Rabu, 26 Juli 2017

Demi Kopi Hijau yang Nikmat dan Berkhasiat

“Ummi, jangan lupa kopi Aba, ya!” Itu kalimat langganan suami setiap hari. Kelihatannya permintaan ini perkara kecil tapi, kalau tidak dikerjakan, amboooiii dia bisa merajok, Saudara-saudara. :))

Saya pernah cerita di beberapa postingan blog dan medsos bahwa suami pencinta kopi, sementara saya pencinta minuman cokelat dan teh. Sesekali bolehlah saya mengonsumsi kopi. Pastinya yang saya konsumsi itu kopi favorit suami haha. Pas betul dijadikan kawan mengetik di rumah. Bikin melek. Bagi kami, kopi bukan sekadar minuman pelepas dahaga dengan nikmat sesaat. Nooo, lebih dari itu!

Setelah menyeruput kopi, suami kelihatan lebih relaks mengobrol. Tahu sendiri yeee perjuangan bapak-bapak yang akan berangkat nyangkul di Jakarta. Siap-siap mental dan tenaga menerobos kemacetan. Stres! Ketika menyeruput kopi, suami semangat curhat rencana apa aja yang mau dia garap pagi itu. Misalnya, mau ketemu klien ini, mau kunjungan ke pabrik anu, mau meeting sama pak inu, dst. Katanya, mood bagus pagi hari bakal mempengaruhi semua aktivitas seharian jadi bagus juga. See, kopi bukan sekadar kopi. Banyak cerita dan kebahagiaan yang menguar dari dalam satu cangkirnya. :)


Ngopi bareng dengan gaya sok iyes :))

Pilih-pilih kopi semacam mirip mencari jodoh. Meski penikmat berat kopi, tak semua jenis kopi cocok sama selera suami. Sehari-hari dia mengonsumsi kopi hitam. Kopi hitam adalah kopi yang sudah melalui proses pemanggangan. Proses pemangganganlah yang bikin kopi jadi lebih tasty. Slurrrp! Selain kopi hitam ada pula yang namanya kopi hijau, Teman-teman. Kopi hijau tidak melalui proses pemanggangan seperti kopi hitam sehingga kandungan asam klorogenat-nya lebih tinggi.

Asam klorogenat yang terdapat di dalam kopi hijau diduga memberi khasiat buat tubuh. Kopi hijau meningkatkan mood dan aktivitas otak. Ini sih udah jelas, ya. Ekstrak biji kopi hijau memperbaiki metabolisme glukosa dan menurunkan tekanan darah. Kandungan antioksidannya mengurangi efek radikal bebas. Berdasarkan penelitian Journal of Agricultural and Food Chemistry 2004, antioksidan di dalam kopi hijau mampu membantu mencegah beberapa jenis kanker.

Satu manfaat lain yang baru saya tahu, kandungan kafein dan asam klorogenat diklaim dapat menurunkan berat badan, lho. Tapiii, tapiii, hindari mengandalkan kopi hijau thok untuk menurunkan berat badan. Pelihara gaya hidup sehat! Teteuuup. Jalani pola makan gizi seimbang, rajin olahraga, dan rutin check up ke dokter. Sepokat?  

Selama ini keluarga kami cocok sama kopi Nescafe. Konon pula setelah kami tahu bahwa biji kopi yang dipakai Nescafe dipasok dari petani di Pabrik Panjang, Lampung. Demi menjaga mutu, biji kopi dipilah satu per satu pakai tangan. Jangan sampai biji kopi yang rusak atau cacat lolos. Senang melihat komitmen Nescafe meningkatkan kualitas hidup petani kopi dalam negeri.
  
Daaan, kenal sama Nescafe Green Blend itu tidak sengaja. Kebetulan seorang teman meng-upload foto kopi berkemasan hijau ini di Instagram. “Kopi hijau yang enak banget menurut gue,” begitu caption-nya.

“Wah, kopi baru, nih?” samber saya. Yah, namanya istri sayang suami yekan. Begitu lihat minuman favorit suami tanpa sadar saya jadi ikutan semangat. LOL.

Saya pun capcus mencari Nescafe Green Blend di toko online. Aaah, kuciwa, di sana belum ada (mungkin belum nyetok). Alhamdulillah, di minimarket mejeng manjah satu rak. Langsung beli kemasan yang isi 10 sachet. Secangkir Nescafe Green Blend pun dicoba. Ternyata eh ternyata, suami cocok! Rasanya nikmat dan tidak 'keras'. Yesss!

