyaring. Anak-anak langsung berhamburan ke kantin sekolah.

Seperti biasa, Dame beraksi. Dia menyalip kawan-kawan yang sedang antre menunggu jatah makan siang dari Namboru Lasma, ibu kantin. Tahu-tahu saja anak perempuan bertubuh bongsor itu sudah berdiri di baris paling depan.

“Alamak, jangan kayak gitulah, Dame!” protes Ika kesal.

“Hei, baris di belakanglah kau. Antre!” timpal Binsar tak kalah kesal.

Dame melihat ke belakang, kemudian meledek, “Antre itu bikin lama! Aku sudah lapar, Kawan!”  

“Woi, memangnya kami tak lapar?” sambar Maruli geram.

Suasana kantin sekolah pun mendadak riuh gara-gara ulah Dame yang selalu tak mau antre.

“Kita harus kasih Dame pelajaran,” keluh Ika sambil mengaduk-aduk sayur daun ubi tumbuk kesukaannya.

Boha do carana ate (bagaimana caranya)?” tanya Maruli.

Semua terdiam. Tiba-tiba, Binsar menjentikkan jari. “Nah, aku tahu!” serunya semangat.

Keesokan harinya, anak-anak antre menunggu jatah makan siang di kantin sekolah seperti biasa. Sudah mereka duga, tak lama Dame datang menyerobot antrean.

“Namboru, mana makan siangku, Namboru?” kejar Dame tak sabar. Soalnya dia melihat Namboru Lasma terus saja sibuk melayani kawan-kawan di belakangnya. Padahal, dia sudah berdiri di baris paling depan dari tadi.

Namboru Lasma tersenyum. “Kalau kau mau dapat jatah makan siangmu, kau harus antre seperti kawan-kawanmu yang lain,” jawabnya.

Dame berkacak pinggang marah. Bukannya antre, dia malah berbalik dan lari ke kelas.  

Keesokan harinya dan keesokan harinya terjadi lagi. Namboru Lasma selalu melewati giliran Dame walaupun Dame sudah berdiri di baris paling depan. Sesuai usul Binsar, Namboru Lasma tidak akan melayani kalau Dame tidak mau antre. Dame kembali ke kelas. Dia menangis karena perutnya lapar sekali.

Ika, Binsar, dan Maruli mendatangi Dame. Meski Dame sering berbuat ulah, mereka tetap kasihan.

“Tidak enak diperlakukan seperti ini. Sekarang aku tahu bagaimana perasaan kalian,” kata Dame lirih.  

“Antre jangan dijadikan beban, Dame. Kata bapakku, kalau kita sabar antre, semua urusan bisa cepat selesai. Kita pasti senang, kan, melihat suasana yang tertib?” kata Binsar, seperti orang tua.

Dame tertunduk malu.

“Sudah, sudah. Mulai saat ini, kau mau tidak antre makan siang bersama kami?” potong Ika.

Dame langsung mendongak. “Ya maulah! Soalnya aku kapok kelaparan lagi! Tapi … tapi … kalian juga mau, kan, memaafkan aku?” tanyanya.

             “Tentu saja!” sahut Binsar spontan.

         “Asaaal … kau traktir kami makan siang mi gomak hari ini di kantin, ya?” canda Maruli.

         Dame mengerucutkan bibirnya, pura-pura merajuk. Kawan-kawannya tertawa. [] Haya Aliya Zaki

Hikmah Cerita

Mari budayakan mengantre. Dengan mengantre, kita belajar untuk mengatur waktu dengan baik dan belajar untuk menghargai hak orang lain.
Selanjutnya ...