Ikut minum kopi favorit suami


Nescafe Green Blend Coffee
Kerja di rumah sambil menunggu anak-anak pulang sekolah
Berbeda dari kopi hijau lainnya, Nescafe Green Blend diracik dengan kopi yang sudah dipanggang sehingga rasanya lebih tasty. Meski begitu, khasiat kopi hijaunya tetap ada.

Waktu pertama kali beli, saya memang melihat warna serbuk kopi Nescafe Green Blend berbeda sama warna kopi biasa, yakni abu-abu kehijauan. Namun, saya tidak ambil pusing. Setelah sekian waktu keluarga kami mengonsumsi kopi ini, barulah saya tahu aneka khasiat kopi hijau. Aromanya? Jangan dikata. Harum menggoda! Bikin kebayang-bayang pengin minum lagi setelahnya.

Nah, Teman-teman penyuka kopi hitam atau kopi hijau? Kenapa suka minum kopi? Kira-kira kapan momen yang asyik mengonsumsi kopi? Yuk, share di sini! :) [] Haya Aliya Zaki

Referensi info kopi hijau

1. Leech, Joe. 2017. Does Green Coffee Bean Extract Work? A Detailed Review. Authority Nutrition. Diakses tanggal 24 Juli 2017. https://authoritynutrition.com/green-coffee-bean-extract-review/.

2. Rudystina, Adinda. 2017. Manfaat dan Risiko Minum Kopi Hijau. Hello Sehat. Diakses tanggal 24 Juli 2017. https://hellosehat.com/plus-minus-mengonsumsi-kopi-hijau/.
Selanjutnya ...

Senin, 17 Juli 2017

50 Tahun Bina Swadaya Berkarya untuk Bangsa

          “Woooi, aku pulang dulu! Soalnya nanti ada pemotretan. Maklum, cover girl!” canda saya ke teman-teman di pintu gerbang sekolah.

“Yeee … cover majalah Trubus, ya?” Mereka balas bercanda.

Waktu masih sekolah, Teman-teman juga pernah becandaan seperti ini, kan? Ngaku, deh. Kalau ya, berarti kita seumuran haha. Semua orang tahu bahwa majalah Trubus adalah majalah tentang pertanian, bukan majalah yang memuat foto model remaja yang cantik-cantik itu. Lama banget rasanya saya tidak pernah membaca majalah Trubus lagi hingga hari Minggu lalu saya diundang ke acara Hajat Setengah Abad Bina Swadaya di Hotel Bidakara, Jakarta (14/7). Di antara sekian banyak media cetak yang kolaps, ternyata majalah Trubus masih eksis!

Lalu, apa hubungannya Bina Swadaya dengan majalah Trubus?


Majalah Trubus masih eksis

Bina Swadaya merupakan lembaga pemberdayaan masyarakat yang didirikan pada tanggal 24 Mei. Kegiatannya dari mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sampai menerbitkan media informasi majalah Trubus dan buku-buku. Jujur aja selama ini saya tidak tahu Bina Swadaya, yang saya tahu cuma majalah Trubus. Dan, tahun ini Bina Swadaya resmi 50 tahun berkarya untuk bangsa. Mantap bah!

Demi merangkul anak muda, majalah Trubus melahirkan media digital trubus.id. Meski udah eksis sejak dahulu kala, konten dalam format digitalnya dijamin kekinian, kok. Teman-teman bisa menjadi member untuk membaca lebih dalam konten di sana. Tujuannya tetap, yakni mengajak masyarakat untuk menjaga alam agar tetap hijau dan lestari. Nama kerennya The Green Digital.

Trubus.id

Di acara saya bertemu sosok perempuan hebat asal NTT bernama Bernadete Deram. Kak Bernedete tampil sederhana, namun cantik dalam balutan kain tenun khas dari daerahnya. Beliau diundang oleh Bina Swadaya karena menjadi nomine penghargaan Trubus Kusala Swadaya yang dianugerahkan pada puncak acara. Penghargaan Trubus Kusala Swadaya diberikan kepada pelaku kewirausahaan sosial yang merintis pemberdayaan masyarakat. Sejak tahun 2007, Bina Swadaya sudah 4 kali memberikan penghargaan ini. Fyi, Kak Bernadete merupakan fasilitator lapangan PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) di Flores.

Sekilas tentang perjuangan Kak Bernadete. Beliau membimbing janda dan single parent di Flores supaya mandiri (termasuk mandiri ekonomi), melek hukum, dan berkegiatan positif. Alhamdulillah sekarang anggota PEKKA mampu bertenun, membuat arisan bangunan rumah, dan mendirikan swalayan Pekka Mart. Padahal, padahaaal, Kak Bernadete sendiri belum menikah lho, tapi beliau concern betul dengan para perempuan kepala keluarga ini. Pernah diancam akan dibunuh segala, Kak Bernadete tidak gentar. Budaya patriarki memang kental sekali di sana. Salut sama keberanian Kak Bernadete!

Bernadete Deram, fasilitator lapangan PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) di Flores, NTT

Cakep yah tenun Lodan Doe NTT 

Kak Bernadete berhasil meraih penghargaan Trubus Kusala Swadaya kategori Khusus. Selain Kak Bernadete, berikut nomine lainnya.

1. Hysteria
Komunitas anak muda Semarang yang menginisiasi program “merawat kampung” dengan melibatkan masyarakat dalam berbagai aktivitas seperti melukis kampung dan mengenal sejarah kampung. Hysteria berhasil meraih penghargaan kategori Kelompok.

2. Virage Awie (Indonesian Bamboo Community)
Komunitas ini berusaha memopulerkan bambu menjadi alat musik dengan memberdayakan anak-anak muda di sekitar yang tidak memiliki pekerjaan. Di TKP saya tertarik mencoba biola dari bambu. Guess what, biola tersebut bentuknya mulus tanpa potongan. Bambu asli dipipihkan sedemikian rupa sampai berbentuk biola. Kebayang bagaimana caranya itu. Patutlah kalau harganya lebih tinggi dibandingkan biola biasa. Istilahnya kita bukan sekadar membeli biola, melainkan juga membeli kreativitas anak-anak muda tadi. Indonesian Bamboo Community berhasil meraih penghargaan kategori Kelompok.  


Ecek-eceknya saya mencoba biola buatan Indonesian Bamboo Community (credit: heiupito.com)

3. Reka Agni
Reka Agni memberdayakan perempuan untuk menghasilkan berbagai produk pertanian dan menerapkan agroekologi di Sukabumi dengan konservasi tanah dan kultur yang disesuaikan sama kondisi lingkungan. Reka Agni berhasil meraih penghargaan kategori Individu.

            Acara ini pula dimeriahkan oleh peluncuran buku PALUGADA (APA LU MAU GUA ADA) karya Eka Budianta. Menurut Pak Paulus Wirutomo, Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya, mereka mempersilakan Pak Eka Budianta untuk menengok rekam jejak Bina Swadaya, mewawancarai mitra-mitra Bina Swadaya, memancing opini teman-teman generasi muda melalui tulisan, presentasi, dan diskusi. Dari penelusuran tersebut, hadirlah buku PALUGADA. Malam itu Pak Harry Hikmat, Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial (mewakili Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa), turut memberikan kata sambutan. Semoga PALUGADA menjadi pengingat bahwa jalan pengabdian belumlah selesai.  


Potong tumpeng ulang tahun Bina Swadaya

Eka Budianta dan karyanya PALUGADA

Bloggers dan Kak Bernadete Deram dari NTT

            Acara yang dimeriahkan oleh atraksi tarian dan nyanyian dari Indonesian Bamboo Community ini berakhir pukul 21.00 wib. Selamat ulang tahun, Bina Swadaya! Raih mimpi, semangat berkontribusi untuk negeri, dan setia melayani sesuai dengan perkembangan zaman terkini. Teman-teman jangan lupa baca tulisan-tulisan di website trubus.id, yaaa. Beli majalahnya juga hayuk. :) [] Haya Aliya Zaki


Selanjutnya ...

Jumat, 23 Juni 2017

Coral Triangle Day 2017: Selamatkan Laut Kita Setop Sampah Plastikmu!

            “Sampun, Bu, enggak usah pakai plastik. Sini saya masukkan ke tas aja,” cegah saya ketika ibu warung hendak mengambil plastik untuk membungkus camilan yang baru saya beli.

“Lho ndak pakai plastik? Ndak sopan toh saya masa mbaknya belanja ndak diplastikin,” sahut ibu warung heran.