Jumat, 29 Juli 2016

Buah Kiwi Zespri® Green Bikin Hidangan Lebaran Tambah Semarak

Apa yang bikin saya senang ketika Lebaran tiba? Pastinya kue-kue keringnya hahaha! Kue kering Lebaran favorit adalah nastar. Jangan biarkan saya duduk sendirian sambil memeluk mesra stoples nastar. Dijamin stoplesnya bocor seketika hahaha! Selain nastar, saya selalu menunggu-nunggu hidangan lontong sayur Medan buatan Mama. Sepiring lontong disiram kuah tauco, kari, tak ketinggalan lauk daging rendang, ayam opor, bihun, taburan serundeng, dan kerupuk! Amboooi … betul-betul surga dunia! :))


Saat Lebaran adalah saat di mana kita berkelimpahan makanan, terutama makanan berat dan makanan manis. Tak heran jika tubuh kita kelebihan asupan lemak dan gula. Jarum timbangan semakin mengarah ke kanan. Hiyaaa … betul? :p Yang bikin kacau, perut bisa kaget, terus mules-mules diare. Ini sering kejadian sama suami. Setiap Lebaran mesti dia kena diare ringan. Maklum, makanan di Medan rempah-rempahnya macam-macam. Lebih spicy daripada makanan di sini. Kasihan juga, kami sibuk mengunyah lontong, dia sibuk ke belakang “kejar setoran”. Apa akal, nih?

Lalu, saya ingat Zespri® Green. Nutrisi dalam kiwi hijau ini terbukti memberikan manfaat kesehatan, khususnya masalah pencernaan. Faktanya sudah disampaikan dalam Simposium Internasional Pertama mengenai Buah Kiwi dan Kesehatan yang diprakarsai oleh Riddet Institute (lembaga riset New Zealand) dan didukung oleh Zespri International Ltd, di New Zealand bulan April lalu. Dr. Richard Gearry dari University of Otago, Christchurch, mengatakan, “Konsumsi 2 buah kiwi hijau per hari dapat mengatasi gejala konstipasi, diare, asam lambung naik, dll.” Tuh, catet! :)

Nah, sekarang hidangan Lebaran kami tak melulu makanan berat dan makanan manis. Kiwi Zespri® Green ikut menambah semarak. Bikin segar tenggorokan dan adem di perut. Konon pula kalau kiwinya baru dikeluarkan dari kulkas. Kiwi dingin buah terfavorit. Jadi rebutan anak-anak! Alhamdulillah, berkat Zespri® Green, suami bisa rada santeeei menikmati lontong sayur Medan. :))

Hasil penelitian Dr. Richard menunjukkan bahwa ACTINIDIN (enzim alami) dalam kiwi hijau mampu memperbaiki kondisi pencernaan dan meningkatkan pemecahan protein. 

Actinidin membuat protein jadi lebih mudah dan lebih cepat diserap. Udah pada tahu, kan, manfaat protein buat tubuh? Protein itu zat pembangun, mengganti sel-sel yang rusak, dan menjaga metabolisme tubuh supaya bekerja dengan baik.



Soal serat, Zespri® Green juaranya! Kiwi hijau ini sangat kaya serat. Dari seluruh varian buah kiwi, Zespri® Green memiliki kandungan serat yang paling tinggi, yakni 3 g/100g (bandingkan dengan pepaya 1,8 g/100g).

Satu lagi, Zespri® Green disebut-sebut memiliki indeks glikemik rendah, yakni 39. Indeks glikemik adalah peringkat yang diberikan kepada makanan untuk menunjukkan bagaimana makanan tersebut memengaruhi gula darah dan insulin. Sarapan dengan kiwi hijau setiap hari mampu menghindari kita dari risiko terkena diabetes. Aamiin!

Zespri® Green bukan cuma hidangan penambah semarak, melainkan juga menyehatkan. Tapiii, dengan segala manfaat Zespri® Green di atas, tidak mentang-mentang menjadi alasan kita boleh kalap melahap makanan berat dan makanan manis terus-terusan selama bulan Syawal. :)) Memangnya kita Abu Lahap taiye. Ini terutama nasihat buat diri saya sendiri. Minggu ini saya sudah kembali ke aktivitas rutin, makan seperti biasa dan olahraga minimal 20 menit sehari. Bagaimana dengan Teman-teman? :) [] Haya Aliya Zaki
Selanjutnya ...

Pagerank Alexa

Iklan