Setengah tertawa saya mendengar kalimat polos ibu warung. Sopan atau tidaknya dia bukan ditentukan oleh plastik juga kali. Saya pun menjelaskan maksud saya mengurangi sampah plastik. Dialog ini masih saya ingat meski sudah bertahun berlalu. Ketika itu saya baru aja memulai mengurangi sampah plastik step by step dalam kehidupan sehari-hari. Ke mana-mana saya membawa tas kain (walau kadang-kadang masih lupa juga duh!). Jadi kalau belanja ini itu tidak perlu lagi minta jatah plastik ke pramuniaga. Belanjaan banyak? Manfaatkan kardus bekas, beres! Inilah sebabnya saya antusias ketika mendapat undangan menghadiri acara Coral Triangle Day 2017 di Goethe-Institut Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat (16/6). Tema kampanyenya kali ini adalah “Selamatkan Laut Kita Setop Sampah Plastikmu!”.

Coral Triangle Day dirayakan setiap tanggal 9 Juni demi meningkatkan kesadaran akan konservasi laut terutama di kawasan Coral Triangle atau di Segitiga Terumbu Karang.

Coral Triangle merupakan pusat keanekaragaman hayati laut dunia yang menjadi tempat tinggal 76% spesies terumbu karang, 37% spesies ikan, memiliki luas mangrove terbesar, dan sumber penghidupan lebih dari 300 juta orang di dunia. Ada 6 negara kawasan Coral Triangle, yakni Filipina, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Indonesia.




Bentuknya di peta seperti segitiga. Bangga, Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara yang termasuk dalam kawasan Coral Triangle. Acara Coral Triangle Day 2017 terselenggara berkat kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, CTI-CFF Regional Secretariat, Change.org, dan Coral Triangle Center. Teman-teman di berbagai daerah di Indonesia yakni Lombok, Bali, Makassar, Kalimantan juga merayakan Coral Triangle Day 2017 dengan berbagai aktivitas seperti menanam mangrove, melepas penyu, bersih pantai, dll.  

Lalu, kenapa PLASTIK?

Saya pernah menjelaskan di postingan-postingan sebelumnya (label Lingkungan) tentang bahaya plastik. Sehari-hari kita sulit lepas dari plastik. Walhasil sekitar 60% sampah di laut bebas adalah plastik. Yang paling banyak itu botol plastik, kantong kresek, dan wadah makanan. Bad news, Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terajib nomor 2 di dunia. Mbok ya prestasinya apa gitu ini kok prestasinya menyumbang sampah plastik. :(

Sekadar info, penyu laut tidak bisa membedakan yang mana ubur ubur yang mana sampah plastik. Diperkirakan ikan-ikan di laut sekarang ini lebih senang makan plastik daripada plankton. Paus dan lumba-lumba, misalnya, bakal mengalami gangguan reproduksi bahkan kematian. Lama-lama mereka terancam punah. Daaan, speaking of fish prefer eat plastic than plankton, kita bisa bayangkan nasib manusia sebagai rantai makanan terakhir. If you eat seafood, that means you eat thousand pieces of plastic too! Bahaya betul, apalagi untuk efek jangka panjang! Ragam penyakit siap-siap mengintai.

Btw, tiga figur publik yang hadir di sini membuat acara Coral Triangle Day 2017 semakin menarik. Mereka adalah Hamish Daud (artis dan aktivis lingkungan) *aw aw aw mimpi apa bisa ketemu babang Hamish*, Trinity Traveler (penulis buku bestseller seri The Naked Traveler), dan Dayu Hatmanti (Duta Lingkungan Hidup, terutama biota laut). Dayu ini yang menjadi MC acara. Gimana? Gimana? Semuanya kompeten dengan topik yang dibicarakan, yaaa. :)

Narsum acara Coral Triangle Day 2017 Jakarta


Pertunjukan musik pakai drum dan panci bekas

Pembacaan puisi

Siap-siap flash mob dance

So, apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga keselamatan laut?

1. Tidak membuang sampah sembarangan
Iyes, ini berlaku di darat juga, bukan cuma di laut. Toh sampah-sampah di darat akan berakhir di laut. Pilah-pilih mana sampah yang bisa didaur ulang mana yang tidak. Kalau biasanya kita ngecek harga sebelum membeli barang, sekarang coba deh kita ngecek di kemasan apakah barang yang akan kita beli termasuk barang yang bisa didaur ulang atau tidak.   

2. Bawa tas kain ke mana-mana
Gunakan tas kain sebagai pengganti plastik. Banjarmasin salah satu kota yang sukses menerapkan sistem ini. Toko-toko di sana tidak melayani pembelian barang dengan penggunaan kantong plastik lagi. Kita bisa mencegah plastik menjadi sampah! Sekitar 11 juta lembar plastik diproduksi setiap tahun dan hampir 100% berakhir sebagai sampah.

3. Hentikan illegal fishing
Hamish mengatakan sebaiknya kita tidak melakukan illegal fishing. Jangan berpikir pendek. Ikan yang didapat saat itu memang bejibun, tapi setelahnya? Kita merusak ekosistem biota laut. Sementara konsumsi ikan terus meningkat karena populasi manusia di bumi terus meningkat. Btw, foto-foto di Instagram @hamishdw itu bukan sekadar pencitraan. Hamish memang lahir dan tumbuh di daerah laut (di Sumba kalau tidak salah). Sejak kecil pria keturunan Australia ini telah diajak ayahnya mengeksplorasi laut. “Waktu saya kecil, laut masih banyak ikan. Sekarang udah berkurang. Tahun 2020 diperkirakan sampah plastik di laut lebih banyak jumlahnya daripada ikan. Lihatlah, laut dan seisinya itu indah sekali. Jaga mereka baik-baik,” kata Hamish sambil memamerkan lesung pipinya yang menawan. Uhuk. Ampon, Bang.

Hamish Daud, wawasannya luas + gantengnya enggak sante

4. Jadilah responsible traveller!
Sedihnya jika pas jalan-jalan maksud hati pengin melihat laut yang indah, tapi ternyata lautnya penuh sampah plastik! Inilah yang dialami Trinity. Miris, industri pariwisata termasuk penyumbang sampah plastik. Trinity beberapa kali mengamati penumpang kapal dengan seenaknya membuang bertong-tong sampah plastik ke laut. “Yuk, jadi responsible traveller! Take nothing but picture. Leave nothing but footprints,” ajak penulis yang telah menjelajahi lebih dari 80 negara di dunia ini.

Trinity Traveler

5. Edukasi lingkungan sekitar
Menurut Trinity, edukasi kepada masyarakat dari yang muda sampai yang tua perlu lebih digencarkan.

Trinity pernah mengisi acara bincang-bincang di daerah Banda. Anak-anak di sana hanya mengangkat bahu waktu ditanya apa bahaya plastik terhadap terumbu karang. Mereka tidak tahu bahwa plastik yang menutupi terumbu karang dapat menyebabkan terumbu karang tidak bisa bernapas. Fatal, kan?

Yuk, beri edukasi kepada siapa aja di mana aja. Tidak mesti bikin pelatihan dan kelas yang gimana gitu. Kasih info dan kasih contoh kepada anak-anak tetangga atau ibu warung kayak yang saya lakukan juga boleh. 


Bloggers di acara Coral Triangle Day 2017 Jakarta (credit: @makeupdhe)

            Sumber oksigen di muka bumi ini bukan cuma dari pohon, melainkan juga dari laut. Bayangkan, 70% oksigen kita dari laut, lho. Laut adalah sumber daya terbesar bumi. Apa jadinya jika laut kita sekarat. Teman-teman sepakat kan mau mengurangi sampah plastik mulai sekarang? Hamish Daud aja ke mana-mana pakai backpack untuk tempat belanjaannya, masa kita masih pakai plastik? Hehe. Semua tak lain dan tak bukan demi generasi penerus kita nanti. Peer kita memang banyak, tapi saya yakin, gerakan kecil yang dimulai dari rumah kita sendiri itu pun sangat berarti. Mari! :) [] Haya Aliya Zaki

Selanjutnya ...

Senin, 12 Juni 2017

Bersyariah Bersama Bisnis MLM K-Link Indonesia

            Pada tanggal 6 Juni 2017 lalu saya dan teman-teman blogger mendapat kesempatan dari Komunitas Indoblognet untuk berkunjung ke K-Link Tower, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Bukan, kami bukan akan merayakan ulang tahun Raisa di sana. Jangan sebut-sebut nama Raisa, saya udah mengikhlaskan babang Hamish (mantan saya) jadian sama dia. LOL. Jadi, dalam rangka apa, dong? Jawabannya, dalam rangka menghadiri acara K-Link Ramadhan Festival 1438 H. :) Di sini ada bazaar, demo masak, tutorial hijab, office tour, dan talkshow.

            Asli, baru kali ini saya mendengar tentang bisnis K-Link. Ketika saya tanya ke teman, mereka menyahut, “Itu lhooo yang jualan klorofil!” Tambah bingung lagi deh saya. Kalau kata orang-orang, tak kenal maka ta’aruf. Well, dengan senang hati. Kebetulan tempo hari K-Link memberi kesempatan seluas-luasnya kepada kami untuk menjajal wawasan tentang K-Link melalui office tour dan talkshow. Libaaasss bleh!

Kenalan dengan K-Link yuk!
K-Link ternyata perusahaan multilevel marketing (MLM) syariah yang hadir di Indonesia sejak tahun 2002. Awalnya berkantor 2 lantai di daerah Mangga Dua, Jakarta Utara. Berhubung bisnis semakin berkembang, K-Link pun pindah ke gedung K-Link Tower yang totalnya terdiri atas 25 lantai! Wow. Bayangkan, gedung ini milik K-Link lahir batin, bukan menyewa. (((LAHIR BATIN))) Hingga kini sebanyak 2 juta orang member K-Link tersebar di seluruh Indonesia. Serunya, di sana kami sempat bertemu member-member K-Link yang sedang training. Aura positif memenuhi ruangan. Semangat mereka luar biasa!    


Apa ya yang membedakan MLM syariah dengan MLM biasa? Dalam talkshow Bersyariah Bersama K-LINK, Bapak HM Sofwan Jauhari, Lc, MAg, ASPM. (Dewan Syariah Nasional MUI), mengatakan, “K-Link berbeda karena memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang kompeten, aktif, dan rutin berkantor. K-Link anti money game (semacam judi dkk). Semua produknya bermanfaat dan halal. Tidak ada produk rokok, miras, dll.” Tahun 2010, perusahaan yang dikomandani Dato’ DR. H. MD Radzi Saleh ini mendapatkan sertifikat syariah dari MUI. Per tahun 2017 K-Link terhitung tiga kali mendapatkan sertifikat tersebut (tahun 2010, tahun 2013, dan tahun 2017). Salut, K-Link diklaim sebagai MLM syariah yang paling lama bertahan, yakni sekitar 15 tahun.  




Produk-produk K-Link
            Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, K-Link komit menjual produk yang bermanfaat, berbahan alami, resmi terdaftar di BPOM, dan pastinya halal. Selama ini kita tahunya K-Link menjual produk K-Liquid Chlorophyll aja, padahal … padahaaal … K-Link menjual lebih dari 180 produk dari urusan dapur sampai kasur. Ada makanan, suplemen, perawatan kulit, matras, pupuk, sampai celana dalam berenergi. Ehm. Konsumennya tua, muda, dan anak-anak. K-Link mengakui bahwa produk K-Link Chlorophyll termasuk yang paling laku dan paling dicari konsumen. Mungkin itulah sebabnya 'branding klorofil’ ini begitu melekat pada mereka haha.

            Di antara sekian banyak produk, saya tertarik dengan produk Pat Pat K-Tupat Mini (ketupat mini). Entahlah, suasana Ramadhan begini, saya rindu ketupat/lontong sayur Medan. Saya lemaaahhh. Katanya, Pat Pat K-Tupat merupakan produk musiman yang dibikin hanya pada waktu Ramadhan dan Idulfitri. Teman-teman tidak perlu repot lagi membuat ketupat, tinggal rebus ketupat mini ini sama kuah sayurnya. Praktis, kan? Satu lagi, saya juga tertarik sama produk-produk skin care K-Link. Di lantai berapa ya lupa ada K-Link House of Beauty, semacam salon di mana semua treatment-nya memakai produk K-Link. Buka Senin–Sabtu untuk customer umum wanita dan pria. Nyaman tenan. Peralatannya pun mapan (lihat foto-foto di bawah). Pada hari-hari tertentu kita bisa tanya-tanya tentang produk kesehatan kepada dokter yang praktik di K-Link Tower. Bicara soal skin care, beberapa hari yang lalu saya mencoba K-Link Hand and Foot Cream di rumah. Wanginya enak, tidak lebay. Teksturnya lembut dan meresap, tidak lengket. Kulit berasa halus setelah pakai. Kandungan madu dan susu kambing membantu melembapkan dan mencerahkan kulit. Semoga saya bisa mencoba produk-produk skin care K-Link yang lain. :)








            Fyi, K-Link memfasilitasi wanita menjadi mitra mereka dengan membentuk Leader Beauty Club (LBC). Member diberi training dan diikutkan seminar mengenai gizi keluarga, kebugaran tubuh, perawatan kulit, pokoknya macam-macam, deh. Acaranya tersebar di seluruh Indonesia. K-Link juga menawarkan alternatif pekerjaan paruh waktu kepada member yang pelaksanaannya bisa kapan aja dan di mana aja. Fleksibel.     

Idealisme K-Link
“K-Link menganut teguh prinsip kekeluargaan,” demikian yang ditekankan Dato’ Radzi. Tidak ada ceritanya leader menjengkali junior. Tidak ada ceritanya leader ongkang-ongkang kaki dapat duit sementara junior kerja over-limit. There is no passive income here. Meskipun sudah berada si atas, leader tetap bekerja, memperhatikan dan membimbing juniornya.

            Setiap hari Rabu para member K-Link kumpul-kumpul produktif di lantai 7. Tempatnya asyik banget! Hejo hejo bikin betah. Di sini member junior bebas konsultasi bisnis K-Link ke leader mereka. Makanan dan minuman gratis! More than that, setiap bulan K-Link mengadakan 700 pertemuan di berbagai daerah. Semua fasilitas disediakan dari pemateri, tiket pesawat, gedung, konsumsi, sampai tempat menginap di hotel (minimal 2 malam). Berapa duit itu, Inaaang. Duit itu duiiit, bukan daon siriiih. :)) K-Link memang fokus pada edukasi dan pengembangan potensi member-membernya. Investasinya di manusia. Leader-leader K-Link bukan keturunan hartawan, mereka berjuang dari nol. Yang namanya menuntut ilmu tidak pernah rugi, yes. Ilmu pasti bermanfaat sampai kita wafat.   




            Kami diajak Pak Herman Oscar, Area Manager K-Link Kalimantan, jalan-jalan menyusuri lantai demi lantai (tidak semua lantai, sih) K-Link Tower. Hahaaay … mirip di Hollywood, rupanya K-Link punya tembok Hands of Fame yang memajang cetakan tangan member-member mereka yang telah berhasil. Kategori Platinum Leader Club (PLC) berpenghasilan minimal Rp50 juta per bulan. Kategori Executive Leader Club (ELC) berpenghasilan minimal Rp80 juta per bulan. Glek. Glek. Glek. Bisa buat beli sawah berapa hektar di kampung bah. Target K-Link tahun 2020 nanti adalah menghantarkan 100 orang lagi member-nya berpenghasilan minimal Rp50 juta per bulan. Aamiin!  


K-Link dan kegiatan sosial
            Kalau hidup cuma memikirkan untung, untung, dan untung apakah jiwa tidak terasa kering? Aktivitas membantu sesama membuat hidup kita lebih berwarna. Sebagai perusahaan, K-Link urung alpa soal ini. Kira-kira 6 tahun lalu mereka membangun panti asuhan di Yogya. Tahun ini mereka akan membangun panti resmi untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Sentul. Bukan cuma itu. Seluruh benefit penjualan dari Butik Shamil Collection milik K-Link akan disumbangkan ke anak-anak tidak mampu. Penggalangan dana ini merupakan salah satu program K-Link Care. Wah, mulia sekali, makin salut aja sayanyaaa. :)     

Gimana, Teman-teman? Keren banget bisnis K-Link ini, ya? Imej marketing yang jempol. Komplet dan sesuai syariah. Kita yang menjalankannya pun jadi lebih adem, gitu. Satu pesan Dato’ Radzi, “Jika ingin berbisnis, hilangkan rasa waswas. Rasa waswas itu ibarat pisau yang tumpul. Selembut apa pun daging kalau pisaunya tumpul tetap tak akan terpotong.” So, yakin dan percaya, insya Allah.

Sekali lagi, berbisnis bukan sekadar mengejar keuntungan di dunia, melainkan juga harus mempersiapkan ‘modal’ untuk ke akhirat. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama Nabi, orang-orang shiddiq, dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti.” Aamiin yaa Rabb. Nah, apakah Teman-teman, terutama yang ibuk-ibuk tertarik menambah penghasilan dari rumah bersama K-Link? Yuk, mariii main-main ke K-Link Tower atau ke website k-link.co.id! [] Haya Aliya Zaki


Selanjutnya ...

Iklan